Pertemuan Kateketik antar-Keuskupan se-Indonesia Ke VIII

KATEKESE UMAT DAN KELOMPOK BASIS GEREJANI

(PKKI VIII, Jawa Timur, Pebruari 2004)

PKKI VII yang berangsung di Sawiran, Jatim, mengusung tema : “Katekese Umat dan Kelompok Basis Gerejani”. Dalam pertemuan itu peserta telah bergumul mencari jalan bagaimana Katekese Umat bisa menunjang pertumbuhan dan perkembangan Kelompok Basis Gerejani.

Sesudah empat tahun berlalu, Komkat KWI ingin mengevaluasi apakah sungguh Katekese Umat telah berhasil menunjang pertumbuhan dan perkembangan Komunitas Basis Gerejani.
Hasil penelitian dari Komisi Karya Misioner KWI dalam kerjasama dengan lembaga penelitian Allocita menunjukkan bahwa KBG (di Jawa) ternyata masih berkutat pada hal-hal rohani (Gerejani), belum terlalu menyentuh segi-segi hidup bermasyarakat (misalnya segi politik dan ekonomi), sehingga KBG tidak berhasil memperbaharui kehidupan bermasyarakat. KBG belum berdaya transformatif, padahal diharapkan KBG sebagai cara hidup bergereja yang baru, bisa turut mengantar masyarakat bangsa menuju Indonesia baru. Demikian cita-cita SAGKI 2000.

Komkat KWI bermaksud mengadakan PKKI VIII untuk mengajak peserta mencari jalan bagaimana KU bisa membangun KBG yang lebih berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dsbnya, sehingga masyarakat kita dapat dibantu untuk bisa hidup lebih adil, damai dan sejahtera.

A.KEADAAN DI LAPANGAN

Sesuai dengan penelitian Allocita, laporan dari keuskupan-keuskupan menunjukkan bahwa KBG di Indonesia memang masih sibuk dengan hal-hal rohani. Hal ini bisa dimengerti karena KBG yang sekarang bertumbuh di keuskupan-keuskupan berasal dari kelompok-kelompok doa atau paguyuban rohani atau wilayah administratif paroki seperti kring, lingkungan, wilayah dsbnya, yang secara pastoral memang menekankan segi kultis-liturgis. Selanjutnya, banyak Gereja lokal yang masih menghayati keterpisahan antara Gereja dan Negara, antara hal-hal yang rohani dan duniawi.Hal-hal rohani adalah tugas Gereja dan hal-hal duniawi adalah tugas negara. Maka, Gereja, juga KBG, membatasi dirinya pada hal-hal rohani.
Melihat kenyataan ini, musti dikatakan bahwa KU kita belum dapat membangun KBG yang berdimensi kemasyarakatan yang dapat merubah masyarakat ke arah yang lebih baik.Mungkin saja tema-tema KU kita masih bersifat eksklusif gerejani dan bersifat informatif belaka.

B.MENUJU GEREJA BERDIMENSI KEMASYARAKATAN

Didampingi oleh para pakar, peserta PKKI bergumul untuk menemukan legitimasi teologis dalam membangun KBG yang berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dsbnya (dimensi kemasyarakatan).
Dalam konsep Kristiani, pengakuan iman dan perbuatan baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bersama membentuk satu kesatuan yang erat. Yesus memberikan tempat utama pada perbuatan iman ketimbang pengakuan iman secara verbal dan seremonial, ketika Ia mengatakan bahwa bukan semua orang yang mengatakan Tuhan…Tuhan…. akan masuk ke dalam Kerajaan Surga melainkan mereka yang melaksanakan Kehendak Bapa di Surga (Mat 7, 21). Ajaran dasar Kristus ini kemudian mengalir dalam teologi St. Yakobus ketika ia menulis: “…..seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikianlah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2, 26).

Nuansa sosial melekat erat dengan pola hidup Gereja awal.Kesejahteraan semua anggota jemaat menjadi tanda pengenal umat Kristen awal.Ada dua hal yang menjadi dasar persekutuan jemaat awal, yakni berdoa, memecahkan roti, dan melakukan perbuatan amal kasih.Mereka menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kis 2, 44f).Kehidupan jemaat Kristen awal ditandai oleh sosialitas tinggi dan radikal yang menghasilkan jabatan Gerejani khusus, yakni diakon.Diakon terlahir oleh keprihatinan dan sikap sosial jemaat.
Diakon bukan pertama-tama jabatan kultis, melainkan jabatan pelayanan sosial Gereja.Oleh karena semua imam dan uskup adalah juga diakon, maka jabatan-jabatan tersebut adalah juga jabatan pelayanan sosial.

Secara sosial, mereka menjadi satu model masyarakat baru atau masyarakat alternatif. Mereka hidup di tengah masyarakat, namun cara hidup mereka berbeda dari masyarakat umumnya. Cara hidup jemaat Kristen Purba secara sosial bukanlah hal yang biasa, melainkan sesuatu yang istimewa dan menyolok mata, sehingga mampu menarik minat khusus dari masyarakat. Ungkapan Kisah Para Rasul, bahwa mereka disukai semua orang (Kis. 47b), menyatakan keistimewaan sosial ini.

Tradisi hidup membiara dalam agama Kristen, yang dimotori oleh St. Benediktus, merumuskan dan menyimpulkan relasi komplementer antara pengakuan iman dan perbuatan dalam regulasi hidup komunitas dengan ungkapan ora et labora. Dengan motto hidup demikian itu, para rahib dan orang-orang biara telah membawa peradaban dan menghasilkan penemuan, baik dalam disiplin hidup dan cara hidup berkomunitas, maupun di bidang teknik, bagi masyarakat umumnya di Eropa.

Sayang bahwa kemudian terjadi proses pengkerdilan di mana biarawan-biarawati dan rohaniawan dianggap spesialis hidup doa dan kontemplasi (rohani), sedangkan para awam dianggap spesialis dalam hidup tata dunia. Ada pemisahan antara hidup kontemplasi dan hidup aktif bermasyarakat, antara mistik dan politik.Sejalan dengan itu, hal sosial politik lalu dibebankan kepada negara yang menjadi urusan para awam, dan hal keagamaan/rohani dibebankan terutama kepada rohaniawan/biarawan.Keberhasilan hidup keagamaan dan kegerejaan hanya diukur, misalnya dari penerimaan sakramen, praktek-prektek kesalahan, perbuatan amal karitatif. Gereja (baca: rohaniwan) cuci tangan terhadap persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan seperti: korupsi, kemiskinan, rusaknya lingkungan hidup dsbnya, yang sering sangat merebak di wilayah-wilayah yang penduduknya adalah umat Gereja Katolik. Bidang sosial-politik memaparkan kepada masyarakat luas dan dunia apakah iman Gereja kita sudah dewasa, mendalam, ataukah iman kita pincang, palsu, dan mati.

C.GEREJA, KBG, YANG BERDIMENSI SOSIAL POLITIK

Keterlibatan sosial-politik merupakan bagian integral iman Kristen.Oleh karena itu keterlibatan sosial-politik komunitas umat basis merupakan bagian yang utuh dari kehidupan iman Kristen dari segenap orang beriman.
Dari kalangan katolik ada dua bentuk keterilbatan dalam bidang sosial-politik.

1.Keterlibatan kaum Klerus
Keterlibatan kaum klerus dan biarawan-biarawati adalah satu keterlibatan kritis-solider.Dalam arti, mereka melihat persoalan, menjadikannya tema permenungan dan pembahasan, namun mereka sendiri tidak bermaksud mengambil posisi yang sedang digunjingkan.
Kaum klerus dan biarawan/wati menjadi kekuatan keterlibatan kritis-solider yang permanen. Berkat tahbisan dan kaul-kaulnya, mereka tidak boleh henti-hentinya membedah secara kritis keadaan sosial-politik secara obyektif, dalam arti terbatas pada tema, tanpa berpretasi untuk menggantikan posisi seorang, oleh orang lain. Keterlibatan seorang klerus dan kritik solidaritasnya hendaknya mengarah pada proses pertobatan si subyek. Pergantian personalia hanyalah konsekwensi dari perjuangannya yang tegar, bukan merupakan tujuan utama kritik seorang klerus atau biarawan/wati.Keterlibatan sosial-politik orang-orang tertahbis dan berkaul mempunyai makna dan nuasannya sendiri yang tidak dapat diwakilkan dan digantikan oleh kaum awam.

2.Keterlibatan kaum awam
Keterlibatan kaum awam adalah keterlibatan partisipatif.Dalam arti, keterlibatan kaum awam mempunyai dampak pergantian personalia oleh awam itu sendiri.Seorang awam Katolik yang melontarkan kritik terhadap keadaan sosial-politik tertentu harus bersedia mengambil tangggung jawab memperbaiki keadaan itu secara langsung. Karena ia pun mesti ikut dalam permainan memperebutkan kekuasaan yang menjadi hak legitim dari setiap warga negara. Dan dalam permainan itu terbuka kemungkinan bahwa ia mendapat perlawanan dari sesama pemain dan dikritik oleh kaum tertahbis dan berkaul Gereja.

Bagaimana dengan keterlibatan Komunitas Basis dalam hal ini??

Meskipun cikal bakal KBG Indonesia bukanlah gerakan sosial-politik-ekonomi, namun ketika Gereja Indonesia mencanangkan KBG sebagai pola menggerejanya, dimensi sosial-politik-ekonomi dengan sendirinya menjadi bagian integral pembentuk kehidupan religius umat Katolik.
Dalam praktek hidup menggereja kita dimensi liturgia masih mendapat perhatian utama.Bahkan iman kristiani atau Gereja hampir diidentikkan dengan perayaan kultis-liturgis. Padahal masih ada tiga dimensi lain dalam penghayatan iman yakni diakonia, kerygma dan martiria, yang diwujudkan terutama melalui keterlibatan orang Kristen di bidang sosial-politik-ekonomi kemasyarakatan.

Bidang sosial-politik-ekonomi menandai keseharian hidup umat. Bidang kultis-liturgis tidak lain adalah perayaan karya-karya umat di dunia sosial-politik-ekonomi tersebut.
Dalam keterlibatan sosial-politik, komunitas umat basis hendaknya dilengkapi dengan kesadaran hukum yang memadai dan jaringan komunikasi yang luas. Hendaknya ia memiliki penghargaan terhadap martabat dan hak asasi manusia, kesediaan dan kemampuan untuk berdialog dan bernegosiasi, komitmen dasar yang jelas, sikap anti kekerasan, mempunyai pemahaman tentang demokrasi dan pola laku demokratis, konsisten dan setia kepada kebenaran, berani menanggung resiko dihina, dilecehkan dan dicemoohkan di depan umum. Keterlibatan komunitas umat basis memiliki dua prinsip dasar, yakni solidaritas dan preference/option for the poor.

Kehadiran Gereja di manapun adalah suatu kehadiran sosial-politik. Komunitas umat basis Kristiani hanya dapat dikenal oleh masyarakat heterogen dan plural dalam keterlibatan sosial-politiknya.

D.KBG DAN KETERLIBATANNYA DI BIDANG SOSIAL-EKONOMI

Para peserta PKKI sungguh menyadari bahwa mayoritas bangsa Indonesia masih bergumul dengan masalah kemiskinan.Kemiskinan ini adalah kemiskinan struktural yang berarti bahwa akar dari kemiskinan terletak pada sistem dan struktur sosial ekonomi yang tidak adil.

Lalu apa hubungan kemiskinan ini dengan KBG?

