Renungan Hari Rabu Pekan Biasa XXXIII
Bacaan:
Wahyu 4:1-11
Lukas 19:11-28
Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil juga apa yang ada padanya.
Bacaan injil hari ini bicara tentang tanggung jawab tiga orang hamba akan mina yang diberikan oleh tuannya. Saat pergi untuk memperoleh gelar raja, tuan itu memberikan kepada sepuluh hambanya sepuluh mina. Harapannya adalah mereka dapat menggunakan uang itu untuk suatu usaha sehingga pada saatnya dia bisa memperoleh lebih. Sang tuan pun kembali ke rumahnya dengan gelar raja di pundaknya. Hal pertama yang dibuatnya adalah memanggil para hamba yang sudah diberikan tanggung jawab atas mina yang dia berikan dan meminta pertanggungjawaban mereka. Hamba yang pertama menghasilkan sepuluh mina, hamba kedua menghasilkan lima mina, dan hamba yang ketiga tidak menghasilkan apa-apa. Mina yang diberikan kepadanya disimpan di dalam sapu tangan dan dikembalikan kepada tuannya.
Cerita di atas jika diartikan dalam tafsiran yang lebih luas, bisa diuraikan sebagai berikut: tuan identik dengan Allah, hamba identik dengan manusia, dan mina adalah karunia yang sudah Allah berikan kepada manusia. Perumpamaan uang/mina ini menggambarkan bahwa setiap orang percaya yang telah diselamatkan memiliki tanggung jawab untuk menggunakan apa yang dikaruniakan kepadanya dengan setia. Masing-masing kita telah dikaruniai kesempatan, waktu, dan perlengkapan untuk hidup bagi Kristus melalui tindakan kemurahan, doa, persembahan, dan banyak cara lain lagi.
Setiap orang diberi anugerah, namun Allah tidak pernah memberi suatu ukuran sampai mana orang harus mengembangkan karunianya. Allah berkehendak agar manusia tidak diam, lalu membiarkan karunia itu seperti saat diberikan dan akhirnya tidak berguna. Allah mau agar karunia itu dikembangkan lebih jauh. Tanggung jawab dan kesetiaan terhadap karunia itu pada akhirnya menjadi standar dari tanggung jawab yang akan diberikan lagi kepada manusia.
“Upah” mereka bukanlah suatu pemberian, tetapi suatu tugas baru yang menuntut tanggung-jawab yang lebih besar! Mereka yang mengembangkan dengan baik karunia yang Allah berikan, kepadanya akan diberikan juga tanggung jawab yang lebih besar. Mereka yang kurang bertekun dan menghasilkan lebih sedikit, kepada mereka akan juga diberikan tugas dan tanggung jawab, namun dengan skala yang lebih kecil. Mereka yang tidak melakukan apa-apa, karunia itu akan diambil dari mereka dan diberikan kepada orang lain yang mau berusaha dengan setia dan bertanggung jawab untuk menghasilkan sesuatu yang berlimpah.
Secara sederhana perumpamaan ini menegaskan sikap Allah akan pahala dan kesukaan yang akan manusia peroleh saat Kerajaan Allah ditegakkan. Apa yang akan diterima orang percaya dalam Kerajaan Allah di masa yang akan datang tergantung pada apa yang mereka miliki saat ini. Kedudukan dan warisan di surga akan sebanding dengan pengabdian mereka sekarang ini kepada jalan dan Kerajaan Allah.
Allah sudah memberikan kepada kita, anugerah-anugerah yang luar biasa, namun Allah tidak berhenti sampai di situ. Ia mau agar apa yang sudah ada dalam hidup kita selalu disyukuri dan dikembangkan. Cara-cara sederhana untuk selalu mensyukuri dan mengembangkan karunia itu adalah dengan tetap setia dan bertekun dalam doa, menunjukkan kualitas hidup orang Kristiani di tengah dunia masa kini, mau menjadi sesama bagi semua orang, tidak sungkan dalam memberi pertolongan, dan menggunakan bakat-bakat yang kita miliki untuk semakin memuji dan memuliakan nama Tuhan.
Mari selalu bersyukur dan mengembangkan bakat yang sudah Allah berikan dalam hidup kita.
(Ignasius Lede)

