Renungan Hari Minggu Biasa XXX : “Menganggap Diri Tak Pantas”

Bacaan: Sir 35: 12-14. 16-19; 2Tim 4:6-8. 16-18; Luk 18: 9-14.

 Apakah yang menyebabkan pemungut cukai dalam Injil hari ini pulang dengan mendapatkan pembenaran dari Tuhan?  Tuhan membenci perbuatan dosa, tetapi Ia mengasihi orang berdosa, terlebih-lebih mereka yang mau bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya.  Pemungut cukai ini datang merendahkan diri di hadapan Tuhan karena sadar ia pendosa.  Sambil mengakui dosanya ia memukul-mukul dirinya tanda penyesalan yang dalam. Sikap mau merendahkan diri dan bertobat dengan sungguh-sungguh inilah yang menyebabkan Tuhan membenarkan pemungut cukai ini.

Banyak orang Kristen (kita) sering membanggakan diri tentang ibadah dan pelayanan yang dilakukan, lalu menganggap rendah orang lain.  Bukankah hal ini mengindikasikan bahwa kita sombong?  Seharusnya ketaatan dan kesetiaan kita dalam ibadah dan pelayanan menjadikan kita lebih rendah hati.  Kesombongan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di area apa saja. Yang paling ironis, kesombongan terjadi pada figur religius yang memegahkan kesalehannya. Bukankah seorang rohaniwan seharusnya rendah hati? Bukankah tokoh religius yang seyogyanya paling memahami tentang kesalehan yang sejati? Sekali lagi, tidak seorang pun kebal terhadap kesombongan.

Kesombongan religius yang ditunjukkan oleh orang Farisi dalam kisah ini mengambil dua bentuk: mengandalkan kebenaran diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Dua hal ini saling berkaitan erat. Sulit memiliki yang satu tanpa memiliki yang lainnya. Pertama, mengandalkan kebenaran diri sendiri. Dari doa yang dipanjatkan oleh orang Farisi terlihat bahwa dia bukan sekadar meyakini kebenarannya sendiri, melainkan memegahkan kebenaran itu di hadapan Allah dan orang lain. Ini bukan sekadar menganggap diri benar  tetapi menyombongkan kebenaran diri. Yang ironis, kesombongan ini justru diletakkan pada hal-hal yang religius dan terjadi dalam konteks aktivitas religius pula. Bukan hanya itu. Bagian awal dari doa Si Farisi sangat mengecoh. Dia memulai dengan ucapan syukur kepada Allah, tetapi selebihnya adalah tentang dirinya sendiri. Kata “aku” muncul tidak kurang dari lima kali dalam isi doanya. Hal ini sangat ganjil. Bukankah ucapan syukur seharusnya berbicara tentang apa yang Allah lakukan bagi kita?

Sebagian dari kita mungkin dengan cepat mendeteksi kesalahan dalam doa orang Farisi ini. Kita tidak habis pikir mengapa dia melakukan kebodohan seperti itu. Bagaimanapun, jika kita berada dalam posisi dia, kita mungkin akan bertindak lebih konyol lagi. Bentuk kesombongan yang kedua adalah memandang rendah orang lain Memiliki kebenaran tidaklah salah. Menyadari bahwa kita benar di hadapan Allah juga tidak selalu salah. Bukankah Yesus sendiri mengungkapkan bahwa si pemungut cukai pulang dalam posisi dibenarkan oleh Allah. Yang penting kita tahu darimana dan bagaimana kita bisa mempunyai kebenaran itu. Kebenaran bukan sesuatu yang kita raih, tetapi kita terima. Menariknya, kebenaran ilahi disediakan bagi mereka yang menyadari bahwa dirinya tidak benar. Ini adalah paradoks ilahi yang indah. Siapa saja yang menyadari kehinaannya di hadapan Allah akan dimuliakan. Sebaliknya siapa saja yang memegahkan diri di hadapan Allah akan direndahkan.

Isi doanya sangat singkat dan sederhana: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”. Yang dia minta hanyalah kemurahan Allah. Tidak ada dalih yang dia ucapkan untuk membenarkan atau membela diri. Tidak ada alasan yang dia kemukakan untuk mendapatkan kemurahan Allah. Hanya sebuah permohonan yang tulus. Permohonan yang lahir dari ketidak-layakan diri di hadapan Allah. Sikap seperti inilah yang dicari oleh Allah.

Dalam konteks kita sekarang, kita sepatutnya menunjukkan sikap yang sama. Kebenaran yang kita miliki di dalam Kristus adalah anugerah, bukan upah . Anugerah ini kita terima melalui iman yang sejati: menyadari kehinaan, ketidaklayakan, dan ketidakmampuan kita untuk mendirikan kebenaran sendiri di hadapan Allah. Sudah sepantasnya kita menjaga hati kita untuk tetap rendah di hadapan Allah.***

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *