Renungan Hari Minggu Prapaskah III: KENISAH

Bacaan I : Kel 20:1-7
Bacaan II : 1 Kor 1:22-25
Bacaan Injil : Yoh 2:13-25

Akhir-akhir ini, kalau kita mendengar bahwa ada kerusuhan merebak di suatu tempat di Tanah Air ini dan kita mendengar ada gereja yang di bakar atau di lempari atau dirontokkan, hati kita merasa galau dan sedih. Bukan karena bangunan-bangunan gereja itu telah menjadi puing, tetapi terlebih karena kita merasa bahwa ada sekelompok umat kristiani yang disimbolkan oleh gereja itu, telah menjadi sasaran kebencian dan penghinaan.

Tentu saja kita merasa lebih sedih dan galau lagi kalau dalam kerusuhan itu ada anggota umat kita yang dibantai atau diperkosa secara keji seperti yang terjadi pada tanggal 14-15 Mei dua tahun lalu di Jakarta itu. Kita merasa gereja dan umat Allah diporakporandakan dan dicemarkan secara keji.

***
Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana Yesus menjadi marah karena orang-orang mengotori dan menajiskan Bait Allah. Bait Allah telah dijadikan pasar, tempat berjual beli. Bait Allah selama ini adalah simbol dan tanda keimanan bangsa Yahudi. Bait Allah adalah salah satu simbol identitas keyahudian mereka. Mengotori Bait Allah, menajiskan Bait Allah sebenarnya berarti menajiskan diri sendiri. Lebih dari itu menajiskan Bait Allah berarti menghina Allah sendiri, yang kehadiran-Nya disimbolkan oleh Bait Allah itu……….

Oleh sebab itu Yesus sangat marah dan mengusir serta mengobrak-abrik para penjual dan pembeli di dalam Bait Allah itu. Dengan keras ia membentak dan berteriak: “Jangan kamu membuat rumah Bapaku menjadi pasar!” Yesus sendiri rupanya merasa sangat terhina. Penghinaan terhadap Bait Allah itu dirasanya seperti penghinaan terhadap diri-Nya sendiri. Ia menyamakan diri-Nya dengan Bait Allah. Oleh sebab itu kepada orang-orang yang mempersoalkan wewenang-Nya untuk menghalau para penjual dan pembeli dari Bait Allah itu, ia menjawab: “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” yang dimaksudkan dengan Bait Allah itu tentulah diri-Nya sendiri, yang sesudah dihancurkan dan dibunuh oleh musuh-musuhNya, akan bangkit kembali pada hari ketiga!

Yesus Kristus sungguh Bait Allah, Ia adalah gereja. Kalau Yesus Kristus itu sungguh Bait Allah, sungguh gereja, di mana Allah bersemayam, maka demikian juga para pengikut-Nya.
Kita semua sebetulnya juga mempunyai kewajiban untuk menjadi Bait Allah, kenisah Allah yang baru. Kita adalah gereja yang selalu harus dibersihkan dan dibangun kembali, supaya hidup dalam hubungan yang mesra dengan Allah. Pembersihan berarti menjadikan kembali diri kita, keluarga-keluarga, lingkungan dan wilayah kita, paroki kita, gereja kita menjadi “Rumah Bapa” tempat ibadah. Kita tidak boleh jadikan diri kita, keluarga-keluarga kita, paroki kita tempat jual beli pelbagai kepentingan atau tempat tukar menukar pelbagai nilai yang tidak ada hubungannya dengan hidup bergereja yang sejati!! Gedung-gedung gereja yang kita miliki hendaknya menjadi simbol dari kehidupan umat kita.

Diceriterakan bahwa ada seorang wisatawan yang sangat kagum melihat begitu banyaknya gedung-gedung gereja yang megah dan artistik dalam kota yang sedang ia kunjungi. Kepada pemandu yang mengantarnya melihat-lihat kota itu, ia berkata: “Saudara dapat berbangga atas kota saudara. Saya amat terkesan melihat begitu banyak gereja di sini. Tentu umat di kota ini sangat mencintai Tuhannya!”.

Pemandu itu menjawab : “Entahlah, mungkin mereka mencintai Tuhannya, tetapi yang jelas mereka saling membenci setengah mati! Di kota ini terlalu amat sering terjadi kasus-kasus kesewenang-wenangan, pembunuhan, perkosaan, perselingkuhan, perjudian, narkoba dan macam-macam kebejatan lainnya.

Kalau begitu, gereja-gereja yang megah dan artistik di kota itu tak mempunyai makna sama sekali. Ia tidak menjadi tanda dan simbol dari kehidupan jemaatnya, malah menjadi skandal yang memalukan…….Kita memiliki gereja paroki yang besar dan indah. Letaknya strategis, cukup gampang dilihat. Apakah ia menyimbolkan kehidupan umat paroki kita, kehidupan wilayah dan lingkungan kita, kehidupan keluarga-keluarga kita, kehidupan pribadi kita masing-masing??.

Gedung gereja paroki kita hanya bangunan mati. Tuhan lebih senang mendiami gereja yang hidup, yaitu umat paroki kita, umat wilayah dan lingkungan kita, keluarga-keluarga kita, bahkan diri kita sendiri!! Betapa hebat dan ajaibnya bahwa tiap-tiap kita adalah Bait Allah yang hidup, terlepas dari cantik tidaknya kita, ganteng tidaknya kita, hitam atau putih,……… kita semua adalah Bait Allah yang suci!

Sumber: Buku Homili Tahun B, oleh Rm. Yosef Lalu, Pr – diterbitkan oleh Komkat KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *