Praedicamus

Pelatihan Kurikulum 2013 Bagi Pengurus Komkat Keuskupan Regio Nusa Tenggara

Komisi Kateketik Regio Nusa Tenggara (NTT-NTB-Bali) bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI Jakarta mengadakan pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 di gedung pastoral Gereja paroki St. Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali.

Kegiatan pelatihan beralngsung dari tanggal 5 s.d. 8 Maret 2018 ini dihadiri sekitar 30 orang utusan, masing-masing dari Komkat K.A. Kupang, K. Atambua, K. Weetebula, K. Larantuka, K. Maumere, KA. Ende, K. Ruteng dan Keuskupan Denpasar serta perwakilan KKG (Kelompok Kerja Guru) SD dan perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kota Denpasar.

Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI 2018; Konsolidasi untuk Karya Katekese Gereja Katolik Indonesia

Komisi Kateketik KWI mengadakan rapat pleno tahun 2018 di Wisma Samadi Klender, Jakarta, pada tanggal 26 – 28 Februari 2018. Rapat dihadiri Ketua Komkat KWI, Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM, Sekretaris Eksekutif Komkat KWI, P. Leo Sugiyono, MSC, para staf ahli kateketik, staf ahli kemasyarakatan, enam wakil regio keomkat keuskupan se-Indonesia, wakil lembaga pendidikan calon imam (Seminari Tinggi/STFT), dua wakil dari Lembaga Pendidikan Kateketik – Pastoral di bawah naungan Kemristek dan Pendidikan Tinggi, dan Kemenag RI (Bimas Katolik Pusat).

Rapat Pleno tahunan ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr Paskalis, kemudian dilanjutkan sambutan pembuka untuk memulai rapat. Agenda rapat selama tiga hari adalah mendengar laporan atau share pengalaman kegiatan karya katekese di keuskupan masing-masing pasca PKKI Makasar (bdk Rencana Kerja 2017 – 2020). Agenda berikutnya adalah mereview silabus Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, mencermati tema-tema untuk sakramen krisma, dan membuat rekomendasi untuk tindak lanjut.

Paus Fransiskus Kecam Penggunaan Berita Palsu untuk Politik

Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus mengecam "kejahatan" berita palsu, menyebut wartawan dan pengguna media sosial mesti menghindari dan mengungkap "taktik ular" yang mendorong perpecahan demi kepentingan politik dan ekonomi.

"Berita palsu adalah pertanda sikap intoleran dan hipersensitif, dan hanya berujung pada penyebaran arogansi dan dan kebencian. Itu adalah hasil akhir dari kebohongan," kata Paus, Rabu (24/1).

Pernyataan itu ada pada dokumen yang diterbitkan setelah perdebatan selama beberapa bulan soal seberapa jauh berita palsu memengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat dan pemilihan Presiden Donald Trump.

Dokumen itu berjudul "Kebenaran akan membebaskan Anda - Berita palsu dan jurnalisme untuk kedamaian." Diterbitkan jelang hari komunikasi sosial gereja katolik dunia, ini adalah kali pertamanya Paus menerbitkan dokumen dalam subjek tersebut.

"Menyebarkan berita palsu bisa dilakukan untuk tujuan tertentu, memengaruhi keputusan politik, dan dilakukan untuk kepentingan ekonomi," kata Paus, mengecam "penggunaan media sosial secara manipulatif" dan bentuk komunikasi lainnya.

Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan Ciptaan

Pengantar

"Melindungi dan Mengelola Sumber Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal" menjadi arah dasar gerak Kerasulan PSE KWI yang visioner, profetis dan profitis. Arah dasar ini mendasarkan diri pada spiritualitas inkarnatoris-transformatif yang berpangkal dari misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yoh. 1, 14). Dalam proses inkarnasi itu, Firman Allah menunjukkan solidaritas dengan manusia, dengan "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Fil. 2,7), menunjukkan semangat belarasa kepada mereka yang menderita (Mat. 9, 36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk. 4, 18).

Pesan Prapaskah 2018, Paus Fransiskus Singgung Nabi-Nabi Palsu

Paus Fransiskus meminta umat Katolik agar selama Masa Prapaskah untuk berhati-hati terhadap “penjinak ular,” “tukang obat,” “penipu” yang menawarkan “solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan.”

Pesan Prapaskah tersebut dirilis di Vatikan pada Selasa (6/2). Meskipun demikian, pesan ini bertanggal 1 November 2017 atau Hari Raya Semua Orang Kudus.
Bagi umat Katolik ritus Latin, Masa Prapaskah akan dimulai Rabu (14/2).

Dengan judul “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12), pesan Prapaskah Paus Fransiskus menyinggung kotbah Yesus kepada para rasul di Bukit Zaitun dan mengingatkan tentang nabi-nabi palsu serta tipuan, keegoisan, keserakahan dan tidak adanya kasih.
Nabi palsu “bisa muncul sebagai ‘penjinak ular’ yang memanipulasi emosi orang untuk memperbudak orang lain dan membawa mereka ke mana pun mereka pergi,” kata Paus.

“Nabi palsu juga bisa menjadi ‘tukang obat’ yang menawarkan solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan yang tidak lama kemudian hilang manfaatnya,” lanjutnya.

Pages

Subscribe to RSS - Praedicamus