Paus Fransiskus (kanan) berjalan bersama Presiden Sri Lanka Mathripala Sirisena setelah tiba di negara itu pada Selasa. (Foto: ucanews.com)
Paus Fransiskus pada Selasa (13/01/2015) menyerukan “pencarian kebenaran” dalam “rangka penyembuhan” luka-luka akibat hampir tiga dekade perang etnis di Sri Lanka. “Proses penyembuhan juga perlu mencakup pencarian kebenaran, bukan membuka luka lama, melainkan sebagai sarana yang diperlukan untuk mempromosikan keadilan, penyembuhan dan persatuan,” kata Paus dalam pidato kedatangannya di Kolombo, Selasa.
“Tugas ini bukan merupakan suatu yang mudah untuk mengatasi warisan pahit ketidakadilan, permusuhan, dan ketidakpercayaan yang ditinggalkan oleh konflik,” kata Paus Fransiskus.
Sekitar 80.000 hingga 100.000 orang tewas dalam 26 tahun perang sipil di Sri Lanka yang meletus tahun 1983 ketika Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE) mulai melakukan pemberontakan yang bertujuan untuk menciptakan sebuah negara Tamil merdeka di utara dan timur negara itu. Militer Sri Lanka mengakhiri konflik tahun 2009 ketika pihaknya menyatakan menang atas LTTE, tetapi kelompok-kelompok HAM internasional menuduh pasukan pemerintah melakukan pelanggaran HAM termasuk penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa.
Paus Fransiskus mengatakan puncak kunjungannya ke negara pulau Asia Selatan tersebut adalah kanonisasi Beato Joseph Vaz yang memembangun kembali Gereja Katolik di pulau itu selama penjajahan Belanda.
Namun, Paus mengatakan kunjungannya juga berarti “menegaskan keinginan komunitas Katolik untuk menjadi peserta aktif dalam kehidupan masyarakat di sini”. Dia mencatat bahwa “ketidakmampuan untuk mendamaikan perbedaan dan perselisihan” di kalangan berbagai kelompok telah melahirkan ketegangan etnis dan agama lebih lanjut. Persatuan, kata Paus, “hanya dapat dilakukan dengan mengatasi kejahatan dengan kebaikan dan memupuk kebajikan dengan menguatkan rekonsiliasi, solidaritas dan perdamaian”.
Bapa Suci mendesak berbagai kelompok agama untuk berperan dalam proses rekonsiliasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. “Semua harus bebas untuk mengekspresikan keprihatinan mereka, kebutuhan mereka, aspirasi mereka dan ketakutan mereka,” kata Paus Fransiskus. Paus Fransiskus dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin agama – Buddha, Hindu, Muslim dan Kristen pada Selasa malam dalam acara “dialog antaragama” dimana ia diperkirakan akan mengulangi seruannya untuk penyembuhan dan persatuan.
Sambutan hangat
Paus Fransiskus diterima di bandara oleh Presiden Mathripala Sirisena, yang terpilih beberapa hari lalu dalam pemilu sengit dengan saingannya Mahinda Rajapaksa yang berupaya untuk masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika bertemu Presiden Sirisena, Paus Fransiskus memuji Sri Lanka atas keragaman agama dan warisan budaya sebelum menyerukan perdamaian.
Sepanjang jalan 35 kilometer menuju Kolombo, ribuan orang berkumpul di pinggir jalan sambil melambaikan bendera putih dan kuning serta bersorak-sorai ketika rombongan Bapa Suci lewat.
Hanya sekitar tujuh persen dari 20 juta penduduk di negara itu adalah orang Katolik, tetapi agama Katolik dipandang sebagai kekuatan pemersatu, termasuk orang-orang dari kedua mayoritas Sinhala dan minoritas etnis Tamil.
Warga Tamil yang menyambut kedatangan Paus mengatakan mereka sangat tersentuh oleh pidato Bapa Suci. “Kami mendengar melalui radio bahwa Paus mendesak para pemimpin politik untuk menghormati hak asasi manusia di negara ini … saya sangat bangga ia berbicara penderitaan kami,” kata Dina Maheshwari, 55, guru Tamil beragama Hindu, yang melakukan perjalanan beberapa ratus kilometer bersama keluarga dan teman-temannya untuk melihat Paus Fransiskus. “Kami masih belum diterima sebagai warga negara yang sama di negara ini dan kami takut untuk mengatakan kami adalah warga Tamil.” Mathew Fernando, seorang Katolik berusia 65 tahun dari pantai barat Sri Lanka, mengatakan kunjungan datang di saat yang sangat penting dan bisa menjadi kunci untuk rekonsiliasi. “Dia datang ke Sri Lanka pada masa ketika beberapa kelompok ekstrimis agama telah membuat komentar kritis terhadap umat Kristen dan Muslim. (Tapi) kami bisa melihat bahkan orang-orang Buddha telah datang untuk menyambut Paus,” katanya.
Pengamat HAM itu mengatakan mereka berharap Paus Fransiskus akan menggunakan kunjungan itu untuk mendorong penyelidikan PBB menentang pemerintah terkait kejahatan perang. “Saya senang bahwa Paus menekankan pentingnya pencarian kebenaran, dan itu penting untuk rekonsiliasi dan keadilan, dan hal itu tidak harus dilihat sebagai pembukaan kembali luka lama,” kata aktivis hak Ruki Fernando, seraya menambahkan ia berharap Paus akan mendorong keterlibatan pemerintah.
Joe Torres, Sri Lanka
Sumber: ucanews.com

