Selayang Pandang Perkembangan Katekese Umat di Indonesia

yesus-mengajar-orang-banyak.jpg

Perkembangan katekese di Indonesia khususnya Katekese Umat dapat dilihat dalam rangkaian pertemuan nasional Komisi Kateketik se-Indonesia yang diadakan kurang lebih empat tahun sekali. Pertemuan nasional para katekis untuk mengevaluasi, merefleksikan, dan merencanakan apa dan bagaimana melaksanakan Katekese Umat di Indonesia ini disebut PKKI (Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia). Berikut ini beberapa catatan penyelenggaraan pertemuan-pertemuan nasional tersebut:

PKKI – I, diselenggarakan pada tanggal 10 s.d. 16 Juli 1977 di wisma Syalom Sindanglaya, Jawa Barat. Tema yang dibicarakan waktu itu adalah “Arah Katekese di Indonesia”. Pada pertemuan perdana ini para peserta menentukan bersama arah katekese di Indonesia, yaitu Katekese Umat; yaitu katekese dari umat , oleh umat dan untuk umat.

PKKI II, diselenggarakan pada tanggal 29 Juni s.d. 5 Juli 1980 di wisma Samadhi, Klender, Jakarta. Tema yang dibicarakan adalah “Katekese Umat”. Dalam pertemuan ini, pengertian Katekese Umat itu sendiri dijernihkan dan dirumuskan sebagai komunikasi iman atau tukar-menukar pengalaman iman antara anggota kelompok. Katekese Umat mengalami perkembangan yang menggembirakan. Dalam pelaksanaannya, kunci keberhasilan Katekese Umat sebahagian besar terletak pada pembinaan Katekese Umat.

PKKI III, diselenggarakan pada tanggal 29 Januari s.d. 5 Februari 1984 di wisma Bintang Kejora, Pacet Jawa Timur. Tema yang dibicarakan adalah “Usaha Pembinaan Pembina Katekese Umat”. Pertemuan nasional para katekis ini dimaksudkan untuk menampung dan mengkomunikasikan berbagai gagasan dan usaha-usaha praktis Pembinaan Pembina Katekese Umat dari semua Komkat Keuskupan dan lembaga pendidikan Kateketik/Pastoral di Indonesia. Hasilnya diharapkan untuk dikembangkan di tempat masing-masing guna terlaksananya Katekese Umat secara merata, sampai pada kelompok umat basis.

PKKI IV, diselenggarakan pada tanggal 24 s.d. 28 Oktober 1988 di hotel “Dhyana” Denpasar, Bali. Tema yang dibicarakan adalah “Membina Iman Yang Terlibat dalam Masyarakat”. Pertemuan ini lebih menekankan pada evaluasi terhadap pelaksanaan 3 PKKI sebelumnya. Disadari bahwa banyak kendala yang menimbulkan kemandekan pelaksanaan Katekese Umat. Begitu juga Katekese Sekolah yang menjalankan pola PAK Malino 1981. Dalam kaitan dengan pola PAK, peserta juga mengevaluasi kurikulum PAK 1981 beserta buku-buku penjabarannya. Untuk itu sejak awal pertemuan, peserta diajak untuk memikirkan dan merefleksikan pertanyaan ini: “Bagaimana mengusahakan suatu katekese yang membina iman yang terlibat dalam masyarakat?”

PKKI V, diselenggarakan pada tanggal 22 s.d. 30 September 1992 di wisma Kinasih, Caringin, Bogor. Tema yang dibicarakan adalah “Beriman dalam Hidup Bermasyarakat: Tantangan bagi Katekese”. Pertemuan ini menggarisbawahi bahwa PKKI V dilihat sebagai satu mata rantai saja dari suatu proses panjang untuk membuat katekese sungguh fungsional dalam pembentukan Gereja yang misioner di Indonesia ini. Kehadiran dan pembentukan misioner suatu Gereja lokal menjadi lebih kompleks. Namun apa yang dasariah dalam katekese tetap berlaku, yaitu: iman umat dibangun secara terarah, dalam perjumpaan dengan wahyu ilahi di tengah situasi masyarakat yang kongkrit.

PKKI VI, diselenggarakan pada tanggal 1 s.d. 10 Agustus 1996 di wisma Samadhi, Klender, Jakarta. Tema yang dibicarakan adalah “Menggalakkan Karya Katekese di Indonesia”. Di sini disoroti kembali soal Katekese Umat sebagai komunikasi iman dari suatu kelompok umat diharapkan bisa menghasilkan mutu hidup bergereja dan bermasyarakat yang lebih baik. Karena itu fokus pergumulan dalam PKKI ini adalah tentang Katekese Umat yang membangun jemaat dengan orientasi Kerajaan Allah.

PKKI VII, diselenggarakan pada tanggal 24 s.d. 30 Juni 2000 di wisma Sawiran, Pasuruan, Jawa Timur. Tema yang dibicarakan adalah “Katekese Umat dan Kelompok Basis Gerejani”. Sambil mengevaluasi dan merefleksikan pelaksanaan pertemuan sebelumnya, peserta membicarakan secara serius tentang Katekese Umat dalam hubungan dengan Gereja Lokal yang paling kecil, yaitu Kelompok Basis Gerejani yang cikal bakalnya sedang bertumbuh subur di banyak gereja di berbagai keuskupan kita saat ini. Selain membahas soal Katekese Umat dan Kelompok Basis Gerejani, juga dibicarakan soal revisi kurikulum PAK 1994.

PKKI VIII, diselenggarakan pada tanggal 22 s.d. 28 Pebruari 2004 di Wisma Misericordia, Malang, Jawa Timur. Tema yang dibicarakan adalah “Membangun Komunitas Basis Gerejani Berdaya Transformatif Melalui Katekese Umat”. Peserta PKKI berdiskusi, dan bergumul tentang bagaimana Katekese Umat bisa membangun KBG yang lebih berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya, sehingga masyarakat kita dapat dibantu untuk bisa hidup lebih adil, damai dan sejahtera.

PKKI IX, diselenggarakan pada tanggal 17-23 Juni 2008 di kampus sekolah St. Louis, Tomohon, Manado, Sulawesi Utara. Pertemuan yang diikuti oleh para utusan dari keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia ini mengambil tema: ”Katekese dalam Masyarakat yang Tertekan”. Masyarakat Indonesia yang mengalami ketertekanan dalam banyak bidang kehidupan menjadi alasan bagi Gereja Katolik untuk melakukan katekese yang memberi peneguhan, pencerahan, serta keberanian untuk bertindak mengatasi ketertekanan itu. Tema besar tersebut secara khusus diolah dengan mendalami tiga bidang kehidupan, yaitu bidang kemanusiaan, politik, dan hukum.

PKKI X, diselenggarakan pada tanggal 10 s.d. 16 September 2012 di Wisma Shalom, Cisarua, Bandung Barat. PKKI sebagai pertemuan kateketik tingkat nasional selalu mengangkat tema yang aktual dalam karya katekese Gereja Indonesia. PKKI X ini mengangkat tema: “Katekese Di Era Digital: Peran Imam dan Katekis Dalam Karya Katekese Gereja Katolik Indonesia di Era Digital”. Disadari bahwa saat ini Gereja Indonesia menghadapi situasi zaman baru, yaitu era digital. Situasi ini memengaruhi pola pikir, cara hidup dan pola relasi umat beriman, yang tentu saja juga melibatkan karya Katekese. Penanggung jawab utama karya katekese adalah Uskup. Dalam menjalankan karya katekese, Uskup dibantu oleh para Imam yang adalah penanggung jawab karya katekese di wilayah pastoral yang dipercayakan kepadanya dan para Katekis sebagai mitra kerja dalam penyelenggaraan karya katekese di wilayah pastoral tersebut. Tujuan diangkatnya tema ini agar para pelaku katekese, baik imam maupun katekis, menyadari berkembangnya sarana komunikasi digital dan pengaruhnya dalam budaya kehidupan masyarakat sehari-hari. Kesadaran tersebut diharapkan membawa pada gagasan, pemikiran serta perencanaan katekese yang tepat guna dalam menjawab kebutuhan Gereja Indonesia di era digital sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *