Renungan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: “Akulah Roti Hidup”

Bacaan: Ul. 8:2-3, 14-16; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58

Pada masa pandemi saat ini, kita jumpai ada begitu banyak orang yang tidak dapat makan. Selain karena kehilangan mata pencaharian, sulitnya mendapatkan makanan, harga sembako yang semakin tak terjangkau. Banyak bantuan  sembako  dibagikan kepada yang miskin dan terlantar. Tapi tak dapat disangkal, keributan terjadi ketika yang berhak untuk mendapatkan bantuan tidak menerima tapi malah yang tidak berhak, tanpa malu menerimanya; dan yang masih mampu justru masih merasa “miskin” dan mau mendapatkan. Orang-orang miskin dan terlantar selalu berpikir, apakah masih bisa makan hari ini. Tanpa makan orang tak berdaya dan bisa mati kelaparan. Makan dan makanan menjadi kebutuhan pokok manusia. Makan supaya bisa hidup!

Pada masa Yesus, roti merupakan makanan utama. Roti yang berasal dari sari gandum hasil kerja keras para petani. Yesus tentu sangat memahami perjuangan para petani gandum dan masyarakat pada masa-Nya yang mencari rezeki untuk mempertahankan hidup. Yesus juga selalu berbelarasa dengan yang miskin dan yang menderita lapar berkepanjangan akibat ketiadaan makanan. Tanpa roti, tanpa rezeki, hidup manusia terancam mati. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan hidup. Selain petani gandum, juga ada petani anggur. Anggur menjadi minuman sehari-hari pada masa itu.

Dari wilayah Galilea inilah, bangsa Yahudi menikmati kemakmuran, kesejahteraan, dan pemeliharaan hidup. Mereka hidup karena kelimpahan hasil bumi dan air yang mengalir tiada henti di wilayah yang gersang. Dan dari situasi kehidupan inilah Yesus mewartakan dan menawarkan Roti hidup yang memberi kesegaran dan kehidupan serta mengungkapkan pemeliharaan Allah yang luar biasa mengagumkan. Tidak lagi dengan makan roti yang biasa itu, tapi Diri-Nya sebagai Roti Hidup.

Yesus dalam Injil hari ini, menyatakan Diri-Nya sebagai Roti Hidup. Ia sungguh-sungguh adalah Roti Hidup. Roti yang tidak hanya memberikan kehidupan selama di dunia ini tetapi juga menjadi jaminan akan kehidupan di akhirat nanti; yang tidak hanya sebatas memenuhi kelaparan jasmani, tetapi juga memenuhi kebutuhan jiwa; yang tidak didapatkan dengan uang, tetapi diperoleh dengan cuma-cuma dan dimakan oleh siapapun. “Tubuh-Ku benar-benar makanan. Darah-Ku benar-benar minuman”. Roti itu adalah Yesus sendiri. Roti Hidup yang turun dari surga, Tubuh Kristus yang diberikan untuk jaminan hidup kekal. Di dalam Diri-Nya, Yesus merasakan daya kekuatan pemeliharaan Allah bagi hidup umat-Nya. Melalui Tubuh-Nya yang diremukkan di atas salib, yang harus mati mengenaskan, dikuburkan dan bangkit, memberi daya hidup bagi manusia yang percaya dan yang menyambut-Nya.

Yesus rela menjadikan Diri-Nya Roti Hidup, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”. Tubuh dan Darah Kristus, Roti Hidup dan Darah Keselamatan di dalam Sakramen Ekaristi, adalah sungguh sumber, puncak dan jaminan tertinggi kehidupan kita.  Maka menjadi pertanyaan bagi kita, sudah sejauhmana kita mengusahakan, merindukan dan menyambut sang Roti Hidup, Tubuh dan Darah Kristus itu. Apakah balasan kita atas seluruh pengorbanan dan pemberian Diri-Nya bagi kita. Apakah kita cukup pantas setiap kali kita menyambut sang Roti Hidup itu. Dalam masa pandemi ini, kita hanya bisa menyambut-Nya dalam kerinduan hati yang mendalam; dan kiranya kita selalu bersyukur atas anugerah santapan Ilahi yang diberikan Tuhan melalui perayaan Ekaristi. Semoga kita pun berani menjadi ekaristi bagi yang lain melalui pengabdian dan pelayanan kita. Tuhan memberkati****

 

Ditulis oleh Rm. Frans Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *