Kardinal baru merefleksikan tentang peran mereka sebagai gembala dalam Gereja yang luas, multikultural – dan banyak tantangan dan peluang terkait pelayanan mereka di dunia modern untuk keuskupan mereka.
Kardinal Soane Paini Mafi dari Tonga mengatakan pengangkatan dirinya sebagai kardinal adalah “hal yang luar biasa” bagi negara kepulauan kecil di Pasifik, yang tidak pernah memiliki kardinal sebelumnya.
Dia mengatakan bahwa pilihan Paus Fransiskus mencerminkan visi Gereja yang “inklusif terhadap Gereja terpencil.”
Kardinal Mafi mengatakan umat Katolik Tonga yang bepergian ke Roma “pulang dengan bangga, dengan rasa memiliki terhadap Gereja”.
Dia mengatakan dia berharap dan berdoa agar iman mereka “akan diperdalam, diperdalam dengan pengangkatannya dan tanggung jawab bagi saya”.
Kardinal Mafi menjelaskan bahwa tantangan pastoral Tonga, termasuk tanggapan terhadap “dunia global”.
“Kami tidak lagi terisolasi karena kini komunikasi akan membawa kami lebih dekat,” katanya. “Ini membawa hal-hal yang baik, dan juga aspek menantang, dan ada beberapa tantangan iman, seperti sekularisme, materialisme, individualisme.”
“Kami adalah orang-orang yang sangat komunal, kami masih hidup bersama sebagai keluarga, sangat banyak nilai yang besar bagi kami. Jadi saya pikir ada tantangan besar bagi kami.”
Kardinal baru lainnya juga bercermin pada keadaan negara mereka dan konsistori pada 14 Februari lalu.
John Atcherley Kardinal Dew dari Wellington, Selandia Baru mengatakan ia merima “sambutan luar biasa” dari para kardinal yang telah meneguhkan dia bahwa ”kita milik Gereja universal, dan kita tidak hanya sebuah tempat kecil terisolasi”.
Kardinal Dew mengatakan di antara tantangan pastoral di Selandia Baru adalah “sifat multikultural Gereja”.
“Kami selalu memiliki banyak orang dari negara lain, termasuk orang Eropa setelah perang tahun 1950-an dan 1960-an,” katanya. Ada juga gelombang besar migrasi dari orang-orang Polinesia. Akhir-akhir ini, ada banyak pendatang dari berbagai negara Asia.
“Melibatkan dan memasukkan mereka dalam kehidupan menggereja merupakan tantangan yang sangat besar,” katanya.
Francis Xavier Kardinal Kriengsak Kovithavanit dari Bangkok, Thailand bercermin pada pernyataan Paus Fransiskus ‘yang menjadi kardinal “bukanlah sebuah jabatan untuk menghormati Anda” melainkan untuk “pelayanan dan cinta”.
Kardinal itu mengatakan teman-teman Buddhis-nya yang datang untuk upacara tersebut mengulangi kata-kata ini kepadanya.
Ia menambahkan, “Ini adalah jalan seorang Kristen, jalan seorang imam atau uskup, dan juga jalan seorang kardinal”.
Kardinal Kovithavanij mengatakan bahwa sekularisme adalah tantangan yang “sungguh kuat” tidak hanya di Thailand, tapi “dimanapun di dunia”.
“Bukan hanya umat Katolik, (tetapi) juga bagi pria dan wanita dari semua agama. Mereka perlu berkolaborasi bersama-sama,” katanya.
Dia menambahkan bahwa ia ingin membawa kembali pengalamannya ke Thailand sebagai seorang Kristen yang “ingin menjalankan Injil, dan juga memberikan Kabar Baik ini kepada semua orang”.
Sumber: ucanews.com/indonesia.ucanews.com/20/02/2015

