Minggu Adven Ke 3, 14 Desember 2025: Gaudete.

Konsep Gaudete, yang menjadi ciri Minggu Ketiga Adven, yang secara mendalam membentuk persepsi teologis tentang kehadiran Kristus sebagai realitas yang sudah ada, sedang datang, dan akan datang penuh dengan kemuliaan. Liturgi ini menggeser nada penitensial Adven dari penantian kedantangan menjadi sukacita kedatangan. Adven ketiga menekankan semakin dekatnya Tuhan yang menimbulkan kegembiraan sebagai respons iman akan Tuhan yang semakin dekat, sebagaimana ditegaskan dalam antifon pembuka misa “Gaudete in Domino semper” (Fil 4:4).1 2

Minggu Gaudete dinamakan dari kata pertama Antifon Misa: Gaudete (“Bersukacitlah”), yang mengundang umat untuk bergembira karena “Tuhan sudah dekat”.1 2 Dalam ensiklopedia, liturgi, hari ini berfungsi sebagai “penghibur” di tengah musim Adven, mirip Minggu Laetare di masa prapaskah, dengan izin penggunaan organ, bunga, dan pakaian liturgi merah muda sebagai simbol kegembiraan dan menandakan semakin dekatnya kedatangan Tuhan.1 Sejarahnya berakar pada tradisi Adven sebagai masa persiapan 40 hari untuk Natal, yang kemudian menjadi empat minggu, tetapi tetap mempertahankan semangat sukacita di tengahnya.1

Liturgi Gaudete menekankan dua kedatangan Kristus: yang pertama (Natal) dan yang kedua (Parusia), dengan referensi konstan pada nubuat Yesaya tentang berkat keselamatan.1 Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa sukacita ini muncul karena “Penyelamat sudah dekat”, mengubah persepsi Adven dari sekadar penantian menjadi perjumpaan nyata.3

Konsep Gaudete memperkaya persepsi kehadiran Kristus dengan dimensi tiga waktu yang saling terkait, mendorong umat melihat Kristus bukan hanya sebagai yang akan datang, tapi sudah hadir di tengah kita:

  1. Kehadiran yang Sudah Ada (Realitas Sekarang):
    Direktori Homaletik menegaskan: “Ia sudah datang. Ia akan datang lagi dalam kemuliaan. Ia datang pada Natal. Ia sudah datang sekarang dalam setiap Ekaristi yang dirayakan selama Adven. ‘Sungguh, Tuhan sudah dekat’.”2 Gaudete mengubah undangannya menjadi panggilan menyembah “Tuhan yang sekarang sudah dekat”, bukan hanya “yang akan datang”.1 Paus Benediktus XVI menambahkan bahwa Tuhan “ada di tengahmu” (Zef 3:15,17), seperti dalam Tabernakel Perjanjian, menjamin sukacita meski dalam pengasingan atau penderitaan.4
  2. Kehadiran yang Sedang Datang (Natal dan Sejarah Keselamatan):
    Sukacita Gaudete lahir dari antisipasi Natal, di mana Kristus “datang untuk menyelamatkan”.5 Paus Yohanes Paulus II menghubungkannya dengan misteri keselamatan: Kristus menyembuhkan yang buta, lumpuh, dan miskin, memenuhi nubuat Yesaya.6 Ini membentuk persepsi Kristus sebagai Pembebas yang aktif sekarang, mengusir kesedihan dan keputusasaan.3 6
  3. Kehadiran yang Akan Datang (Parusia):
    Seluruh Adven, termasuk Gaudete, merujuk pada kedatangan kedua, dengan seruan Alleluya yang tetap dan pelajaran dari Yesaya tentang berkat akhir zaman.1 Paus Benediktus XVI mengajak umat “membangunkan diri dari kebiasaan dan kemalasan” karena “Tuhan sudah dekat”, memperkuat harapan eskatologis.5

Dengan demikian, Gaudete menyatukan ketiga dimensi kehadiran Kristus (Catechism of the Catholic Church §668 menyebut “already and not yet”), di mana sukacita menjadi tanda pengakuan iman atas realitas ini.1 2

Secara teologis, Gaudete memengaruhi persepsi dengan menjadikan sukacita sebagai buah Roh Kudus (bdk. Gal 5:22), respons terhadap kehadiran Kristus yang tak tergoyahkan oleh penderitaan.7 Paus Yohanes Paulus II menekankan: “Bersukacitalah selalu… Tuhan sudah dekat”, bahkan 10 hari sebelum Natal.8 Ini mengajak umat keluar dari “penjara” keraguan (seperti Yohanes Pembaptis) menuju keyakinan akan karya keselamatan yang sedang berlangsung.6

Dalam konteks modern, Gaudete melawan keputusasaan kontemporer, mengingatkan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi dan komunitas Gereja adalah sumber sukacita abadi.2 5

Konsep Gaudete mentransformasi persepsi teologis kehadiran Kristus dari penantian pasif menjadi sukacita aktif atas realitas ilahi yang dekat—sudah hadir dalam sakramen, sedang dimanifestasikan dalam sejarah, dan akan disempurnakan di akhir zaman. Ini mengajak umat hidup dalam kegembiraan sebagai saksi Kristus yang “selalu dekat”.1 2

Sumber:

[1] Catholic Encyclopedia Gaudete Sunday

[2] Homiletic Directory (29 June 2014) 95

[3] 16 December 2001: Pastoral visit to the Roman Parish of “St María Josefa of the Heart of Jesus” – Homily 1

[4] 16 December 2012: Pastoral Visit to the Roman Parish of “San Patrizio al Colle Prenestino”

[5] 16 December 2007: Pastoral visit to the parish of “Santa Maria del Rosario ai Martiri Portuensi” in Rome – Third Sunday of Advent

[6] 13 December 1998, Visit to the Roman Parish of St Julie Billiart – Homily

[7] 15 December 2002: Mass for the Community of the Roman Parish of “San Giovanni Nepomuceno Neumann” – Homily

[8] 15 December 1996, Visit to the Parish of Our Lady of Valme in Rome 1

Ket: Tulisan ini dibuat dengan Magisterium AI, disadur dan diperbaiki agar lebih mudah dipahami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *