Renungan Hari Minggu Biasa XVI : “Pilihan Kesibukan”

Bacaan:  Kej. 18: 1-10a; Kol. 1:24-28; Luk. 10:38-42.

Injil hari ini menunjukkan bahwa para murid Yesus tidak mengerti tugas perutusan ke dunia. Ketika Yesus sedang berbicara tentang makna perjalanan-Nya ke Yerusalem bahwa Dia akan diserahkan kepada imam-imam kepala, dijatuhi hukuman mati, dan disalibkan, tetapi kemudian bangkit lagi, Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, meminta supaya dalam kerajan yang akan didirikan Yesus, mereka menjadi orang-orang penting di dalamnya. Mereka berpikir bahwa Yesus datang untuk menghalau penjajah Roma dan membangun sebuah kerajaan di mana mereka menjadi orang penting dalam kerajaan itu. Ketika Yesus wafat di kayu salib, para murid itu terpencar dan meninggalkan Yesus. Mereka menilai Yesus gagal sebagaimana terdengar dari percakapan kedua murid dari Emaus yang kembali ke kampung halaman mereka.

Sama seperti murid-murid Yesus, kita mungkin juga kadang-kadang gagal memahami misi perutusan Yesus ke dunia. Yesus mengajarkan kita jalan yang tidak gampang. Menjadi pengikut-Nya berarti mengikuti jalan yang telah ditempuh-Nya, yakni jalan salib, jalan penyangkalan diri, jalan cinta kasih, jalan kerendahan hati, dan lain-lain sebagaimana diajarkan-Nya di dalam Injil;. Bercermin dari pengalaman para rasul, kita dapat belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dalam terang kebangkitan Kristus kita percaya, di balik kegagalan terselubung misteri kemuliaan, asalkan kita mau bangkit dan berubah menjadi manusia baru. Namun, bukan menurut yang kita kehendaki, tetapi kehendak Tuhanlah yang utama.

Pilihan kesibukan sering membuat kita menjadi tidak fokus pada Yesus. Kemudian kita menjadi gelisah serta mulai menyalahkan sekitar kita. Bagaimana dengan Maria? Maria duduk dan mendengarkan Yesus. Ia fokus pada Yesus (39). Ia rindu mendengarkan Yesus berbicara kepadanya.Ia menolak untuk berbicara banyak. Perbuatannya menuai pujian karena ia memilih yang terbaik di antara yang baik (42). Artinya, ada banyak hal yang baik, namun hanya ada satu pilihan yang terbaik yaitu Yesus dan firman-Nya. Semua pilihan yang sesuai dengan apa yang Yesus kehendaki adalah pilihan terbaik.

Melalui kisah Maria dan Marta, kita diingatkan bahwa terkadang kita memilih sibuk melayani Tuhan sehingga kita lupa diisi oleh Tuhan. Padahal, ketika hidup diisi oleh Tuhan, hidup rohani kita jauh dari kering karena kita diairi oleh-Nya. Jadi apa pun keputusan kita dalam memilih pelayanan, pilihlah yang merekatkan kita dengan Yesus. Ini akan menjauhkan kita dari keluh kesah.***

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *