Bacaan: 1Raj. 19:16b, 19-21; Gal. 5:1, 13-18; Luk. 9: 51-62.
Yesus dalam Injil hari ini mengatakan dengan jelas bahwa untuk menjadi seorang murid-Nya tidaklah mudah. Seseorang harus mau keluar dari zona nyamannya dan ia harus menyangkal dirinya, demi memberikan tempat yang utama kepada Tuhan. Ajaran Yesus ini bermaksud untuk menempatkan Allah di atas segalanya di dalam hidup ini, melebihi siapapun dan apapun. Sebagai pengikut Yesus setelah mengambil keputusan mengaku siap mengikuti ternyata tidak cukup hanya memiliki kesetiaan kepada Yesus tapi dituntut melayani Tuhan. Menggunakan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk melayani. Kehidupan yang Tuhan berikan harus diisi dengan baik karena waktu tidak akan kembali dan terulang, waktu akan terus berjalan dan maju, perkataan yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali dan kesempatan yang lewat tidak akan terulang.
Menjadi pengikut Yesus berarti harus memiliki ketetapan hati. Perhatikan yang Yesus ingatkan bahwa, untuk sekedar menoleh ke belakang atau ke arah mana saja tidak boleh, karena dianggap tidak layak untuk mengikuti Yesus. Kita harus memandang ke depan dan tidak ke belakang. Kita tidak boleh goyah memegang prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan. Benarkah kita serius dengan kesungguhan hati mengikut Kristus? Tanpa komitmen yang kuat, maka hanya akan menghasilkan orang-orang Kristen kualitas “palsu” bukan asli. Yesus menuntut dari kita, penyerahan diri kita yang seutuhnya, penyerahan 100% sebagai bukti bahwa kita mau menjadi murid Kristus yang sejati, mengubah prioritas dan cara hidup supaya Kristus menjadi yang utama dan pertama. Dan tidak menoleh ke belakang! Tanpa komitmen yang kuat, alangkah mudahnya kita meninggalkan Tuhan, ketika kita menghadapi berbagai kesulitan hidup ini. Yesus mengajarkan agar kita memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah, tanpa keraguan dan tanpa alasan cadangan. Kesetiaan kita kepada Tuhan dan kepada misi yang Tuhan percayakan kepada kita harus memampukan kita untuk menghadapi rintangan apapun. Mengikuti Kristus artinya menjadikan diri kita sepenuhnya siap sedia bagi-Nya, sehingga apapun pengorbanan yang diminta-Nya, dapat kita lakukan, tetap berjaga bersama-Nya, tidak jatuh atau meninggalkan Dia.
Biarlah orang mati menguburkan orang mati…”, perkataan ini sekilas terdengar keras, tetapi ini hanyalah gaya bahasa yang digunakan Yesus pada saat itu untuk menjelaskan bahwa “orang mati” di sini adalah mereka yang mempunyai interest/minat hanya kepada hal- hal yang fana, dan yang tidak punya penghargaan terhadap apa yang sifatnya ilahi dan kekal. St. Yohanes Krisostomus mengatakan, bahwa ungkapan tersebut bukan untuk mengesampingkan tugas kewajiban kita terhadap orang tua, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada yang lebih penting daripada hal- hal surgawi, dan hati kita harus melekat pada hal- hal itu, dan tidak menanggalkannya walaupun hanya sekejap saja, walau alasannya terlihat cukup mendesak.”
Seorang pengikut Yesus tidak mengejar jaminan jasmani. Kita dapat melihat bahwa tawaran orang ini disampaikan dengan rasa hormat dan sopan. Juga kelihatannya ia tidak main-main. Ia mengatakan “ke mana saja”. Ini adalah satu tawaran mutlak. Siapa di antara kita yang tidak akan kagum mendengarkan tawaran semacam ini. Kenapa orang ini begitu tertarik pada Yesus? Mungkin karena Yesus sangat populer waktu itu dan diikuti banyak orang. Atau mungkin ia heran akan pengajaran Tuhan Yesus atau mujizatNya. ia tertarik dan ia mau ikut.
Untuk menguji pelamar ini Yesus menjelaskan bahwa binatang liar lebih untung dari Dia sendiri. Karena binatang liar seperti burung mempunyai sarang dan serigala mempunyai liang, tetapi Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya. Belum jelas apakah orang ini menjadi pengikut Yesus atau tidak. Tetapi maksud Yesus jelas. Seorang tidak dapat menjadi pengikutNya kalau ia bertujuan mengejar jaminan jasmani. Pengikut Kristus tidak akan menjadi kaya dalam dunia ini. Sebaliknya ia akan menderita kekurangan kalau dibandingkan dengan orang-orang lain.
Seorang pengikut Yesus, ia harus mengutamakan panggilan Tuhan. Orang ini tidak menawarkan diri namun Yesus menganggapnya calon pekerja yang baik sekali. Yesus melihat kebaikan dan kemampuan dalam orang ini. Karena itu Yesus menantang dia, “Ikutlah Aku!” Namun dengan sopan ia meminta, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Menurut adat Yahudi pada masa itu hal penguburan orang tua sangat penting dan ia mesti melayani ayahnya sendiri dalam hal ini. Jawaban Yesus terhadap permintaan calon pengikut kedua ini sangat tegas, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Bagaimanapun juga jawaban Yesus menuntut untuk mengutamakan panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan jauh lebih penting daripada urusan keluarga. Kerajaan Allah begitu penting sampai panggilan Tuhan untuk melayani pemberitaan Injil tidak boleh dinomor-duakan. Panggilan Tuhan berarti “hidup” bagi banyak orang.
Seorang pengikut Yesus harus berkonsentrasi pada pekerjaan Tuhan. Dalam pembicaraan ketiga ini seseorang atas kemauan sendiri mengemukakan bahwa ia ingin mengikut Yesus tetapi hanya minta izin dulu untuk pamit dengan keluarga. Jelas tidak salah untuk pamit dengan keluarga. Kelihatannya orang ini tidak takut menderita atau berdalih. Masalahnya ialah, dia mau ikut dengan separuh hati. Dia mau mengikut, tetapi hatinya masih di rumahnya. Yesus tahu orang ini, kalau mengikutiNya, akan cenderung memikirkan kehidupan enak yang ia tinggalkan. Mungkin ia akan berjalan terus dengan Yesus tetapi tidak dengan sepenuh hati. Untuk orang ini Yesus menantang, “Setiap orang yang menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Demikianlah untuk menjadi pengikutNya kita tidak boleh bercabang-hati. Kita harus bersedia ikut Dia tanpa merindukan lagi apapun yang kita tinggalkan sebelumnya.
Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

