Katekese Umat: Cinta Tuhan Adalah Dasar Cinta Manusia Pada Manusia

KUBKU.jpg

Model Katekese yang ditampilkan di sini adalah katekese umat, yaitu model pendalaman pengalaman hidup Kristiani yang berinspirasikan dari model katekese Shared Christian Praxis (dari Thomas H. Groome dalam Sharing Faith: A Comprehensive Approach to Religious Education and Pastoral Ministry), yang menekankan dan bertitik tolak dari pengalaman hidup umat. Model ini berlangsung dalam 5 (lima) langkah, sbb: menceritakan pengalaman hidup; menggali pengalaman hidup; mendalami pengalaman kristiani; menerapkan iman dalam hidup peserta konkrit; mengusahakan suatu tindakan nyata.

1. Identitas Katekese
a. Tema : Cinta Tuhan adalah dasar cinta manusia pada manusia.
b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta dapat memahami dan menyadari bahwa cinta Tuhan adalah dasar umat beriman dalam mencintai sesama, sehingga mereka dapat
menghayati devosi kepada Hati Kudus Tuhan Yesus sebagai perwujudan cinta Tuhan dalam sesama.
c. Peserta : Orang Dewasa di Paroki Ganjuran
d. Metode : – Sharing kelompok
– Refleksi/Renungan pribadi
– Tanya jawab
– Informasi
e. Sarana : – Teks lagu “Hatiku” dan “Ya Hati Yesus, Raja Cinta”
– Teks fotocopy kutipan 1 Yoh 4:7-21
– Kitab Suci Perjanjian Baru
– Kaset dan tape recorder
– Gambar “Hati”
– Patung Hati Kudus Yesus atau Salib
f. Sumber Bahan : – 1 Yoh 4: 7-21
– Harring, Bernard. (2002). Hati Kudus Yesus. Jakarta: Obor

2. Pemikiran Dasar
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan istilah “hati” misalnya: manusia mempunyai hati yang kecil, kekasih disebut jantung hati, dsb. Dengan demikian kita menghubungkan hati dengan kasih dan kebaikan. Kalau berbicara tentang hati nurani, kita spontan menilai tentang baik dan jahat. Seorang gadis jatuh hati kepada seorang pemuda karena ia baik hati. Segala macam perasaan, entah baik atau jahat, dikaitkan dengan hati: orang mempunyai sifat murah hati, lapang hati, tetapi juga sakit hati, patah hati, tinggi hati, dsb. Pembicaraan mengenai hati tidak hanya terdapat dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga dalam sastra. Maka, tidak mengherankan kalau Kitab Suci juga sering berbicara tentang hati.
1 Yoh 4: 7-21 menguraikan tentang Allah adalah Kasih. Dia sedemikian mencintai manusia sehingga Ia rela mengutus Yesus ke dunia agar manusia yang percaya pada-Nya memperoleh hidup dan cinta-Nya. Cinta Yesus diwujudkan dalam tindakan karya-Nya, yang menjadi dasar umat beriman mengasihi sesamanya. Dalam hati Yesus terungkaplah cinta dan kerahiman Tuhan bagi penyelamatan seluruh umat manusia. Cinta Yesus diwujudkan dalam bersedia menyerahkan diri kepada manusia, sampai sengsara, wafat di kayu salib, sebagai ketaatan pada perintah dan kehendak Bapa-Nya. Cinta Yesus menjadi dasar dan teladan para murid-Nya dalam mencinta, sehingga mereka pantas disebut sebagai sahabat-sahabatNya, karena saling mencinta. Di sinilah letak kekhasan para pengikut Kristus dalam mencinta: mencintai seperti Kristis mencintai manusia, mencintai dengan berani berkorban, menderita, dan mati mengikuti kehendak Bapa, agar memperoleh buah suka cita bersama Yesus yang bangkit mulia. Demikianlah, orang kristiani hendaknya meneladan Kristus dalam mencintai sesama, sebagai dasar dan perwujudan cintanya pada Kristus.
Katekese ini mengajak peserta semua semakin belajar mencintai sesama, seperti Kristus mencintai manusia sampai mati, dengan hati-Nya yang terbuka, supaya mendapatkan suka cinta kemuliaan-Nya. Hati Kudus Yesus menjadi simbol cinta Allah pada manusia. Dengan berdevosi kepada-Nya, umat beriman ingin mewujudkan cinta Kristus yang terbuka pada cinta sesama manusia. Oleh karena itu, makna devosi Hati Kudus Tuhan Yesus tidak terletak dalam kata-kata atau doa permohonan saja, tetapi dalam tindakan konkrit mencintai sesama, terutama mereka yang menderita, sebagai perwujudan cinta orang kristiani pada Hati Kudus Yesus.

3. Pengembangan Langkah-langkah:
a. Pembukaan
1) Kata Pengantar
2) Lagu Pembukaan: Teks Lagu “Hatiku”
3) Doa Pembukaan:
b. Langkah I: Menceriterakan Pengalaman Hidup
1) Pendamping membagikan gambar “hati” kepada peserta dan memberi kesempatan untuk mendapatkan dan mengembangkan ide dari gambar tersebut, dengan tuntunan
pertanyaan-pertanyaan sbb:
a) Gambar “hati” ini mengungkapkan apa?
b) Ceritakanlah pengalaman suka dan duka Bapak/Ibu?Saudara-i dalam mencintai sesama?
2) Peserta diberi kesempatan untuk mensharingkan tanggapan dan pengalaman mereka sehubungan dengan pertanyaan di atas. Sharing dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil (4-6 orang) atau dalam pleno bersama. Pendamping diharapkan dapat menciptakan suasana terbuka dan nyaman agar peserta dapat dengan bebas mengungkapkan pengalaman hidup mereka. Setelah itu pendamping sebaiknya membuat rangkuman pengalaman pesera dalam suka dan duka mencintai sesama.

c. Langkah II: Menggali Pengalaman Hidup
1) Peserta diajak untuk merfleksikan sharing pengalaman hidup yang telah diungkapkan langkah I. Refleksi dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil atau langsung dalam pleno bersama, dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:
a) Bagaimana sikap Bapak/Ibu/Saudara-i dalam menghadapi pengalaman suka dan duka dalam mencintai sesama?
b) Mengapa Bapak/Ibu?Saudara-i mengambil sikap tersebut?
2) Pendampingan memberikan suatu rangkuman singkat atas hasil refleksi yang diungkapkan oleh peserta. Kemudian, pendamping berusaha menemukan jalan masuk untuk mengkaitkan pengalaman dan refleksi peserta dengan pengalaman iman kristiani dalam cinta Allah dan sesama dalam 1 Yoh 4:7-21.

d. Langkah III: Mendalami Pengalaman Iman Kristiani
1) Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan teks atau perikope langsung dari Kitab Suci, yang diambil dari kutipan 1 Yoh 4:7-21.
2) Peserta diberi waktu hening sejenak untuk secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan bantuan beberapa pertanyaan, sebagai berikut:
a) Ayat-ayat mana yang mengesan bagi Bapak/Ibu/Saudara-i berkaitan dengan cinta? Dan mengapa ayat-ayat tersebut mengesan?
b) Manakah pesan inti yang diajarkan oleh 1 Yoh 4:7-21 sehubungan dengan cinta pada Tuhan dan sesama?
3) Peserta diajak untuk terlebih dahulu untuk mengungkapkan dalam pleno hasil renungan pribadi sehubungan dengan 2 (dua) pertanyaan di atas.
4) Kemudian, pendamping menyampaikan interpretasi atau tafsir dari bacaan 1 Yoh 4:7-21 dan menghubungkan pesan inti dengan tanggapan dan hasil dari renungan pribadi serta sesuai dengan tema dan tujuan pertemuan katekese ini, misalnya: Teks yang diambil dari surat Yohanes ini merupakan salah satu perikope yang membicarakan cinta (1 Yoh 4:1-5:21). Dan perikope yang dibaca (1 Yoh 4:7-21) merupakan puncak pembicaraan menganai kasih dan dasar bagi cinta kepada sesama. Hampir semua ayat dari kutipan tersebut dapat mengesan, karena dapat dihubungkan dengan cinta: Allah adalah cinta (ayat 7-10), cinta pada sesama merupakan jawaban manusia terhadap cinta pada Allah (ayat 11-13), cinta berhubungan erat dengan iman (ayat 14-16), cinta dalam hubungannya dengan rasa hormat dan bakti (ayat 17-18), cinta kepada Allah menjadi nyata apabila manusia mencintai sesama.
Perikope 1 Yoh 4:7-21 pada dasarnya mengemukakan pesan inti tentang perintah dan dasar cinta kasih kristiani. Gagasan awal surat ini dimulai dengan menyatakan bahwa setiap orang, yang lahir dan dipilih oleh Allah harus mengasihi-Nya dalam hubungan dengan sesama manusai, karena dengan menjadi anak Allah berarti masuk dalam keluarga ilahi. Sejarah keselamatan bangsa manusia merupakan sejarah kasih Allah yang ditujukan kepada suatu bangsa atau umat tertentu. Umat dan bangsa dipilih oleh Allah sendiri dan dijadikan umat kesayangan-Nya, dan sejarah umat itu menjadi sejarah keselamatan. Umat ini dipilih bukan karena jasa-jasa atau prestasi mereka sendiri, tetapi berkat pilihan dan cinta-Nya. Allah yang terlebih dahulu mengambil inisiatif dalam mencintai manusia dengan mengutus Putera-Nya, Yesus menjadi manusia. Allah mencintai dan menyerahkan diri kepada manusia. Jantung hati-Nya, yakni Putera Allah diserahkan untuk penyelamatan manusia dari dosa-dosa. Dalam menyerahkan diri-Nya ini, Yesus menanggung risiko penolakan, penghinaan, penderitaan, dan kematian. Namun, Dia tidak kehabisan daya dan inisiatif untuk mencintai manusia dan memberi kesempatan pada manusia untuk menjadi dekat dengan Allah dan untuk membalas dan meneladan cinta-Nya dengan mencintai sesamanya tanpa pernah kecewa dan putus cinta.
Menurut keyakinan iman kristiani, kasih sedemikian itu hanya dapat diwujudkan apabila hidup orang kristiani diresapi dan dihidupo oleh denyut jantung atau hati Allah. Dengan demikian cinta yang murni, sejati, benar dan sempurna berdasar dan berpolakan kasih Yesus Kristus. Digerakkan oleh kasih, Allah mencintai manusia sehabis-habisnya, dalam seluruh perjuangan hidup, sengsara dan kematian Yesus di kayu salin, bahkan sampai hati-Nya terluka dan terbuka demi cinta pada semua manusia. Namun, berkat kesetiaan dan cinta-Nya kepada kehendak Bapa, Yesus dimuliakan, dibangkitkan dalam hidup baru. Keyakinan akan Yesus Kristus yan bangkit dari mati inilah yang menjadi jaminan iman, harapan dan karya cinta kasih orang kristiani. Dalam Kristuslah, orang beriman menjawab cinta Allah, dan menawarkan serta mewartakan cinta kasih ilahi dan rohani, kepada sesama manusia. Devosi Hati Kudus Tuhan Yesus mempunyai makna bagi orang kristiani agar cinta kasih dan penyerahan total Kristus pada Allah kepada sesamanya, terlebih mereka yang menderita karena kehilangan orang yang dicintainya, yang tidak mengalami cinta dari orangtua, yang putus cinta, yang kehilangan harapan dan cinta dalam hidup konkrit sehari-hari.

e. Langkah IV: Menerapkan Iman dalam Hidup Peserta Konkrit
1) Pendampingan mulai mengawali langkah ini dengan menempatkan peserta dalam konteks dan situasi devosi kepada Hati Kudus Tuhan Yesus di Paroki Ganjuran, serta menerapkan pesan inti Kitab Suci dalam pengalaman, kebutuhan, dan situasi hidup konkrit peserta sesuai dengan tema dan tujuan katekese ini.
2) Sebagai bahan refleksi untuk semakin menghayati cinta kasih Allah dalam sesama secara konkrit bagi peserta di Paroki Ganjuran, dan dalam saat-saat hening berikut ini, terlebih dahulu peserta diajak secara pribadi untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a) Apa arti cinta kepada Hati Kudus Tuhan Yesus bagi Bapak/Ibu/Saudara-i?
b) Dalam hal apakah Bapak/Ibu/Saudara-i disadarkan, diteguhkan, atau ditegur oleh cinta Yesus dalam Hati-Nya Yang Maha Kudus?
Saat hening dapat diiringi dengan alunan lembut dari suara musik instrumental untuk membantu peserta dalam merenungkan dan menerapkan pesan pribadi dalam situasi konkrit umat Paroki Ganjuran sehubungan dengan 2 (dua) pertanyaan di atas.
3) Kemudian, peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil renungan dan refleksi pribadi dalam pleno. Hasil pleno dirangkum oleh pendamping dan diteguhkan dalam hubungan dengan tema dan tujuan katekese ini.

f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Tindakan Nyata
1) Pendamping mengawali langkah ini dengan merangkum seluruh isi dan proses yang berlangsung selama katekese ini dan berusaha menghubungkannya dengan tema dan tujuan katekese ini dan mengaak merenungkan sebentar bentuk cinta macam apakah yang dapat diwujudkan pada sesama dalam situasi sekitarnya?
2) Pendamping memberi waktu hening sejenak pada peserta untuk memikirkan tindakan konkrit mana yang dapat diushaakan dalam mencintai sesama dan dapat berupa keinginan, niat, atau keputusan pribadi atau bersama, dengan dibantu dengan panduan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
3) Kemudian, peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan dan mensharingkan niat atau keputusan pribadi. Dan apabila mungkin, peserta diajak untuk mendiskusian dan mengambil keputusan bersama sehubungan dengan niat atau tindakan yang bisa dilakukan secara bersama sebagai umat beriman di Paroki Ganjuran. Kemudian niat atau tindakan pribadi dan bersama dipersemmbahkan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus.

g.Penutup
1) Pendampingan menempatkan gambar atau patung Hati Kudus Yesus atau salib di tengah-tengah atau di depan peserta, sehingga semua orang bisa melihatnya. Kemudian satu atau dua lilin bernyala diletakkan di depan gambar, patung atau salib tersebut. Kemudian, pendampingan mengajak peserta untuk mengajukan doa-doa umat kepada Hati Kudus Tuhan Yesus. Pendamping mengawali doa umat dan diterukan secara spontan oleh para peserta. Penutup doa umat ini dapat diakhiri dengan “Doa Litani Hati Kudus Yesus” dan “Doa Penyerahan keluarga dan Bumi Nusantara kepada Hati Kudus Tuhan Yesus”, secara bersama dengan bergandengan tangan. Akhirnya pendampingan menutup katekese ini dengan Doa Penutup yang menghubungkan dengan tema dan yujuan katekese serta sesuai dengan apa yang terjadi selama proses berkatekese dalam 5(lima) langkah selama ini.
2) Doa Penutup
3) Lagu Penutup: Teks Lagu “Ya Hati Yesus, Raja Cinta”.

Catatan: Model KU ini di-share-kan oleh: M. Sumarno Ds, SJ
Sumber Gambar: Umat Komunitas Basis di wilayah St. Kristoforus – Paroki St. Paulus, Depok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *