Bacaan I :Yes 52:7-10
Bacaan II :Ibr 1:1-6
Bacaan Injil: Yoh 1:1-18
Sebuah ceritera rakyat mengisahkan bahwa ada seorang raja mengadakan pesta yang meriah. Untuk pesta itu beliau mengundang semua pejabat dan pegawai dalam kerajaannya. Waktu pesta itu dilaksanakan, semua pejabat dan pegawai datang dengan pakaian kebesarannya masing-masing. Pesta berjalan dengan sangat meriah dan gegap gempita.
Sementara pesta sedang berlangsung, seorang pegawai rendahan yang agak terlambat datang, buru-buru memasuki ruangan pesta. Karena dia terlalu terburu-buru, ia terpeleset jatuh di depan ruang pesta itu. Sebahagian pakaiannya berlumur lumpur. Melihat keadaan pegawai itu, para undangan pada tertawa dan merasa jijik terhadap pegawai rendahan itu. Merasa malu dan kotor pegawai rendahan itu segera membalikkan badannya untuk pulang, meninggalkan ruangan pesta itu. Melihat itu, sang raja segera keluar menjemput pegawainya. Supaya pegawai yang telah kotor berlumur lumpur itu tidak merasa malu dan risih untuk memasuki ruangan pesta, maka sang raja dengan sengaja mempelesetkan dirinya ke dalam lumpur, dan dalam keadaan sama-sama berlumur lumpur beliau menggandeng bawahannya memasuki ruangan pesta. Tentu saja tidak ada lagi yang tertawa dan merasa jijik melihat keadaan itu. Sang raja membuat dirinya senasib dengan pegawai rendahannya. Suatu tindakan yang tak terduga dan mengharukan.
Betapa lebih mengharukan perbuatan Allah. Allah yang mau menjadi manusia dan senasib dengan kita manusia. Allah sudah menanggalkan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, turun dari surga, untuk menjadi manusia seperti kita. Dengan perbuatan itu Allah mau menunjukkan bahwa Allah itu Maha pengasih dan Maha penyayang. Tetapi juga menunjukkan bahwa manusia itu makhluk kecintaan-Nya, oleh sebab itu manusia patut dihargai, dikagumi dan dicintai, bagaimanapun keadaannya. Entah ia seorang miskin, pengemis, seorang cacat, ia adalah manusia, yang layak dihargai dan dicintai.
Allah telah menjadi manusia. Sabda telah menjadi daging. Pesta Natal adalah pesta peringatan Allah yang bersabda dalam bentuk manusia. Sabda Allah yang dahulu menjadikan manusia kini di dalam diri Yesus Kristus menjelma menjadi manusia dengan kasih mesra. Secara definitif Allah membuat semacam “monumen hidup” cinta-Nya, yaitu Yesus Kristus. Ia telah ada di tengah-tengah kita, yang adalah milik-Nya, karena Ia mencintai kita.
Bacaan-bacaan suci yang kita dengar, baik pada hari-hari Minggu dalam masa adven maupun pada hari raya Natal, semuanya mengajarkan satu kebenaran inti bahwa Allah sungguh mencintai kita, sehingga Ia rela mengutus Putera-Nya ke tengah kita. Yesus yang adalah Allah, telah menjadi manusia, tinggal di antara kita, mengajar kita, dan akhirnya mati bagi kita, Kita sendiri menjadi heran, mengapa Allah sampai sejauh itu memperhatikan kita. Pertanyaan ini baru akan terjawab sepenuhnya bila kita sudah masuk surga.
Namun demikian, kenyataan yang patut kita akui adalah, Allah mencintai dan demi cinta-Nya itu Ia melakukan banyak tindakan yang sangat menakjubkan. Injil hari ini memaparkan di depan kita satu tindakan Allah yang paling hebat, yaitu inkarnasi: penjelmaan Putera Allah ke dalam rupa manusia. Lewat peristiwa inkarnasi ini, kita diangkat sebagai anak Allah dalam Kristus, dan berhak menjadi ahli waris surga.
Betapa istimewanya anugerah yang kita peroleh; tetapi kita kurang menghargainya.
Injil hari ini mengatakan juga: Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerima-Nya.
Kita tidak bersyukur tetapi malah berbuat hal yang menyakiti hati Allah. Perbuatan seperti itu, yang kita sebut dosa, seolah-olah memperlihatkan bahwa kita tidak memerlukan cinta Allah dan tidak suka memperoleh surga.
*******
Rm. Yosef Lalu, Pr;
Dalam buku Homili Tahun B, terbitan Komkat KWI

