Spiritualitas Misioner Katekis (Mgr. DR. Paulinus Yan Olla, MSF)

Plures efficimur quotiens metimur a vobis; semen est sanguis Christianorum, “Semakin banyak kami dibunuh olehmu, semakin bertambah jumlah kami; darah orang kristiani adalah benih” (Tertullianus).

 

Usaha memahami Spiritualitas Misioner akan dilakukan dengan melihat pertama-tama beberapa pola penghayatan Spiritualitas Misioner dalam sejarah Gereja. Walaupun sebagai terminologi kata itu baru muncul dalam dokumen resmi Gereja pada Vatikan II, model-model Spiritulaitas Misioner dapat memberi gambaran bagaimana kenyataan spiritualitas misioner itu telah ada dan berkembang jauh melampaui perumusannya di kemudian hari.

Selanjutnya makna Spiritualitas Misioner akan ditelusuri dalam dokumen-dokumen Gereja. Penelusuran itu membantu pemahaman tentang bagaimana konsep itu dimengerti dalam refleksi teologis Gereja. Uraian pada bagian ini akan diakhiri dengan menunjukkan beberapa alasan mengapa Spiritualitas Misioner sangat penting dihayati oleh setiap mereka yang terpanggil menjadi misionaris.

 A. Model-Model Spiritualitas Misioner

        Sepanjang sejarah perkembangan Gereja ada banyak orang laki-laki, maupun perempuan yang melibatkan diri dalam aktivitas pewartaan Injil. Cara hidup mereka menampakan bentuk penghayatan hidup tertentu sebagai misionaris. Hidup Yesus dan Jemaat pertama termasuk pewartaan para Rasul, khususnya rasul Paulus, tidak dibicarakan secara khusus karena akan menjadi referensi pokok dokumen Gereja.

Maka pada bagian ini akan dipilih beberapa orang dari periode berbeda hidup Gereja untuk memperlihatkan bagaimana Spiritualitas Misioner dihayati dari zaman ke zaman dalam lingkungan Gereja. Dipilih figur-figur misionaris sebagai wakil dari masing-masing zaman. Mereka dipilih karena bisa menjadi sosok yang dengan jelas menampakkan apa yang dihayati para misionaris di zaman masing-masing.

  1. Periode Setelah Para Rasul Sampai Sebelum Konstantinus

        Periode setelah para rasul sampai sebelum kaisar Konstantinus tidak diwakili oleh seorang tokoh misoner. Situasi Gereja saat itu ada dalam penganiayaan dan tidak memungkinan munculnya tokoh seperti itu. Namun pewartaan Injil terus berlangsung. Dalam periode ini Gereja bertumbuh dari semula sebagai salah satu sekte Yahudi menjadi suatu agama universal. Gereja memasuki budaya non-Yahudi, menjangkau imperium romawi dan bahkan melampaui batas-batas imperium itu.

Pada periode ini (abad ke-2 sampai abad ke-3 sebelum Konstantinus) Gereja seluruhnya misioner. Belum terbentuk kelompok maupun pribadi-pribadi yang tujuan hidupnya diabdikan untuk misi. Belum ada misionaris profesional. Selama periode ini seluruh umat kristiani, terutama umat awam biasa, sangat berperan dalam pewartaan Injil. Para ahli sejarah misi mendapat kesulitan untuk melacak detail kegiatan misioner di zaman ini, khususnya menyangkut kualitas personal pelaku aktivitas misionernya.[1]

Baru pada abad keempat para rahib dan misionaris profesional mengambil peran penting dalam penyebaran Injil. Suatu perkembangan yang kemudian akan terus berlangsung ribuan tahun dominasi para misionaris profesional.Kendati kurang informasi mengenai detail kegiatan misioner penelusuran untuk memahami Spiritualitas Misioner dapat dilakukan dengan mengamati data-data historis beberapa kegiatan jemaat kristiani zaman itu. Pengamatan sejarahwan memperlihatkan bahwa di zaman itu walaupun belum ada misionaris profesional, ada kelompok misionaris pengembara atau yang juga disebut rasul-rasul (bukan keduabelas Rasul), yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain mewartakan Injil. Informasi keberadaan kelompok itu dapat diperoleh dari kesasian buku Didache atau dari kesaksian seperti diungkap Origenes dan Eusebius.

Origenes memberi kesaksian bahwa semua jemaat berusaha sekuat tenaga menyebarkan iman. Beberapa orang menjadikannya sebagai suatu bagian dari hidupnya. Mereka berkeliling tidak hanya dari kota ke kota tetapi juga dari desa ke desa maupun perkampungan agar mendapatkan pertobatan bagi Tuhan.

Sejarahwan Eusebius mendeskripsikan lebih lanjut hidup para penginjil jalanan itu. Mereka membagi-bagi harta miliknya kepada yang sangat memerlukan bantuan. Selanjutnya mereka mengadakan perjalanan panjang sebagai penginjil. Mereka dengan semangat mewartakan Kristus kepada semua orang yang belum mengenalNya.

Dalam buku Didache, para pewarta ini digambarkan sebagai orang-orang yang tidak kenal lelah. Mereka berusaha terlibat terus-memnerus menyebarkan apa yang diimaninya. Mereka tidak pernah menetap tetapi selalu berpindah-pindah demi pewartaannya.[2]

Kendati terdapat kekurangan data untuk mengamati individu-individu yang terlibat dalam karya misioner abad-abad ini, kesaksian yang terkumpul memperlihatkan adanya kegiatan yang melibatkan seluruh jemaat. Dalam keseluruhan itu muncul pula kelompok yang mengadakan perjalanan keliling untuk pewartaan Injil. Berkembangnya jabatan imamat sebagai uskup maupun imam di abad kedua mempunyai kaitan erat pula dengan pewartaan iman. Ignatius dari Antiochia, mengajak rekannya uskup Policarpus agar pewartaan terus dilakukan supaya banyak orang dapat diselamatkan. Begitu pula uskup Ireneus berkotbah di berbagai kota dan perkampungan Perancis menggunakan bahasa Yunani maupun bahasa setempat. Pantaenus yang mendirikan sekolah Aleksandria abad kedua menjadi misionaris pertama ke India. Sama halnya Yustinus dan sekolahnya di Roma berusaha agar pusat pendidikan itu menjadi pusat pastoral dan pusat perencanaan pewartaan Injil.

Para ahli misiologi menyimpulkan bahwa gerakan misioner pada periode ini sangat ditentukan oleh keterlibatan seluruh Gereja, terutama oleh orang-orang biasa. Jemaat hidup dari penghasilan yang diperoleh dari kerjanya di tengah masyarakat dan imannya dibagikan secara natural kepada orang lain dalam kontak pribadi. Tidak ada misionaris profesional dalam arti modern. Pewartaan Injil dilihat sebagai kewajiban dasar setiap warga Gereja. Efektifnya pewartaan Injil didukung oleh cara hidup mereka. Bila ingin merumuskan bentuk spiritualitas misoner di zaman ini, gaya hidup mereka menjadi dasar kekuatan yang menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Gaya hidup yang menjadi kesaksian itu antara lain, transformasi dan keteguhan moral yang dipancarkan dari cara hidup mereka; hidup persaudaraan dan perhatian sosial pada sesama; kegembiraan hidup dan ketabahan mereka dibawah penganiayaan dan kekuatan yang terpancar dari keutamaan iman mereka.

Tentu saja mereka bukan semuanya sempurna. Tetapi gaya hidup kerohanian seperti dirumuskan di atas sangat kuat dihayati sehingga menjadi sangat dominan sebagai unsur kesaksian bagi masyarakatnya.  Ketabahan hati dan kegembiraan sekalipun berada dalam tekanan dan penganiayaan merupakan kesaksian hidup yang sangat berpengaruh bagi penyebaran Injil. Situasi itu membenarkan apa yang dikatakan Tertullianus, “Plures efficimur quotiens metimur a vobis; semen est sanguis Christianorum” (Semakin banyak kami dibunuh olehmu, semakin bertambah jumlah kami; darah orang kristiani adalah benih). Spiritualitas Misioner zaman ini ditandai oleh kerelaan memberi kesaksian sampai panggilan pada kemartiran.

Spiritualitas Missioner dengan semangat kemartiran itu tampak dalam catatan esekusi mati. Seringkali mereka yang mengeksekusi mati orang kristiani bertobat menjadi kristiani. Kalaupun tidak terjadi pertobatan, kematian orang kristiani yang dieksekusi terjadi sedemikian rupa sehingga membuktikan bahwa mereka dihukum tanpa kesalahan yang memadai. Kemartiran yang disertai kegembiraan semakin meneguhkan iman mereka akan Kristus yang berjanji akan memberikan kegembiraan yang tidak dapat diambil orang lain dari Gereja maupun dari orang kristiani. Kematian dalam kegembiraan seperti dijalani dalam kemartiran Ignatius dari Antiochia merupakan salah satu contoh Spiritualitas Misioner zaman itu.

Unsur lain yang menyertai pewartaan para jemaat zaman ini adalah kekuatan pewartaan Injil melalui penyembuhan dan pengusiran setan (exoscisme). Dalam dunia yang belum berkembang dalam bidang medis dan lingkungan yang percaya akan kekuatan jahat (setan) kedua bentuk pelayanan itu menjadi pemicu berkembangnya iman. Penyembuhan dan pengusiran setan bagi orang kristiani zaman itu menjadi tanda keotentikan iman mereka akan Kristus. Kristus dalam situasi itu menjadi senjata andalan orang kristiani yang tak terkalahkan.

Mengamati Spiritualitas Misioner pada zaman itu, ada beberapa motivasi yang mendasari kegiatan mereka. Motivasi utama yang mendorong jemaat untuk terlibat dalam pewartaan adalah rasa syukur, hormat dan pengabdian. Allah telah menyelamatkan mereka maka sebagai tanggapan mereka mau mewartakan pengalaman itu. Pengalaman dikasihi Allah dalam Kristus menjadi dasar pewartaan mereka. Alasan lain adalah rasa tanggung jawab dihadapan Allah atas iman yang diakuinya. Mengakui iman akan Allah menjadi ajakan dan tuntutan agar hidup mereka disesuaikan dengan keyakinan itu. Mereka merasa diwajibkan membagikan apa yang diimaninya. Motivasi dasar lain adalah rasa sosial mereka yang tinggi atas keselamatan sesama. Semangat mewartakan didasari ketakutan bahwa orang lain yang tidak mengenal Kristus akan dihukum pada hidup kekal. Ketakutan akan hukuman itu memicu mereka menyelamatkan sebanyak mungkin orang demi hidup kekal.

Motivasi-motivasi di atas mendorong orang kristiani di zaman ini berjuang mewartakan Injil dalam hidup harian mereka. Spiritualitas Misioner mereka ditandai iman mendalam akan Allah karena mengalami kasihNya. Iman itu dibagikan dalam suatu keteguhan iman sampai kerelaan untuk menyerahkan nyawa demi Kristus yang diwartakan.

 

  1. Periode Abad Pertengahan

Periode abad pertengahan oleh para ahli sejarah seringkali tidak ditentukan secara jelas batasannya. Namun dalam sejarah misi Gereja periode ini dimaksudkan sebagai waktu antara semakin berkurangnya pengaruh imperium Romawi maupun kebudayaan Yunani dan zaman eskpansi Eropa ke seluruh dunia, mengikuti pelayaran Kolombus tahun 1492. Pembagian sejarah Eropa menjadi periode abad kuno, abad pertengahan dan abad modern baru dilakukan setelah abad VIII. Umumnya periode abad pertengahan dilihat sebagai periode antara mundurnya imperium Romawi sejak akhir abad III sampai abad XVI setelah terjadinya perpecahan dalam Gereja (reformasi Protestan) dan perkembangan yang mengantar pada Revolusi Perancis.[3]

Informasi tentang kegiatan misi pada periode ini lebih banyak dibanding periode sebelumnya. Pada zaman ini mulai berkembang misionaris profesional. Mereka yang mengabdikan diri secara total untuk penyebaran Injil di zaman ini lebih mendominasi karya misioner Gereja dibanding periode sebelumnya. Secara lebih khusus mereka yang disebut misionaris profesional itu adalah para rahib. Karya misioner semula tidak menjadi bagian utama dalam hidup monastik (pertapaan). Para rahib justru ingin membebaskan diri dari keterlibatan dengan dunia untuk mengejar kesempurnaan diri. Namun karena hidup monastik dipandang sebagai bentuk ideal kesempurnaan kristiani maka secara alamiah, bahkan kemudian merupakan keharusan bagi mereka untuk menjadi penginjil diantara mereka yang belum menjadi kristen.

Spiritualitas Misioner pada zaman ini diwarnai oleh spiritualitas monastik. Para misionaris yang adalah rahib menjalankan praktek hidup doa, disiplin yang keras, selibat, terikat pada kewajiban berdoa Ibadat Harian maupun perayaan Ekaristi. Mereka juga hidup dalam tradisi ilmiah dengan meluangkan waktu khusus untuk belajar dan menghargai kerja tangan (berkebun, beternak dst). Dalam situasi demikian para rahib yang misioner itu menjadikan pertapaan sebagai pusat evangelisasi. Tempat pertapaan menjadi pusat untuk mewartakan iman tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pusat ekonomi dan pusat pengembangan kesejahteraan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Tradisi Spiritualitas Misioner yang berciri monastik itu terus berlangsung sepanjang abad pertengahan. Cara hidup monastik digabungkan dengan tugas pewartaan Injil. Hal itu dimulai dengan biara-biara Benediktin, kemudian terus berlangsung dengan kehadiran Ordo-Ordo mendikan sampai pada lahirnya Kongreggasi-Kongregasi religius yang aktif dalam penyebaran iman. Dampak dari penggabungan hidup monastik dan kegiatan misioner di abad pertengahan nampak dalam beberapa hal. Pertama, idealnya kesempurnaan hidup kristiani ditemukan dalam hidup ideal seorang biarawan/pertapa. Konsep itu akan terus berpengaruh dalam mentalitas orang kristiani. Maka Spiritualitas awam pun tidak dapat berkembang di abad pertengahan. Diperlukan waktu sampai Vatikan II untuk membuka perspektif tentang kesucian sebagai panggilan semua orang Kristiani.

Kedua, penggabungan hidup monastik dan karya misioner menciptakan dalam Gereja suatu kelompok baru. Hanya merekalah yang secara khusus bertanggungjawab mewartakan iman. Keharusan dan privilege pewartaan Injil diambil dari tangan pejabat Gereja (klerus) maupun awam dan dikhususkan hanya sebagai tanggungjawab para rahib-misionaris. Bentuk penginjilan sejauh diketahui ditandai oleh pertobatan masal. Pada periode ini pewartaan Injil diarahkan pada kelompok (suku, klan, kerajaan). Pertobatan pemimpin kelompok membawa serta seluruh anggota kelompok dalam pangkuan Gereja. Maka metode pewartaan Injil diarahkan untuk menobatkan para pemimpin kelompok.  Dengan pertobatan kelompok dapat diduga pula bahwa iman seringkali dijalankan secara superfisial. Banyak misionaris menghadapi situasi demikian. Sekitar tahun 1000 Eropa menjadi kristiani tetapi tidak lebih dalam dari penggunaan simbol-simbol. Pertobatan sejati memerlukan proses dan baru terjadi pada waktu setelahnya.

Ada dua bentuk misi dan metode penyebaran Injil di zaman itu. Menurut Joseph Schmidlin diawal zaman abad Pertengahan ada kelompok misionaris karena “panggilan” (vocational  mission) dan misionaris karena “penguasa” (imperial mission). Misionaris golongan pertama menjalankan tugas misionernya seringkali dengan meminta dukungan para raja dan penguasa. Tetapi mereka pada umumnya merupakan kelompok yang cukup merdeka dari campur tangan penguasa. Karya misionernya dijalankan secara individual dan dijalankan secara spiritual melalui kotbah-kotbah untuk pertobatan.

Golongan misionaris yang kedua (misi penguasa) menjalankan tugas misioner atas kehendak penguasa. Metode yang digunakan ditandai kekerasan, penyiksaan, ancaman maupun berbagai tindak kekerasan. Bentuk pewartaan ini sering didominasi motif politis untuk kekuasaan. Contoh paling jelas bentuk pewartaan oleh perintah penguasa adalah Karel Agung pada akhir abad VIII dan awal abad IX. Penggabungan antara salib dan pedang dalam misi mewarnai hampir seluruh periode abad Pertengahan.

Para Paus tetap mengambil peran walaupun tidak sangat dominan dalam periode ini. Peran cukup menonjol hanya ditunjukkan oleh Paus Gregorius Agung dan Inocentius III. Gregorius Agung misalnya merintis karya misi di Inggris. Peran Para Paus tetap penting karena merupakan referensi dan pusat kesatuan. Hal itu dicerminkan misalnya dalam kontak yang konstan antara Bonifatius dan empat Paus pada abad VIII. Segala korespondensi berupa pertanyaan dan jawaban atas persoalan misi menampakkan keterlibatan dan kontak para Paus dalam misi di zaman itu.

  1. Para Rahib Irlandia

Para rahib Irlandia (seltic) memainkan peran penting dalam sejarah misi abad VII dan karena itu patut mendapat perhatian tersendiri dalam pembicaraan menyangkut periode abad pertengahan. Pada awal abad Pertengahan perkembangan yang berbeda terjadi di Irlandia dibanding yang terjadi di Eropa. Dalam hal iman maupun relasi Irlandia tetap bersatu dengan Roma tetapi mereka berbeda dalam hal struktur maupun praktek kekristenan. Praktek hidup Gereja Irlandia berpusat sekitar biara/pertapaan dan bukan pada uskup atau keuskupan.

Ada uskup-uskup tetapi peran mereka adalah menahbiskan imam. Imam-imam tertahbis biasanya tunduk pada kekuasaan para Abas (pemimpin pertapaan). Ciri khusus kristianitas di Irlandia ditandai oleh beberapa hal. Perama, ciri intelektual atau penghargaan tinggi atas ilmu pengetahuan; disiplin hidup yang kuat; pesta-pesta liturgi dan ritus pertobatan yang berbeda dengan Roma; dan yang khas dalam sejarah misi adalah ajakan bagi umat beriman untuk mengadakan ziarah ke negeri lain demi Injil dan demi meneladani hidup Yesus.

Dari unsur-unsur di atas, Spiritualitas Misioner yang paling menandai Gereja Irlandia abad VII-VIII adalah perziarahan misioner. Para rahib Irlandia meninggalkan negerinya pertama-tama bukan untuk pewartaan Injil dan membawa orang ke dalam Gereja tetapi untuk mempraktekkan askese dan mencapai kesempurnaan hidup rohani. Mereka melihat Kristus sebagai peziarah di bumi ini dan karenanya dengan mengikuti Dia mereka menjadi peziarah demi Kristus di tanah asing. Misionaritas mereka mengambil pola Yesus peziarah. Mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Kristus dan menjelajahi Eropa. Contoh paling jelas spiritualitas ini adalah Kolumbanus dan kelompoknya.

Berikut akan dipaparkan contoh Spiritualitas Misioner yang dihayati beberapa tokoh penting dalam karya misioner abad pertengahan dalam tradisi monastik dan perkembangan setelahnya dengan lahirnya kongregasi misioner aktif. Mereka itu adalah Kolumbanus, Bonifatius, Ramon Llull dan Fransiskus Xaverius.

Kolumbanus (543-615)

Kolumbanus seperti telah disinggung merupakan salah satu representasi Spiritualitas Misioner Irlandia (seltic spirituality). Masuk di pertapaan Bangor Irlandia, ia kemudian ditahbiskan imam dan menerima tugas mengajar. Pada usia 45 tahun rahib kelahiran Leinster itu merasa terpanggil untuk meninggalkan tanah airnya sesuai ideal tradisi spiritualitas monastik Irlandia saat itu. Dorongan hati itu kemudian diwujudkan dalam perjalanan misioner bersama 12 orang rahib meninggalkan Irlandia menuju daratan Eropa. Mereka memulai suatu karya di Perancis. Pada tahun 591 Kolumbanus mendirikan biara di Luxeuil yang kemudian sangat terkenal. Banyak biara lain akan menyusul didirikannya setelah itu.

Spiritualitas monastik Irlandia seperti telah disinggung menempatkan perziarahan ke negeri lain sebagai bentuk pencarian kesempurnaan. Motif misioner tidak menjadi alasan utama perziarahan mereka. Tetapi dalam kenyataannya situasi historis telah memaksa mereka untuk menjadi misionaris. G.S.M Walker yang mengedit karya-karya Kolumbanus meringkaskan cara hidup Kolumbanus demikian: “ia seorang misionaris karena lingkungannya, menjadi rahib karena panggilan, sebagai seorang kontemplatif ia sering didorong untuk beraksi karena kejahatan dunia; seorang peziarah dalam perjalanan ke Paradiso”.[4]

Dalam hidup Kolumbanus nampak penggabungan antara panggilan hidup monastik melalui perziarahan dan panggilan misioner. Kedua bentuk panggilan itu dihayati sebagai bentuk kesucian monastik. Dalam hidupnya ditemukan perpaduan antara panggilan hidup monastik dan panggilan misioner. Salah satu contoh pengaruh teramat penting spiritualitas monastik diatas adalah praktek pengakuan dosa. Bentuk pengakuan dosa secara pribadi dan detail dipraktekkan dan dirintis dari pertapaan di Luxeuil. Praktek yang kemudian mempengaruhi seluruh tradisi Gereja Roma Katolik.

Gaya hidup dan spiritualitas Kolumbanus maupun pengikutnya berpusat pada tema perziarahan bagi Kristus (peregrinatio pro Christo), yang menjadi ciri spritualitas monastik Irlandia. Dalam berbagai tulisan berulangkali Kolumbanus membandingkan kehidupan dengan sebuah jalan menuju keabadian. Manusia mengalami penderitaan dalam perjalanan menuju tujuan akhir perjalanan itu, kemuliaan abadi. Setiap perjalanan selalu ada tantangan, ada kebimbangan dan keraguan. Tetapi diperlukan bahwa orang tidak melihat keadaannya sekarang karena lebih mendasar melihat dirinya yang akan datang. Peziarah tidak perlu mencintai jalan dibanding rumah masa depan yang menjadi tujuan perjalanannya. Segala hal duniawi menjadi asing bagi manusia dan tidak perlu dikasihi karena tidak ada hal di dunia ini yang abadi.

Unsur lain yang cukup mewarnai spiritualitas adalah tema peperangan atau perjuangan. Kristus adalah kapten dalam peperangan kita dan setelah melalui pertempuran kita akan dimahkotai selamanya.[5] Barang siapa yang mengatakan percaya pada Kristus ia pun harus berjalan seperti Kristus. Suatu perjalanan dalam kemiskinan, kerendahan hati dan selalu mewartakan kebenaran dibawah tekanan dan penganiayaan manusia.  Spiritualitas Kolumbanus yang memadukan hidup sebagai rahib, peziarah dan misionaris dirangkum dalam Aturan hidup monastik yang ditulisnya untuk para pengikutnya. Disana ada usaha untuk mematikan keinginan daging melalui pantang, puasa, hidup doa, kerja tangan, karya intelektual melalui studi yang teratur dan pencarian terus-menerus kesempurnaan dalam kasih akan Allah.

Dalam spiritualitasnya nampak sintesi antara hidup sebagi rahib sekaligus misionaris. Kasih akan Allah yang diterima dalam hidup monastik menjadi dasar kesucian pribadi. Perziarahan dalam kesucian pribadi itu menjadi sarana karya misioner dengan menjangkau mereka yang ingin mengenal Kristus. Kolumbanus dalam hidup dan karyanya tidak mengenal kompromi. Hal itu menimbulkan kesulitan dalam hubungan dengan uskup setempat maupun dengan raja. Kritik terhadap raja Theuderich atas hidup perkawinannya menimbulkan konflik yang mengharuskan Kolumbanus mengungsi dari Perancis dan tinggal di Lombardia, Italia Utara. Disana ia meninggal 23 november tahun 615. Walaupun demikian jejak Kolumbanus tidak dapat dilepas dari sejarah misi Eropa. Dari spiritualitasnya lahir begitu banyak orang kudus di Perancis, Swiss maupun Italia.[6]

Bonifatius (675-754)

Bonifatius merupakan tokoh sangat terkenal abad VIII. Lahir di Exeter, Inggris dan pada usia sangat muda masuk biara Nursling di Keuskupan Winchester. Setelah ditahbiskan imam tahun 705 dia ditugaskan mengajar di salah sekolah yang dikelolah biaranya. Bonifatius mengalami dorongan untuk mengikuti tradisi para rahib Inggris dan Irlandia untuk pergi meninggalkan tanah airnya. Namun motivasi perziarahan Bonifatius tidak sama seperti para rahib Irlandia. Jika para rahib Irlandia seperti Kolumbanus mengadakan perziarahan demi kesempurnaan dalam kesucian, Bonifatius menempatkan panggilan misioner sebagai tujuan utama perziarahan dia keluar dari Inggris. Motivasi perjalanannya lebih misioner dibanding motif asketis.

Pada usia 40 tahun ia meninggalkan London menuju Frisia dan bergabung dengan Willibrordus, orang Inggris yang telah bekerja disana. Karya bersama di Frisia hanya berlangsung lebih dari satu tahun. Perjalanan Bonifatius ke Eropa mendapat dukungan dari Paus Gregorius II. Bulan Mei 719 ia mendapat mandat Paus untuk pewartaannya. Dalam mandat itu ia mendapat tugas mewartakan Injil kepada “mereka yang masih berada dalam ikatan kekafiran”. Perjalanannya dimulai dari Bavaria dan membaptis banyak orang seperti terjadi di Hesse.

Tahun 722 beliau mengadakan perjalanan ke Roma menemui Paus baru, Gregorius III. Di Roma Bonifatius ditahbiskan uskup dan oleh Paus diutus kembali ke Jerman. Ia menerima tugas di sebuah keuskupan yang tidak ditetapkan batasnya. Dengan kata lain, ia memperoleh keleluasaan untuk mewartakan Injil kemanapun diperlukan. Pewartaan Injil dengan semangat meruntuhkan segala berhala dilakukan dalam peristiwa penebangan pohon berhala untuk Thor di Hesse terjadi tahun 723.  Metode misioner Bonifatius mengikuti apa yang lazim di abad pertengahan, mengarah pada kelompok atas dalam masyarakat. Bila para pemimpin dan orang berpengaruh bertobat maka rakyat dan masyarakatnya akan mengikuti agama para pemimpinya.

Sama seperti Kolumbanus misi Bonifatius dilakukan bukan karena diutus secara resmi oleh Gereja atau suatu kelompok. Misinya merupakan suatu inisiatif pribadi. Perbedaannya bagi Bonifatius motif mendasar perjalanan adalah keinginan untuk mewartakan Injil. Spiritualitas Misioner Bonifatius dapat ditelusuri dalam surat-suratnya. Unsur-unsur yang menguatkannya sebagai misionaris adalah: kebiasaan berdoa dan bermeditasi atas dasar Kitab Suci, penghayatan secara teratur Sakramen-Sakramen, disiplin diri yang ketat, iman dan ketaatan total pada Allah maupun kepercayaan penuh pada Allah atas recanaNya bagi hidup dan panggilan Bonifatius.[7]

Sejauh tercermin dalam surat-suratnya, tema sentral dalam karya misonernya adalah tugas membawa banyak orang kedalam pangkuan Gereja. Sesuai perkembangan refleksi teologis di zamannya Bonifatius melihat Gereja sebagai “Bahtera keselamatan”. Tugas misionernya dilihat sebagai usaha untuk membebaskan mereka yang tidak beriman (kafir) dari jeratan setan dan menggabungkan mereka dengan anak-anak dari Bunda Gereja. Paus Gregorius II mengingatkan Bonifatius bahwa Gereja adalah “surga keselamatan” hidup abadi. Tanpa baptisan yang ada hanya kebinasaan. Maka bagi Bonifatius api neraka merupakan suatu kenyataan sangat real yang memacu semangat misionernya.[8]

Motif lain yang sangat kuat melandasi spiritualitas misioner Bonifatius adalah kemuliaan Allah. Karya misioner dihubungkan dengan memuliakan Allah. Dalam surat-suratnya ia meminta doa agar orang-orang yang belum beriman dapat selamatkan dari kesesatan penyembahan berhala. Orang-orang itu supaya dapat menjadi putera-puteri Gereja dan dengan demikian menjadi pujian dan kemuliaan bagi Allah.[9]

Dorongan dasar lain yang menyalakan semangat misoner adalah kebahagiaan abadi bagi sang pewarta. Jaminan keselamatan bagi pewarta itu diberikan kepada semua yang berusaha menyelamatkan mereka yang belum percaya. Paus Gregorius II kerap mengingatkan Bonifatius bahwa pertobatan orang-orang tidak beriman sangat berkaitan dengan keselamatan jiwa pewarta. Pertobatan akan membawa ganjaran seratus kali lipat di surga.[10]

Alasan mendasar lain yang diajukan Paus untuk meneguhkan Bonifatius dalam pewartaannya adalah perintah Kristus. Perintah Kristus untuk pergi mewartakan Injil dan membaptis semua orang menjadi motivasi spiritualitas misioner. Atas dasar itu pewartaan dan pengajaran kepada segala bangsa dilakukan.  Potret Bonifatius sebagaimana disodorkan di atas memperlihatkan bahwa ia adalah sosok seorang misionaris yang rahib. Pada Kolumbanus lebih tampak rahib dan kemudian figur misionaris. Bonifatius seorang rahib sekaligus uskup. Tetapi sepanjang hidupnya ia seorang uskup tanpa keuskupan yang terbatas dan rahib tanpa pertapaan yang tetap. Ia seorang misionaris-rahib. Meninggal sebagai martir, dibunuh oleh orang-orang Frisian non-kristiani tahun 754 di Frisia tempat pertama kali mewartakan Injil di Eropa.

Ramon Llull (1232-1316)

Ramon bukan rahib[11], ia seorang awam, menikah tetapi kemudian meninggalkan segalanya dengan mengabdikan diri sepenuhnya bagi Gereja dan mencari cara tepat mewartakan Injil. Ramon merupakan generasi yang muncul dari tradisi Ordo-Ordo religius abad pertengahan. Setelah periode para rahib sebagaimana digambarkan di atas muncul di penghujung abad pertengahan ordo religius seperti Fransiskan dan Dominikan. Tujuan langsung ordo-ordo ini adalah pewartaan Injil atau lebih umum, karya apostolik dan bukan seperti tradisi kerahiban sebelumnya yang menekankan aspek kesempurnaan pribadi.

Ramon Llull merupakan bagian dari aliran tradisi Fransiskan. Sebagai awam ia menggabungkan diri dalam Ordo Ketiga Fransiskan. Setelah masa remaja tanpa menghayati iman kristianinya, pada usia 30 tahun ia bertobat. Pertobatannya berpusat pada pengalaman akan kasih Allah dalam salib Kristus. Ia memutuskan meninggalkan segala harta, isteri dan anak-anaknya untuk mengabdikan diri pada pelayanan Gereja. Dari sudut padang misioner, Ramon yang dilahirkan di Majorca (Spanyol) ini, tidak begitu dikenal dalam sejarah misi. Ia misionaris yang tidak membaptis banyak orang. Ia melakukan perjalanan misioner yang singkat hanya sekitar tiga atau empat kali ke Afrika Utara dan Timur Tengah. Namun perjalanan misioner itu tidak membawa sukses besar dalam hal penyebaran iman.

Hal yang menjadi sumbangan Ramon terletak dalam ide maupun inisiatifnya yang sangat jauh ke depan. Ia melakukan inisiatif dan pemikiran misioner yang jauh mendahului waktu hidupnya. Hal pertama nampak dalam identitasnya. Ia merupakan awam pertama yang membuka jalan bagi keterlibatan awam lain dalam misi Gereja. Kenyataan di zamannya menunjukkan monopoli atau dominasi karya misi hanya sebagai privilege para biarawan atau petugas hirarki Gereja. Unsur lain yang sangat mendasar dalam Spiritualitas Misionernya adalah tekanan pada pengalaman akan Allah. Llull meletakkan semangatnya untuk mewartakan Injil pada pengalaman akan kasih Kristus. Pengalaman akan kasih itu mendorongnya untuk mewartakan Injil bahkan bila harus menyerahkan nyawa demi keselamatan jiwa banyak orang. Penghayatan yang kemudian dibuktikan dengan kemartirannya.  Sesuai zamannya Ramon menyadari adanya agama lain tetapi sadar bahwa diluar Gereja tidak ada keselamatan dan pengampunan dosa. Konsep yang muncul dari penegasan Paus Bonifatius (surat Unam Sanctam, 1302) itu mendorong Ramon sampai pada pemikiran bahwa orang-orang non-kristiani dijatuhi hukuman kekal.[12]

Kendati penilaian dogmatis terhadap agama lain nampak negatif sikap Llull menghadapi agama-agama non-kristiani dalam kaitan dengan pewartaan berbeda. Menurutnya pertobatan merupakan buah karya kasih yang dilakukan melalui puasa, doa, penderitaan, pengorbanan, pemahaman dan inteligensi. Ia menegaskan bahwa misionaris akan mempertobatkan dunia melalui kotbah tetapi juga melalui tetesan air mata, tetesan darah, melalui kerja keras dan kematian yang getir.[13]

Sikap di atas menjelaskan bagaimana Ramon akan menghadapi situasi nyata Perang Salib. Disana Llull sebagai orang yang hidup di zamannya pada mulanya enggan untuk menggunakan kekerasan sebagai bentuk pewartaan Injil. Di kemudian hari ia menyetujui dukungan kekuatan militer bagi pewartaan Injil, tetapi hal itu menjadi sulit untuk didamaikan dengan konsepnya tentang kasih dan pemahaman sebagai bentuk palig tepat pewartaan Injil. Sumbangan terbesar Ramon Llull terhadap perkembangan sejarah misi Gereja adalah pendekatan ilmiah terhadap agama lain dan misi Gereja. Dialah perintis pendekatan ilmiah terhadap agama lain dalam rangka pewartaan misioner. Menurutnya filsafat dan penalaran rasional dapat membuktikan kebenaran iman dan membuka kemungkinan untuk berdiskusi dengan orang-orang tidak beriman. Melalui ilmu, mereka dapat diyakinkan dan bertobat. Karena itu atas usulannya didirikan pusat-pusat studi bahasa di Eropa untuk mempersiapkan para pewarta Kristiani mengenal bahasa dan pemikiran agama lain, khususnya Islam.

Pada tahun 1311 dalam Konsili di Viena Ramon mengusulkan antara lain perlunya pendirian sekolah bahasa bagi kepentingan persiapan misionaris. Usul itu kemudian dikonkretkan dengan keputusan Konsili itu untuk mendirikan sekolah bahasa Ibrani, Arab dan Kaldea. Sekolah bahasa itu direncanakan dimulai di Roma, Bologna, Paris, Oxford dan Salamanca. Pengkonkretannya kemudian tidak berjalan mulus tetapi tetap menjadi ide yang terus berkembang di kemudian hari dalam sejarah misi Gereja.

Ramon Llull terlibat dalam misi Gereja tidak hanya dalam pemikiran tetapi dalam menyerahkan hidupnya bagi pewartaan Injil. Ia dibunuh sebagai martir dalam perjalanannya yang terakhir di Afrika di kota Bugia, Algeria tahun 1316. Spiritualitas misionernya terungkap dalam relasi kasih yang melandasi aktivitasnya. Kasih mendalam akan Kristus mendorongnya untuk mengenal orang lain dalam bahasa maupun pemikirannya. Hanya dengan demikian orang lain dapat disapa dan dibawa pada pertobatan. Kasih Kristus memacunya menemukan berbagai cara menghantar orang yang belum mengenal Kristus pada iman akan Dia.

Fransiskus Xaverius (1506-1552)

Pada tahun 2006 dirayakan di berbagai tempat peringatan 500 tahun kematian misionaris agung Fransiskus Xaverius. Dari berbagai peringatan itu nampak betapa jejak misionaris itu terus menggores dalam sejarah Gereja. Kehadirannya nampak berupa inspirasi misioner yang terwujud dalam lahirnya konggregasi-kongregasi dibawah spiritualitasnya ataupun inpirasi misionernya untuk masa depan misi Gereja masa kini. Seminar internasional seperti dilakukan di Universitas Urbaniana Roma tgl 5 Desember 2006 yang dihadiri Kardinal Ivan Dias (Perfek Kongregasi Pengijilan bangsa-bangsa) maupun Karinal Tracisio Bertone (Sekretaris Negara Vatikan) merupakan pula usaha membaca riwayat hidup Fransiskus dalam terang situasi misioner Gereja masa kini.   Fransiskus Xaverius merupakan figur yang dipilih untuk mewakili ordo-ordo religius yang lahir di abad Pertengahan dengan tujuan misioner-apostolik. Fransiskus mewakili figur para Yesuit yang mewarisi spiritualitas Ignatius Loyola pendirinya, tetapi juga wakil misionaris besar setara dan sezaman dengannya.

Fransiskus merupakan salah satu dari kelompok pertama para Yesuit bersama Ignatius Loyola di Universitas Paris tahun 1530-an. Fransiskus Xaverius diutus oleh Ignatius ke India. Meninggalkan Portugal menuju India tanggal 7 April 1541 daan baru tiba di India 6 Mei 1952. Masa karya di Timur hanya sekitar 10 tahun, tetapi dalam keterbatasan waktu itu ia telah mewartakan Injil di berbagai tempat di India sampai ke Indonesia dan Jepang sebelum akhirnya meninggal ketika mempersiapkan diri menuju China. Spiritualitas Misioner Fransiskus Xaverius mendapat dasarnya dalam spiritualitas Ignatian sebagaimana diwarisi dari Ignatius Loyola. Spiritualitas yang bersumber dari pengalaman pribadi itu terangkum dalam buku Latihan Rohani Ignatius. Melalui buku itu Ignatius menunjukkan adanya suatu sintese mendalam antara kasih akan Kristus dan kekuatan logika supernatural. Logika itu diungkap dalam bagian awal buku menyangkut “Asas dan Dasar”.

Dalam “Asas dan Dasar” itu ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah dan dengannya menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia dituntut mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan demi penggunaannya untuk mencapai tujuan manusia diciptakan. Spiritualitas Ignatian, berbeda dengan hidup monastik seperti telah digambarkan di atas, tidak berkonsentrasi pada kesempurnaan diri sendiri tetapi pada keselamatan dan kesempurnaan orang lain. Kesempurnaan sesama itu ditempuh dalam pelayanan apostolik-misioner. Para pengikut Ignatius didorong untuk menjadi orang-orang yang “ditangkap” oleh kasih Kristus mengosongkan diri karena kasih bagi orang lain. Mereka menjalani kehidupan dengan mengikuti langkah kasih Yesus.

Untuk menjadi sarana keselamatan yang efektif dalam spiritualitas Ignatian ditekankan penyangakalan diri dengan berusaha menolak godaan akan hormat, kuasa dan kekayaan dan melepaskan kekuasaan untuk memutuskan dengan mengambil jalan ketaatan. Mereka dituntut untuk menjalankan hidup doa dan kontemplasi dalam segala aktivitasnya, “kontemplasi dalam aksi”. Ciri lain spiritualitas Ignatian yang diikuti Fransiskus adalah dimensi eklesial. Karya seorang Yesuit ditempatkan dalam kerangka Gereja dalam ketaatan pada pemimpinnya dan kepala Gereja yang dinyatakan dalam kaul ketaatan pada Paus. Singkatnya suatu spiritualitas pelayanan berpangkal pada kasih demi kemuliaan Allah yang sebesar-besarnya, sesuai kehendak Allah yang dinyatakan dalam ketaatan pada atasan Kongregasi dan pemimpin Gereja.  Fransiskus Xaverius dalam kasihnya yang menggelora akan Kristus menjalani suatu karya misioner ditandai kesucian hidup pribadinya. Dalam surat-suratnya ia mengajak teman-teman misionarisnya memperhatikan kesucian hidup dan kasih akan Allah, karena kesucian hidup bukan hanya berguna untuk kepentingan pribadi. Kesucian itu penting demi pewartaan Injil dan demi keselamatan mereka yang dilayani.

Dalam sejarah pelayanan misionernya nampak karakter penyerahan diri dan kepercayaan total Fransiskus pada Allah. Ketergantungan hidup pada kuasa Allah dinyatakan pula dalam pengakuan akan kekurangan dan kelemahannya sebagai misionaris. Dalam salah satu suratnya ia menyebut dir sebagai seorang pewarta yang juga pendosa, tetapi percaya bahwa Allah sendiri yang membantunya dalam ketidakberdayaannya. Ia memohon kepada Allah agar menjadikannya sarana penyebaran Injil sekalipun ia sendiri tidak layak dan penuh dosa.[14]

Metode penyebaran iman yang dipilih Fransiskus dipengaruhi oleh konsepnya yang negatif mengenai keselamatan di luar Gereja. Ia mendorong dan memberi semangat kepada banyak misionaris dengan menegaskan bahwa karena karya misionernya mereka menyelamatkan jiwa begitu banyak anak yang dibaptis. Misionaris tidak perlu merasa kecewa bila gagal dalam pewartaan. Diperlukan sikap lembut, rendah hati dan kesabaran menyerupai kesabaran Allah sendiri yang tidak takut akan orang-orang tidak beriman.[15]

Dorongan kuat agar menyelamatkan sebanyak mungkin orang disertai pula pendekatan yang menjangkau semua orang dalam pewartaan. Di India misalnya ia mengadakan kontak dengan orang dari segala golongan masyarakat. Namun pewartaan di Jepang membawanya untuk memikirkan pendekatan pada kelompok atas karena berhadapan dengan mereka diperlukan kecakapan dan seni yang tinggi. Dalam suratnya yang dikirim ke Roma tahun 1545 Fransiskus menceriterakan metode pewartaan misionernya. Surat yang kemudian menjadi inspirasi bagi banyak misionaris untuk menirunya. Dalam surat itu diceriterakan apa yang dilakukannya setiap kali memasuki suatu kampung yang belum mengenal Injil. Pertama-tama kelompok yang hadir dibagi dalam dua kelompok, yakni pria dan wanita. Pewartaan dimulai dengan mengajarkan Tanda Salib sebanyak tiga kali sebagai tanda pengakuan iman akan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Setelah itu dengan suara keras dia mendaraskan doa Tobat, Aku Percaya, 10 Perintah Allah, Bapak Kami, Salam Maria dan Salve Regina.

Dalam suratnya ia menceriterakan bahwa doa-doa diatas kemudian disalin dalam bahasa Tamil yang menjadi bahasa percakapan harian. Doa-doa itu dihafalkan dengan cara meminta orang-orang itu mengulang apa yang diucapkannya. Ia kemudian mengajak mereka hal-hal mendasar soal iman dan Perintah Allah dalam bahasa Tamil. Selanjutnya semua diminta untuk mengakui kesalahan yang telah dibuat di masa lampau dengan suara yang keras dihadapan publik, termasuk publik yang tidak ingin menjadi kristen. Setiap orang kemudian ditanya berdasarkan butir demi butir dari doa Syahadat, apakah mereka percaya akan kebenaran itu? Bila dijawab ya maka akan dibaptis. Kepada yang dibaptis masing-masing mendapat nama kristiani di atas secarik kertas. Proses yang sama kemudian dilanjutkan dengan kelompok perempuan dan anak-anak perempuan. Fransiskus meninggalkan di setiap kampung yang dibaptis doa-doa di atas dalam bahasa mereka agar dipelajari setiap hari.[16]

Metode seperti diatas memungkinkan Fransiskus membaptis 10.000 (sepuluh ribu) orang hanya dalam waktu satu bulan. Karena keyakinan akan mutlaknya baptisan bagi keselamatan maka Fransiskus mendorong para misionaris untuk membaptis juga anak-anak. Bagi dia tidak jadi masalah apakah dalam pertumbuhannya kelak mereka masih percaya akan iman kristiani. Yang mendesak bagi Fransiskus yakni bahwa mereka dibaptis. Ia membaptis orang secara massal seperti yang dilakukan para misionaris dari tradisi monastik, tetapi tidak melakukannya dengan menaklukan lebih dahulu para pemimpinnya. Ia membidik langsung massa, rakyat kecil. Fransiskus sendiri tidak begitu mengenal secara mendalam kebudayaan orang-orang yang dibaptis. Semula ia merasa untuk menjadi misionaris tidak terlalu diperlukan kemampuan yang luar biasa. Cukuplah fisik yang kuat dan hidup rohani yang kuat. Namun kontaknya dengan kelompok golongan atas di Jepang kemudian mengubahnya untuk meminta dari misionaris penguasaan masalah keagamaan agar dapat berkontak dengan lawan bicara.[17]

Sumbangan besar Fransiskus bagi misi Gereja tidak hanya dalam hal besarnya baptisan dan jangkauan wilayah misi yang dijelajahinya. Unsur Spiritualitas paling penting adalah contoh hidupnya dan semangat rohani yang melandasi karya misionernya. Kesalehan hidup merupakan salah satu unsur Spiritualitas misioner yang tetap relevan sampai masa kini. Begitu pula semangat yang tidak pudar untuk mewartakan keselamatan didasarkan pada keyakinan bahwa semuanya itu demi kemuliaan Allah. Hasil pewartaannya pun selalu dilihat dalam kerangka karya Allah. Misionaris dalam pandangannya merupakan alat di tangan Allah untuk penyebaran iman. Tugas misioner dijalankan dalam semangat kasih yang mendalam, kesabaran, kebaikan, kerendahan hati dan kegembiraan.

Fransiskus merupakan salah satu contoh figur yang mewakili tradisi misioner Gereja Katolik dalam ekspansi misioner abad 17. Apa yang dibuat Fransiskus Xaverius kemudian diperdalam oleh para Yesuit penerusnya. Pendekatan metodologis untuk memasuki dan memahami budaya dan agama lain mengasilkan tokoh-tokoh Yesuit yang cukup dikenal dalam usaha misioner di Timur jauh. Robert de Nobili (1577-1656), menghadapi tantangan kasta di India; Josephus Beschi (1680-1747) menjadi ilmuwan, ahli soal Tamil. Begitu pula di China dan Jepang muncul tokoh-tokoh Yesuit seperti Alessandro Valignano (1539-1606), Matteo Ricci (1552-1610), Adam Schall (1591-1666) dan Ferdinand Verbist (1623-1688). Mereka semua menjadi perintis dalam usaha mengakarkan kristianitas dalam budaya Timur, khususnya dalam kalangan masyarakat terpelajarnya.

Seperti telah dijelaskan, Fransiskus hanya sebagai salah satu figur contoh dari kalangan ordo religius abad Pertengahan. Religius misionaris dari ordo lain sezaman seperti para Dominikan dan Fransiskan tidak kurang tokoh setara dengan Fransikus Xaverius. Salah satu contoh imam Dominikan, Bartolomé de las Casas (1474-1566) sezaman dengan Fransikus Xaverius dan Ignatius merupakan figur misionaris agung di Venezuela, Guatemala dan Nikaragua, sekaligus uskup di Meksiko. Perjalanan-perjalanan misionernya di Amerika Latin menjadi contoh yang kemudian diikuti misionaris lain setelahnya seperti dilakukan Llull, Xaverius dan misionaris abad Pertengahan lainnya. Pada bagian ini telah dipilih hanya beberapa figur mewakili misi di abad pertengahan. Benediktus dan pengaruhnya di Eropa, Anskar di Skandinavia, Cyrillus dan Methodius di Skandinavia merupakan pula figur-figur misioner terkemuka, tetapi tidak dibicarakan semua dalam karya ini. Walaupun demikian unsur-unsur spiritualitas misioner abad Pertengahan dapat ditemukan dalam figur-figur yang telah dipilih pada bagian di atas.

  1. Periode Modern

Gereja Katolik pada akhir abad 18 dan awal abad 19 mengalami kemunduran dalam karya misioner. Beberapa alasan pokok dapat memberi penjelasan mengapa hal itu dapat terjadi. Alasan-alasan itu misalnya, mundurnya pengaruh Spanyol dan Portugal. Kedua negara ini menjadi pendukung utama dalam penyebaran misi Gereja. Kemunduran mereka menjadi hambatan penyebaran Injil di daerah-daerah misi, yang umumnya juga koloni kedua negara itu.  Faktor lain adalah perkembangan sosial politik di Eropa yang tidak menguntungkan seperti Revolusi Perancis dan segala akibat negatifnya bagi Gereja. Dilarangnya kongregasi-kongregasi religius menjadikan gerakan misioner terhambat. Kendati demikian abad 19 ditandai pula bangkitnya berbagai kongregasi misioner di Eropa, khusunya di Perancis. Melalui kongregasi religius Gereja Katolik kembali melanjutkan karya misioner seperti abad-abad sebelumnya. Berikut disodorkan tokoh-tokoh yang hidupnya dapat dianggap merangkum spiritualitas misioner di zaman modern.

Charles de Foucauld (1856-1916)

Charles dilahirkan 15 September 1858 di Strasbourg dari keluarga Katolik. Tetapi masa mudanya dijalani tanpa didasari imannya. Ia mengakui bahwa ketika berusia 14 tahun ia telah kehilangan imannya karena godaan untuk mencari kesenangan dalam hidupnya secara tidak teratur.  Ia menjalani pendidikan militer di Saint-Cyr Perancis dengan prestasi yang cukup gemilang walaupun hidup pribadinya sendiri digambarkan oleh rekan-rekannya sebagai tipe play-boy. Charles de Foucauld kemudian mendapat tugas militer di Afrika Utara. Tugas itu dilaksanakan beberapa tahun tetapi kemudian ditinggalkannya karena gaya hidupnya tidak menunjang tuntutan hidup militer yang menuntut disiplin.

Ia kembali ke Perancis tetapi hatinya sudah terlanjur tertambat dengan Afrika. Maka diputuskannya untuk belajar bahasa Arab dan ikut dalam ekspedisi penelitian di Maroko tahun 1883. Laporan penelitian yang ditulisnya membuat dia dikenal dunia ilmu pengetahuan. Namun disamping eskplorasi alam itu ia mulai terusik untuk merenungkan masa lalunya dan mencari Allah. Pencarian itu terungkap dalam doanya, “Ya Allah, jika Engkau sungguh ada, perkenalkanlah diriMu padaku”.[18]

Setelah menemukan seorang pendamping rohani Foucauld akhirnya bertobat pada bulan Oktober 1886 dibawah tuntunan pendampingnya abas Huvelin. Huvelin adalah pemimpin/abas di pertapaan Trapis Akbès Syria. Hidup Foucauld setelah pertobatannya dapat dibedakan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah periode ketika ia menjadi anggota biara Trapis dibawah bimbingan abas Huvelin (1890-1897) maupun kehidupan sebagai eremit(hidup menyendiri) di biara para Klaris di Nazareth (1897-1900). Sedangkan periode kedua adalah masa setelah tahbisannya sebagai imam tahun 1901 dan karyanya sebagai biarawan setengah menyendiri tetapi juga misionaris di padang gurun Sahara.  Pada periode pertama nampak bahwa Foucauld mengembangkan segi hidup rohani. Ia menjalani hidup dalam keheningan, doa dan karya-karya sederhana yang menuntut kerendahan hati. Satu hal yang mendominasi hidupnya saat ini adalah meneladani hidup Yesus. Sama seperti para misionaris besar lainnya Charles merasa ditangkap oleh kasih Kristus. Kasih yang hanya dapat ditampakkan dalam kehidupan yang meneladani kehidupan Yesus.

Aspek hidup Kristus yang diteladaninya bukanlah hidup publik Yesus sebagai pengkotbah atau pengajar, tetapi hidup miskin, tersembunyi sebagai pekerja di Nazareth. Unsur inilah yang membuatnya memilih biara Trapis yang menurutnya membantu penghayatan kerendahan hati, kemiskinan dan penyerahan diri kepada Allah dalam keheningan. Pada periode awal ini Foucauld nampak tidak berkeinginan untuk terlibat dalam karya apostolik aktif. Ia melihat panggilannya sebagai pewarta Injil dalam kesunyian seperti yang telah dilakukan Yesus dalam hidup tersembunyiNya.        Ia mengembangkan pula dalam periode ini dasar spiritualitas lain yang kemudian sangat berpengaruh dalam aktivitas misionernya. Unsur itu adalah pertobatan pribadi. Pertobatan total secara pribadi dilihatnya sebagai hal utama yang harus terjadi mendahului segala usaha untuk mempertobatkan orang lain.[19]

Atas dasar pertobatan pribadi itu Spiritualitas Misioner Charles de Foucauld memberi tekanan pada kebaikan pribadi. Hal yang ingin dicapai adalah membawa orang untuk mencari Allah melalui kesaksian hidup pribadi. Karena hidup orang ini begitu baik maka agamanya pun tentu baik. Di sini kelihatan bahwa Foucauld menegaskan pentingnya cara hidup bagi pewartaan Injil. Askesenya menekankan unsur pengosongan diri dalam bentuk hidup miskin, doa, kesunyian dan dalam melaksanakan tugas-tugas sederhana. Sedangkan dalam periode kedua hidupnya, seperti telah disinggung,  ia berkecimpung dalam menghayati spiritualitasnya di kalangan suku nomaden Tuareg di gurun Sahara. Charles memasuki tahap kedua hidupnya dipicu oleh kesadaran makin dalam bahwa hidup di biara Trapis belum mencukupi baginya dalam meneladani hidup Kristus. Kendati hidup di biara Trapis sangat menekankan disiplin yang keras dalam hidup rohani, ia merasa bahwa hidup di sana masih cukup terjamin.

Ia meninggalkan biara Trapis dan menjalani hidup baru di sebuah biara Klaris yang miskin di sebauah kampung bernama Nazareth. Selama periode ini ia mulai berpikir untuk mendirikan sebuah kongregasi yang dapat menerapkan spiritualitas yang dihayatinya. Keinginannya adalah membentuk sebuah kelompok pengikut yang akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang hidup dalam persaudaraan. Kelompok itu hendaknya hidup tanpa hirarki, menghidupi dirinya sendiri dengan kerja tangan, menekankan hidup miskin, penyangkalan diri, doa dan keheningan. Tujuan yang ingin dicapai adalah menghidupi sedekat mungkin pengalaman hidup Yesus di Nazareth. Tetapi cara hidup itu ingin pula diteruskan di kalangan orang kristiani maupun non-kristiani. Harapannya bahwa kehadiran, contoh hidup doa dan perayaan Ekaristi akan membantu banyak orang untuk hidup baik. Setelah tahbisannya sebagai imam tahun 1901 di biara Trapis dan tinggal di kampung Nazareth dia ditantang untuk mewujudkan hidup imamatnya. Ia memutuskan mewujudkan spiritualitas Nazarethnya di lingkungan orang-orang paling miskin dan terabaikan di gurun Sahara. Periode setelah tahbisannya memperlihatkan perhatian Charles yang semakin besar pada penyelamatan jiwa. Ia menghubungkan tugas ini dengan kesucian pribadi. Menurutnya Afrika Utara hanya dapat dipertobatkan hanya bila ada orang-orang yang rela berkorban untuk memuliakan Yesus dengan mengikuti serta mentaatiNya secara total.[20]  

Walaupun menaruh perhatian besar dan terdorong untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mempertobatkan orang bukanlah tujuan langsung yang mau dicapainya. Lingkungan yang dihadapi memerlukan bantuan untuk hal-hal mendasar seperti kesehatan, pendidikan dan karena itu memerlukan kesaksian hidup. Faoucauld dan kemudian akan menjadi pula sikap para pengikutnya memberikan prioritas pada kehadiran dalam hidup harian orang yang dijumpainya. Tujuan kehadiran misionernya bukan untuk mewartakan Sabda Tuhan secara langsung. Hidupnya dimulai dengan mengidentifikasikan diri dengan masyarakat setempat, hidup doa, penyangkalan diri dan melaksanakan tindakan karitatif. Ia merayakan Ekaristi, mengadakan devosi sakramen dan terlebih mengadakan kontak dengan masyarakat dalam karya karitatifnya.

Spiritualitas Misioner Faoucauld diwujudkan dalam tiga prisnsip yang kemudian dilanjutkan oleh kongregasi yang didirikannya sebagai gaya misioner mereka. Prinsip pertama adalah doa dan adorasi. Foucauld percaya bahwa perayaan Ekaristi dan adorasi Sakramen Maha Kudus mempunyai dampak bagi mereka yang tidak beriman.    Kedua adalah prinsip identifikasi ganda. Identifikasi ganda itu di satu pihak merujuk pada usaha untuk semakin menyerupai hidup Kristus sendiri. Usaha mengikuti Yesus yang miskin dan hidup sederhana di Nazareth. Sedangkan di pihak lain identifikasi itu merupakan pula usaha untuk hidup di tengah masyarakat sebagaimana Kristus sering menyapa masyarakat di zamanNya. Identifikasi itu dinyatakan dengan mempelajari bahasa setempat, kebudayaannya dan berusaha membangun relasi yang baik dengan mereka.

Prinsip ketiga berupa teladan hidup. Foucauld ingin mewartakan Injil bukan dengan kata-kata melainkan dengan seluruh hidupnya. Maka pewartaan Injilnya dijalankan dalam bentuk doa, puasa dan pelaksanaan karya karitatif kristiani. Hanya dengan demikian pewartaan Injil menyentuh orang-orang yang tidak mengenalnya. Secara ringkas dapat dikatakan Spiritualitas Misioner Charles de Foucauld dilandasi oleh pewartaan Injil melalui kehadiran. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi dan dalam Sakramen Maha Kudus maupun kehadiran Kristus dalam hidup misionaris. Hanya kalau lahan telah siap barulah mungkin suatu pewartaan secara langsung. Namun Spiritualitas Misioner Foucauld mengarah pada persiapan melalui kehadiran Kristus dalam diri misionaris melalui cara hidupnya yang suci.[21]

Dalam pengembaraannya di gurun Sahara Foucauld makin yakin bahwa keselamatan jiwa orang lain harus menjadi karya seumur hidup seorang misionaris. Ia yakin bahwa semua orang kristiani dimanapun berada dipanggil untuk bersaksi melalui cara hidupnya. Kesaksian seperti itu menjadi sarana memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Karena itu ia menginginkan pula bahwa kongregasi yang akan melanjutkan karyanya hendaknya melibatkan banyak kumpulan orang awam dari segala lingkungan profesi. Ia menharapkan para petani, tukang, pemilik tanah atau siapapun dia untuk mendukung karya di Afrika dengan cara hidup mereka.

Selama hidupnya Charles de Foucauld tidak sempat mewujudkan impiannya mendirikan kongregasi yang melanjutkan ide dan cara hidup misionernya. Ia meninggal sendirian dibunuh di pertapaannya di lingkungan orang Tuareg di Sahara tanggal 1 Desember 1916.

Namun ide-ide dan teladan hidupnya tidak mati. Pada tahun 1930 berdiri kongregasi pria dan wanita yang mewujudkan idenya.[22] Tanggal 13 November 2005 Foucauld dibeatifikasi beato oleh Paus Benediktus XVI. Dalam doa Angelus pada hari yang sama, Paus memuji Foucauld sebagai perintis Konsili Vatikan II, secara khusus dalam soal panggilan universal akan kesucian. Panggilan agar semua orang kristiani, khususnya awam menghayati iman dalam hidup sehari-hari kendati sulit. Ungkapan Paus merupakan pengakuan akan relevansi hidup Foucauld dan inspirasi misionernya bagi Gereja di masa kini.

Teresa Lisieux (1873-1897)

Yves Congar teolog terkemuka Perancis berujar, “di ambang abad atom tangan Allah telah menyalahkan dua api besar, keduanya bernama: Teresa Lisieux dan Charles de Foucauld”.[23] Tentang peran Foucauld telah dibahas dalam bagian terdahulu. Giliran melihat bagaimana Teresa Lisieux dan semangat misionernya bisa memberi penerangan seperti disinyalir Congar.    Teresa anak kesebelas, bungsu dalam keluarga. Kedua saudara leleaki yang mendahuluinya meninggal usia belia. Orang tua Teresa menginginkan kelahiran anak lelaki tetapi yang muncul justru Teresa. Dalam usia muda ibunya meninggal. Ia memutuskan ikut masuk dalam biara kontemplatif Karmelit di Liseux, menyusul kedua saudarinya yang telah hidup di biara itu. Usia teramat muda sehingga memerlukan izin khusus untuk boleh memasuki biara.

Pengalaman relasi khusus dengan Yesus dimulai sejak usia kanak-kanak, seperti terungkap dalam buku dan manuskrip riwayat hidupnya. Motivasi hidup religiusnya diungkap dengan jelas, bahwa bukan karena kakaknya  (Sr. Paulina) ia memasuki biara Karmel, tetapi karena Yesus. Pengalaman komuni pertama tanggal 8 Mei 1884, merupakan sebuah sentuhan awal relasinya  dengan Yesus. Pengalaman itu oleh Teresa diungkapkan sebagai “sebuah kecupan kasih yang membuatku merasa dikasihi”. Teresa melukiskan kasih itu sebagai suatu perpaduan dimana ia melebur dalam diri Kristus, bagaikan setetes embun yang jatuh di samudera lautan. Yesus menjadi Rajanya.[24]

Pengalaman lain yang melandasi misionaritas Teresa terjadi pada malam Natal 1886. Pada malam itu Teresa mengalami campur tangan Yesus yang mengubah hati dan mengarahkannya sesuai rencanaNya. Dalam pengalaman itu Teresa dituntun melihat panggilannya sebagai “penjala jiwa,” secara khusus merasakan “sebuah kerinduan besar untuk bekerja bagi pertobatan para pendosa. Suatu dorongan batin yang belum pernah kurasakan begitu hidup”.[25]

Di sini Terasa merasa terpanggil menjadi penjala jiwa bukan berdasarkan suatu proses doa atau proses pendewasaan diri dalam keterlibatan apostolik. Yang terjadi adalah campur tangan Yesus yang menjadikannya penjala jiwa. Panggilan Teresa sebagai rahib di pertapaan sekarang diberi dimensi apostolik. Hidup mistiknya di biara sekarang dilengkapi dorongan misioner, yakni kerinduan berkarya bagi pertobatan pendosa.  Dalam pengalaman tengah malam pada misa Natal itu, penerimaan Sakramen Maha Kudus menjadi titik penerimaan rahmat kasih. “kurasakan kasih merasuk dalam batinku dan saat yang sama kerinduan mendalam untuk melupakan diriku dan membuatNya bahagia”.[26] Dalam pengalaman ini terjadi untuk pertama kali dalam hidup Teresa adanya kaitan antara kasih Allah dalam diri manusia dan dimensi apostoliknya yang menegangkan. Belum terjadi suatu harmoni dalam relasi itu. Pengalaman malam Natal mendorong lebih kuat aspek apostolik yang telah ada dalam hidupnya. Tetapi belum jelas bagaimana nantinya bentuk konkret keterlibatan apostolik itu.

Enam bulan setelah pengalaman dengan “kanak-kanak Yesus” Teresa mendapat pengalaman mistik lain seperti diceriterakan dalam biografinya. “Pada suatu hari Minggu, ketika sedang mengamati gambar Tuhan Kita yang tersalib, aku tersentuh oleh penglihatan akan darah yang tercucur dari salah satu tanganNya yang ilahi”. Tetesan darah Yesus yang jatuh tanpa seorang pun menampungnya membuat Terasa mengalami penderitaan mendalam. Teresa menyediakan diri secara rohani berada dibawa Salib agar dengan menampung tetesan darah Kristus ia dapat membagikannya pada jiwa-jiwa. Di sini dalam batin Teresa terasakan kaitan antara tetesan darah Kristus dan keselamatan manusia. Dirasakan oleh Teresa penderitaan dalam batinnya karena sikap acuh manusia dihadapan kasih Kristus. Ada sikap masa bodoh dari manusia terhadap darah Tuhan yang tertumpah untuknya. Pengalaman itu membawa Teresa mendengarkan secara mistik teriakan Yesus dari Salib, “Aku haus!” Kata-kata Yesus itu menyalakan secara tak terduga hatinya dengan api semangat begitu kuat sehingga Teresa mengatakan, “aku ingin memberi minum pada Kekasihku”.[27]

Pengalaman baru di kaki Salib melengkapi panggilan misioner Teresa. Di sana diletakkan suatu rencana mistik-kontemplatif. Teresa tidak terlibat dalam suatu kegiatan aktif-misioner tetapi keaktifan kontemplatif: ada bersama Yesus. Ia ada di bawa Salib Yesus tetapi dengan tujuan misioner-apostolik yang berpusat pada Kristus (kristosentrik). Dalam batinnya ia mendengarkan teriakan Yesus, “Aku haus” yang hanya dapat dipuaskan dengan memberikan kepada Yesus pertobatan para pendosa. Itulah jalan kontemplatif-misioner yang ditunjukkan pada Teresa.

Teresa menjalani panggilan itu dengan penuh keyakinan bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan darinya. Dilukiskan tugasnya itu dengan mengatakan, “aku sendiri merasa dibenamkan dalam kehausan mendalam akan jiwa-jiwa….yakni jiwa para pendosa besar. Aku terbakar oleh kerinduan untuk menarik mereka keluar dari perapian abadi”. Bertobatnya seorang penjahat kelas kakap (Pranzini) atas doa Teresa dan pengukuhan ilahi atas makna doanya bagi pertobatan itu makin meneguhkan Teresa akan panggilan kontemplatif-misionernya.[28] Ia merasa panggilan itu setiap hari semakin bertumbuh dan terus terusik mendengar kata-kata Yesus seperti diungkapkan pada perempuan Samaria, “berikan aku minum!”.

Panggilan kontemplatif-misioner yang dihayati Teresa adalah: menyelamatkan jiwa-jiwa untuk memuaskan dahaga Yesus. Tujuan hidup kontemplatif yang misioner ini akan menjadi lebih konkret lagi dalam perjalanannya ke Roma. Perjalanan ke Roma membuat Teresa memasukkan dalam hidupnya doa khusus bagi para imam. Di Roma ia makin menemukan panggilan sebagai seorang Karmelit yang berdoa bagi para imam. Martabat imamat yang agung tidak mengecualikan kelemahan para imam sebagai manusia, maka mereka perlu didoakan agar mampu hidup dalam martabat agung itu.

Teresa melihat hidup imam sangat penting seperti garam, “andaikan garam kehilangan rasanya, dengan apakah ia akan diasinkan kembali?”. Maka ditegaskannya, “alangkah indahnya berdoa untuk menjaga keasinan garam yang diperuntukkan bagi jiwa-jiwa”. Panggilan hidup para biarawati Karmelitan yang berdoa bagi para imam sekarang dipahami lebih jelas oleh Teresa dan diintegrasikan dengan hidup kontemplatifnya yang misioner. Misi hidup Teresa diungkapkan dengan lebih konkret, “aku datang untuk menyelamat jiwa-jiwa, khususnya untuk berdoa bagi para imam”.[29] Aku makin memahami panggilanku di Italia, ungkap Teresa.

Namun pengalaman Teresa tanggal 9 Juni 1895, pada hari Tritunggal Maha Kudus memberi penerangan mengenai jalan yang perlu ditempuh Teresa untuk mewujudkan panggilan di atas. Dalam pengalaman itu Teresa mendapat rahmat untuk memahami lebih jelas makna kasih Kristus. Yesus ingin agar dikasihi. Pengabdian untuk berdoa bagi para imam dan para pendosa dalam pemahamannya merupakan suatu penyerahan diri untuk menyelamatkan mereka dari keadilan Allah. Kasih yang demikian lebih didasari sikap takut. Takut akan hukuman Allah. Allah seakan hanya berelasi dengan manusia karena mau menegakkan hukuman pada pendosa dan karena itu hukuman Allah ditenangkan dengan pengorbanan seperti dilakukan Teresa dan para rahib/biarawati di biaranya.

Hal yang terjadi pada Teresa dalam pengalamannya adalah suatu langkah lebih dalam untuk mengenal bahwa mengasihi Yesus bersumber tidak hanya dari keinginan manusia untuk berkorban, tetapi berdasarkan pada keinginan Ilahi sendiri. “Yesus ingin dikasihi” dan karena itu kasih yang tepat haruslah suatu penyerahan diri untuk kasih. Keinginan ilahi untuk kasih itu  tegas Teresa tidak hanya untuk pertobatan pendosa tetapi untuk kasih kepada Allah sebagai penyerahan diri total.[30]

Dalam pengalaman terdahalu di kaki Salib Teresa merelakan diri berada di bawa Salib untuk menadah darah Kristus, sekarng ini dalam pengalaman misteri kasih Allah Tritunggal Teresa dipanggil untuk mengasihi karena “Yesus ingin dikasihi”. Kalau kasih Ilahi itu tidak ditanggapi maka akan menjadi bagaikan aliran atau sumber yang tak tertampung. Teresa memahami bahwa kasih itu harus ditanggapi bukan atas dasar ketakutan tetapi atas dasar pemberian diri total sebagai korban. Tanggapan yang tepat akan kerinduan Ilahi agar dikasihi itu adalah keptusan Teresa untuk menyerahkan diri secara total pada kasih Allah. “Ya Yesusku, biarlah aku menjadi korban persembahan yang dibakar oleh kasih ilahiMu”. Di sini Teresa menemukan cara tepat menjawab kehausan Yesus untuk dikasihi. Kasih Allah hanya dapat ditanggapi juga dari penyerahan total dalam kasih dan bukan dalam ketakutan akan keadilanNya, akan hukuman.

Aksi penyerahan diri sebagai korban kasih dilakukan Teresa hari itu, tanggal 9 Juni sebagai tanggapan atas kerinduan Allah untuk dikasihi manusia secara total. “Dengan maksud untuk hidup dalam kasih yang sempurna, aku menyerahkan diri sebagai korban persembahan pada kasih ilahiMu, sambil memohon dariMu agar aku dikorbankan tanpa henti, biarlah mengalir dalam jiwaku ombak ketenangan tak berkesudahan yang ada padaMu, dan dengan demikian aku menjadi martir kasihMu ya Allahku”. Penyerahan diri untuk menjadi korban mengubah Teresa, sehingga kasih Teresa tidak lagi berasal dari kekuatannya sendiri tetapi bersumber dari Allah sendiri. Hanya kasih ilahi dalam diri Teresa itu sanggup memuaskan dahaga Allah akan kasih. Teresa sendiri yakin bahwa seribu jiwa manusia tidak akan mampu menjawab kerinduan Yesus untuk dikasihi. Hanya Roh Allah mampu menjadikan jawaban manusia memadai dan itu terjadi melalui persembahan diri sebagai korban kasih.

Tindakan penyerahan diri sebagai korban kasih oleh Teresa memperdalam pula aspek apostolik-misioner hidupnya. Pada pengalaman Salib Teresa menawarkan diri menjadi korban untuk pada pendosa dan imam untuk menggantikan mereka menghadapi pengadilan Allah. Sedangkan pada peristiwa penyerahan sebagai korban kasih kesatuan antara hidup kontemplatif dan keterlibatan apostoliknya mencapai puncaknya. Dalam diri Teresa kedua aspek itu menjadi satu kesatuan. Melalui persembahan totalnya Teresa diresapi oleh Allah sendiri dalam kasihNya, namun bukan kasih yang statis. Bukan kasih yang bersandar pada hukuman tetapi berupa Allah yang berbelas kasih. Kasih yang dinamik berupa kehadiran belas kasih Allah pada manusia yang memerlukan kasih. Semakin manusia berdosa, semakin Allah merunduk mencarinya.

Teresa menjalani hari-hari penyerahannya dalam cobaan hidup, kegelapan iman dan penderitaan fisik. Namun puncak kesatuannya dengan Allah yang berbelaskasih mengambil bentuk suatu panggilan keterlibatan misioner. Teresa ada dalam penderitaan bersama dengan mereka yang tidak percaya. Ia menjadi persembahan dan sumber rahmat bagi mereka yang tidak percaya. Tugasnya dirumuskan sebagai “berada bersama di meja perjamuan para pendosa” dan bersama mereka memohon, “Ya Tuhan Kasihanilah kami orang berdosa”.

Teresa menjadi misionaris, martir dalam dunia orang tidak beriman dan para pendosa. Melalui penyerahan totalnya sebagai martir kasih, ia dapat menghadirkan belas kasih Allah pada mereka. Ia menjadi rasul belaskasih Allah dengan menyerahkan diri sebagai korban kasih.[31] Teresa menemukan tempatnya dalam Gereja dengan menjadikan dirinya kasih dan ibu bagi segala jiwa yang memerlukan pertolongan menuju pertemuan dengan Allah.[32]

B. SIMPULAN

      Berdasarkan uraian tentang model-model pengembangan spiritualitas katekis dalam sejarah Gereja dari masa ke masa, maka katekis yang misioner pada masa ini perlu memiliki dan menghayati spiritualitas misioner sebagaimana dihayati orang-orang kudus dalam sejarah Gereja seperti  Igantius dari Antiokhia, St. Bonifasius, Fransiskus Saverius, Theresia Lisieux, dll. Unsur pokok dalam spiritualitas misioner adalah missio Dei. Misi selalu merupakan misi Allah. Missio Dei itu sempurna, abadi, asali, konstan, lebih luas dari misi Gereja, dan menjadi dasar dari misi Gereja itu sendiri. Karena itu Spiritualitas misioner dibangun dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang didukung oleh hidup doa, askese, penghayaan sakramen, terutama sakramen ekaristi. Selain itu harus disadari bahwa misi adalah “missio in media ecclesiale”,  misi ada dalam pangkuan Gereja. Spiritualitas misioner selalu bertumbuh dalam persekutuan Gereja, dan menghayati perutusan sebagai perutusan melalui Gereja.

 ********

Catatan Redaksi:

  • Mgr DR. Paulinus Yan Olla, MSF  Adalah Ketua Komisi Kateketik KWI  sejak tahun 2019, dan juga adalah Uskup Keuskupan Tanjung Selor.
  • Tulisan ini telah dipresentasikan pada Pernas Katekis IV di Denpasar, Bali 26-30 Agustus 2019

Catatan Kaki/Footnotes: 

[1] Bdk., Adolf Harnack, The Expansion of Christianity in the First Three Centuries, trans. James Moffat, Theological Translation Library, 19, I (New York: G.P. Putnam’s Sons, 1905), viii-ix, 440.

[2] MICHAEL COLLINS REILLY, Spirituality for Mission (Maryknoll, New York: Orbis Books, 1978), 50-51.

[3] ERMANNO ANCILLI, Spiritualità Medioevale (Roma: Teresianum, 1983), 3.

[4] Walzer (ed.) Sancti Columbani Opera, Scriptores Latini Hiberniae (Dublin: Dublin Institute for Advance Studies, 1957), xxxii.

[5] Columban, Sermons 4.3, 10.3; Letter 4.6.

[6] Margherite Marie Dubois, Saint Columban : A Pioneer of Western Civilization, trans. James O’Caroll (Dublin: M.H. Hill and Son, 1961), 99.

[7] GORGE WILLIAM GREENAWAY, Saint Boniface: Three Biographical Studies for the Twelfth Centenary Festival (London: Adam and Charles Black, 1955), 75.

[8] Letter 2.

[9] Letters 36, 53.

[10] Letters 16, 17, 35, 37, 74.

[11] Nama keluarganya dalam literature sering ditulis Lull.

[12] E. ALLISON PEERS, Ramon Lull (London: Society for Promoting Christian Knowledge, 1929), 68, 253.

[13] STEPHEN NEILL, A History of Christian Missions, The Pelican History of the Church, IV (Baltimore, Md.: Penguin Books, 1966), 137.

[14] JAMES BRODRICK, St. Francis Xavier, 1506-1552 (New York: Wicklow Press, 1952), Letters 15.5, 48.1, 68.2.

[15] Letters 22, 28.2.

[16] JAMES BRODRICK, St. Francis Xavier, 207-208; Letters 20, 53.

[17] Letter 110.2.

[18] JEAN-FANÇOIS SIX, Witness in the Desert : the Life of Charles de Foucauld, trans., Lucie Noel (New York: Macmillan, 1965), 27.

[19] ANNE FREMANTLE, Desert Calling (New York: Henry Holt, 1949), 155.

[20] GEORGE GORÉE, Memoirs of Charles de Foucauld Explorer and Hermit Seen in His Letters, trans., Donald Attwater (London: Burns, Oates, and Washbourne, 1938), 74.

[21] GEORGE GORÉE, Memoirs of Charles de Foucauld, 74-75.

[22] Kongregasi Little Borthers of Jesus dan Little Sisters of Jesus.

[23] Lihat, Il tutto nel frammento, Jaca Book 1970, p. 110

[24] Lihat Kumpulan Manuskrip Biografinya (MA, f35r).

[25] Ibid., MA, f45v.

[26] Ibid.

[27] Ibid.

[28] MA, ff 46 r-v.

[29] MA, f 69v).

[30] MA, 184r.

[31] Penyerahan Teresa dalam belas kasih Allah: Bdk., CLAUDIO MARIA CELLI, L’offerta all’Amore Misericordioso“ in Omnis Terra (gennaio-marzo, 2001), 31-41.

[32] GIOVANNEA DELLA CROCE, Theresa di Lisieux La Piccola Via Della Missione (Boglona: E.M.I., 1997), 47-49.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *