Pertemuan Dosen Kateketik STFT Se- Indonesia: Imam Yang Mampu Berkatekese Dengan Hati

 Pengantar

Pertemuan dosen kateketik STFT se-Indonesia telah berlangsung di Sofyan Hotel Cut Meutia, 13-15 Mei 2019. Pertemuan ini  merupakan kelanjutan pertemuan dosen kateketik sebelumnya, yang telah terlaksana di Malang  maupun di Puri Avia Bogor dan terakhir di wisma Samadi Kelender, Jakarta tahun 2015 dan telah menghasilkan silabus matakuliah kateketik di STFT/Fakultas Filsafat-Teologi.

                         Para dosen katekese di STFT bersama Ketua Komkat KWI, Mgr Paul Yan Olla, MSF

Tujuan pertemuan ini adalah agar para dosen kateketik menyadari pentingnya meningkatkan kualitas kuliah kateketik dan bersama menyusun modul/bahan ajar perkuliahan kateketik di Lembaga Pendidikan Calon Imam (STFT/ Fakultas Filsafat-Teologi). Hadir dalam pertemuan ini Mgr Paulinus Yan Olla MSF (Ketua Komkat KWI), Rm. Festo da Santo (Sekretaris Eksekutif KWI), RP.Prof.Dr.Paulus Suparno dan RD.Dr.Agustinus Manfred Habur (narasumber), dan dosen-dosen Kateketik di STFT se-Indonesia.

Proses pertemuan ini dibuka dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Yan Ola MSF, dan dilanjutkan oleh in put darinarasumber. RP.Paulus Suparno dari Universitas Sanatha Dharma memberikan masukan bertema: Peran Psikologi untuk Kuliah Kateketik di STFT. RD Agustinus Manfred Habur, dari STKIP St.Paulus Ruteng membawakan materi tentang Pendekatan Holistik dalam Katekese Kontekstual di Indonesia. Setelah in put narasumber, para dosen kateketik STFT se-Indonesia mensyeringkan pengalaman tentang perkuliahan kateketik dan juga menampilkan beberapa bahan ajar yang pernah disusun.

Sylabus Kuliah Kateketik di STFT

Para imam sering disebut sebagai “katekisnya para katekis” (PUK225). Sebagai katekisnya para katekis, mereka dituntut untuk memahami katekese secara memadai, memiliki ketrampilan dasar untuk merencanakan, mengkordinir, melaksanakan dan mengevaluasi berbagai aktivitas katekese di paroki, KBG, dan di Sekolah. Mereka juga perlu memiliki perhatian terhadap katekis dan bekerja sama dengan mereka dalam rangka mengintegrasikan seluruh aktivitas katekese ke dalam program pastoral paroki dan keuskupan.

Dalam rangka peran demikian, kuliah kateketik di STFT berusaha mewujudkan kompetensi umum para calon imam sebagai berikut: “Memahami dan terampil melaksanakan karya katekese dalam Gereja serta memberi perhatian terhadap karya katekese dan para katekis atas dasar spiritualitas pewarta”. Pertemuan para dosen kateketik STFT se-Indonesia tahun 2015 di Klender Jakarta telah berhasil menjabarkan kompetensi umum tersebut ke dalam sylabus yang mendukung perkuliahan 2 SKS untuk mata kuliah kateketik di STFT. Dalam sylabus tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi dasar sebagai berikut:  memiliki mindset yang benar tentang katekese, memahami peran imam dalam katekese, memahami katekese dasar, dan memahami apa yang dikatakan dokumen Gereja tentang katekese, mengetahui sejarah katekese di Indonesia, memahami teori katekese kontekstual, memahami katekese dalam Kitab Suci. Berbagai kompetensi dasar tersebut telah diturunken kedalam perumusan indikator, tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, dan sumber belajar sebagai satu keutuhan sylabus. Sylabus tersebut menjadi acuan untuk penyusunan bahan ajar atau modul perkuliahan kateketik di STFT ke depan.

               Rm. Dr. Manfred Habur, memberikan masukan tentang pendekatan holistik dalam katekese Kontekstual Gereja                                   Indonesia.

Sylabus yang telah dirancang oleh para dosen katektik STFT se-Indonesia tahun 2015 di atas, mendukung arah katekese post konsili Vatikan II yang sangat menekankan konteks. Katekese seyogyanya kontekstual. Katekese tidak hanya berurusan dengan penerusan ajaran, namun mendidik umat untuk bertumbuh dalam iman menuju kedewasaan kristiani. Katekese yang kontekstual berusaha menyapa manusia dalam seluruh pergulatan hidupnya. Dalam dokumen Ad Gentes ditekankan bahwa kegiatan katekese tidak “melulu penjelasan ajaran-ajaran Gereja dan perintah-perintah melainkan pembinaan dalam hidup kristen…” (AG 14).  Pembinaan dalam hidup kristen berkaitan dengan hidup iman sehari-hari yakni iman yang diakui, dirayakan, dan diwujudkan dalam konteks pergumulan hidupnya. Pembinaan iman seperti ini tidak melihat manusia sebagai sekedar sasaran katekese melainkan terutama sebagai subjek katekese itu sendiri. Melalui katekese manusia dengan seluruh pergumulan kesehariannya, mengembangkan dirinya menuju kedewasaan kristiani.

Katekese kontekstual sebagai bentuk pendidikan iman menuju kedewasaan kristiani, tak dapat tidak mesti bersifat holistik. Pendekatannya harus menyangkut seluruh pribadi manusia, menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Katekese harus menyangkut aspek kognitif agar para peserta memperoleh informasi yang benar mengenai iman sehingga sampai pada keyakinan iman. Ia juga harus menyangkut aspek afektif yang mengarah kepada doa, ibadat, dan spiritualitas, serta menyangkut aspek psikomotorik agar seseorang bertingkah laku seperti Yesus di tengah dunia. Katekese kontekstual yang holistik harus menyangkut kepala, hati dan tangan.

Kontribusi Psikologi Terhadap Kuliah Katekese

Katekese kontekstual tidak hanya memperhatikan pesan atau isi yang mau disampaikan namun juga memperhatikan situasi peserta sebagai subjek katekese. Kondisi psikologis peserta dan katekis turut menetukan efektivitas kegiatan katekese dalam mengembangkan iman anak, remaja, kaum muda dan orang dewasa. Kondisi psikologis generasi Z perlu diperhatikan sungguh-sungguh dalam katekese. Generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010 memiliki sifat menonjol: bebas berkomunikasi dengan siapa pun dan level apa pun melalui jaringan; mereka bebas mengungkapkan perasaan apa pun yang dipikirkan secara spontan, tanpa ketakutan; mereka cenderung toleran dengan perbedaan budaya dan sangat peduli dengan lingkungan; multitasking, dapat melakukan berbagai aktivitas dalam satu waktu bersamaan; cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis.

                       P.Prof Dr. Paul Suparno menyampaikan materi tentang peranan psikologi dalam kuliah katekese di STFT

Katekese juga perlu memperhitungkan umur dan tingkat kedewasaan peserta karena daya tangkap dan daya intelektual untuk menangkap pewartaan sangat bergantung pada umur dan tingkat kedewasaan tersebut. Hal-hal psikologis lain yang mempengaruhi penerimaan pesan dalam katekese adalah sifat dan karakter peserta, minat peserta, dan jumlah peserta. Dengan mengetahui hal-hal psikologis tersebut, katekese dapat dikembangkan dengan metode dan didaktik yang baik.

Metode dan didaktik yang baik dalam katekese harus harus berpusat pada peserta. Ini berarti yang harus aktif belajar dan menggali pengetahuan adalah peserta dan bukan katekis. Di sini, metode katekese perlu bervariasi dan dipilih metode yang sungguh mengaktifkan peserta dalam mempelajaran bahan pewartaan, sehingga mereka tidak bosan. Pendekatan yang digunakan sejauh mungkin lewat praktek dan perbuatan. Psikologi manusia zaman ini lebih suka praktek, kegiatan dan bukan hanya teori dan ceramah.

Katekese juga perlu dikembangkan dalam relasi dialogis antara katekis dan peserta katekese. Hubungan yang dialogis akan saling membantu dan menguatkan. Keteladan katekis juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Mengajarkan nilai kasih Yesus, jelas membutuhkan keteladanan kasih dari katekis, sehingga peserta katekese dapat menirunya. Menjelaskan pengampunan, kiranya hanya akan berjalan baik bila peserta dapat dengan mudah mengampuni mereka kalau mereka bersalah.

Syering Dari Lapangan Dan Komitmen Untuk Menyusun Buku Ajar/Modul Kuliah Kateketik

Pelaksanaan kuliah kateketik di STFT cukup bervariasi. Ada STFT yang hanya memberikan 2 SKS dalam kurikulum. Ada juga yang memberi 4 SKS. Dosen katektik berusaha adaptif dengan peluang ini. Kesulitan yang umum adalah bagaimana kuliah kateketik tidak hanya berurusan dengan penjelasan tema-tema tapi juga melatih mahasiswa untuk menyusun bahan katekese dan mempraktekkannya secara konkret dengan kelompok umat yang ril seperti di paroki, KBG, dan di sekolah. SKS yang terbatas kurang memberi tempat untuk mengembangkan praktek lapangan ini. Karena itu beberapa STFT mencari jalan keluar untuk bekerja sama dengan konvik agar dalam pendampingan konvik ada program live in para seminaris untuk praktek berkatekese. Dengan live in,katekese tidak sekedar pengajaran, namun juga pembinaan iman dan pengembangan jemaat.

                     Peserta berdiskusi tentang bagaimana mendidik calon imam menjadi katekisnya katekis.

Mengacu pada pengalaman-pengalaman tersebut, sylabus yang sudah ada perlu dikembangkan dalam buku ajar/modul yang standar. Sistematika bahan ajar yang ditawarkan adalah: Pokok bahasan, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, pengembangan bahan ajar, rangkuman, dan evaluasi yang berisi pertanyaan, penugasan dan refleksi. Dalam keterbatasan waktu, dua kelompok telah coba menyelesaikan dua pokok bahasan yakni tema katekese dasar  dan tema katekese Kitab Suci (terlampir). Dua pokok bahasan ini kiranya menjadi model untuk penyusunan pokok bahasan lain yang akan dikembangkan oleh masing-masing peserta pertemuan.

Selanjutnya dibuat pembagian tugas penyusunan bahan ajar merujuk pada sylabus yang telah disepakati tahun 2015 yaitu; Pokok bahasan Katekese Dasar I dan Katekese dasar II disusun oleh RP. Nugroho, SJ dari  STF Driyakara Jakarta. Sejarah Katekese disusun oleh Rm. Melky Malingkas, Pr dari  STF Seminari Pineleng.  Katekese Kontekstual disusun oleh P.Brendan, CSE dari STFT St Yohanes Salib, Pontianak. Katekese Kitab Suci I dan II disusun oleh Rm. M. Purwatma, Pr dari  FTW  USD Yogyakarta. Spiritualitas Katekis (Kualitas pribadi) disusun oleh Rm. Okto Naif dari FFA Unwira Kupang.  Spiritualitas Katekis (Kualitas relasi) disusun oleh P. Gonti Simanulang dari  FF Univ. St Thomas, Medan. Katekese Ansos I (Teori dan Latar Belakang) disusun oleh Bp. Abdon Binsei dari  STFT Fajar Timur Jayapura dan Katekese Ansos  II  disusun oleh P.Petrus Maria Handoko, CM dari STFT Widya Sasana Malang.

Pengerjaan modul atau bahan ajar ini diharapkan selesai pada akhir bulan Agustus  tahun 2019 dan selanjutnya diproses  penerbitannya oleh Komisi Kateketik KWI sehingga bisa digunakan di STFT seluruh Indonesia.

Rekomendasi

Ada beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada beberapa pihak yang terkait langsung dengan studi katekese bagi para calon imam.

Untuk Dosen Kateketik:

  1. Setiap dosen perlu perlu memperhatikan keaktifan mahasiswa dalam perkuliahan. Proses perkuliah memberi ruang kepada mahasiswa untuk berdiskusi, mencari informasi bersama, dan mengelaborasi bersama konsep yang dikembangkan.
  2. Kelas perlu juga dijadikan laboratorium hidup. Simulasi yang terencana untuk berkatekese dan mengajar agama perlu dilakukan dalam kelas sebelum mereka terjun ke kelompok ril.
  3. Modul standar yang disepakati bersama dalam pertemuan Komkat KWI perlu dikembangkaan lebih lanjut sesuai peluang SKS yang bervariasi di setiap STFT
  4. Perlu menjalin tim teaching dengan dosen katektik dari lembaga lain

Untuk Lembaga-lembaga STFT

  1. Terus bekerja sama dengan praktisi dan lembaga keuskupan untuk mengembangkan keterampilan para calon imam dalam bidang katekese
  2. Terus menggalang kerja sama dengan rumah bina untuk program live in dalam rangka praktek berkatekese

Untuk Komkat KWI

  1. Perlu kordinasi penyusunan modul/bahan ajar kateketik di STFT ini
  2. Terus melanjutkan program pertemuan para dosen kateketik STFT dalam rangka syering dan saling memperkaya

Untuk para Uskup dan Provinsial

  1. Terus menyiapkan para dosen yang ahli dalam bidang kateketik
  2. Menjalin komunikasi dengan Dirjen Bimas Katolik agar memberi rekomendasi kepada perdikkati menyelenggarakan prodi S2 Kateketik

Penutup

Demikianlah catatan rumusan akhir dari Pertemuan Dosen Kateketik STFT Se-Indonesia di Sofyan Hotel Cut Meutia, Jakarta Pusat, pada tanggal 13-15 MEI 2019.  Catatan ini menjadi pegangan bersama dalam  upaya meningkatkan kualitas  pembelajaran katekese bagi para calon imam Katolik di Indonesia sehingga mereka sungguh menjadi katekis utama di paroki atau di lingkup mana saja mereka berkarya sebagai gembala umat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *