Bacaan I : Ayb 7:1-4.6-7
Bacaan II : 1 Kor 9:16-19.22-23
Bacaan Injil: Mrk 1:29-30
Injil menceriterakan bahwa Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita serba macam penyakit. Suatu sukses yang besar. Tetapi Yesus tidak bodoh, Ia tidak terikat pada hasil itu. Ia menarik diri untuk berdoa dan kemudian melanjutkan perjalanan tugas-Nya ke kota-kota yang lain. Ia tidak mau terikat dan melekat hati pada tempat di mana Ia berhasil untuk menyenangkan diri dengan hasil yang telah dicapai dan pujian orang. Tugas-Nyalah yang terutama. Oleh sebab itu Ia akan tetap berjalan menunaikan tugas-Nya dari kota ke kota.
*********
Banyak orang bisa silau oleh hasil yang telah dicapainya, sampai lupa diri.Kita tentu masih ingat ceritera dongeng mengenai seekor katak yang ingin menjadi besar seperti lembu.Ia lalu mengembangkan dirinya, semakin lama semakin besar. Menyadari bahwa usahanya membawa hasil, dia lalu semakin memaksa diri untuk mengembangkan dirinya. Akhirnya perutnya meletus.
Manusia sering seperti katak itu.Sudah berhasil, berusaha supaya lebih berhasil lagi, sampai lupa diri dari tugas pokoknya.Kita ingat sejarah Hitler dan banyak tokoh sejarah lainnya.Juga pada cukup banyak orang di sekitar kita, yang kemudian dibinasakan oleh hasilnya sendiri.
Kita hendaknya bisa menikmati maknanya bekerja itu, dan tidak terlalu terobsesi pada sukses besar dan penghargaan serta pujian orang lain. Seorang pastur pernah dipanggil untuk memberi perminyakan suci bagi seorang tukang kebun yang sakit berat, berbaring tak berdaya ditempat tidurnya. Sesudah pengakuan dan perminyakan suci tukang kebun itu berkata kepada pasturnya: “Saya hanya seorang tukang kebun. Sehari-hari saya bekerja di kebun majikanku, dan sering tidak terlalu berhasil. Mungkin saya akan meninggal dan menghadap Tuhan. Saya takut saya akan menghadap-Nya dengan tangan kosong. Saya tidak pernah mengerjakan yang cukup berarti bagi Tuhan dan sesama!” Pastur melihat kedua telapak tangan yang kasar dari tukang kebun itu, kemudian ia berkata: “Kalau engkau kelak menghadap Dia, tunjukkan saja telapak tanganmu itu. Ia akan mengerti!”
Tuhan menghendaki supaya kita bekerja, sebab Tuhan rupanya bekerja juga.Ia menghendaki supaya kita bekerja dengan sungguh dan tekun. Namun Tuhan rupanya tidak menuntut hasil dari kita. Kalau kita sudah berjuang dan bekerja dengan sungguh dan tekun namun tidak sukses, tidak berhasil, Tuhan tidak akan merasa kecewa karenanya. Bekerja itu sendiri sudah punya nilai. Memang ada orang yang merasa bahwa hidupnya gagal kalau ia tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berarti dari usahanya. Mereka sebenarnya orang-orang yang angkuh, yang mencari kepuasan diri dengan menciptakan monumen bagi dirinya.
Bekerja itu senantiasa bernilai, terlepas dari berhasil tidaknya.Kerja itu sendiri ada hikmatnya.
W. Barclay menceriterakan pengalamannya di bawah ini:
Salah seorang yang paling bahagia yang pernah saya kenal, orang yang sangat bahagia dengan pekerjaannya, adalah seorang pria yang bekerja dibengkel di kota tempat tinggal saya. Dia bukanlah seorang montir; ia tidak setinggi itu kedudukannya. Pekerjaannya, enam hari dalam seminggu, adalah mencuci mobil-mobil kotor.
Betapa ia bahagia dengan pekerjaannya! Dia mencuci mobil-mobil dengan begitu menyeluruh dan begitu bahagia sehingga mobil Anda akan begitu bersih dicucinya.
Karunianya adalah karunia untuk mencuci mobil!! Tapi betapa ia menggunakan karunia itu dan berbahagia karenanya!
Ada orang yang berkata bahwa yang diperlukan oleh dunia, dan oleh Tuhan, bukanlah terutama orang yang melakukan pekerjaan yang luar biasa, melainkan orang yang bisa mengerjakan hal-hal yang biasa dengan luar biasa. Seorang kondektur bis bisa menarik karcis anda dengan cara yang membuat seluruh hari anda cerah. Seorang pramuniaga bisa melayani anda sedemikian rupa sehingga dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.
******
Sumber: Buku Homili Tahun B, oleh Rm. Yosef Lalu, Pr
Penerbit: Komkat KWI – Jakarta

