Praedicamus

Paus Fransiskus Mengeluarkan Dekrit Penting bagi Gereja di Asia

Paus Fransiskus telah mengeluarkan sebuah dekrit yang meningkatkan wewenang gereja-gereja lokal dan dekrit itu memiliki arti khusus bagi gereja-gereja di Asia.
Dekrit atau motu proprio seperti yang lazim dalam bahasa gereja, memungkinkan gereja-gereja lokal di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sendiri dalam mengembangkan dan menyetujui teks-teks yang digunakan dalam perayaan sakramen.

Kontrol terhadap teks liturgis dan formula sakramen telah menjadi kontroversi bagi banyak gereja, termasuk konferensi para uskup di Asia seperti di Jepang.
Selama 20 tahun terakhir, Vatikan telah secara langsung menantang sebuah petunjuk khusus dari Konsili Vatikan II yang meminta proses revisi dan persetujuan teks-teks ini untuk mengikutsertakan gereja-gereja lokal dan dengan para ahli dalam bahasa setempat daripada pejabat Vatikan.

Pembinaan Dosen Pendidikan Agama Katolik Di Perguruan Tinggi Umum (PTU)

Bidang Pendidikan Tinggi, Ditjen Bimas Katolik, Kemenag RI, bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI menyelenggarakan pertemuan dalam rangka pembinaan dosen Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum (PTU) di hotel Aston Banua, Banjarmasin. Pertemuan dilaksanakanpada tgl 19 s.d. 22 Juli 2017 ini, dihadiri 50 peserta (dosen) dari wilayah Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. Kepala Bidang Pendidikan Tinggi, Ditjen Bimas Katolik, Dr. Aloma Sarumaha dalam sambutan pembukaan acara mengharapkan para peserta dalam pertemuan ini dapat mempertajam rumusan standar isi kurikulum Pendidikan Agama Ktolik yang telah disusun bersama di Jakarta dalam koordinasi Komkat KWI bersama Ditjen Bimas Katolik. P.FX.Adisusanto, SJ yang mewakili Komkat KWI dalam sambutan menjelaskan sejarah penyususunan kurikulum kuliah Pendidikan Agama Katolik di dari masa ke masa. Kita mesti mengikuti perkembangan zaman, baik dari segi isi maupun metode. Mgr Petrus Timang, Pr, Uskup Banjarmasin di awal presentasinya mengutip perumpamaan Yesus tentang gandum dan ilalang. Gereja yang sedang kita bangun, demikian Mgr Petrus Timang merupakan pohon yang besar dan rindang, maka kita perlu menjaganya dengan baik meski menghadapi banyak tantangan.

Pater DR. Darmin Mbula, OFM; Upaya Sekolah Katolik Menangkal Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia

Pakar pendidikan Katolik di Indonesia saat ini tengah merancang sebuah pedoman yang baru bagi sekolah-sekolah untuk menangkal intoleransi dan radikalisme yang meningkat di sekolah. Panduan ini diharapkan siap dalam beberapa bulan ke depan dan diterapkan di sekolah-sekolah Katolik ketika tahun ajaran berikutnya dimulai. “Apa yang kami lakukan adalah tanggapan terhadap situasi saat ini, di mana radikalisme begitu kuat, termasuk di kalangan remaja,” kata Pastor Vinsensius Darmin Mbula, OFM, Ketua Majelis Pendidikan Katolik kepada ucanews.com, pada 10 Juli.

“Untuk membendung ini, kami yakin salah satu solusinya adalah melalui pendidikan,” katanya. Pastor Darmin merujuk pada sebuah survei Setara Institute tahun 2015 di 171 sekolah di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat yang mengungkapkan bahwa 9,5 persen siswa mendukung kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal, termasuk kelompok negara Islam yang disebut.

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, KWI Mengajak Umat Hindari SARA

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 20 Mei, Konferensi Waligereja Indonesia menyampaikan keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini dan meminta warga negara Indonesia, khususnya umat Katolik, untuk merenungkan makna kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Para uskup juga meminta umat Katolik untuk melawan segala bentuk provokasi suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam pernyataan yang disampaikan bersama Sekjen KWI Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC, menegaskan kembali bahwa kemerdekaan yang diraih 72 tahun lalu adalah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan golongan yang secara monumental telah bersatu dan mengokohkan niatnya dalam Sumpah Pemuda (1928).

Akan tetapi, para uskup prihatin menyaksikan dan mengikuti apa yang terjadi akhir-akhir ini di mana cita-cita Indonesia Raya dicederai oleh mereka yang entah secara nyata maupun tersembunyi melakukan petualangan politik yang merongrong Pancasila sebagai Dasar Negara.

Para Pemuda Lintas Agama Bersatu Melawan radikalisme dan Intoleransi

Lebih dari 3.000 orang muda dari komunitas agama yang berbeda berkumpul di Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, untuk menghadiri pertemuan antaragama. Mereka (kaum muda) berkomitmen untuk "mengembangkan sikap inklusif dan untuk memerangi segala bentuk radikalisme dan intoleransi dalam masyarakat Indonesia".

Pertemuan itu diselenggarakan pada tanggal 5 Maret oleh Komisi hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dengan lima universitas (tiga Islam, satu umum, satu Katolik). Pertemuan ini dihadiri oleh pemuda Indonesia dari 71 komunitas yang berbeda. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Rm. Lukas Awi Tristanto, sekretaris Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dihadiri oleh Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang mengatakan: "! Mereka yang tidak bersedia menerima keragaman, meninggalkan Indonesia"

Berbicara kepada Fides, Rm. Lukas Awi Trisanto mengatakan bahwa acara antaragama memiliki tujuan utama yaitu "membangun persaudaraan sejati dan menolak intoleransi": "Menjadi bagian dari komunitas agama di Indonesia berarti mengakui iman seseorang bersama orang lain yang mengaku agama yang berbeda", katanya.

Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI 2017

Sekretariat Komisi Kateketik KWI menyelenggarakan Rapat Pengurus Lengkap di Wisama Samadi, Kalender, Jakarta Timur. Rapat tahunan 2017 ini diselenggarakan di wisma Samadi, Kalender Jakarta pada tgl. 23 s.d. 25 Februari 2017. Rapat Pelno dibuka oleh Ketua Komisi Kateketik KWI, Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM. Dewan pengurus lengkap Komkat KWI terdiri dari Ketua, Sekretaris, ahli kateketik, ahli kemasyarakatan, wakil- wakil dari enam regio Komkat Keuskupan, wakil lembaga pendidikan kateketik dan pastoral, wakil lembaga pendidikan Filsafat-Teologi (Seminari Tinggi), serta undangan khusus P. Hartono, MSF dari Komisi Keluarga KWI yang hadir sebagai narasumber pada hari pertama rapar pleno.

Dewan Kardinal dengan nama C-9 menyatakan kesetiaan kepada Paus Fransiskus

Pertemuan kedelapan belas antara Bapa Suci dengan Dewan Kardinal atau Kelompok Kardinal C-9, yang dimulai tanggal 13 Februari 2017 berakhir tanggal 15 Februari 2017. Di awal pertemuan, setelah menyalami Bapa Suci, koordinator kelompok itu Kardinal Oscar Andrés Rodríguez Maradiaga berterima kasih kepada Paus Fransiskus atas sambutan Natal dari Paus untuk Kuria Romawi tanggal 22 Desember 2016. Dalam sambutan itu, Paus mendorong dan membimbing karya Dewan itu.

Kardinal Rodríguez berbicara atas nama semua anggota Dewan. Menyangkut peristiwa yang baru-baru terjadi, Dewan Kardinal berjanji akan memberikan dukungan penuh pada karya Paus, seraya meyakinkan bahwa mereka akan selalu dekat dan setia kepada figur dan Magisterium Paus Fransiskus.

Pertemuan para anggota Dewan Kardinal itu berlangsung setiap pagi dari pukul 9:00 hingga 12: 30, dan setiap sore dari pukul 16:30 hingga 19:00. Dalam pertemuan kali ini, mereka melanjutkan pembicaraan mengenai berbagai Dikasteri Kuria. Secara khusus, mereka melanjutkan diskusi tentang Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa (Propaganda Fide), Kongregasi Gereja-Gereja Oriental, dan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama.

Paus Fransiskus; Umat jalankan dan cari cara baru menyebarkan pesan belas kasih Allah

Paus Fransiskus meminta kepada umat Katolik untuk menjalankan dan mencari “cara-cara baru” dalam menyebarkan pesan belas kasih Allah. Pesan Paus ini disampaikan 17 Januari 2017 kepada peserta Kongres Apostolik Dunia tentang Belas Kasih ke-4 (WACOM4) oleh Uskup Agung Lyon Kardinal Philippe Barbarin. Kardinal asal Perancis itu ditunjuk oleh Paus sebagai delegasi pribadinya untuk pertemuan internasional itu. WACOM4 berlangsung di Filipina dari tanggal 16 hingga 20 Januari 2017 dengan tema “Persekutuan dalam Belas Kasih, Misi untuk Belas Kasih” (Dipanggil oleh Belas Kasih, Dikirim untuk Belas Kasih). Paus mendesak umat beriman untuk mempraktekkan karya belas kasih dengan cara-cara baru. “Dia ingin agar kalian tahu bahwa dia sepenuhnya senang dengan Kongres Dunia tentang Belas Kasih keempat kita ini,” kata Kardinal Barbarin dalam Misa di Quadricentennial Pavilion Universitas Santo Thomas di Manila. “Dia juga ingin agar kalian mencari jawaban yang tepat terhadap masalah-masalah sosial saat ini,” kata kardinal. Kardinal itu akan juga menyampaikan pesan resmi Paus kepada para delegasi WACOM di Balanga, Bataan, 20 Januari 2017, hari terakhir pertemuan Gereja internasional itu.

Pages

Subscribe to RSS - Praedicamus