Bacaan pertama Yehezkiel 33:7-9
Mazmur Tanggapan. Mazmur 95:1-95:2, 95:6-95:7b, 95:7c-95:9
Bacaan kedua Surat rasul Paulus kepada jemaat di Roman 13:8-10
Bacaan injil Matius 18:15-20
Menjaga persaudaraan dalam kasih dan membangun persekutuan dalam Kristus.
Tanggung jawab sebagai penjaga
Dalam bacaan pertama, Allah menetapkan Yehezkiel sebagai penjaga bagi umat Israel. Seorang penjaga yang menyadari tugas dan tanggung jawabnya adalah penjaga yang tidak boleh diam ketika melihat situasi yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ia wajib untuk memperingatkan orang yang melakukan kesalahan, orang yang menyimpang, bukan dengan tujuan utama untuk menghukum, tetapi agar orang itu berbalik dari penyimpangannya supaya ia tetap hidup.
Kita orang beriman memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dan kebaikan bersama. Namun, cara kita menegur harus dilakukan dengan kesadaran sebagai pribadi yang mau menegakkan perintah Allah yakni karena kasih, bukan sebagai yang merasa diri lebih suci. Tujuan utama dari teguran kita ialah agar ada pertobatan, bukan mempermalukan orang lain.
Hukum yang terutama adalah kasih
Santo Paulus merangkum seluruh hukum dalam perintah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kasih tidak berbuat jahat kepada sesama; karena itu kasih merupakan kepenuhan hukum. Kasih Kristiani bukan sekadar perasaan simpati belaka. Kasih Kristiani berani mencegah orang lain untuk masuk atau berada dalam jalan yang merusak dirinya dan sesama, Teguran tanpa kasih bisa berubah menjadi penghakiman.
Menegur secara Injili
Dalam Injil, Yesus memberikan langkah-langkah untuk menghadapi saudara yang berbuat dosa: Menegur secara pribadi, Jika tidak didengarkan melibatkan satu atau dua orang sebagai saksi, Jika tetap menolak, membawa persoalan itu kepada jemaat.
Urutan ini menunjukkan bahwa kita sebagai Gereja yang hidup tidak boleh menyelesaikan konflik melalui gosip, penghinaan, atau penghakiman di depan umum atau menghukum tanpa usaha memperbaiki. Langkah pertama selalu adalah perjumpaan pribadi dan usaha untuk “mendapatkan kembali”.
Dengan demikian, koreksi persaudaraan bukan menjadi ajang tindakan balas dendam. Tujuannya ialah pemulihan hubungan dan pertobatan. Bahkan ketika seseorang menolak nasihat, ia tidak boleh diperlakukan dengan kebencian. Ia tetap perlu dilihat sebagai pribadi yang membutuhkan belas kasih dan jalan untuk dapat kembali.
Otoritas Gereja dan doa bersama
Yesus memberikan kepada Gereja tanggung jawab untuk “mengikat” dan “melepaskan”. Ini menunjukkan adanya otoritas Gereja dalam menjaga kebenaran, disiplin, dan persekutuan umat. Namun, otoritas itu harus dijalankan dalam semangat Kristus: bukan untuk menguasai, melainkan untuk melayani dan menyelamatkan. Karena itu, sebelum menegur atau mengambil keputusan, umat perlu berdoa, mendengarkan, memeriksa fakta, dan mencari kehendak Allah.
Yesus juga berjanji: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Kristus bukan hanya ditemukan dalam kerumunan besar, tetapi juga dalam persekutuan kecil yang berkumpul dengan iman, doa, dan kasih.
Bacaan hari ini mengajak kita untuk:
- tidak menyebarkan kesalahan orang lain melalui gosip;
- berani berbicara secara langsung namun dengan kasih;
- membedakan antara menegur dan menghakimi;
- menerima nasihat dengan kerendahan hati;
- mendoakan persatuan keluarga dan komunitas;
- membangun persekutuan yang sungguh berpusat pada Kristus.
Dalam keluarga dan komunitas Gereja, konflik tidak selalu dapat dihindari. Namun, konflik dapat dihadapi secara Injili jika kebenaran disampaikan dalam kasih dan tujuan utamanya adalah rekonsiliasi.