Renungan Hari Minggu Biasa XVIII : “Menjadi Kaya Di Hadapan Allah”

Bacaan: Pkh.1:2; 2:21-23; Kol. 3:1-5, 9-11; Luk. 12:12-21

Memiliki harta kekayaan tidak salah, tetapi harus bijak terhadap harta, agar akhir hidup kita tidak sia-sia. Bagaimana caranya? Yakni dengan menempatkan harta pada posisi yang benar. ”Jangan menjadi hamba uang” (Ibr. 13:5a). Jadikan Tuhan sebagai Tuan atas diri kita. Selanjutnya, bersikap benar terhadap harta, yaitu memiliki rasa cukup. Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan yang besar (2 Tim. 6:6). Rasa cukup menjauhkan orang dari ketamakan dan memburu uang (2 Tim. 6:7-10).  Rasa cukup membuat orang senantiasa bersyukur kepada Tuhan, hidup aman dengan saudara, dan menjadi berkat bagi orang-orang lain, mendatangkan manfaat bagi sesama dan memuliakan Allah. Kitab Suci mengajar kita untuk memuliakan Allah dengan harta yang kita miliki (Ams. 3:9).  Janganlah hanya menimbun harta di dunia untuk diri sendiri, tetapi pakailah uangmu untuk mendukung misi Allah di dunia ini dan menjadi berkat bagi sesama. Itulah cara untuk menyimpan harta di surga (Mat. 6:19-21).

Kita pun harus menjadi bijak terhadap harta, yaitu menempatkan harta, menyikapi harta, dan menggunakan harta dengan benar, untuk menghindari akhir hidup yang sia-sia. Dalam perumpamaan ini Yesus menarik gambaran tentang seorang pengusaha, atau seorang petani, yang sangat sukses. Dunia akan menilai dia sebagai orang yang sangat berhasil, namun yang menjadi persoalan adalah bahwa keberhasilan secara duniawi tidaklah sama dengan keberhasilan rohani. Lalu apa arti sukses itu sesungguhnya? Apakah mendapatkan promosi dalam pekerjaan merupakan suatu sukses? Apakah mendapatkan gelar kesarjanaan dengan nilai sempurna dari universitas yang ternama adalah suatu sukses? Lulus dengan nilai pas-pasan berarti tidak sukses? Jadi apa itu sukses? Apakah kesuksesan itu berkaitan dengan pendidikan? Apakah ia dinilai berdasarkan gelar yang Anda raih? Apakah ia didasari oleh nilai uang? Apakah sukses itu diukur berdasarkan keberhasilan usaha Anda? Apa itu sukses? Si petani dalam perumpamaan ini merasa bahwa ia sudah mendapatkan kesuksesan.

Bagaimana sukses dapat diraih? Sukses diraih dengan melalui berbagai macam cara. Sebagai contoh, sukses dapat datang lewat suatu kerja keras. Ia didapat dari hasil perencanaan dan pemanfaatan waktu serta sumber daya yang baik. Sukses sangat jarang datang sebagai suatu kebetulan, unsur ini sangat sedikit peranannya. Sebagian besar unsur pembentuk sukses adalah kemampuan dan kerja keras, dan beberapa orang menyatakan bahwa peran kemampuan hanya sekitar 5% dan 95% sisanya adalah hasil dari kerja keras. Jika dilihat dari segi ini, maka si petani dalam perumpamaan ini adalah orang yang memiliki kedua kualitas itu. Ia adalah orang yang giat bekerja. Ia pastilah seseorang yang sangat berpengalaman di bidang pekerjaannya.

Apa masalahnya? Persoalan moral apa yang bisa kita amati dari sini? Kita tidak dapat menuduhnya secara moral karena tidak disebutkan bahwa ia adalah orang yang berbuat dosa, ia tidak dikatakan sudah melakukan perbuatan jahat seperti perampokan ataupun penipuan. Tuduhan semacam itu tidak dapat dialamatkan kepadanya. Kenyataannya, seringkali orang-orang yang bekerja keras adalah orang-orang yang baik secara moral. Orang-orang malaslah yang biasanya, karena tidak suka bekerja, punya banyak waktu untuk keluyuran di jalanan serta menimbulkan banyak masalah. Akan tetapi orang-orang pekerja keras adalah orang-orang yang jadi teladan di tengah masyarakat. Mereka selalu jauh dari masalah karena mereka tidak punya waktu untuk membuat onar. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya

Terlebih lagi, nama baik sangat penting bagi orang-orang yang sukses itu. Mereka tidak akan mau melakukan dosa yang akan merusak reputasi mereka. Mereka ingin agar orang memandang mereka sebagai pengusaha yang jujur. Apakah mereka benar-benar jujur, itu lain persoalan. Akan tetapi mereka ingin agar dipandang seperti itu. Dan mereka akan berjuang keras untuk menjaga reputasi itu. Jadi kira-kira seperti inilah gambaran dari si petani yang kaya ini. ia adalah seorang pekerja keras, yang tidak suka cari masalah, yang punya banyak rencana, ide dan sangat berhasil. Lalu apa kesalahannya? Apa persoalannya? Keadaan orang ini tampaknya sangat ideal. Selain itu, ia tampaknya diberkati oleh Allah, mendapatkan cuaca yang baik. Mengapa demikian sebab kecenderungan di kalangan orang Yahudi untuk memandang bahwa orang yang kaya adalah orang yang berkenan di hadapan Allah dan mereka yang miskin tidak.

Jika demikian halnya, lalu apa yang menjadi masalah dengan petani kaya ini? Apa kesalahannya? Dan apa yang dia lakukan adalah hal yang sangat masuk akal? Jika seseorang memperoleh banyak hasil panen dan tidak ada lagi tempat untuk menyimpannya, tindakan apa yang masuk akal selain membangun lumbung yang lebih besar? Itu adalah tindakan yang mungkin akan kita lakukan di dalam keadaan yang sama. Jadi ketika kita mengamati orang ini, kelihatannya kita tidak dapat melihat kesalahannya. Jadi, mengapa ia disebut bodoh? Kita memandang ia sangat bijak. Dengan standar duniawi, ia adalah orang yang sangat bijak. Apa masalah orang ini? Persoalan orang ini tidak terletak pada kepribadiannya. Ini adalah hal yang perlu dipahami. Yesus tidak pernah menyatakan bahwa ia adalah orang yang jahat. Yesus juga tidak menyatakan bahwa ia tidak pandai. Kata ‘bodoh’ di dalam Alkitab tidak mengandung arti ‘tidak pandai’. Kata ini perlu dipahami secara rohani, bukannya secara intelektual. Ini adalah perkara yang perlu diperhatikan. Jadi, apa pokok permasalahannya? Kebodohan rohani. Apa itu kebodohan rohani? Untuk dapat memahami maka perlu meneliti apa persoalan yang terdapat pada orang ini.

Kata Yunani bagi ‘kebodohan’ terdiri dari dua bagian. Bagian yang di depan adalah penyangkalan, pernyataan yang bersifat negatif, dan bagian belakangnya berarti ‘pikiran’. Jadi secara kasar dapat diterjemahkan dengan ‘tidak punya pikiran’, atau tidak berakal. Atau dapat Anda katakan, tidak punya pemahaman rohani karena kata ‘pikiran’ di sini diartikan secara rohani. Mengapa ia disebut tidak memiliki pemahaman rohani? Kesalahan apa yang ia lakukan? Sayangnya, walaupun orang yang sukses di dalam perumpamaan ini sangatlah cemerlang secara manusiawi, ia tidak memiliki kebijaksanaan rohani. Akalnya tidak menjangkau sampai ke perkara rohani. Itu sebabnya, ia disebut bodoh. Ia tidak melihat persoalannya sampai ke perkara rohani. Ia tidak dapat memahami keadaan yang dihadapinya secara rohani. Ia hanya memegang satu aspek saja dalam hidup ini, aspek jasmani. Namun pokok keberadaan manusia secara utuh, yaitu mencakup sampai ke aspek rohani, tidak dapat dilihatnya.

Dan akhirnya, apa yang terjadi dengan orang kaya yang bodoh ini? ia kehilangan jiwanya dan Yesus bertanya kepadanya di Lukas 12:20, “Dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” Jadi kesimpulannya seperti yang disampaikan di ayat 21, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” Jika kita ingin menjadi kaya, cara yang paling benar untuk itu adalah dengan menjadi kaya di hadapan Allah. Bagaimana caranya menjadi kaya di hadapan Allah? Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Bukit, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya”***

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *