Mencintai Tuhan dan mencintai sesama ternyata ada keterkaitannya yang sangat kuat. Orang tidak bisa mencintai Tuhan sementara ia membenci sesamanya. Cinta kita kepada Tuhan secara nyata dan konkrit dapat diwujudkan dalam cinta kita kepada sesama!! Dasar dan sumber semua cinta adalah Tuhan sendiri, kita hendaknya mencintai Tuhan, sebab Dia sudah terlebih dahulu mencintai kita. Apa jadinya kalau Dia berhenti mencintai kita!
Hari Minggu Biasa XXX
Bacaan I : Kel 22:21-27
Bacaan II : 1 Tes 1:5c-10
Bacaan Injil : 22:34-40)
Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana orang-orang Farisi mencobai Yesus dengan pertanyaan: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Dan Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi!”
Jawaban Yesus itu tidak hanya menjelaskan bahwa Yesus sungguh mengenal Perjanjian Lama dengan aturan-aturannya yang ketat, melainkan juga memberikan tekanan di mana peraturan itu menemukan landasannya yang kokoh, yaitu cinta kepada Allah dan sesama (Ul 6:5 dan Im 19:8). Inilah dasar seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus tidak menyibukkan diri dengan pengertian hukum yang rumit dan kasuistis. Ia menekankan hakikat dasar hukum. Tidak ada gunanya peraturan yang ketat bila tidak disertai penghayatan dan sikap cinta kepada Allah dan sesama.
Yesus Kristus tidak hendak menghapus hukum Taurat, melainkan mau memenuhinya, bahkan menyempurnakannya. Dengan itu, setiap argumen yang diajukan orang-orang Farisi terhadap Yesus tidak punya kekuatan lagi. Mereka hanya hendak mendakwa bahwa Yesus sebagai pembaru yang keliru dan bidaah.
Ungkapan hukum dan para nabi yang dikatakan Yesus mau menekankan pemahaman hukum yang tidak hanya terbatas pada sepuluh perintah Allah dan Kitab para Nabi, melainkan seluruh Kitab Suci sebagai kesaksian hukum dan para nabi. Pengertian hukum yang hanya formal saja tidaklah cukup. Semangat yang diperjuangkan dalam kehidupan untuk menjelmakan kasih tetap perlu. Maka, pemenuhan perintah kasih menjadi paling penting, lebih daripada hukum yang ada.
Hukum kasih yang diajarkan Yesus memang merupakan hukum dasar, yang dari padanya semua hukum bergantung. Ia harus menjadi semangat dasar dalam menjalankan hukum-hukum yang lainnya.
Seperti pernah diceriterakan bahwa pada jaman dahulu ada kebiasaan pada biara-biara tertentu untuk berpuasa dan berpantang secara keras selama Pekan Suci. Mereka hanya boleh memakan roti dan meminum air putih saja. Mereka dilarang memasak.
Namun pada suatu hari ada sebuah biara yang kedatangan beberapa tamu peziarah dari jauh. Para peziarah itu sangat lapar dan haus. Pemimpin rohani biara itu lalu buru-buru memasak makanan dan menyiapkan minuman anggur untuk para tamu itu. Beberapa anggota biara muda yang melihat peristiwa itu merasa sangat terganggu. Mereka berpikir itu merupakan skandal, bagaimana mungkin seorang pemimpin rohani bisa melanggar peraturan biara, yaitu memasak makanan dalam Pekan Suci. Ketika hal itu mereka keluhkan kepada pemimpin biara, sang pemimpin biara berkata kepada biarawan-biarawan muda itu: “Memang, pemimpin rohanimu telah melanggar peraturan biara yang dibuat oleh manusia, tetapi ia telah melaksanakan hukum yang dibuat oleh Allah”.
Hukum mencintai Allah dan sesama memang merupakan hukum yang pertama dan terutama, namun untuk menghayatinya tentulah tidak gampang. Betapa sulitnya mencintai Tuhan itu. Rasanya lebih mudah bagi kita untuk mencintai seorang kekasih, seorang sahabat, bahkan hoby atau binatang peliharaan kita daripada mencintai Tuhan. Rasanya Tuhan itu terlalu abstrak dan jauh dari hidup konkrit kita. Syukur, bahwa mencintai Tuhan bukanlah terutama soal perasaan, tetapi soal kehendak. Kita mau menempatkan Dia di atas segala-galanya. Kita harus sanggup untuk menomorsatukan Tuhan dan kepentingan-Nya dalam hidup kita.
Selain itu Tuhan sendiri memberi kita jalan untuk mencintai-Nya lewat cinta kita kepada sesama. Kalau Tuhan terasa agak abstrak, tak terlihat dan tak tersentuh, maka sesama kita adalah pribadi-pribadi yang konkrit, dapat dilihat dan disentuh yang dapat lebih gampang menggerakkan cinta kita. Cinta kita kepada sesama adalah pernyataan atau ekspresi nyata dari cinta kita kepada Allah. Allah telah mengidentifikasikan Diri-Nya dengan sesama kita. “Apapun yang kamu perbuat terhadap salah seorang dari saudaraku yang paling hina, itu telah kamu lakukan kepadaku” (Mat 25:40).
Diceriterakan bahwa ada seorang tukang sepatu bernama Iwan, yang pada suatu hari sangat sibuk bekerja dibengkel sepatunya. Sementara dia sibuk bekerja, tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata kepadanya: “Iwan, Iwan…..esok saya akan mengunjungi rumahmu!” Ia melihat ke kiri dan ke kanan, namun tidak nampak seorang pun. Suara itu berulang sampai tiga kali. Akhirnya Iwan menyakini dirinya bahwa itu adalah suara Tuhan.
Segera ia pulang ke rumah, bersiap-siap untuk menerima Tuhan. Ia menyuruh istri dan anaknya untuk berpakaian yang rapi dan menyiapkan makanan yang enak untuk esok harinya.
Keesokan harinya ternyata cuacanya tidak ramah. Ada hujan dan badai tetapi mereka tetap bersiap-siap menerima Tuhan. Tepat jam tujuh pagi terdengar ketukan di pintu. Mengira bahwa Tuhan datang, Iwan segera membukakan pintu rumahnya. Tetapi ternyata yang muncul adalah seorang pemuda kurus yang sudah basah kuyup diterpa hujan. Pemuda itu rupanya kelaparan dan kedinginan. Ia meminta tumpangan sebentar di rumah Iwan. Dengan ramah Iwan menyilahkan dia masuk, memperlakukan dia sebagai tamu yang sudah akrab. Sesudah makan dan istirahat tamu itu meminta pamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Iwan dan keluarganya.
Pada pukul satu siang, terdengar lagi ketukan di pintu, Iwan berpikir, kali ini pasti Tuhanlah yang datang. Tetapi ketika pintu dibuka, yang muncul adalah seorang bapak tetangga dekatnya. Bapak itu meminta supaya kalau boleh Iwan mengantar anaknya ke Rumah Sakit dengan mobil Iwan, sebab bapak itu tidak memiliki mobil. Dengan senang hati Iwan mengantar anak yang sakit itu bersama bapaknya ke Rumah Sakit.
Sesudah mengantar anak itu ke Rumah Sakit, Iwan cepat-cepat pulang, takut kalau-kalau Tuhan sebentar lagi akan mengunjungi rumahnya.
Pada pukul enam sore terdengar lagi ketukan di pintu. Pasti Tuhan yang datang, pikir Iwan. Tetapi ternyata seorang gadis yang diusir oleh orang tuanya, karena ia hamil di luar nikah. Ia meminta tumpangan di rumah Iwan.
Ketika hari mulai menjadi gelap Iwan merasa Tuhan tidak akan datang lagi. Pada saat ia menutup jendela-jendela rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara Tuhan: “Iwan, Iwan…….” Serta merta Iwan mengungkapkan rasa kecewanya: “Tuhan, sepanjang hari kami sekeluarga telah menunggu kedatangan-Mu. Mengapa Tuhan tidak datang?”
Dan Tuhan menjawab: “Siapa bilang saya tidak datang, Iwan!! Saya sudah datang, bahkan sampai tiga kali!”
Mencintai Tuhan dan mencintai sesama ternyata ada keterkaitannya yang sangat kuat. Orang tidak bisa mencintai Tuhan sementara ia membenci sesamanya. Cinta kita kepada Tuhan secara nyata dan konkrit dapat diwujudkan dalam cinta kita kepada sesama!! Dasar dan sumber semua cinta adalah Tuhan sendiri, kita hendaknya mencintai Tuhan, sebab Dia sudah terlebih dahulu mencintai kita. Apa jadinya kalau Dia berhenti mencintai kita!!
(Rm. Yosef Lalu, Pr dalam buku Homili Tahun A, Komkat KWI)

