Bimtek Kurikulum 2013 di Kesuskupan Agats – Asmat, Papua

Bimtek Agats-1.jpg

Komisi Kateketik Keuskupan Agats bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI, menyelenggarakan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 bertempat di aula SMP Katolik Yohanes Paulus, kota Agats, kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Kegiatan berlangsung dari tanggal 31 Agustus hingga 2 September. Peserta Bimtek sebanyak 42 orang guru mapel Pendidikan Agama Katolik. Para guru atau katekis ini datang dari berbagai desa di kabupaten Asmat menggunakan speedboat atau biasa sebut ojek fiber melalui sungai-sungai di Asmat.

Pada acara pembukaan, Sr Vero, selaku ketua Komkat Keuskupan Agats, sekaligus sebagai ketua panitia penyelenggarakan mengungkapkan bahwa pertemuan pendampingan katekis atau guru agama katolik di Agats ini merupakan pertemuan pertama yang baru kali ini diselenggarakan. Situasi dan kondisi alam di Asmat menjadi tantangan tersendiri dalam kegiatan pastoral, baik di paroki maupun di sekolah-sekolah. Meski demikian kita tetap berupaya memberikan pelayanan katekese dan pastoral kepada umat dan peserta didik kita. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Asmat bp. Dionisius yang juga hadir, dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa di Asmat ada tiga jenis guru. Pertama adalah guru profesional. Guru ini sudah menyiapkan diri menjadi guru lewat pendidikan keguruan dan ilmu pendidikan. Guru macam ini terampil dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dan terampil mengajar menggunakan berbagai metodologi pembelajaran. Kedua, guru yang terpanggil. Guru ini adalah guru yang merasa terpanggil untuk mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan di Asmat, meski bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ilmu pendidikan dan sejenisnya. Guru seperti ini biasanya tahan segala tantangan kehidupan karena berempati pada nasib atau masa depan anak-anak didik. Ketiga, adalah Guru Kebetulan. Guru jenis ini adalah guru yang coba-coba saja mengikuti test masuk dan diterima. Sebenarnya guru jenis ini tidak berkompeten dalam dunia pendidikan tetapi karena dari pada menganggur maka menjadi guru. Inilah guru kebetulan yang perlu harus belajar keras menjadi guru yang sebenarnya. Diakhir sambutannya, Pak Dionisius menegaskan pentingnya seorang guru mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan baik agar dapat memproses kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru juga diminta untuk terus belajar sepanjang waku untuk meningkatkan keterampilannya di sekolah.

Mgr Aloysius Murwito, uskp Agats pada sesi terakhir Bimtek menegaskan bahwa guru agama tidak sekedar mentransfer pengetahuan iman terapi juga harus menyentuh, merasuki hati dan mengubah hidupnya sesuai ajaran dan teladan Yesus sendiri. Tugas guru agama mengantar anak pada Kristus. Karena itu guru agama Katolik harus terlebih dahulu mengalami perjumpaan iman dengan Kristus. Maka seorang guru agama katolik hendaknya menjadi man of prayer.. atau sebagi seorang pendoa. Guru agama juga harus punya kemampuan untuk menafsirkan sabda Tuhan untuk kehidupan real umat manusia. Katekis juga harus profesional dalam merencanakan kegiatan pembelajaran serta membuat evaluasi hasil belajar untuk kemajuan peserta didik. Katekis diharapkan memiliki kemampuan bercerita, bahkan mop-mop khas Papua bisa digunakan tentu sesuai konteks pembelajaran.

Narasumber atau pemateri dari Bimtek ini adalah P. Leo Sugiyono, MSC dan Bp. Daniel Boli Kotan dari Komisi Kateketik KWI, Jakarta. Materi yang disampaikan berkaitan dengan pengembangan Kurikulum 2013, seperti Latarbelakang Kurikulum, Desain Kurikulum, penilaian hasil belajar, Rancangan Rencana Pembelajaran, Silabus, Media pembelajaran dan metodelogi pembelajaran. (DBK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *