Minggu Palma: Mengenangkan Sengsara Tuhan

HOSANA-VS-SALIBKAN-DIA-MINGGU-PALMA.jpg

Pada Hari Minggu Palma ini, kita bersukacita untuk merayakan suatu peristiwa penting: Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaya! Minggu Palma menjadi tanda dimulainya Pekan Suci, yaitu pekan yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan. Arak-arakan Yesus memasuki kota Yerusalem hanyalah bagian kecil yang mengawali kisah sengsara-Nya.

Sebuah Kisah Kehidupan

Pada suatu ketika, ada seorang ibu berkisah tentang keluarganya. Dia mulai mengingat kembali pengalaman-pengalaman indah, ketika banyak orang bertamu di rumahnya. Banyak tamu yang datang membawa persoalan dan minta diselesaikan. Bahkan tidak jarang ada tamu yang minta bantuan dana. Waktu itu suaminya adalah seorang pemimpin wilayah dan sangat berpengaruh. Banyak orang menaruh hormat dan segan kepada keluarga ibu tersebut. Di sisi lain, orang-orang pun selalu siap membantu keluarga tersebut apabila dibutuhkan. Itu dulu!!!
Sekarang keadaan telah berubah. Suaminya telah tiada. Dia meninggal mendadak karena serangan jantung. Rumahnya kini sepi. Orang-orang yang dahulu sering datang ke rumahnya, semuanya sudah menghilang. Semua jasa dan budi baik dari keluarga ibu dilupakan begitu saja. Apabila ibu itu minta bantuan orang, semuanya seolah-olah sibuk dan tidak bersedia. Misalnya, ketika ibu itu meminta bantuan orang untuk membetulkan pagar depan yang sudah rusak, tidak ada satu pun orang yang bersedia.
Ibu tersebut sangat kecewa atas persahabatan dan persaudaraan yang telah tercipta. Orang-orang hanya mau bersahabat pada waktu mereka dalam kesulitan. Keluarga ini ditinggalkan ketika mereka tidak punya pengaruh lagi. Orang hanya mau berkawan di dalam suka namun tidak di dalam kesulitan.
Yesus pun juga mengalami nasib seperti itu. Orang-orang yang begitu banyak dan selalu mengikuti-Nya, kini tidak satu pun yang berani muncul ketika Dia menderita. Bahkan rasul-rasul yang begitu dekat dengan-Nya, yang baru saja duduk makan bersama Dia, kini lari tunggang langgang. Petrus, Yakobus dan saudaranya Yohanes, sebagai rasul-rasul diberi perhatian khusus, juga meninggalkan Yesus. Bahkan Petrus berterus-terang menyangkal bahwa tidak mengenal Yesus, gurunya. Sungguh menyakitkan!
Orang-orang hanya mau dekat dengan Yesus ketika Dia masih jaya. Tetapi ketika Dia berada dalam penderitaan, orang-orang tidak mengenal-Nya lagi. Semua orang meninggalkan Yesus sendirian. Sesungguhnya bukan hanya Yudas yang mengkhianati Yerus. Orang-orang lain pun, termasuk sebelas rasul yang lain telah mengkhianati Yesus seperti Yudas meski dengan cara yang berbeda. Keadaan ini membuat penderitaan Yesus menjadi berlipat ganda. Penderitaan karena merasa sendirian dan ditingggalkan (Frans Ndoi SVD dalam Serambi Sabda).

Pertama, Allah Menyertaiku

Aku tidak menyembunyikan mukaku, ketika dinodai, karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan malu” (Yes 50: 6 b).
Orang-orang pantai, pasti kenal dengan yang namanya tiram batu (bhs. Latin: ostrea cucullata) . Setiap hari, tiram batu itu akan merasa pedih dan sakit karena kemasukan butir-butir pasir. Tetapi lama-kelamaan, butir-butir pasir itu ternyata menjadi mutiara-mutiara yang amat berharga, karena tiram itu bisa menerima kepedihan hidup.
Hidup kita di dunia ini memiliki tujuan. Dan untuk mencapai tujuan itu kadang kala harus meninggalkan kesenangan-kesenangan pribadi untuk kepentingan sesama. Mungkin kita pernah dengar orang yang bernama Mahatma Gandhi (1869 – 1948). Ketika masih muda, dia merasa puas menghabiskan waktunya di London dan makan bersama-sama dengan para pengacara. Dia juga berlatih biola dan mencoba belajar dansa foxtrot – tarian khas Inggris.
Namun ketika dirinya menyadari bahwa misinya adalah untuk memerdekan bangsa India, maka dia mengubah arah hidupnya. Ia hidup sehati seperasaan dengan suku bangsanya. Ia menderita demi cita-cita yang digenggamnya.

Kedua, Yesus Memiliki Visi – Misi – Tujuan

Pribadi yang memiliki visi – misi – tujuan itu tidak akan mudah goyah seandainya “badai kehidupan” menerpa. Jika dia ditimpa malapetaka, ia tidak akan merasa bahwa peristiwa itu merupakan akhir dari segala-galanya. Dan jika orang itu merasa senang dan gembira, dia tidak akan melonpat-lonpat kegirangan.
Tatkala Yesus diarak sebagai Raja, Ia tetap tenang. Ketika hendak disalibkan, Yesus pun tetap tenang dan stabil karena Ia memiliki tujuah hidup yang jelas.
Dalam perayaan, tadi kita bersama-sama mengadakan arak-arakan untuk memuji dan memuliakan Yesus Kristus. Kita berseru, “Yerusalem, Yerusalem. Lihatlah Rajamu. Hossana Terpujilah!” Masyarakat mengangkat Yesus sebagai Raja. Namun hari Jumat-nya, orang-orang yang sama berseru, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Namun Yesus tetap tenang.
Mungkin sebagai manusia, kita mudah terombang-ambingkan dengan banyak hal peristiwa dan kejadian.
Perjalanan kehidupan kita bagaikan melintasi padang gurun – seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel menuju tanah terjanji. Namun dalam perjalanan kadang ada beberapa orang yang menjadi provokator supaya kembali ke Mesir sebab di sana sudah nyaman lantas mereka membuat dan menyembah lembu emas (Kel. 32: 1 – 6), mengeluh dan kurang percaya meskipun Tuhan telah memberi banyak tanda-tanda yakni: pemberian manna di padang guru (Kel 16: 1 – 36), air susu dan madu (Bil. 20: 10 – 11), tiang awan (Kel. 13: 21), penyeberangan di laut merah (Kel. 13: 17 – 14: 29).
Demikian pula dengan hidup kita. Sering kali, jika ada orang yang memuji diri kita, maka kita akan lupa diri dan bercermin berjam-jam. Tetapi pada suatu waktu ada orang yang memaki kita, maka berhari-hari kita tidak bisa tidur. Hidup kita diombang-ambingkan oleh pengaruh luar maupun pengaruh dalam diri (emosi dan perasaan).
Ketiga, Yesus Membawa Pesan Perdamaian
Banyak orang beranggapan bahwa kekuasaan dan kekerasan atau Undang-Undang yang keras dan kaku itu dapat mengubah masyarakat menjadi lebih baik atau masyarakat menjadi lebih tertib.
Tetapi sebenarnya dari pengalaman, ketertiban dan kesejahteraan dalam masyarakat itu bukan karena dipaksa untuk tertib atau karena kekerasan, melainkan karena ada kesadaran sendiri dan tanggung jawab dari bawah.
Demikian pula kesejahteraan masyarakat itu hanya bisa terlaksana kalau ada kesejahteraan rohani yang memunculkan kesadaran, kerukunan, cinta kasih, solider dan semangat keadilan. Dan ini hanya terjadi dalam diri Yesus Kristus.
Yesus menyadari bahwa dalam membangun Kerajaan Sorga di dunia ini harus melalui “jalan perdamaian” dan bukan kekerasan.
Dalam hidup ini kadang kita memiliki prinsip jika seseorang berbuat jahat kepada dirinya, maka orang itu pun berhak menuntut balas. Tidak ada perdamaian tetapi balas dendam. Padahal Yesus bersabda, “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu” (Luk. 6: 29).
Tidak jarang kita dalam hidup berumah tangga atau bermasyarakat, mengalami konflik dengan sesama. Di sana terjadilah perang mulut dan adu argumen. Tidak ada yang mau mengalah. Jika yang satu berbicara, maka lawan bicaranya berpikir bagaimana menyanggah apa yang dikatakan. Akibatnya tidak akan selesai. Kebencian yang satu akan memunculkan kebencian yang lainnya, demikian seterusnya. (Markus Marlon MSC)

Catatan: Renungan ini sudah pernah ditayangkan pada Hari Minggu Palma 01 April 2012).
Sumber: https://www.facebook.com/notes/seputar-liturgi-dan-perayaan-ekaristi-gereja-katolik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *