Era digital dengan berbagai karakteristiknya yang sedemikian luas tentu saja juga mempengaruhi Gereja. Era digital merupakan tanda-tanda zaman yang membutuhkan kepekaan dan keterbukaan untuk disikapi bersama. Gereja tidak bisa menutup mata atas fenomena era tersebut. Hal yang tak dapat dipungkiri adalah derasnya kekuatan revolusi tehnologi. Era digital telah membawa kepada cara baru berkomunikasi. Untuk itu semestinya Gereja dengan para aktivis dan petugas pastoralnya memanfaatkan untuk pewartaan Injil di tengah-tengah dunia, dengan memanfaatkan perkembangan dan kemajuan tehnologi digital tersebut. Maka, salah satu yang diupayakan adalah kegiatan workshop bagi para calon imam (petugas pastoral) di seminari-seminari tinggi. Tujuannya agar para seminaris (calon imam)menyadari karakteristik, perkembangan, kekuatan dan tantangan budaya digital dewasa ini, sehingga mereka mampu mempergunakan dan memanfaatkan perkembangan tehnologi digital secara dewasa dan bijaksana untuk kepentingan pastoral mereka.
Workshop bertajuk “Katekese Era Digital” telah diselenggarakan di Seminari Tinggi St. Petrus, Maumere, Flores, NTT. Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 28 s. d. 30 November 2014, ini menghadirkan narasumber dari Komkat K.A. Semarang, Rm. FX. Sugiyana, Pr dan Bp. Purwono Nugrogo Adhi. Kegiatan ini sekaligus mensosialisasikan buku “Katekese Era Digital” yang disusun oleh tim Komisi Kateketik KWI, Jakarta.
Workshop diawali dengan penjelasan Rm. FX. Sugiyana, Pr tentang latar belakang dan konteks PKKI X yang merekomendasikan mengenai pentingnya pengembangan katekese dengan media digital dewasa ini. Selanjutnya Rm. FX. Sugiyana, Pr mengajak peserta untuk memahami apa yang dimaksud dengan katekese. Melalui proses ini, peserta diajak menyadari kepentingan dan fungsi strategis dari katekese. Dari proses itu, peserta kemudian diajak memahami bahwa proses katekese terus berkembang dengan konteks zaman, terutama juga dengan penggunaan media-media yang mempengaruhinya.
Pada sessi berikutnya, Bp. Th.Aq. Purwono Nugroho Adhi, mengajak peserta memahami karakteristik dan ciri era digital dewasa ini. Melalui pemahaman tersebut, peserta diajak menyadari peluang dan tantangan era digital tersebut bagi pengembangan karya katekese, khususnya kepentingan para calon imam dalam berpastoral ke depan.
Sebagai penyadaran diri, Rm. FX. Sugiyana, Pr, mengajak peserta mengkaji bagaimana Gereja menanggapi era digital. Dalam proses ini, peserta diajak menyadari bahwa Gereja harus terbuka dengan segala perkembangan zaman dan media, khususnya media digital dewasa ini. Bagaimana Gereja melalui berbagai surat dan ensikliknya mengajak untuk tanggap dan kritis atas segala perkembangan teknologi digital.
Selanjutnya para peserta dibagi menjadi 12 kelompok yang terdiri dari lintas tingkat dan lintas keuskupan. Peserta di dalam kelompok diminta untuk memproses langkah-langkah modul buku “Hidup di era Digital”. Tujuan dari proses ini, agar peserta tidak hanya berpusat dalam penggunaan media digital untuk katekese, tetapi terutama sebagai calon petugas pastoral menyadari positif dan negatif media digital dan bagaimana menggunakan media digital secara arif dan bijaksana. Melalui modul yang dipelajari oleh peserta, diharapkan para peserta mampu melakukan media awareness.
Peserta di dalam kelompok diminta untuk membuat komunitas katekese melalui fasilitas fitur google + dan melakukan tradisi “propetha” (refleksi gambar dan tulis untuk pesan-pesan Kitab Suci pada setiap minggu) melalui aplikasi pinterest dan evernote.Diharapkan dari proses ini, para peserta terampil menggunakan jejaring sosial
untuk kepentingan katekese komunitas.
Evaluasi Proses Kegiatan
Kegiatan workshop berjalan dengan lanjar dan terbilang sukses, walaupun ada catatan ketika pelatihan penggunaan media, walaupun sudah ada akses bagu melalui wifi, namun karena keterbatasan bandwidthsehingga agak memperlambat proses. Namun, semua peserta mampu dan berproses dalam seluruh kegiatan dan penugasan. Dalam evaluasi penutup, para peserta merasakan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya selesai pada saat pelatihan saja, tetapi perlu dikembangkan secara mandiri dan terus menerus, karena proses ini merupakan proses ketrampilan.
Melalui kegiatan workshoptersebut, para peserta juga disadarkan akan karakteristik, perkembangan, kekuatan dan tantangan budaya digital dewasa ini, sehingga mereka akan selalu berupaya mempergunakan dan memanfaatkan perkembangan tehnologi digital secara dewasa dan bijaksana untuk kepentingan pastoral mereka.
Ada catatan, dalam kegiatan workshop, pelatihan menggunakan media digital melalui google+ dan melakukan tradisi “propetha” melalui aplikasi pinterest dan evernotetidak semua kelompok dapat menampilkan hasilnya karena keterbatasan akses internet. Walaupun semua kelompok sudah membuat dan melakukan penugasan melalui fasilitas wifi yang tersedia, namun karena keterbatasan bandwidth sehingga ada keterlambatan beberapa kelompok. Namun itu bukan masalah, karena dari segi ketrampilan yang didapatkan, para peserta sudah merasakan cukup jika diwakili oleh beberapa kelompok penampil saja.
Sumber: Laporan Th. Aq. Purwono Nugroho Adhi
Ditulis kembali oleh DBK

