Renungan Hari Minggu Paskah VI: Kasih Kepada Sesama Dalam Kasih Kristus

jesus-feed-5000.jpg

Bacaan I : Kis 10:25-26.34-35.44-48
Bacaan II : 1 Yoh 4:7-10
Bacaan Injil : Yoh 15:9-17

Biasanya seseorang yang merasa bahwa dirinya sangat dikasihi oleh orang lain, maka dia sendiri akan melakukan perbuatan-perbuatan kasih juga. Seorang anak yang sangat dikasihi oleh orang tuanya, anak itu biasanya akan mempunyai sikap dan kecenderungan untuk mengasihi orang lain. Seorang pasien, walaupun bagaimana kasarnya, tetapi kalau ia mengalami minat dan kasih sayang dari dokter dan perawatnya sangat boleh jadi ia bisa berubah menjadi orang yang peramah dan pengasih.

Pernah terjadi seorang ibu yang sulit melahirkan harus mengalami operasi. Tetapi dalam operasi itu hanya satu yang bisa selamat. Ibu itu atau anaknya. Ketika ditanyakan kepada ibu itu, tanpa berpikir lagi ia menjawab anaknya harus selamat, walaupun dengan itu ia harus mati. Selama perawatan itu ibu tadi telah mengalami kasih sayang yang luar biasa dari suaminya, dari anak-anaknya, dari dokter dan perawatnya. Mereka sampai lupa diri karena memperhatikan dia dengan penuh kasih!! Apakah dia sekarang harus mementingkan dirinya dan mengorbankan anak dalam kandungannya? Tidak! Ia telah mengalami kasih sayang yang terlalu besar dan ia sendiri harus bisa mengamalkannya dengan perbuatannya juga.

***
Kita semua telah mengalami kasih Kristus. Dalam Injil hari minggu ini ia berkata: “Seperti Bapa mengasihi Aku, demikian pula Aku mengasihi kamu”. Dan kasih Kristus itu sedemikian besarNya sampai Ia menyerahkan nyawaNya untuk kita. Bagaimana sikap kita? Kristus katakan supaya kita tinggal dalam kasihNya. Dan selanjutnya: Kamu harus saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu. Kasih Kristus yang kita alami, harus dapat kita amalkan dalam perbuatan nyata kepada orang lain (seperti ibu dalam ceritera di atas, yang mengalami cinta dan sanggup melaksanakan cinta).

Kiranya jelas untuk kita bahwa yang pertama-tama kita harus tinggal dalam kasih Kristus, yang berarti kita harus bisa mengalami dan mengerti kasih Kristus kepada kita. Ini adalah dasar yang tepat untuk menjadi landasan bagi cinta kita kepada sesama kita. Dan selanjutnya kalau kita sudah mengalami dan mengerti kasih Kristus, maka kita harus dapat mengamalkannya kepada orang lain dalam perbuatan nyata. Kasih yang berasal dari Kristus tidak boleh kerdil dan mandul!!.
Muder Teresa dari Kalkuta pernah mengisahkan ceritera berikut ini.

Pada suatu hari satu pasang orang muda yang kelihatan dari keluarga berada datang ke rumah kami dan menyerahkan kepada saya sejumlah besar uang untuk dibelanjakan bagi orang-orang miskin. Di Kalkuta kami selalu memasak untuk 9000 orang miskin setiap hari. Pasangan muda itu mengharapkan agar uang mereka dipergunakan untuk membeli makanan bagi orang-orang itu. Kemudian saya bertanya kepada mereka: “Dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu?”

Mereka menjawab: “Dua hari yang lalu kami menikah. Sebelum pernikahan dilangsungkan, kami memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan uang membeli busana pernikahan yang mewah dan mengadakan perjamuan pernikahan yang meriah. Kami, menghendaki uang itu diberikan kepada kaum miskin!”
Hendaknya diingat bahwa bagi kasta Hindu yang tinggi, tidak mengadakan pesta dengan segala kemegahannya, merupakan suatu skandal besar. Keluarga, sahabat dan kaum kerabat mereka tidak dapat membayangkan pernikahan suatu pasangan dari keluarga yang demikian terpandang dilangsungkan tanpa gaun dan pesta pernikahan yang meriah.

Maka Muder Teresa menanyakan kepada mereka: “Mengapa kamu memberikan kepadaku seluruh uang itu?” Dan mereka memberi jawaban yang mengagumkan ini: “Kami rasa merupakan cinta Tuhan yang luar biasa bahwa Ia sudah mempertemukan kami berdua. Kami sungguh saling mencintai. Cinta Tuhan dan cinta kami berdua sudah cukup bagi kami. Yang lain-lain tak terlalu kami butuhkan. Cinta Tuhan yang telah kami peroleh dan hayati, ingin kami bagi-bagikan kepada orang lain, terlebih untuk mereka yang sangat membutuhkan cinta itu!”.

Kiranya benar, apa yang telah kita terima secara cuma-cuma, harus kita berikan pula secara cuma-cuma!!nn

Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *