Praedicamus

Katekese Paus Fransiskus: Rajin Beribadah Tanpa Berbuat Baik, Percuma

Paus Fransiskus mengatakan, tak ada gunanya jika seseorang rajin beribadah tetapi tak berbuat baik dalam hidup sehari-hari.

Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu menyebut mereka yang rajin beribadah di gereja tetapi tak berbuat baik sebagai "burung beo".

"Jika saya katakan bahwa saya seorang Katolik dan rajin ke gereja, tetapi kemudian tak mau bicara dengan orangtua, tak mau membantu orang miskin, menengok orang sakit, itu tak menunjukkan iman saya, jadi percuma," kata Paus kepada para pemuda di desa Guidonia, tak jauh dari Roma.

"Mereka yang tak berbuat baik bukan apa-apa selain burung beo, hanya kata-kata," tambah Paus seperti dikutip harian La Stampa.

Iman Kristiani, ujar Paus, harus diwujudkan dalam tiga hal yaitu kata-kata, hati, dan perbuatan.

Dalam temu wicara dengan warga desa itu, Paus mengaku seringkali hal paling sulit dilakukan adalah memaafkan orang yang menyakiti kita.

"Sangat sulit, saya kenal seorang perempuan tua yang sangat tegar, cerdas, tetapi sering dipukul suaminya. Anda tetap harus memaafkan tetapi memang sulit untuk melupakan," tambah Paus.

Seruan Pastoral KWI Menyambut Pilkada Serentak 2017; Pilkada Yang Bermartabat Sebagai Perwujudan Kebaikan Bersama

Saudara-saudari yang terkasih.

Bangsa kita akan menyelenggarakan Pilkada serentak untuk kedua kalinya. Jumlah daerah yang akan melaksanakan Pilkada adalah 7 (tujuh) provinsi, 18 (delapan belas) kota, dan 76 (tujuh puluh enam) Kabupaten yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tahapan penting yang harus kita ketahui adalah masa kampanye tanggal 26 Oktober – 11 Februari 2017, masa tenang tanggal 12-14 Februari. Waktu pemungutan dan penghitungan suara dilaksanakan tanggal 15 Februari. Masa rekapitulasi suara adalah tanggal 16-27 Februari dan saat penetapan calon terpilih tanpa sengketa adalah 8-10 Maret.

Melalui Pilkada kita memilih pemimpin daerah yang akan menduduki jabatan hingga lima tahun ke depan. Marilah kita jadikan Pilkada sebagai sarana dan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi dan upaya nyata mewujudkan kebaikan bersama. Sikap ini dianjurkan oleh ajaran Gereja: “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75). Oleh karena itu, kita harus berpartisipasi dalam Pilkada dengan penuh tanggungjawab berpegang pada nilai-nilai kristiani dan suara hati.

Saudara-saudari yang terkasih,

Seruan Pastoral KWI 2016: Stop Korupsi; Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif

Pada 10 November Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mengadakan Sidang tahunan 2016 di gedung kator KWI, Jln. Cut Mutiah 10, Jakarta Pusat. Sidang berlangsung dari 31 Oktober hingga 10 Nopember 2016. Pada hari terkahir sidang, tgl. 10 Nopember yang bertepatan dengan hari pahlawan nasional, para Waligereja Indonesia mengeluarkan Seruan Pastoral berjudul "Stop Korupsi; Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif". Berikut kami sampaikan seruan pastoral selengkapnya.

Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2016: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud.” (Lukas 2:11)

Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).

Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

The Dark Side of the Gen Z; Sebuah Warning bagi Orang tua sebagai Pendidik yang Pertama dan Utama dalam Keluarga

Komisi kateketik KWI dalam dua PKKI terakhir (PKKI X 2012 dan dan PKKI XI 2016) memilih tema sentral tentang Berkatekese di Era Digital. Keluarga menjadi sorotan utama dalam katekese karena keluarga adalah basis Gereja dan basis masyarakat yang paling pertama mengalami dampak langsung dari perkembangan tekonologi komunikasi khususnya komunikasi digital.

Dalam dunia digital keluarga, orang tua harus memberikan teladan bagi anak-anaknya dalam batas-batas penggunaan media digital. Namun yang perlu disadari bahwa walaupun kita hidup dalam dunia digital, pertemuan secara langsung, atau perjumpaan keluarga jauh lebih penting. para orangtua juga harus terus menyadari bahwa mereka adalah pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga dari segi iman dan moral.

Berikut sebuah artikel tentang “The dark Side of The Gen Z” ditulis oleh seorang bloger Yuswohady (http://www.yuswohady.com ) yang perlu dicermati oleh siapa saja, khususunya para orangtua agar selalu waspada dan sungguh berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga.(Daniel B. Kotan).

Prof. Dr. Eko Indrajit: Pendidikan Iman dalam Keluarga di Era Digital

Prof. Dr. Eko Indrajit, pakar teknologi informasi yang didampingi isterinya Lisa Aryanto, membawakan materi tentang Katekese Keluarga di Era Digital. Dalam presentasinya yang memikat para peserta PKKI XI di Makassar (29/8 - 2/9/16) dikatakan bahwa dalam budaya digital perlu menelisik seperti apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya "Amoris Laetitia" mengenai pentingnya hati nurani: Paus menyatakan, hati nurani berperan penting dalam membuat keputusan moral. Maka dalam tekanan hiruk pikuk dunia digital, keputusan suara hati sangat menentukan dalam pemilihan nilai moral. Setiap zaman memiliki karakteristiknya masing-masing.

Setiap zaman ada perbedaan karakternya. Maka dalam keluarga ketika ada lintas generasi diperlukan saling pengertian. Menghadirkan kehidupan yang berkualitas bagi keluarga. Melalui tehnologi, untuk semakin meningkatkan kualitas pendampingan dan komunikasi. Pendidikan keluarga dalam era budaya digital tentu mempunyai tantangannya, karena otoritas informasi tidak hanya otoritas di dalam keluarga, melainkan
keberlimpahan informasi melalui berbagai tehnologi digital.

P. DR. Hartono, MSF: Keluarga dan Problematikanya serta Pendapingannya

PKKI XI di Makassar (29 Agustus – 2 September 2016) bertemakan “ Iman Keluarga: Pondasi Masyarakat yang terus berubah. Sub“Melalui sarana digital, Gereja mengembangkan pembinaan iman keluarga dalam masyarakat majemuk”. Berkaitan dengan tema utama tentang keluarga ini maka P. DR. Hartono, MSF, sekretaris Komisi Keluarga KWI, hadir sebagai narasumber yang membawakan materi bertopik “Keluarga dan Problematiknya – Katekse Keluarga di Era Digital”. Gagasan-gagasan seputar karasulan keluarga diharapkan dapat memperkaya wawasan para katekis dalam berkatekese keluarga. Berikut kami sampaikan intisari dari materi yang disampaikan narasumber tersebut.

Keluarga adalah Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga), menjadikan Gereja dalam keluarga. Bagaimana keluarga mengembangkan 4 dimensi tugas Gereja: Liturgia (perayaan iman), Kerygma (pembinaan iman), Koinonia (bersaudara-persaudaraan) dan diakonia (saling melayani) dalam hidup berimannya.

PKKI XI Makasar: Komitmen Sebagai Pewarta dan Sinergisitas Dalam Tugas Pelayanan Gereja

PKKI XI di Makassar (29 Agustus- 2 September 2016) diawali dengan perayaan ekaristi kudus di gereja katedral Makassar dipimpin oleh Mgr John Liku Ada’ Pr, uskup Agung Makassar, didampingi Mgr Paskalis Bruno. Syukur, OFM, Ketua Komisi Kateketik KWI dan enam imam yang mewakil regio Komisi Kateketik Keuskupan di Indonesia. Dalam homilinya, Mgr John Liku Ada merefleksikan bacaan Injil (Mark 6:17-29) tentang Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes. Ada kesan bahwa penguasa cenderung bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Namun disini kita tidak perlu fokuskan perhatian pada tiga tokoh; Herodes, Herodias dan putrinya. Kita justru harus fokuskan perhatian pada tokoh Yohanes Pembaptis. Pesan dari kisah kematian Yohanes Pembaptis ini adalah soal komitmennya yang kuat sebagai seorang pewarta sampai akhir hayat hidupnya. Semangat, spirit, komitmen hidup Yohanes pembaptis inilah yang harus kita bawa dalam PKKI XI ini.

Pages

Subscribe to RSS - Praedicamus