Renungan Hari Minggu Biasa XXIX: “Berdoa Yang Tak Jemu”

Bacaan: Kel 17: 11-19; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8.

Perumpamaan tentang hakim yang tak benar membawa pengertian kepada kita bahwa Allah mempunyai hati yang jauh lebih terbuka untuk mendengarkan seruan kita masing-masing. Hakim yang tidak benar saja akhirnya ‘luluh’ karena sang ibu yang gigih mendesak, apalagi Allah. Tanpa kita desakpun pasti Ia akan selalu memperhatikan kita. Doa-doa kita dikabulakn-Nya bukan karena terpaksa tetapi karena Dia adalah kasih. Lebih dari itu adalah apakah kita berani terus bertahan dan berharap dengan doa-doa kita, atau  jauh lebih sering kita yang tidak tahan untuk berdoa.

Salah satu spiritulitas dari doa adalah menunggu. Dan sudah barang tentu menunggu itu bukan hal yang mudah. Perlu banyak perjuangan dan usaha, meskipun sebenarnya kita seperti tidak melakukan banyak hal. Menunggu memerlukan energi yang tidak sedikit juga. Apalagi jika kita tidak tahu persis kedatangan yang ditunggu, atau jangan-jangan malah tidak datang. Menunggu yang tidak pasti jauh lebih membuat kita gelisah dan sering putus asa.

Begitulah sering terjadi dengan doa kita. Sering kali kita hanya berdoa tentang kebutuhan dan kesulitan yang kita hadapi saat ini. Dan bisa jadi sering kali itu tidak banyak bicara. Tetapi melihat kenyataan berkat yang lainnya, kita bisa sangat yakin bahwa Allah mengabulkan doa kita dengan cara yang berbeda dengan yang kita mengerti. Pertanyaan yang sama: apakah kita mampu melihat hal itu dalam waktu yang lama atau melihatnya hanya sekedar kebetulan saja?

Kita diingatkan supaya tidak jemu untuk berdoa dan berdoa. Tuhan pasti selalu membuka pintu kerahiaman-Nya. Sekarang tinggal kita apakah juga berani membuka diri untuk rencana dan kehendak Allah. Berdoa yang tidak jemu-jemu adalah berdoa dengan tidak putus asa. Berdoa berulang-ulang, penuh energy, tidak bosan dan tidak menjadi lelah karena menunggu waktu yang lama untuk terkabulnya sebuah doa. Tetap dengan tekun dan percaya untuk terus berdoa.

Permintaan si janda dalam Injil, bukanlah permintaan yang jahat. Sebaliknya, ia meminta sesuatu yang baik dan benar. Janda itu tahu bahwa hakim adalah seorang yang “yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun”. Namun, ia tidak jemu. Setiap pagi ia bangun dan datang ke sana dengan membawa permohonannya. Baginya, hakim itu adalah satu-satunya yang dapat memberikan solusi. Tuhan memberikan contoh ini bagi kita: agar kita datang kepada hakim yang benar tanpa jemu, dan Dia pasti akan mempertimbangkan permohonan kita.

 Kita diminta untuk terus datang kepada Allah dengan membawa permohonan-permohonan ini. Kita diminta untuk tidak jemu, untuk tidak berkecil hati, tetapi untuk terus berdoa kepada-Nya. Kitab Suci menyatakan bahwa hakim tersebut sudah beberapa kali menolak permintaan janda tersebut. Hakim itu tidak mempedulikan permintaan janda yang tinggal satu kota dengannya. Di dalam hatinya ia berpikir bahwa dirinya memang tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati siapapun. Apalagi terhadap janda yang lemah dan tidak berdaya.

Namun, kemudian pikirannya berubah. Ia berpikir bahwa janda itu akan menyusahkan dirinya pada suatu waktu, jika ia tidak membela haknya dan memenangkan perkaranya. Karenanya, ia akhirnya memutuskan untuk membenarkan dia. Hal demikian dilakukannya, supaya janda itu tidak datang lagi kepadanya, kemudian menyusahkan dan menyerangnya.

Doa yang tidak jemu-jemu adalah bukti bahwa kita punya iman.  Jangan memberi celah kepada Iblis yang tidak pernah berhenti menghasut, melemahkan dan memprovokasi kita dengan hal-hal negatif.  Jangan pula silau mata dengan tawaran-tawaran dunia yang menjanjikan pertolongan instan yang membuat kehidupan doa kita semakin berkurang.  Belajarlah memahami bahwa waktu kita bukanlah waktu Tuhan.  Pemazmur menasihati,  “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!”  (Mazmur 27:14).Tuhan memberikan contoh kegigihan seorang janda yang tidak pernah jemu datang kepada hakim yang lalim agar perkaranya dibela.  Janda itu tidak pernah merasa malu atau sungkan, tetapi ia punya tekad yang sangat kuat. Maka, semoga kitapun tidak pernah malu untuk terus datang kepada Tuhan yang selalu mengabulkan setiap doa dan permohonan kita/ ***

 

  

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *