Renungan Hari Minggu Pentekosta: Bahasa Pentekosta

pentecosta.jpg

Bacaan I : 1 Kor 12:3b-7.12-13
Bacaan II : Kis 2: 1-11
Bacaan Injil : Yoh 15:26-27

Kalau kita mendengar atau membaca peristiwa Pentekosta, maka di sana diceriterakan bahwa bersama turunnya Roh Tuhan, terjadilah pula suara gemuruh, angin dan prahara. Suara gemuruh, angin dan prahara adalah pula pratanda dari turunnya Allah di puncak gunung Sinai untuk memberi sepuluh perintah-Nya dalam dua loh batu, seperti dapat kita baca dalam kisah Keluaran, salah satu Kitab Perjanjian Lama. Rupanya St. Lukas penulis buku Kisah Para Rasul dengan sengaja mau mengaitkan peristiwa Pentekosta dengan peristiwa Sinai itu.

Dalam peristiwa Sinai Tuhan Allah turun memberikan sepuluh perintah-Nya dalam dua loh batu dan membuat perjanjian dengan umat Israel bahwa kalau bangsa Israel mengikuti perintah-perintahNya, maka Ia akan melindungi dan menjamin keselamatan bangsa itu. Dalam sejarah keselamatan peristiwa ini menjadi simbol Perjanjian Lama!!

Peristiwa Pentekosta, saat turunnya Roh Kudus, menjadi tanda dimulainya masa Perjanjian Baru. Waktu itu dimaklumkan hukum Tuhan yang baru, yaitu hukum kasih, yang menjadi dasar segala hukum. Hukum ini tidak di tulis atas prasasti batu, tetapi hukum yang dipahatkan dalam hati sanubari manusia. Allah tidak hanya memberikan peraturan-peraturan bagi hidup manusia, melainkan memberikan Roh-Nya agar manusia lebih kreatif dalam mencintai Allah dan sesamanya.

Karunia Roh, yaitu karunia mencintai itu, menyebabkan manusia mampu berbicara dalam pelbagai bahasa, yaitu bahasa saling pengertian. Karunia Roh itu pula yang memampukan manusia untuk berkomunikasi pengalaman hidup dan pengalaman iman, sehingga manusia dapat hidup lebih rukun dan lebih bersatu. Kalau dahulu manusia tercerai-berai karena kesombongan mereka membangun menara Babel, kini dalam Roh Yesus Kristus manusia dipersatukan dalam bahasa iman dan kasih. Maka peristiwa Pentekosta merupakan pula hari lahirnya komunitas iman dan kasih yang baru yaitu gereja. Dengan demikian sudah sewajarnya jemaat/gereja memperkembangkan bahasa persatuan ini di dalam kehidupan mereka bersama dan juga dalam kehidupan gereja dengan dunia, sehingga dapat terciptalah bumi dan langit yang baru!

***
Orang sering mengatakan bahwa Konsili Vatikan II adalah suatu peristiwa Pentekosta baru abad lalu. Waktu Roncalli di pilih menjadi Paus Yohanes XXIII, katanya pada awal tugas kegembalaannya sebagai pimpinan tertinggi gereja katolik, beliau membuat suatu tindakan simbolis yang mengesankan. Beliau menyuruh supaya semua jendela di Vatikan di buka lebar-lebar. Beliau katakan supaya udara segar dapat masuk dan gereja dapat melihat keluar, jauh ke masa depan.

Kita tahu Paus yang sama kemudian mengumumkan diadakannya Konsili Vatikan II. Ketika para waligereja dari seluruh dunia datang ke Roma, berkumpul dan berbicara lantang dalam ruangan konsili, dan kemudian menghasilkan pelbagai dokumen konsili yang sungguh menjawabi tanda-tanda jaman, kita merasa bahwa bahasa Pentekosta sudah dapat terdengar lagi. Bahasa kasih menuju persatuan dan persaudaraan yang lebih sejati bergemah di dalam gereja, tetapi juga sanggup meretas tembok-tembok gereja bergaung ke dunia luas. Dengan Konsili Vatikan II gereja menjadi jauh lebih terbuka terhadap dunia.

***
Bahasa Konsili Vatikan II sebagai bahasa Pentekosta baru telah bergema sejak puluhan tahun lalu ke seluruh dunia. Namun apakah gemanya masih bergaung dalam jaman kita ini??

Ada seorang Turis dari Eropa mencari-cari gereja di suatu kota kecil di suatu negara di Amerika Latin pada suatu hari Minggu. Ia ingin sekali untuk mengikuti misa kudus pada hari Minggu itu. Ia sudah mencarinya di mana-mana tetapi belum juga ketemu. Ia berpikir di suatu negeri yang seratus persen katolik seperti di Amerika Latin ini seharusnya cukup gampang untuk menemukan sebuah gereja. Sesudah lama sia-sia mencari, akhirnya ia menanyakan kepada seorang anak yang kebetulan dijumpainya di jalan.

“Nak, di mana kiranya ada gereja di sini?” Anak itu menjawab:
“Gereja? Oh…ya, malam ini ada di rumah pak Labato. Esok malam di rumah tante Lusiana. Lusa malam belum ditentukan”.

Turis itu terbengong-bengong mendengar jawaban anak itu. Masa gereja bisa berpindah-pindah. Tetapi karena hari sudah mulai malam ia tidak mau bersoal jawab dengan anak itu, hanya ia meminta kalau boleh ia ditunjukkan gereja di rumah pak Labato itu. Anak itu menyanggupinya, sebab kebetulan sekali ia memang dalam perjalanan ke gereja di rumah pak Labato itu.
Ketika mereka muncul, banyak orang telah berkumpul. Semua orang itu kelihatannya sangat sederhana dan rumah pak Labato itu juga sangat sederhana. Tetapi suasananya sangat akrab. Turis itu disalami dan diterima dengan penuh rasa persaudaraan. Upacara ibadat dipimpin oleh seorang awam, sebab tidak ada pastornya. Tetapi ibadat itu sangat meriah, menyapa dan penuh keakraban. Sangat mengesankan. Tiba-tiba turis itu merasa bahwa ia sungguh menemukan suatu gereja yang hidup. Dan di dalam gereja seperti ini ia merasa Tuhan sungguh hadir. Ia sungguh merasakan Roh Tuhan sungguh berhembus di sini. Apalah artinya sebuah gedung gereja. Ia toh hanya sebuah simbol dari gereja yang sesungguhnya, yaitu suatu persekutuan Umat Allah yang dipersatukan oleh Roh Kristus.

Itu kisah dari salah satu gereja lokal yang jauh du Amerika latin sana! Bagaimana dengan gereja-gereja lokal di Indonesia dalam situasi yang penuh dengan kerusuhan dan pertentangan dewasa ini? Apakah gereja-gereja kita masih sanggup berbicara dalam bahasa Pentekosta?

Sumber: Buku Homili Tahun B by Rm. Yosep Lalu, Pr – diterbitkan oleh Komisi Kateketik – KWI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *