Bacaan I : Yes 52:13-53.12
Bacaan II : Ibr 4:14-16.5:7-9
Bacaan Injil : Yoh 18:1-19.42
Kisah ini berasal dari jaman perbudakan di Amerika Serikat, ketika manusia dapat diperjualbelikan sebagai budak.
Ada seorang tuan tanah yang kaya raya pada suatu hari berjalan-jalan di suatu pasar budak. Hatinya tersentuh pada isak tangis seorang gadis budak yang putus asa karena akan dilelang. Tergerak oleh belas kasihan, orang kaya itu membeli gadis budak yang malang itu dengan harga yang sangat tinggi. Ia menyuruh juru tulisnya untuk mengurus kebebasan gadis budak itu dan ia sendiri pergi menghilang di antara kerumunan orang banyak di pasar budak itu.
Sang juru tulis pergi kepada gadis budak itu, mengatakan kepada budak itu bahwa ia telah ditebus oleh majikannya dan menyerahkan kepadanya harga jualnya serta mengatakan kepadanya bahwa sekarang ia bebas. Ia menjadi orang merdeka. Kepadanya diserahkan pula dokumen kebebasannya. Gadis itu terpaku, hampir tak percaya ia bertanya kepada sang juru tulis: “Dimanakah tuan yang telah menebus saya itu!” Sang juru tulis menjawab: “Ia telah pergi!”. Ketika para budak yang mau dilelang bersamanya, satu per satu diseret pergi oleh tuan mereka yang baru, gadis budak itu sekonyong-konyong tersungkur di kaki juru tulis orang kaya itu dan berseru: “saya harus bertemu dengan dia. Ia telah membebaskan saya. Tetapi saya ingin melayani dia seluruh hidupku!”.
***
Yesus Kristus telah menebus kita. Ia telah menebus kita dengan darah-Nya. Dengan nyawa-Nya. Ia pernah berkata: “seorang sahabat sejati mempertaruhkan nyawanya bagi sahabat-sahabatNya”. St. Paulus dalam pengakuan imannya menyatakan: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai Kitab Suci” (1 Kor 15:3). Dalam arti tertentu kematian Kristus menggenapi ramalan nabi Yesaya tentang hamba yang menderita (Yes 15:7-8). Sesungguhnya Yesus sendiri telah menjelaskan makna hidup dan kematian-Nya dalam cahaya rencana Tuhan pada hamba yang menderita, “sama seperti anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).
Yesus mati untuk kepentingan kita. Hal ini ditegaskan melalui surat pertama St. Petrus yang menyatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebusi dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan barang yang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju pada Allah” (1 Ptr 1:18-20). Dosa manusia telah dimatikan melalui kematian. Dengan mengutus anak-Nya dalam rupa seorang hamba, dan seperti manusia pada umumnya kecuali dalam hal dosa, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor 5:21).
Penyerahan diri Yesus kepada Allah telah mempersatukan kita kembali dengan Allah. Telah terjadi rekonsiliasi antara kita dengan Allah dengan kematian Yesus disalib waktu Ia berseru mewakili kita sebagai pendosa: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Daku”. Dengan memberikan anak-Nya untuk dosa-dosa kita, Tuhan mengungkapkan rencana-Nya kepada kita yang dicintai-Nya: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anak-Nya sebagai perdamaian bagi dosa-dosa kita”. (1 Yoh 4:10). “Allah menunjuk kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm 5:8)Apa jawaban/tanggapan kita terhadap cinta Yesus yang rela mempertaruhkan nyawa ini?? Salah satu tanggapan yang pasti berkenan kepada Tuhan ialah kalau kita dapat mencontohi semangat-Nya yaitu senantiasa dapat “menebus” sesama kita, terlebih sesama kita yang tak berdaya, yang menderita, yang tersingkirkan dalam hidup ini.
Diceriterakan bahwa ada seorang relawan katolik yang suka membantu anak-anak jalanan yang dalam kesulitan. Anak-anak jalanan, yang kebanyakannya muslim atau tak beragama, sangat akrab dengannya. Karena namanya terlalu panjang, yaitu Yeremias Edwin Susanto Uli Segar, maka anak-anak memanggil dia YESUS saja!
********
Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

