Ekaristi untuk Imunitas Jiwa (Dr. Andre Atawolo, OFM)

Kesehatan menjadi hal utama di masa pandemi korona ini. Orang berupaya melindungi tubuh dari virus korona dengan mengkonsumsi makanan sehat. Orang membutuhkan jenis makanan yang dapat menambah imunitas tubuh agar dapat menangkis serangan penyakit.

Pola hidup sehat terkait erat dengan konsumsi makanan alami yang mengandung vitamin untuk menambah antibodi. Tubuh manusia membutuhkan asupan gizi yang terkandung dalam pangan organik.

Makanan Alami dan Sehat. Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk sebuah pola hidup sehat, hendaknya kita mengkonsumsi makanan sehat, yaitu bahan-bahan alami seperti sayur-sayur hijau, kacang-kacangan, buah-buahan, daging dan ikan segar. Pola makan sehat didukung pula dengan upaya menghindari produk makanan dan minuman cepat saji yang mengandung bahan pengawet, serta menghindari kebiasaan buruk, seperti merokok, minum alkohol, atau bekerja sampai larut malam.

Orang-orang Indonesia seharusnya patut bersyukur karena hidup di tanah yang subur, di negara beriklim tropis, cuaca yang bagus, yang menyediakan kekayaan alam sangat beragam. Bumi Indonesia tidak kekurangan bahan makanan yang dapat diolah menjadi obat-obatan untuk menambah imunitas tubuh. Kita memiliki rempah-rempah berkualitas bagus yang dapat diolah secara sederhana dan dikonsumsi tanpa memerlukan campuran produk-produk kimia. Ibu Pertiwi memelihara dan mengasuh kita dengan baik.

Pola hidup sehat yang digambarkan di atas merupakan prinsip yang sudah umum. Sayangnya hal tersebut mulai tenggelam seiring dengan perkembangan bisnis makanan yang memproduksi makanan olahan yang mudah didapat dan praktis untuk dihidangkan. Prouduk-produk makanan cepat saji dengan bahan pengawet ditengarai perlahan-lahan memperlemah imunitas tubuh manusia. Kehidupan urban yang dinamis dan bergerak cepat, membentuk pola makan kurang sehat, dan berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Dengan kata lain, hidup sehat terkait erat dengan pola hidup sehat, terutama konsumsi makanan yang bersih dan alami.

Godaan “Mengubah Batu Jadi Roti”. Yesus pernah digoda iblis untuk mengubah batu menjadi roti, ketika Ia sedang berpuasa dan merasa lapar. Yesus digoda menggunakan kuasa-Nya untuk mengenyangkan perut: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”. Yesus menolak godaan itu: Tentu saja Yesus tidak menyangkal bahwa manusia butuh makan di saat lapar. Meski demikian, Ia tidak menggunakan kuasa ilahi-Nya demi mendapat kepuasan sesaat. Dengan mengatakan “manusia hidup bukan dari roti saja”, Yesus menyatakan bahwa makanan memang penting bagi tubuh, tetapi bukan jaminan keselamatan jiwa manusia.

Kata-kata Yesus itu dapat dimaknai sebagai pesan yang relevan dengan anjuran hidup sehat: Kita diingatkan bahwa makanan dikonsumsi bukan demi memenuhi selera makan saja, tetapi terutama untuk kesehatan dan daya tahan tubuh. Kata-kata Injil secara implisit menyadarkan kita akan sikap terhadap makanan: makanlah demi kebutuhan dan kesehatan tubuh, taatilah anjuran dokter: jika Anda dilarang mengkonsumsi makanan tertentu, ikutilah, agar tubuh Anda sehat. Dengan kata lain, pola konsumsi makanan dapat menjadi semacam berhala, kalau orang hanya ingin memenuhi selera makan, tetapi mengabaikan apa yang penting bagi kesehatan tubuhnya. Iman Kristen mengajak kita menghormati martabat tubuh melalui sikap ugahari terhadap makanan.

Makanan Tanda Sakramental. Tradisi Kekristenan menggunkan unsur-unsur makanan sebagai simbol sakramental. Misalnya gandum, anggur, minyak, air, ikan, dan garam. Simbol-simbol dari dunia makanan ini cocok sebagai ungkapan rahmat Tuhan yang menguatkan dan memulihkan jiwa-raga kita. Air yang membersihkan, minyak yang menyembuhkan, garam yang memberi citarasa, dan roti yang mengenyangkan merupakan ungkapan konkret daya kerja rahmat kasih Tuhan. ****

Dr. Andre Atawolo, OFM adalah dosen Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Sumber: https://christusmedium.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *