Bacaan I :Yesaya 55:1-11
Bacaan II :1 Yohanes 5:1-9
Bacaan Injil : Markus 1:7-11
Dalam Injil hari Minggu ini kita mendengar bagaimana Yesus dilantik menjadi Mesias dan Pembebas yang baru. Yesus dilantik dengan cara yang sederhana sekali. (Bandingkan dengan suatu pelantikan yang sering kita saksikan). Dengan merendahkan diri, sama seperti manusia yang lain, Yesus dipermandikan oleh Yohanes. Tetapi dalam peristiwa yang sederhana dan penuh dengan kerendahan hati itu, Allah sendiri telah melantik Yesus untuk menjadi Mesias dan Pembebas dengan kata-kata: “Engkaulah Putera-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan!” Kata-kata yang diucapkan ini tepat sama dengan yang tercantum dalam Mazmur yang memang dinyanyikan pada hari pelantikan raja Israel.
Untuk peristiwa yang besar ini Yohanes Pemandi, mata rantai dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, telah menjadi saksinya.Ia telah “mempersiapkan” semuanya dengan baik. Dengan peristiwa pelantikan itu Mesias bakal tampil dan ia harus mundur. Tugasnya selesai, ia tidak tergoda untuk berbangga diri mau tetap berperanan. Di sana terletak kebesaran jiwanya.
*****
Yesus telah dilantik untuk menjadi Mesias dan Pembebas.Kita termasuk pada “orang banyak” yang turut menyaksikan pelantikan itu, Kita dapat saja menerima pelantikan itu dan juga menerima Yesus sebagai Mesias dan Pembebas bagi diri kita.Tetapi dapat pula kita secara praktis menolak-Nya, tidak mau menerima Dia sebagai Mesias dan Pembebas untuk kita dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita menerima Dia sebagai Mesias dan Pembebas, itu berarti kita mau bahwa Dia hidup di dalam diri kita.Pola dan jalan hidup Yesus harus menjadi pola dan jalan hidup kita.
Bagaimana kiranya pola dan jalan hidup Yesus itu? Sebuah surat khabar populer pernah menurunkan sebuah artikel sebagai berikut:
Konon, ada seorang pria yang dilahirkan di sebuah dusun terpencil, anak seorang petani.Ia tumbuh menjadi dewasa di sebuah dusun kecil yang tak dikenal. Ia bekerja pada sebuah rumah tukang kayu hingga usia 30 tahun. Dan selama tiga tahun Ia berkeliling mengajar banyak orang.
Ia tidak pernah menulis buku. Ia tidak pernah bekerja di kantor. Ia tidak pernah memiliki sebuah rumah. Ia tidak pernah berkeluarga. Ia tidak pernah bersekolah. Ia tidak pernah bepergian lebih dari 200 mil dari tempat tinggal-Nya. Seluruh hidupnya Ia abdikan untuk sesama. Pengajaran dan perbuatannya sangat menyapa sesamanya, khususnya orang-orang kecil yang tergusur.
Pada puncak pengabdiannya, pendapat umum berbalik menentang-Nya. Sahabat-sahabat-Nya lari, yang seorang bahkan mengkhianati Dia. Yang lain menolak-Nya. Ketika Ia dihukum sebagai seorang penjahat, serdadu-serdadu menanggalkan pakaian-Nya. Setelah kematian-Nya, Ia dikuburkan di pekuburan orang lain.
Tetapi setelah hampir dua puluh abad, Ia mempunyai pengikut paling banyak dari setiap orang yang pernah hidup di bumi ini.
Intisari dari seluruh perjuangan sang Mesias ialah: mengabdi! Mengabdi kepada Allah dan kepada manusia atau dengan bahasa Yesus sendiri: Mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah, di mana manusia dapat mengalami kesejahteraan lahir batin.
Seluruh hidup Yesus diabdikan untuk mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Secara konkret Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu dapat dilihat dalam diri-Nya dan dalam pewartaan serta tindakan-Nya. Kehadiran dan tindakan Yesus merupakan awal dan gambaran dari Kerajaan Allah itu. Ketika Ia mengelilingi Palestina sebagai guru dan mengajar serta berbuat baik Kerajaan Allah sebenarnya mulai nyata. Pada saat orang mengalami bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tertawan dibebaskan, orang mati dibangkitkan, setan-setan diusir……dsbnya, maka Allah sebenarnya mulai meraja dalam diri Yesus.
Segala warta dan tindakan Yesus itu sungguh suatu warta dan tindakan besar Allah yang menyelamatkan. Dan untuk itu Yesus rela mempertaruhkan segala-galanya, termasuk nyawa-Nya. Kesengsaraan dan kematian Yesus harus dilihat sebagai suatu tindakan kesaksian yang paling tinggi dan paling final untuk menunjukkan bahwa pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah bukanlah soal main-main, tetapi hal fundamental menyangkut keselamatan manusia dan solidaritas serta kasih Allah. Maka kebangkitan Yesus merupakan pembenaran dan pengakuan dari pihak Allah untuk menunjukkan bahwa pewartaan serta kesaksian Yesus tentang Kerajaan Allah adalah benar.
Ia sungguh Putera Bapa yang terkasih, yang kepada-Nya Bapa berkenan!
******
Sumber: Buku Homili tahun B, oleh Rm. Yosef Lalu, Pr, terbitan Komkat KWI – Jakarta

