Renungan Hari Raya Malam Paskah: Paskah Dan Harapan

Yesus bangkit-2.jpg

Bacaan I : Kej 1:1 – 2.2.
Bacaan II : Kel 14;15 – 15.1
Bacaan III: Yes 54:5 – 14
Bacaan Injil : Mrk 16:1-8

Kartini hidup di jaman yang gelap bagi kaum perempuan. Tetapi rupanya ia mempunyai keyakinan dan harapan yang kuat akan masa depan yang lebih cerah bagi kaumnya. “Habis gelap akan terbit terang”. Oleh sebab itu ia tidak pernah putus asa untuk memperjuangkan keadaan yang lebih baik bagi kaum perempuan, walaupun untuk itu ia banyak mendapat tantangan.

Beliau sudah meninggal, tetapi semangatnya masih tetap kita warisi. Ia menjadi simbol bagi kita dalam mengatasi masa gelap menuju masa terang.
Tetap memiliki harapan menjadi ciri dari manusia-manusia unggul. Harapan merupakan salah satu kebajikan kristiani.

***

Malam Paska ini adalah malam harapan.
Demikianlah pesta Paska menjadi pesta harapan untuk kita semua. Kalvari bukanlah akhir dari nasib kita. Apa pun yang kita derita adalah suatu jalan menuju kepada kejayaan dan kebangkitan. Dalam kesulitan dan penderitaan apa pun juga, kita akan tetap menjadi manusia yang punya harapan, manusia Paska!

Kita sudah merayakan Malam Paska ini dengan suasana gelap, yang melukiskan kegelapan yang menyelubungi taman Getsemani dan puncak Kalvari. Ketika lilin Paska dinyalakan, kegelapan itu mulai pelan-pelan disingkirkan. Dan sekarang dalam suasana terang lilin-lilin yang berasal dari lilin Paska, lambang Kristus sendiri, semoga kita semakin sadar bahwa kita sedang merayakan pesta “habis gelap, terbitlah terang”.

Malam ini adalah malam peneguhan untuk setiap harapan yang mulia!

Bahwa kegelapan akan sering menyelimuti hidup kita rupanya sudah menjadi salah satu dinamika hidup ini. Namun sebagai manusia paskah kita hendaknya senantiasa percaya bahwa Dia yang telah mengalahkan kegelapan akan menerangi jalan hidup kita seperti Ia menerangkan kegelapan hati dan pikiran dua murid-Nya dari Emaus itu. Sesudah Tuhan menerangkan segala-galanya bagi mereka, maka hati dan semangat mereka berkobar-kobar lagi. Mungkin perlu diingat, bahwa setiap kali kalau kita mengalami persoalan hidup, ada baiknya kita mengulangi permintaan dua murid dari Emaus itu: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam!”
Kita hendaknya menjadi manusia Paska: optimis dan penuh harapan!!

Mungkin kita pernah mendengar ceritera mengenai Anne Frank, seorang gadis Yahudi yang baru berumur 14 tahun, yang waktu perang dunia kedua harus bersembunyi selama 4 tahun di loteng rumah, supaya jangan sampai ditangkap dan dibunuh oleh tentara Jerman, yang sangat anti Yahudi. Tetapi toh akhirnya dia ditangkap dan dibunuh. Tetapi selama 4 tahun bersembunyi, ia tak pernah berputus asa. Ia tetap mempunyai harapan bahwa sekali waktu kebaikan akan menang. Ia menulis dalam persembunyiannya itu sebagai berikut: “Saya melihat bumi ini dihanguskan, saya mendengar bagaimana bunyi pesawat-pesawat yang membawa bencana….., namun jika saya pada malam yang berbintang memandang langit, saya menyadari semuanya ini akan lewat dan perdamaian dan kebaikan akan kembali”.
Seorang gadis yang penuh harapan! Gadis yang menghayati arti Paska yang sejati!

Paska adalah pesta harapan. Orang yang sudah putus asa oleh peristiwa Kalvari, dengan kebangkitan Yesus, segala harapannya muncul lagi. Kristus telah bangkit. Ia telah menjadi Kristus yang jaya, Kristus yang dimuliakan. Ia telah mengatasi ruang tempat dan waktu, di luar jangkauan sejarah. Ia tak pernah bisa kalah lagi, Ia sudah menang dan jaya untuk selamanya.

******

Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *