Praedicamus

Indonesian Youth Day 2016; Merayakan Kemajemukan

Setelah Keuskupan Manado ditetapkan KWI pada sidang tahun 2015 lalu sebagai tuan rumah Indonesian Youth Day (IYD) 2016, Keuskupan Manado pun bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatu baik secara fisik maupun rohani untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan Orang Muda Katolik se-Indonesia itu. Panitia IYD Keuskupan Manado dikomandani Rm. John Montolalu, Pr yang juga sebagai Sekertaris Keuskupan Manado. Secara fisik, sedang dibangun sebuah venue utama yang berbentuk amphitheater di Desa Lotta, berdampingan dengan wisma Lorenzo pusat kateketik-pastoral Keuskupan Manado. Persiapan secara rohani pun digiatkan antara lain dengan doa novena dan mengiringi Salib IYD sambil mendaraskan Doa Kerahiman Ilahi dan Rosario dari stasi-ke stasi .

Seiring perkembangan jaman, IYD ini nampaknya sangat penting. Para waligereja Indonesia pun merestui dan mendukung kegiatan OMK ini. Disadari bahwa orang muda dalam perjumpaannya dengan kenyataan dunia, perlu saling berjumpa,memberi kesaksian dan saling meneguhkan. Salah satu wujud perjumpaan ini adalah melalui kegiatan Indonesian Youth Day, yang menghimpun sebanyak mungkin orang muda Katolik dari seluruh penjuru nusantara, untuk berjumpa, memberi kesaksian dan saling meneguhkan.

Berikut adalah informasi dari Kantor Berita Katolik Asia (UCAN) tentang persiapan panitia nasional IYD yang diselenggarakan oleh panitia nasional IYD sepekan yang lalu di kantor KWI Jakarta. (Daniel B.Kotan).

Ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo: Gereja Katolik Menolak Hukuman Mati

Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo menegaskan bahwa Gereja Katolik menolak penerapan hukuman mati. Ignatius menjelaskan bahwa dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati dan menyatakan bahwa dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya.

“Dengan tegas Gereja Katolik menolak hukum mati tanpa kualifikasi apapun,” ujar Mgr Suharyo dalam diskusi Hukuman Mati di Negara Demokrasi, di kampus Unika Atma Jaya, Jakarta, Selasa (17/5/2016), seperti dilansir Kompas.com.

Mgr Ignatius menjelaskan, Gereja Katolik menolak hukuman mati karena Gereja berpandangan setiap orang harus menghormati hidup manusia. Alasan kedua, menurut Mgr Suharyo, hidup adalah suci karena hidup merupakan hak asasi manusia yang diberikan langsung oleh Tuhan. “Hidup adalah suci karena hanya manusia yang diciptakan untuk dirinya sendiri,” kata uskup agung Jakarta ini.

Surat Gembala Uskup Bogor Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50 “Mengkomunikasikan Kerahiman Allah Secara Konkret”

Saudara-saudariku yang selalu berada dalam limpah Kerahiman Allah,

Workshop Kurikulum 2013 Di Keuskupan Weetebula – Sumba

Komisi Kateketik Keuskupan Weetebula menyelenggarakan workshop Kurikulum 2013, mapel Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti . Kegiatan yang berlangsung di Pusat Pastoral Katikuloku Sumba Tengah ini melibatkan para kepala bidang pendidikan Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Kegiatan workshop yang berlangsung dari tanggal 26 s.d. 29 April ini dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh bapak Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR didampingi imam-imam co-selebrant, P. Simon Tenda, CSsR (Direktur Puspas), P. Leo Sugiyono, MSC (sekretaris Komkat KWI), serta dua imam lainnya dari Puspas Keuskupan Weetebula.

Workshop Kurikulum 2013 Tingkat Sekolah Dasar Guru Agama Katolik Kalteng Angkatan II

Bimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama propinsi Kalimantan Tengah menyelenggarakan Workshop Kurikulum 2013 bagi guru-guru Tingkat Sekolah Dasar Angkatan II se-Kalimantan Tengah. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 20 s.d. 23 April 2016 ini dihadiri 52 peserta guru utusan dari seluruh kabupaten kota di Kalimantan Tengah. Kepala Bimas Katolik Propinsi Kalimantan Tengah, Bp. Wilhelmus Ndoa dalam sambutan dan pengarahannya menjelaskan bahwa tujuan workshop ini adalah untuk meningkatkan kualitas guru agama Katolik yang terampil, kreatif dan inovatif sesuai semangat dan cita-cita kurikulum baru (2013). Peningkatan kualitas SDM (guru) merupakan tanggungjawab semua pihak termasuk pemerintah. Untuk itu Bimas Katolik, Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Tengah secara bertahap mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi para guru agama katolik SD, SMP, SMA di propinsi Kalteng.

Menyiapkan Buku Pengayaan Pendidikan Agama Katolik, Kurikulum 2013

Penerbit Kanisius Yogyakarta bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI mengadakan rapat dengan para penulis buku pelajaran pendidikan agama Katolik di Yogyakarta. Pertemuan yang di rumah retret susteran St. Dominikus, Maguwo, dari tanggal 6 dan 7 April ini untuk mendiskusikan tentang bagaimana menyiapkan buku-buku pengayaan pendidikan agama Katolik berdasarkan Kurikulum 2013 K13). Sejak pemberlakuan K13, di lapangan guru-guru mengalami kesulitan memperoleh buku-buku teks pelajaran yang disediakan oleh pemerintah (kemendikbud). Untuk membantu guru-guru dalam menyiapkan kegiatan pembelajaran maka kita perlu menyiapkan buku alternatif yang tetap merujuk pada Kurikulum 2013. Menurut rencana buku-buku ini sudah bisa digunakan pada tahun ajar 2017/2018 (DBK).

Kunjungan Studi Mahasiswa FKIP-IP. Teologi Unika Atma Jaya Jakarta ke Komkat KWI

Sekitar 18 Mahasiswa semester dua dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Ilmu Pendidikan Teologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta berkunjung ke sekretariat Komkat KWI dalam rangka studi tentang Sejarah Katekese (pewartaan) Gereja Katolik Indonesia. Dosen pendamping, DR. Yap Fulan pada acara perkenalan menjelaskan bahwa tujuan kehadiran para mahasiswanya di Komkat KWI adalah untuk mendapatkan informasi secara langsung dari sumbernya tentang sejarah katakese Gereja Katolik Indonesia dari dulu hingga sekarang.

Ratusan Instruktur Nasional Siap Melatih Guru

Mendikbud Anies Baswedan sedang memberikan pengarahan
Mendikbud Anies Baswedan mengenakan rompi kepada perwakilan instruktur nasional k13

Sebanyak 598 instruktur nasional siap melatih guru mengenai materi-materi yang terkandung di dalam Kurikulum 2013 yang telah direvisi. Instruktur nasional ini terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, widyaiswara, dan dosen.

Hal ini dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat menutup pelatihan Kurikulum 2013 bagi instruktur nasional yang berlangsung selama lima hari. Pelatihan berakhir Kamis (24/3) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Meski pelatihan 52 jam ini sudah berakhir, saya harap proses belajar tetap berlanjut. Kembangkan sebanyak-banyaknya teknik mengajar. Temukan hal yang baru dan bagikan agar bahan yang ada semakin kaya," tutur Anies.

Peserta pelatihan instruktur nasional berjumlah 666 orang. Jumlah ini terdiri dari 120 orang tingkat SD, 135 orang tingkat SMP, 224 orang tingkat SMA, serta 187 orang untuk SMK. Dari seleksi, terpilih 598 orang.

Pages

Subscribe to RSS - Praedicamus