Komunitas Basis adalah gerakan menggereja yang senantiasa mendahulukan pilihan bagi si miskin dan tertindas (preferential option for (and with) the poor and the oppressed)

Hal-hal berikut ini kiranya perlu diperhatikan:
Dari segi sosial-ekonomi, KBG merupakan persekutuan orang-orang miskin, tanpa kuasa, dan tersisihkan.Maka opsi KBG adalah keberpihakan pada kaum miskin dalam segala aspeknya. Dengan menerapkan KBG sebagai model Gereja Indonesia, maka Gereja Indonesia menyatakan dirinya sebagai Gereja kaum miskin.
Kaum papa sepantasnya tetap mendapat perhatian utama Gereja karena situasi hidup mereka yang lebih terancam ketimbang kelompok sosial masyarakat lainnya.Dalam solidaritas dengan kaum tersisih ini, Gereja komunitas basis menyatakan diri sebagai Gereja orang miskin, berarti Gereja berbagi nasib dengan kaum miskin dalam hal ketidakpastian, tanpa perlindungan, terancam. Dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial, politik, ekonomi kemasyarakatan, KBG mengambil titik pijak dan cara pandang orang miskin. KBG berpikir dan bersikap dari segi korban.

1.Komunitas Basis Gerejawi menempatkan kaum miskin sebagai pusat dari usaha penanggulangan kemiskinan. Mereka bukan sekedar obyek untuk penanggulangan. Bersama kaum miskin suatu komunitas basis bersama-sama mencari solusi untuk mengentaskan diri dari kemiskinan. Sebab betapa pun sedikitnya, mereka pasti memiliki modal dan potensi. Dengan demikian, komunitas basis bersama kaum miskin mencari upaya untuk menolong diri sendiri, keluar dari kemiskinan.
Mereka hendaknya dilibatkan mulai dari analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluas.
Mereka hendaknya disadarkan pada kemiskinan mereka yang disebabkan oleh sistem dan struktur sosial-ekonomi yang tidak adil.Mereka hendaknya mau bersatu untuk menolak sistem dan struktur yang tidak adil itu dengan usaha-usaha yang kooperatif (seperti Credit Union) mengentaskan dirinya dan masyarakat dari kemiskinan. Mereka tidak boleh menggantungkan diri dan nasibnya pada pihak lain, tetapi mengoptimalkan kemampuan dan apa saja yang dimilikinya untuk memperbaiki keadaannya dan keadaan masyarakatnya.
2.Apabila Komunitas Basis Gerejawi terdiri dari orang-orang yang sudah mampu, mereka harus tetap memiliki opsi dan cara pandang orang miskin serta bisa mengajak kaum miskin yang akan diberdayakan sebagai mitra. Kerja sama kemitraan bisa dalam hal permodalan, pemasaran, pendampingan, manajemen, penyediaan bahan baku, distribusi, dan lain-lain.
3.Pemberdayaan kaum kecil bukan sekedar proyek yang selesai begitu saja setelah proyek terlaksana. Pemberdayaan ini, seperti kegiatan lainnya di dalam komunitas basis, harus berlangsung secara bekelanjutan. Hasilnya akan maksimal apabila pemberdayaan itu berkelanjutan sampai membawa mereka benar-benar keluar dari kemiskinan dan menemukan hidup yang bermartabat.

E.KBG DALAM TINJAUAN TEOLOGIS

Secara teologis keberadaan KBG tidak diperdebatkan dan digugat lagi.Kepastian teologis membentuk keyakinan dan rasa percaya diri untuk menghidupi dan mendorong perkembangan KBG. Yang perlu diperhatikan adalah ke arah mana KBG akan berkembang. Di sini kita memiliki empat variabel bingkai teologis KBG, yakni model inkarnatif-paskah, model penyeberangan, model dialogal-profetis, model jalan kemuridan.

•Model inkarnatif-Paskah
Kelompok basis bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai yang diutus untuk menjadi manusia sesungguhnya dengan membenamkan diri sebagai menusia yang paling tragis dengan segala penderitaan, penganiayaan, dan kematian.Inkarnasi muaranya selalu pada paskah, karena inkarnasi tanpa paskah tidak ada artinya.

•Model Penyeberangan
Dalam Kitab Suci, bangsa Israel ragu-ragu/takut menyeberangi Laut Merah untuk menuju kebebasan. Penyeberangan menuju kebebasan memang penuh resiko.Menjadi orang bebas ternyata tidak gampang karena lebih enak menjadi manusia tergantung dengan hidup terjamin.KBG harus senantiasa siap dan berani menyeberang.

•Model dialogal-pengutusan propetis
Allah mengutus, memanggil seperti seorang nabi yang menyatakan “Inilah aku, uruslah Aku”.KBG bisa mengidentifikasi dirinya sebagai utusan dan harus mau bertanggung jawab, bersusah payah dan tahu bahwa pengutusan bukan hanya dari kemampuan dan prestasi dirinya sendiri.

•Model jalan kemuridan
Menjadi murid Yesus berarti harus menjalani hidup seperti Yesus dan mempraktekkan hidup Yesus.Orang baru mengenal Yesus apabila dia mengalami nasib Yesus.Maka KBG sebagai murid Yesus harus mengenal Yesus dan mempraktekkan hidup Yesus.

Semua bingkai teologis ini tidak lain merupakan upaya menanggapi cita-cita Yesus tentang suatu komunitas manusia selaras dengan ideal Ilahi yang sudah dimulai sejak masa Gereja purba. Cita-cita komunitas ideal Yesus terungkap dalam istilah Kerajaan Allah.Ideal ini memiliki implikasi sosial, politik, ekonomi yang tidak selalu menyenangkan bagi semua lapisan masyarakat.Bagi kelompok mapan dan terpandang pada masanya, cita-cita komunitas Yesus cukup membingungkan dan bahkan mendatangkan kemarahan.

F.KATEKESE UMAT YANG MENUNJANG KBG YANG BERDIMENSI KEMASYARAKATAN.

KU merupakan ujung tombak bagi proses pemahaman dan pembentukan KBG. KU dalam KBG mau tidak mau akan menyentuh tema-tema sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat. Selanjutnya, pendekatan KU dalam KBG tidak membatasi diri hanya hingga pada tahap informatif dan konsientisasi, melainkan lebih jauh, yakni pada tingkat praksis dan aksi. KU membuat pendekatan dari problem kehidupan umat di bidang sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Pendekatan terhadap masalah kaum miskin dalam KU adalah pendekatan persoalan atau masalah kehidupan. Pendekatan persoalan dalam setiap bidang menciptakan tiga kelompok manusia: korban, pemerhati, dan pelaku. Kemiskinan dalam suatu struktur kemasyarakatan bukanlah nasib, melainkan situasi yang memiliki sebab.Sebab dari kemiskinan dapat saja pelaku manusia secara langsung ataupun secara tidak langsung melalui sistem.Para katekis dalam KU tampil sebagai pemerhati atau orang-orang yang bersolider dengan korban atau kaum miskin.

Kalau kita mengambil bidang sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dari sisi korban sebagai tema dan aksi KU, maka kita akan berhadapan dengan tantangan yang tidak kecil. Dalam situasi ketidakadilan dan penindasan terhadap rakyat kecil dan kaum miskin teologi dan spiritualitas politik pembebasan tidak akan merasa aman. Sebagai manusia, tidak jarang kita akan dicekam ketakutan menghadapi tantangan.

Namun upaya KU dalam KBG dengan teologi politik pembebasan dan spiritualitas keterlibatan adalah juga membebaskan sesama manusia dari ketakutan untuk mulai memberdayakan diri.KU menguatkan lutut yang lemah, menopang lengan yang lesuh, menegakkan kepala yang terkulai, dan memacu hati yang kecut. Spiritualitas KBG adalah spiritualitas keterlibatan yang tidak lain adalah berada pada dan melangkah di jejak kaki Sang Guru hingga ke Golgota. Salib Yesus Kristus adalah hiburan kita dan kebangkitanNya adalah harapan yang memberikan kekuatan dalam KU ini.

Beranikah kita para pendamping, fasilitator, katekis KU dalam KBG menghadapinya?
Persoalan berikut adalah bagaimana kiat KU untuk menjangkau kaum berkuasa dan kaya yang sebagiannya turut menjadi penyebab kemiskinan dan ketidakbebasan kaum miskin?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *