By Sr. Petronella Lie SCMM
Pertanyaan-pertanyaan yang Menantang
Bukan rahasia lagi bahwa semua Kongregasi religious sedang mengalami masa-masa yang sulit. Dunia berubah, dan kita semua juga berubah bersama dengan dunia yang berubah itu. Ini tidak bisa dielakkan karena para religious tidak hidup di luar dunia riil. Di tengah gegap gempita tawaran-tawaran dunia modern yang semakin beragam dan terbuka luas, dimana manusia menyadari dirinya bukan lagi sebagai pusat alam semesta, orang sangat gampang kehilangan orientasi, terfragmentasi, tidak tahu lagi apa dan bagaimana menghidupi kebenaran. Masalah-masalah kekuasaan, kemiskinan, keadilan, kekerasan, individualism, konsumerisme, pemuasan diri secara egois, seksualitas, dan lain sebagainya yang telah tercampur aduk dengan peristiwa-peristiwa perang dan bencana alam telah ikut serta menambah kekalutan serta carut-marutnya kehidupan nyata umat manusia. Dalam dunia yang terus bergulir dengan pelbagai macam hal yang berkecamuk di dalamnya, para religious ditantang untuk mau tahu dan harus tahu apa arti dan tujuan hidupnya sebagai religious, kini dan di sini, “Mengapa aku menjadi religious? Mengapa aku mau tetap religious? Mengapa aku melakukan apa yang kulakukan? Maksudnya apa? Hasilnya apa? Yang dulu dilakukan para religius, kan kini dilakukan oleh kaum awam juga? Maka, mengapa menjadi religious?” Jika tujuan hidup tidak jelas lagi, maka cita-cita juga akan merosot, hidup kita akan kecewa, frustrasi, dan kehilangan maknanya. Kita sendiri dan kaum awampun ingin tahu apa arti dan tujuan hidup religious dalam masyarakat sekarang, ingin tahu apa cara hidup ini masih ada gunanya, sehingga masih tetap layak untuk diteruskan; ingin tahu apakah kita tidak hanya memboroskan hidup, waktu, dan energy saja dengan tetap tinggal dalam biara.
Hidup religius tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai “kelompok sosial” atau “serikat buruh” saja dalam Gereja; hidup religius lebih daripada itu. Hidup religius dimaksudkan menjadi kehadiran yang menghangatkan, yang menginspirasikan. Para religius sejak dahulu melakukan apa yang belum atau tidak mau dilakukan oleh orang, sehingga orang-orang itu kemudian menjadi tergerak untuk juga ikut mengulurkan tangan. Apapun yang dibuat itu, karya apapun itu, tidak boleh menjadi tujuan utama, sebab pada saat karya itu tidak lagi dibutuhkan, tidak aktual lagi, atau sudah dilakukan oleh setiap orang, maka hidup religius lalu bisa kehilangan arti. Hidup religius bukanlah pertama-tama menyangkut jenis karya yang dilaksanakan, tetapi tentang ALASANnya, mengapa karya itu dilakukan! Jawaban-jawaban lama yang dulu memuaskan sekarang telah tidak memadai lagi.
Jalan hidup religius bukanlah pilihan yang lebih baik, bukan pilihan yang lebih tinggi atau sempurna, bukan cara hidup sempurna buat orang sempurna. Hidup religius itu dibarengi pergulatan. Usaha nonstop dibutuhkan. Kegagalan diterima sebagaimana adanya. Kendati bagi sejumlah orang, hidup religius adalah jalan satu-satunya untuk hidup sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah, dalam semangat Allah, demi Kerajaan Allah.
Di manakah letak identitas kita? Kita memberikan diri kita sendiri, utuh dan sepenuhnya untuk jalan hidup itu, dari hari ke hari dalam kehidupan kita, tanpa imbalan, tanpa promosi, tanpa tempat yang patut disebut “home”, tanpa ada teman hidup. Tinggal pertanyaan: MENGAPA???
Ada pelbagai reaksi dapat muncul dalam menghadapi krisis. Ada yang memutuskan untuk menyangkal atau mengabaikannya, melanjutkan rutinitas dengan menganggap seolah-olah tidak ada masalah, bahkan melihat krisis itu menunjukkan kurangnya keyakinan akan Allah. Ada pula yang memandang krisis sebagai kesempatan untuk bertobat. Yang lain mencari kompensasi jalan pintas dengan tidak banyak menuntut hal-hal pribadi, menjalani keseharian secara dangkal saja, melarikan diri dalam kegiatan kerasulan yang berkepanjangan, menggantungkan diri pada “teman selibat” atau “pembimbing rohani” yang akan menemukan kembali bagi mereka jati diri dan makna hidupnya yang hilang, bergabung dengan gerakan-gerakan religious terbaru untuk mencari pengalaman-pengalaman baru. Bahkan ada pula yang memutuskan untuk meninggalkan jalan panggilan hidup religious. Di dalam komunitas-komunitas religious, acara televisi telah menggantikan doa malam sebagai perjumpaan terakhir setiap hari, dan selama pertemuan-pertemuan informal yang dilakukan sampai larut malam seperti itulah pembicaraan secara terbuka dan apa adanya mengenai situasi dan masa depan hidup religious lalu dibicarakan secara sambil lalu. Di banyak Tarekat Religius, muncul tiga gejala, terutama dikalangan para pemimpin: memperbaiki gedung atau minat terhadap bangunan-bangunan fisik, semakin banyaknya ahli sejarah dan perhatian yang berlebihan terhadap arsip atau cara pemujaan masa lalu, dan semakin banyaknya aturan, dokumen, program dan peraturan, atau keyakinan akan manjurnya kata-kata atau tulisan.
Hanya kita sendiri, kaum religius yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan menantang dan mengatasi krisis itu serta memperbaharui kehidupan kita, bukan orang lain. Hanya kitalah yang dapat menjawab pertanyaan tentang apakah arti dan guna hidup religius di zaman ini? Adakah suatu alasan yang meyakinkan, satu alasan penting yang membuat hidup religius dapat diterima sebagai memang harus ada? Adakah suatu karya yang tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh awam? Apakah sebenarnya tujuan dan arti dari kaul-kaul selibat, kemiskinan dan ketaatan itu? Pada zaman sekarang ini, kita perlu mengetahui apakah hidup religius masih bernilai, masih cocok dan baik, masih berguna, masih relevan, masih memberi hidup, masih indah???
Menggali MAKNA dari Panggilan Dasar Kristiani: Kemistikan dan Kenabian!
Krisis paling dalam pada kehidupan religious adalah krisis makna. Hanya ketika keinginannya yang murni akan makna dipatahkan, maka orang akan mengejar kenikmatan dan kekuasaan. Penemuan makna hidup religious hanya dapat dilakukan dengan menempatkannya kembali pada dimensi mistik dan dimensi kenabiannya. Para religious, oleh pembaptisannya sebagai orang Kristiani, dipanggil dengan dua ciri identitas panggilan yang mendasar: kemistikan dan kenabian. Keduanya senantiasa menyertai proses pematangan dan pemurnian kepribadian, yang membawa seorang Kristiani pada kepenuhan makna perjalanan hidup dan panggilannya. Dalam cara yang sama hidup religius juga merupakan kemistikan dan kenabian: pembaktian diri secara khusus dalam suatu kehidupan yang akrab-mesra dengan Kristus (kemistikan), dan evangelisasi atau pewartaan Kabar Gembira tentang keadilan dan belaskasih Allah (kenabian).
Budaya modern yang hiruk-pikuk dimana setiap orang sibuk dengan seribu satu macam hal yang semakin memperdalam kegelisahan, mengusik ketenangan, menggusur keheningan, serta menggersangkan kehidupan batin dan relasi keakraban dengan sesama dan Tuhan. Tidak heran apabila hidup menjadi kering dan pelaksanaan tugas-tugas kewajiban dirasakan sebagai rutinitas belaka. Maka hidup terasa kosong, tak berguna dan tanpa makna. Ketiadaan kemistikan ini bukan hanya menekan orang ke dalam gaya hidup rutin, tetapi juga secara perlahan-lahan mengikis semangat profetis dan pewartaan tentang keadilan dan belaskasih Allah. Inilah saat dimana manusia diundang untuk “pulang”, masuk ke kedalaman dirinya, kembali pada kehidupan batiniahnya, dimana dia dapat berjumpa dengan Sang Sumber Hidup, Dialah Tuhan, yang adalah awal, alasan, dan tujuan hidup kita. Sebagaimana setiap agama selalu berawal dari suatu pengalaman mistik, demikian Karl Rahner mengingatkan kita: “Orang Kristen di masa depan haruslah menjadi seorang mistikus atau dia tidak ada sama sekali.” Thomas Aquinas menegaskan bahwa tugas pertama kita bukanlah untuk menebus orang dari dosa melainkan menyatakan misteri-misteri ilahi pada mereka. Bede Griffiths, yang telah hidup di sebuah asrama di India sejak tahun 1955, berpendapat bahwa kekristenan, sebagaimana juga hidup religious, haruslah menemukan kembali panggilan dasarnya dan memelihara tradisi mistiknya atau sama sekali tidak lagi menyumbang bagi dunia.
Kemistikan dan Kontemplasi
Apabila kita berbicara mengenai kemistikan, maka kita berbicara tentang pengalaman batin, kontemplasi! Kebanyakan orang menyebutkan dua bentuk hidup membiara di dalam Gereja sebagai “hidup membiara aktif” dan “hidup membiara kontemplatif” sehingga kedua kata “aktif” dan “kontemplatif” seolah-olah bertentangan dan mengandung ketegangan. Padahal mestinya istilah yang tepat adalah “hidup membiara aktif” dan “hidup membiara monastic”. Yang satu menemukan wajah Allah dalam diri kaum miskin dan orang-orang yang dilayani; sementara yang lain hendak menemukan Allah dalam keterasingan dan keterpisahan hidup dari keramaian dunia. Namun, kontemplasi adalah dasar, awal dan akhir usaha bagi keduanya. Kontemplasi merupakan daya kekuatan dari kehidupan religious, entah yang aktif maupun monastic.
Kemistikan adalah suatu pengenalan akan Allah yang dialami secara nyata, tidak hanya diketahui secara intelektual. Pengenalan akan Allah ini dialami lewat suatu kontemplasi mendalam, tanpa bunyi kata-kata, tanpa bantuan daya jasmani atau rohani apapun, dalam keheningan dan ketenangan, dalam kegelapan terhadap segala perkara inderawi dan kodrati, dimana orang mengalami secara misteri kenikmatan dan cintakasih. Dalam pengalaman ini orang mengalami perjumpaan dan pergaulan dengan “Realitas Hidup tak terperikan”, baik yang ada dalam diri manusia dan seluruh alam semesta, maupun yang ada di luar diri manusia dan seluruh alam semesta. Realitas hidup tak terperikan itulah yang dirasakan bagaikan penggerak hidup dan daya tarik hidup, atau dengan kata lain merupakan asal dan tujuan hidup manusia. Pengalaman ini merupakan suatu proses panjang dari pemurnian, pencerahan dan pencurahan cintakasih yang terus-menerus, yang akhirnya akan menjadikan jiwa serupa dengan Allah lewat kematian dari dirinya sendiri (Gal 2: 20, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”). Suatu kehidupan dimana Allah sendiri yang memegang kendali, seluruh hidup berada dalam kuasa dan bimbingan Roh Kudus.
Panggilan Hidup Mistik: Belajar dari Kemistikan Yesus
Ketika kita memikirkan tentang sisi kontemplatif dari hidup Yesus, kita kerap hanya menghubungkannya dengan malam ketika Dia pergi ke gunung untuk berdoa, atau dengan saat-saat ketika Dia menengadahkan mataNya pada Bapa dan berbicara akrab denganNya. Sebenarnya, saat-saat kontemplasi itu bagi Yesus merupakan kesempatan untuk menyelami misteri dan kebijaksanaan Ilahi yang disampaikan Allah kepadaNya, yang memampukan Dia melihat sesamaNya melalui mata Bapa. Karena itu, kemistikan bukanlah suatu anugerah yang dicurahkan ke dalam hidup, melainkan kehidupan yang dilihat melalui mata Bapa. Untuk sampai pada tingkat kesadaran demikian, kita harus menjadi seperti Nikodemus, dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh 3:5, 21, 27), agar tahu apa itu terang dan hidup dalam kebenaran. Kebenaran (aletheia) berarti terbuka (tak terselubung), terungkap. Roh Kudus mengungkapkan misteri ilahi, “Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal tersembunyi dalam Allah” (1 Kor 2:10).
Para Penginjil mengisahkan bahwa pada saat-saat tertentu Yesus mengundurkan diri pergi menyepi ke gunung untuk berdoa, atau Dia sepanjang malam berbicara dengan Bapa (Luk 5:16; 6:12; 9:18,28; 11:1; 22:41). Dia hidup dan berbicara dalam kesadaran tetap bahwa Bapa ada bersama Dia (Yoh 8:16; 16:32; 14:10). “Aku datang dari Bapa”, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:10, 17, 21; 14:31). “Bapa dan Aku adalah satu” (Yoh 10:30; 17:11, 21, 22). Menurut Yohanes, dari kontemplasi dan pengalamanNya terdalam dengan BapaNya itulah Yesus mengalami kesatuan mutlak dengan Bapa, bahwa mereka pada dasarnya adalah satu. Dari kesatuan mendalam dengan Bapa itu pula, Yesus memahami misi Ilahi yang Ia terima dari Allah serta konsekuensi yang harus Ia tanggung dalam menjalankan misi Ilahi tersebut. Karena dalam kesatuan itu, Bapa adalah sumber dan penggerakNya dan Dia adalah pengejawantahan Bapa. Ada suatu co-penetrasi total dan intens (perichoresis) di antara mereka. Itu sebabnya Ia berkata, “Apa yang Kukatakan kepadamu, Kuucapkan bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan dari Bapa yang tinggal di dalam Aku melakukan karyaNya” (Yoh 14:10); “Siapapun yang melihat Aku, melihat Bapa” (Yoh 14:9); “Siapapun yang mendengarkan Aku, mendengarkan Bapa” (Yoh 14:10); “Siapapun yang mengenal Aku, mengenal Bapa” (Yoh 14:7). Kesadaran akan Bapa yang ada bersama Dia dan di dalam Dia telah membuat Yesus memahami sepenuhnya akan tugas perutusanNya untuk melakukan kehendak Bapa (Yoh 3:34; 5:30) dan menyelesaikan pekerjaan Bapa (Yoh 4:34; 6:29).
Pengalaman kontemplasi yang serupa dialami oleh Paulus ketika ia mengatakan: “Aku kini hidup, bukan Aku, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Demikian pula sekarang ini, dalam iman yang kita yakini akan Kristus, yang adalah Imanuel, Allah beserta kita di sini dan sekarang, kita tidak hanya percaya akan Yesus yang hidup lebih dari 2000 tahun yang lalu, tetapi juga bahwa Dia tetap hadir dan menyertai kita selalu sepanjang segala masa. Kita para religious yang hendak mengikuti Yesus secara lebih dekat hendak menapaki jalan kehidupanNya, dengan membina suatu spiritualitas yang berbasis pengalaman akan Allah yang mengalir ke dalam suatu kehidupan kenabian kontemplatif.
Panggilan Menjadi Nabi: Bercermin pada Gaya Hidup Kenabian Yesus
Sosok Yesus yang ditampilkan di dalam Kitab Suci dikenal sebagai orang biasa dari rakyat sederhana yang berasal dari Nazaret di Galilea. Galilea dalam arti tertentu merupakan daerah yang paling menderita karena situasi politik yang diterapkan pada zaman itu. Dalam Injil, pribadi Yesus ditampilkan sebagai orang yang memiliki visi jelas, tegas, tidak kenal kompromis terhadap keadaan yang menyebabkan orang menderita, militant, seorang pejuang yang tidak mengenal takut. Terhadap orang-orang kecil, miskin, sakit, menderita, dan berdosa Dia tampil sebagai sosok bersahabat yang lembut, menghibur dan penuh pengertian, menolong, menyembuhkan, penuh belaskasih dan pengampunan. Tetapi berhadapan dengan para pemegang kuasa baik agama maupun politik, Dia tidak segan-segan bertindak provokatif dan profetik (bdk. Yoh 2:13-25, pembersihan di Kenisah; Luk 11:37-54, 20:45-47, kecaman-kecamanNya pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat); Dia tokoh controversial yang revolusioner, berani mendobrak tradisi, ritual, kemapanan, diskriminasi, struktur, system dan otoritas yang kaku, serba menekan, dan bertentangan dengan cintakasih dan kehendak Allah.
Dari kesatuanNya yang tak terpisahkan dengan Bapa, Yesus bertindak keluar dengan kesadaran penuh akan misi Ilahi yang Dia terima dari Bapa beserta konsekuensi yang dituntut daripadanya. KomitmenNya pada misi Bapa menuntut gaya hidup luar biasa yang didorong oleh cinta yang membara pada umatNya yang menderita. Gaya hidup dan sikap Yesus sedemikian memasukkan Dia ke dalam situasi konflik dengan beberapa pihak, terutama pihak penguasa, penganut agama ritual dan aturan. Dengan gaya hidup, bicara, dan bertindak seperti itu, Yesus sadar akan nasib yang akan menimpa diriNya. Dia sadar bahwa pilihan hidupNya membawa resiko penderitaan, salib dan kematian.Yesus kemudian memang sungguh menderita dan dihukum mati karena gerakan keagamaan yang dianggap mengganggu stabilitas. Dapat dikatakan pula bahwa Yesus dihukum mati karena pembelaan kemanusiaan yang tertindih oleh suatu kemapanan.
Panggilan Kenabian Religius
Dari pengertian etimologisnya, hidup membiara dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kehidupan atau suatu persekutuan hidup, yang anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang yang hidupnya dibaktikan kepada Allah, dikuduskan bagiNya, hidup hanya untuk Allah. Hidup religius merupakan hidup yang terus-menerus terarah kepada Allah dan senantiasa berhubungan dengan Allah (“Vita Consecrata”: Hidup yang dikonsekrir/dikuduskan/ditakdiskan/dikhususkan untuk diperuntukkan hanya bagi Tuhan).
Para religious, oleh pentakdisan, telah dikhususkan bagi Allah untuk lebih menampilkan aspek profetis atau kenabian dari hidup Yesus, dengan tugas memberi kesaksian tentang kehadiran Kerajaan Allah pada akhir zaman (VC 26). Panggilan untuk menjalankan tugas profetis yang merupakan jati diri hidup religious itu, harus terungkap dan terwujud (dapat dilihat, dirasakan, dan dialami oleh orang lain) melalui keseluruhan hidup, pelayanan, dan penghayatan kaul-kaul kebiaraan ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Menghayati hidup sebagai religious dengan kekhasan panggilan kenabian itu berarti mengenakan keutamaan-keutamaan dan keprihatinan Yesus serta pilihan-pilihanNya untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik dalam kenyataan keseharian hidup kita, baik yang sederhana maupun yang rumit dalam kancah kehidupan.
Ketiga Kaul Religius: Ketaatan, Kemiskinan, dan Kemurnian/Selibat
Sebelum Konsili Vatikan II, hidup membiara -dalam prakteknya- lebih dipandang sebagai askese atau latihan matiraga dalam rangka tujuan mau mencapai kesucian atau kesempurnaan. Manusia mengalami bahwa dalam dirinya terdapat tiga kecenderungan dasar yang pokok, yang mengganggu dan menghalangi hubungan dengan Allah. Kecenderungan-kecenderungan itu ialah:
– Kesombongan, yaitu keinginan manusia untuk mandiri sebagai makhluk yang punya otonomi dan kehendak bebas, mau menentukan dan menguasai segala-galanya sendiri;
– Keserakahan, yang tampak dalam kecenderungan manusia untuk memiliki dan mengumpulkan harta-harta duniawi;
– Nafsu seksual, yang didorong oleh naluri manusia untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan speciesnya.
– Untuk mencapai kesucian dan kesempurnaan, ketiga kecenderungan itu harus dilawan. Maka muncullah tiga kaul yang bertujuan menentang ketiga kecenderungan itu:
– Untuk melawan kesombongan, diikrarkan Kaul Ketaatan. Dengan kaul ini, orang mau dilatih untuk rendah hati, rela mengorbankan otonomi diri dan kehendak bebasnya.
– Untuk melawan keserakahan, diikrarkan Kaul Kemiskinan; dengan itu orang mau melepaskan hak milik dan hak pakai secara bebas atas barang-barang dan tidak mau terikat dengannya.
– Sedangkan untuk melawan nafsu seksual, diikrarkan Kaul Kemurnian, yang berarti hidup bertarak dengan berpantang terhadap perbuatan-perbuatan seksual seumur hidup.
Dalam pengertian ini, hidup membiara menyalakan “”lampu merah” terhadap: kuasa, kedudukan, kekayaan, barang-barang, fasilitas, hubungan/relasi antar manusia (terutama lawan jenis), tubuh, dan sex, yang dianggap sebagai sumber dan penyebab dosa serta merupakan gangguan terhadap cinta akan Allah.
Sejak Konsili Vatikan II, hidup membiara mendapat makna yang lebih positif. Teologi hidup membiara tidak lagi menekankan segi asketis, melainkan lebih pada segi pelayanan, kesaksian dan cinta. Hidup membiara diletakkan dalam konteks hubungannya dengan Gereja, dan Kerajaan Allah. Sehingga menjadi seorang religius atau biarawan/wati bukan lagi bertujuan mau mengejar kesucian pribadi, melainkan untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat, dan untuk mengabdi Gereja. Hidup membiara dihubungkan dengan Kerajaan Allah. Karena Kristus telah datang ke dunia, bukan untuk mencari kesenangan dan kesempurnaan diri sendiri, melainkan untuk mewartakan dan membangun Kerajaan Allah di dunia ini.
Di dalam Gaudium et Spes (GS) 3 dikatakan bahwa hidup membiara, sebagai bagian dari hidup Gereja, memiliki tugas luhur untuk dibawah bimbingan Roh Kudus, melanjutkan karya Kristus sendiri, mewartakan dan membangun Kerajaan Allah, dengan datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran, untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi, untuk melayani dan bukan untuk sendiri dilayani.
Demikianlah yang penting dalam teologi hidup membiara dewasa ini bukan lagi soal mengejar kesucian atau kesempurnaan diri pribadi, tetapi soal Kerajaan Allah, yang adalah Kerajaan damai, keadilan dan cintakasih. Hidup membiara merupakan ungkapan cinta kepada Allah dan sesama, sekaligus sebagai pengabdian pada Kerajaan Allah di dunia. Inilah merupakan aspek kenabian dari penghayatan ketiga kaul hidup religious di masa kini.
Memaknai Panggilan Hidup Religius Sebagai Mistikus Dan Nabi Di Tengah Dunia
Kita hidup di dalam dunia yang secara kultural dan eklesial telah berubah. Paus Yohanes Paulus II berulang-ulang mengingatkan kita akan Yubileum 2000 tahun penebusan dan mengajak kita menyongsongnya dengan “evangelisasi baru dalam semangat, metode dan ungkapan.” Dalam semangat solidaritas dan citarasa menggereja, kita diharapkan tidak menyendiri, melainkan melibatkan diri dalam gerakan ini. Aktualitas dan urgensi evangelisasi makin nyata bila kita memperhatikan kawasan-kawasan dunia dan negara kita akhir-akhir ini. Evangelisasi adalah perutusan setiap orang kristen. Di mana sebagai seorang Kristiani, apalagi sebagai seorang religius, kita diminta untuk menjadi saksi tentang dan mewartakan rencana Allah (yakni hidup sebagai putera-puteri Allah, yang akan berbagi dengan dunia sebagai saudara-saudari), dan untuk menantang realitas sekarang ini atas dasar rencana Allah. Sehingga dengan demikian kita sungguh dapat hadir sebagai “pelaku-pelaku perubahan” dan “pelaku-pelaku keselamatan” di manapun kita hidup dan diutus.
Dunia yang Membutuhkan Pewartaan Mistik dan Profetis
Dunia yang harus mengalami pewartaan mistik dan profetis adalah dunia yang terpecah-belah secara ekonomis, cultural, religious, dan social dan dunia yang dilanda sekularisasi. Bila kita mengamati keadaan dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir ini di wilayah Asia, termasuk negara kita Indonesia, kita akan banyak menemukan terjadinya pergeseran nilai-nilai dari nilai-nilai tradisional ke nilai-nilai baru. Menurut nilai-nilai tradisional dikatakan bahwa, kita, bangsa Asia adalah bangsa yang religius, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan, bangsa yang diam dan tenang, cinta damai, sederhana, ramah, disiplin, anti kekerasan, suka gotong royong, bermusyawarah, dan seterusnya. Namun dalam sepuluh tahun terakhir ini, nilai-nilai itu menghilang secara drastis. Zaman kita lebih ditandai oleh fenomena-fenomena sosial yang sangat mencolok: urbanisasi, globalisasi, media informasi dan teknologi, yang membawa perubahan kultural yang besar dan keterbukaan terhadap pluralisme dan kepelbagaian corak serta perbedaan, yang menyertai munculnya semangat sekularisme, materialisme, konsumerisme, hedonisme, individualisme, dan tindak kekerasan. Belum lagi adanya fakta keterpecahbelahan dan pergulatan yang hebat antara kekuatan-kekuatan yang saling betentangan: sengketa-sengketa politik, sosial, ekonomi, rasial dan ideologi yang masih terus berkecamuk dengan sengitnya.
Dewasa ini pemikiran modern dianggap sudah ketinggalan zaman. Pemikiran filsafat modern (sejak abad 16), yang dipengaruhi oleh positivisme rasionalis, menggarisbawahi impian-impian sosialis besar, kemajuan, kebebasan, keadilan berdasarkan akal budi dan pada keyakinan bahwa agama meletakkan hambatan terbesar bagi kemajuan manusiawi. Namun modernitas dirasakan tidak memuaskan dan ditegaskan sebagai proyek yang tidak lengkap, karena tidak sempurna, kendati mempunyai masa depan. Maka muncullah reaksi anti modern dalam bentuk romantisme yang bernostalgia mengenai masa lampau, dan gerakan-gerakan antikonformis yang progresif seperti gerakan mahasiswa 1968.
Sekarang orang berbicara tentang pascamodern. Ini adalah usaha untuk melepaskan diri dari yang modern. Manusia dewasa ini tidak kerasan, baik dalam masyarakat maupun dalam kosmos, atau dalam dirinya sendiri. Apabila yang modern diwarnai oleh rasionalisasi kehidupan (allah akal budi), maka yang pascamodern menentang dominasi akalbudi ini. Orang lebih suka mengatakan “Aku merasa, maka aku ada”, daripada “Aku berpikir, maka aku ada”. Ada kebutuhan untuk senantiasa terbuka terhadap perubahan terus-menerus. Ada keterpesonaan terhadap yang misterius, terhadap ungkapan religious yang lebih personal, bergairah, menyenangkan dan intim.
Situasi pasca modern ini harus diteliti dalam segala cahaya dan bayangannya. Ia tampil dalam bentuk tantangan lewat pewartaan kenabian dan evangelisasi baru dengan me-reevaluasi pengalaman religious. Teologi akademis harus dilengkapi dengan teologi “lutut”, misteri harus digarisbawahi, praktek harus dilengkapi dengan dimensi perayaan dan syukur atas anugerah-anugerah Allah.
Yesus: Model Kita dalam Menghayati Panggilan Mistik dan Kenabian
Menempatkan Yesus sebagai model bagi panggilan mistik dan profetis berarti secara vertical, dalam hubungan dengan Allah, seorang religious harus menjadi:
1.“Orangnya Tuhan”
Kesadaran akan diri sebagai milik Kristus semata, karena sudah ditangkap, terpesona, tersentuh, tertarik oleh Kristus, sehingga Kristus saja cukup! Kristuslah yang mengisi, membahagiakan, dan memuaskan hati; Kristus begitu berharga sehingga seorang religious rela melepaskan segalanya: cinta romantis, perkawinan, harta milik, kebebasan dan kehendak sendiri; semua itu dilepaskan asalkan dapat dekat dengan Dia, dapat memilikiNya dan menjadi milikNya. Pengalaman mendalam bersatu dengan Kristus mendorong seorang religious untuk juga semakin dekat dengan sesamanya. Semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin kita terdorong untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada orang lain; semakin kita sadar dan peka akan kehadiran Kristus di dalam kehidupan konkrit dan di dalam diri sesama kita, semakin kita menjadi semakin peka pula akan kebutuhan sesama kita. Dengan kata lain, semakin kita menjadi “milik Kristus”, semakin kita berguna pula bagi orang lain. Semakin kita menjadi “orangnya Tuhan”, semakin kita berarti bagi masyarakat. Semakin kita dijiwai oleh semangat Kristus, semakin kita mampu untuk membahagiakan sesama kita.
2.“Pribadi Pendoa”
Di dalam hidup religius, doa bukanlah tambahan atau urusan sampingan. Tanpa doa, tidak ada hidup religius. Tanpa doa, akan mustahil bagi kita untuk memberi arti bagi hidup religius kita. Tanpa doa, kehadiran kita bagi orang lain akan kehilangan maknanya.
Religius sebagai pembawa Kristus kepada orang lain, terlebih dahulu sendiri harus mengenal Dia. Bagaimana mungkin kita dapat mewartakan Kristus kepada orang lain, kalau kita sendiri belum kenal akan Dia? Bagaimana mungkin kita dapat menampakkan cinta kasih Allah yang setia, kalau kita sendiri belum pernah mengalami dan dipenuhi oleh cintakasih itu? Yang tak dikenal, tidak dicintai! Demikian pula kita tidak mungkin bisa membagikan apa yang kita sendiri tidak memilikinya. Hanya orang yang mengalami cinta Kristus dapat mewartakan cinta itu kepada orang lain.
Pengalaman dengan Tuhan kita peroleh lewat doa. Di dalam doa itu, kita tidak hanya mengenal Tuhan dan kuasa kasihNya, tetapi juga akan semakin mengenal diri kita sendiri, semakin tahu dan sadar siapakah dan apakah aku ini, identitasku yang paling otentik. Di dalam doalah saya baru bisa menjadi jati diriku sendiri.
3.“Pribadi yang setia”
Salah satu sifat Allah yang paling kita butuhkan adalah Allah yang setia, bahwa Ia mencintai kita di atas segala-galanya dengan kasihNya yang abadi. Dalam situasi apapun, juga apabila dari pihak kita sendiri kita terdapat tidak setia, kasihNya tak kunjung padam, tidak pernah dibatalkan, tak pernah dicabut.
Sebagai religius, kita dipanggil untuk menampakkan dalam kehidupan kita sifat Allah yang setia itu. Dalam cara hidup kita, dalam tingkah laku kita, dalam pengabdian kita, pokoknya dalam kesetiaan kita, kita menampakkan kesetiaan Tuhan kepada manusia.
Setiap pilihan hidup, termasuk pilihan hidup sebagai religius, selalu berarti membuat batasan, melepaskan sesuatu lain yang juga tidak kalah bagusnya, berarti “mati” terhadap pilihan lain. Memilih bagaikan “melompat dalam kegelapan,” melangkah ke “tanah yang tak dikenal,” seperti halnya Abraham. Dan seperti Abraham, kitapun hendaknya terbuka menyerahkan diri kita pada kehendak dan rencana Tuhan. Dari pihak kita hanya diminta keyakinan untuk percaya bahwa Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita.
Secara horizontal, dalam relasi dengan sesama, seorang religius:
1.Di luar institusi (non – institusional): ia bergerak di bidang visi (visioner), aspirasi, memberi harapan dan menunjukkan arah tujuan; menjadi inspirator dan animator. Dalam Perjanjian Lama, nabi menjadi penasehat raja dan imam.
2.Counter – cultural: ia melawan arus, mempunyai dan memperjuangkan nilai-nilai alternative, dan membuat terobosan-terobosan baru.
3.Politis: ia menyuarakan keprihatinan orang-orang yang tidak bisa bersuara dari kaum minoritas, marginal, dan menjadi duta nilai-nilai yang lebih mendalam.
4.Inklusif: ia merangkum semua, terbuka, fleksibel, memandang martabat manusia dan ciptaan lain secara integral. Dualisme tidak ada dalam imaginasi seorang nabi. Ia diutus pada semua orang untuk membela nilai-nilai manusia dan ciptaan.
Penutup
Untuk menemukan kembali makna hidup dan panggilannya, para religious perlu mengembangkan suatu spiritualitas yang berbasis pengalaman akan Allah yang meningkatkan suatu kehidupan kenabian kontemplatif. Untuk itu dibutuhkan pembinaan emosional dan psiko-sosio-spiritual-seksual yang seimbang dan matang serta minat akan studi dan penyelidikan teologis untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis, kritis, dan kreatif. Selain itu, perlu pula menafsirkan kembali dan mengkontekstualisasikan karisma Tarekat agar relevan bagi masyarakat. Pelbagai usaha kerja sama yang baru yang akan meningkatkan kemampuan profesional mereka perlu dirintis, sambil mengembangkan sebuah pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam berbagai pelayanan, jaringan antar-kongregasi dan berbagi sumber daya, mengembangkan suatu gaya kepemimpinan yang kolaboratif dan partisipatoris, dan meningkatkan dialog bersama para penganut agama-agama lain.
Panggilan religius untuk hidup secara mistik dan profetis menantang komitmen para religius untuk menjalani selibat dengan kasih yang tak terbatas kepada Kristus dan kepada mereka yang sangat membutuhkan belas kasihan. Panggilan ini mendorong para religius untuk menghayati kemiskinan mereka dalam kesetiakawanan dengan orang yang sangat berkekurangan dan ketaatan dengan mendengarkan Roh Kudus dan dengan menentang struktur-struktur opresif. Penghayatan hidup mistik dan profetik hendaknya mendorong para religious untuk menyadari dan memanfaatkan potensi yang dianugerahkan Allah dalam dirinya dengan membaktikan diri pada misi Allah untuk menginkarnasikan Kristus, menyalurkan belaskasihan kepada orang-orang yang dikorbankan, terutama kaum wanita dan anak-anak, serta menggunakan prakarsa dan kemampuan yang ada dalam diri masing-masing untuk saling memberikan kekuatan. Menanggapi panggilan mistik dan profetis dalam dunia berarti tahu bagaimana mendengarkan suara Allah lewat tanda-tanda zaman, berani membuka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh perutusan kita untuk turun ke lapangan, ke pinggiran, ke gugusan depan, serta menjadi tanda dan sarana rencana Allah bagi sesama dan dunia.
Disadur secara bebas oleh Sr. Petronella Lie SCMM dari pelbagai sumber:
1. Artikel Kathleen Coyle, SSC, “Prophetic Mysticism: The Call to Live Prophetically’
2.Bab 6 dari Buku Albert Nollan, “Jesus Today: A Prophet and a Mystic”
3. Buklet Rm. J. Darminta SJ, “Yesus, Mistikus, dan Nabi”
4. Felicisimo Diez Martinez OP, “Membangun Kembali Hidup Religius – Hidup Karismatik dan Perutusan Kenabian”
Sumber: https://www.facebook.com/KOPTARI

