Studi Evangelii Gaudium di Sekretariat Komkat KWI

evangelii gaudium.jpg

Dalam rangka mensosialisasikan seruan Apostolik Paus Fransiskus tentang “Evangelii Gaudium; Sukacita Injil”, Direksi kantor KWI Jakarta mengajak semua Sekretaris dan staf Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) untuk studi bersama di unitnya masing atas dokumen tersebut. Metode yang digunakan, diserahkan kepada masing-masing unit. Sekretariat Komisi Kateketik KWI sementara ini menggunakan metode katekese umat serta metode sharing tujuh langka dalam kegiatan studi reflektif ini.

Kegiatan studi reflektif mulai dengan membaca beberapa artikel yang telah ditentukan secara bergantian, kemudian peserta memilih kalimat, atau kata dari surat apostolik itu yang menyentuh atau menyapa pengalaman hidupnya. Kata-kata itu kemudian direfleksikan serta menimbulkan aksi nyata apa yang perlu kita lakukan dalam keseharian hidup kita, entah di tempat kerja, keluarga, komunitas atau dalam praksis hidup kita di masyarakat.

Berikut kami share-kan kegiatan studi Evangelii Gaudium pagi ini sekaligus sebagai ibadat pembuka untuk memulai kegiatan bekerja di Sekretariat Komisi Kateketik KWI

Sekretaris dan staf Komisi Kateketik KWI hari ini (Kamis 22/1/15), mengawali kegiatan kerja dengan membaca dan merefleksikan Evangelii Gaudium artikel 14, 15, 16, 17 dan 18.

Pada artikel 14, Paus Fransiskus berbicara tentang tanda-tanda zaman. Terdapat tiga bidang utama yang perlu diperhatikan dalam evangelisasi baru yaitu; Pertama; Bidang pelayanan pastoral biasa yang digerakkan oleh api roh untuk terlibat dalam kegiatan gerejawi (berkumpul untuk beribadat pada hari minggu dan hari raya, dsb). Kedua; adalah “orang-orang yang dibaptis yang hidupnya tidak mencerminkan tuntutan babptis”. Ketiga; Mewartakan Injil kepada mereka yang tidak mengenal Yesus Kristus atau mereka yang selalu menolaknya.

Pada artikel 15, Paus Fransiskus melihat pentingnya karya misioner Gereja. Maka dikatakan “Kita akan menyadari bahwa karya misioner adalah paradigma bagi semua kegiatan Gereja”. Sementara untuk artikel 16, 17, 18 dibahas tentang ruang lingkup seruan apostolik tersebut. Artikel 16 Paus menggarisbawahi pentingnya desentralisasi di keuskupan. Artikel 17 tentang beberapa garis pedoman untuk tahapan evangelisasi baru. Artikel 18, Paus Fransiskus mendorong kita untuk bersama-sama melaksanakan perutusan Gereja masa kini dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demkikian, kata sri Paus, “kita dapat menerima, di tengah upaya-upaya harian kita, seruan Injil; “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah” (Flp.4:4).

Refleksi dan aksi
Berdasarkan artikel-artikel (14 -18) yang telah dibacakan dan diresapkan, Skretaris dan staf Komkat KWI mengadakan sharing bersama. Sungguh menarik bahwa apa yang ditulis oleh Paus Fransiskus merupakan realitas dalam kehidupan Gereja Indonesia pula. Banyak umat Katolik yang beribadat secara rutin pada hari minggu, hari raya, dst. Tetapi ada pula orang Katolik yang hidupnya tidak mencerminkan sebagai orang katolik, atau orang yang sudah dibaptis. Misalnya sikap egois, masa bodoh dengan kegiatan lingkungan atau gerejawi, terlibat korupsi, tidak setia dengan janji perkawinannya. Banyak pula anak muda bahkan juga orang dewasa kita yang gampang pindah agama atau keyakinan karena berbagai alasan yang sebenarnya tidak mendasar.

Hal lain yang menarik adalah soal gerakan karya misi di Indonesia. Paus Fransiskus menegaskan bahwa “…karya misioner adalah paradigma bagi semua kegiatan Gereja…..”. Berkaitan dengan hal ini, terungkap dalam sharing bahwa betapa pentingnya peran dari Komisi Karya Misioner – KWI. Komisi ini dapat menjadi sebuah lembaga think-tank; yang dapat membuat penelitian-penelitian sosial-pastoral yang output- nya digunakan oleh lembaga lain dalam lingkup Gereja atau KWI untuk menyusun rencana strategis kegiatan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Dalam kaitan dengan penelitian, KKM tidak harus bekerja sendiri tetapi dapat bekerja sama dengan peneliti atau lembaga-lembaga riset lain yang berkompeten seperti di universitas-universitas Katolik yang ada di Indonesia.

Sebagai aksi, masing-masing peserta studi (sekretaris dan staf) berniat untuk menjadikan himbauan apostolik Paus Fransiskus ini sebagai sebuah gerakan dalam hidup, baik secara individu di keluarga,biara maupun sebagai anggota tim kerja di Komisi Kateketik KWI. Setidaknya, diharapkan agar kehadiran kita di tempat kerja (kantor), di rumah ataupun di komunitas biara senantiasa membawa sukacita bagi mereka yang senantiasa kita jumpai setiap hari.

Daniel Boli Kotan
Staf Komkat KWI – Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *