Renungan Hari Raya Paskah: Makna Kebangkitan Untuk Kita

Yesus bangkit -1.jpg

Bacaan I : Kis 10:34a-37.43
Bacaan II : Kol 3:1-4
Bacaan Injil: Yoh 20:1-19

Hari ini kita merayakan Paska, hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus tidak berarti bahwa Kristus hidup kembali. Kebangkitan Kristus tidak seperti Lazarus atau pemuda dari Naim ataupun anak Yairus. Mereka semua dikembalikan kepada kehidupan yang fana ini dan beberapa waktu kemudian akan mati lagi. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya. Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering di sebut “Peninggian”. Yang paling pokok ialah bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, duduk di sebelah kanan Allah. Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi.

Yesus sudah mengabdikan diri-Nya sebulat-bulatnya demi cinta kepada Allah dan kepada manusia, demi Kerajaan Allah, tidak akan dibiarkan mati konyol oleh Allah!! Karena cinta-Nya yang rela mempertaruhkan nyawa itu, maka Allah membangkitkan Yesus dari alam maut. Kebangkitan-Nya berarti Yesus masuk hidup/lingkup Allah yang serba berbeda dengan hidup di dunia ini. Hidup yang mulia. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah membenarkan Yesus. Allah “menandatangani”, menyetujui warta, karya dan hidup Yesus sebagai jalan menuju ke persatuan dengan Allah.

Kebangkitan Yesus berarti Allah membenarkan dan melegitimasi warta dan karya Yesus. Kematian disalib bagi agama Yahudi berarti bahwa seseorang telah dibuang dan dikutuk oleh seluruh bangsa dan oleh Allah sendiri. Kematian Yesus disalib bagaimanapun juga menggoncangkan iman dan hidup para murid-Nya. Dengan kematian Yesus disalib itu berarti Allah telah meninggalkan Yesus. Doa Yesus disalib pun menegaskan keyakinan itu. “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Doa dari seseorang yang merasa ditinggalkan Allah. Oleh sebab itu tidak perlu heran bahwa kematian Yesus disalib sungguh menggoncangkan iman dan hidup para murid-Nya.

Pengalaman dan keyakinan bahwa Yesus telah bangkit menghidupkan kembali iman dan harapan mereka. Ia menjadi titik baik yang menentukan bagi pewartaan dan hidup mereka. Dengan kebangkitan Yesus menjadi jelas bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Ia telah memuliakan Yesus.

Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah mengangkat Yesus ke dalam kemuliaan-Nya. Yesus menjadi Tuhan.
Sebagai Tuhan Yesus menjadi sebab dan jalan keselamatan bagi mereka yang percaya. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah mengangkat Yesus ke dalam kemuliaan-Nya. Yesus menjadi Tuhan. Sebagai Tuhan Yesus menjadi sebab dan jalan keselamatan bagi mereka yang percaya. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah menyatakan bahwa maut dan dosa tidak dapat menghilangkan cinta-Nya.

Kiranya jelas bahwa kebangkitan Yesus menjadi sendi dan kunci iman kita. St. Paulus berkata: “Seandainya Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita”.
Memang kebangkitan Yesus telah menjadikan semuanya lain. Ia menjadi titik balik yang menentukan bagi perkembangan Kerajaan Allah menuju kepada kepenuhannya.
Kebangkitan Yesus adalah puncak penyelamatan kita. Sering orang berpikir, bahwa kematian Yesuslah yang menyelamatkan kita. Seolah-olah kematian menjadi target dan tujuan! Target dan tujuan kita adalah kebangkitan, kemenangan dan kejayaan. Memang harus melewati sengsara dan salib. Tetapi penyelamatan kita menjadi utuh oleh kebangkitan itu. Kebangkitan yang memberi kita jaminan. Kebangkitanlah yang memberi harapan. Kebangkitanlah yang memberi kita keberanian dan daya juang untuk bertarung melawan segala bentuk kejahatan dan memenangkan Kerajaan Allah.

Perjuangan melawan kejahatan di bumi ini boleh saja berjalan terus. Boleh saja perjuangan dan karya penyelamatan Yesus seolah-olah gagal dan Yesus seolah-olah “disalibkan kembali” berulang kali. Boleh saja pengikut-pengikutNya turut tersalibkan. Tetapi dengan kebangkitan Yesus kita telah mendapat kekuatan dan jaminan, bahwa semuanya akan berlalu. Semua itu akan berpuncak dengan Paska.

***
Iman akan misteri penderitaan, korban dan paskah inilah yang membuat para beriman tidak gentar menghadapi maut sekalipun sepanjang sejarah gereja. Uskup Agung Oscar Armulfo Romero dari kota San Salvator terkenal karena hidupnya yang penuh pengabdian kepada umat dan masyarakatnya, khususnya kepada masyarakat kecil yang miskin dan tertindas. Ia tidak segan-segan memperingatkan para penguasa negerinya yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil yang tidak berdaya. Tentu saja para penguasa itu tidak senang. Mereka berusaha untuk “mengamankan” dia. Hari Senin tanggal 24 Maret 1980 ia mati ditembak oleh penembak sewaan. Ia mati tertembak pada saat ia sedang merayakan Ekaristi dan ketika ia mengucapkan kata-kata itu: “Ini tubuh-Ku, yang dikorbankan bagimu, dan ini darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu”.

Beliau pasti tahu resiko yang dihadapinya dengan perjuangannya untuk kaum kecil dinegerinya. Tetapi beliau juga tahu akan legitimasi yang akan diberikan oleh Bapa di surga untuk segala perjuangannya. Legitimasi dan pembenaran seperti yang telah Ia berikan kepada Putera-Nya!

******

Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *