Bacaan: Kej. 15:5-12, 17-18; Flp.3:17-4:1; Luk. 9:28b-36.
“Yesus mengajak para murid naik ke gunung untuk berdoa” (Lukas 9: 28). Yesus dalam kemuliaan bertemu Musa dan Elia. Dan kemuliaan yang dialami Yesus adalah kematian yaitu, untuk menderita, untuk dipakukan di atas salib, menerima penolakan dan cemooh orang. Mungkin di bawah ketegangan ini, para murid sudah mendengar, tetapi karena apa yang Yesus lakukan, seperti transfigurasi di atas gunung membuat mereka mengartikan ulang gambar Musa yang melampaui segala kesanggupan manusia (transenden) ini, sehingga sulit bagi mereka untuk memadukan apa yang mereka lihat dengan pesan Yesus tentang apa yang akan Dia hadapi.
Maka ketika Petrus bertemu keadaan seperti itu, dia tidak tahu bagaimana menghadapinya, ia hanya menikmati penglihatan yang ada di depan matanya, dan berkata “betapa bahagianya kami berada di tempat ini”. namun dia tidak tahu apa yang dia katakan, dan dia tidak tahu apa perihal yang sedang ia lihat. Akhirnya, suara Surga keluar dari awan dan memberi tahu para murid untuk mematuhi Yesus yang akan menuntun mereka keluar dari perbudakan dosa dan diselamatkan.
Transfigurasi di gunung adalah sesuatu yang sangat unik dan istimewa. Peristiwa ini kira-kira sama dengan Musa menerima Sepuluh Hukum: di atas gunung, ada wahyu, Tuhan berbicara kepada orang-orang di awan, penampilan Musa dan Yesus berubah (lihat Keluaran 24:9-18), dapat dilihat transfigurasi ini menunjuk pada Yesus yang hendak melaksanakan keselamatan baru bagi orang Yahudi, ini juga berarti bahwa Yesus memiliki otoritas untuk menunjukkan kepada dunia tentang rencana keselamatan Tuhan, jika di masa lalu harus mematuhi hukum Taurat yang sudah ditetapkan, hari ini adalah dengan bertobat dan kembali kepada Tuhan untuk menggenapi hukum Taurat, inilah yang ingin Yesus selesaikan.
Dalam peristiwa penampakan kemuliaan Ia dinyatakan Tuhan sebagai “AnakKu yang Kukasihi”. Suatu ungkapan yang menggarisbawahi penugasan yang khusus. Tujuan perjalanan Yesus adalah penderitaan: ditolak oleh para pemimpin dan bahkan dibunuh, tapi Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga, sebagaimana Yesus sendiri mengatakan-ya. Sebagai Anak yang dikasihi Yesus membawa manusia kembali kepada Tuhan. Maka kepada yang percaya supaya mendengarkan Dia. Mendengarkan Dia harus sampai pada pengertian yang mendalam yaitu sikap untuk menerima hal-hal yang terasa sulit diterima yaitu: penderitaan dan wafat-Nya.***
By Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

