Praedicamus

Pesan Sidang KWI 2017: Panggilan Gereja Membangun Tata Dunia

Segenap umat Katolik yang terkasih,

Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema “Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.” Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan dari pengamat proses. Dengan hari studi itu, kami semakin menyadari panggilannya untuk ikut membangun tata dunia serta mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk lebih memahami situasi kebangsaan saat ini, memperkuat suara kenabian Gereja di zaman sekarang, dan membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Katekese Paus Fransiskus; Buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian

Paus Fransiskus merayakan Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Kamis 2 November 2017, dengan memperingati semua orang yang meninggal dalam perang, seraya mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan pelajaran masa lalu dan bahwa satu-satunya buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian.
Paus mengungkapkan kata-kata peringatan yang keras kepada para penghasut perang dalam homili di Monumen Peringatan dan Pemakaman Perang AS Nettuno sekitar 50 kilometer selatan Roma.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan, dalam kesempatan itu Paus mengulangi lagi keyakinannya bahwa “peperangan menghasilkan tidak lebih dari kuburan dan kematian.” Paus juga menegaskan bahwa dia memilih berkunjung ke pemakaman perang sebagai pertanda bahwa “kini umat manusia sepertinya tidak belajar dari pelajaran masa lalu, atau tidak ingin mempelajarinya.”

Monumen itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang yang tewas dalam operasi militer yang dilakukan untuk membebaskan Italia (dari Sisilia ke Roma) dari Nazi Jerman. Kapel di pemakaman itu berisi daftar 3095 orang yang hilang.

Paus Fransiskus Menegaskan tentang Pentingnya Kerja Sama Internasional untuk memerangi pelecehan dan eksploitasi anak-anak secara online

Pada akhir pekan, 7 Oktober 2017, radio vatican menyampaikan sebuah laporan tentang audiensi umum Paus Fransiskus di alun-alun lapangan Basilika St.Petrus, Vatikan. Pada audensi tersebut, Paus Fransiskus mengumumkan akan diadakannya pertemuan pra-sinode untuk mendengarkan suara, keraguan dan kritik kaum muda, pembaruan tentang kerja sama internasional untuk memerangi pelecehan dan eksploitasi anak-anak secara online di sebuah kongres yang disponsori oleh Gereja. Gereja memusatkan perhatian pada isu berita palsu dalam pesan Hari Komunikasi sedunia. Kita, demikian radio Vatican melaporkan, akan merenungkan bagaimana orang-orang Kristen harus menanggapi, dan mendengar dari seorang saksi mata (Paus Fransiskus) yang hadir pada saat pembukaan Vatikan Kedua 55 tahun yang lalu. (Sumber Radio Vatican, diterjemahkan oleh Daniel Boli Kotan)

Sumber artikel dan gambar: http://en.radiovaticana.va/news/2017/10/06/vatican_weekend_for_october_7...

Paus Fransiskus Mengeluarkan Dekrit Penting bagi Gereja di Asia

Paus Fransiskus telah mengeluarkan sebuah dekrit yang meningkatkan wewenang gereja-gereja lokal dan dekrit itu memiliki arti khusus bagi gereja-gereja di Asia.
Dekrit atau motu proprio seperti yang lazim dalam bahasa gereja, memungkinkan gereja-gereja lokal di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sendiri dalam mengembangkan dan menyetujui teks-teks yang digunakan dalam perayaan sakramen.

Kontrol terhadap teks liturgis dan formula sakramen telah menjadi kontroversi bagi banyak gereja, termasuk konferensi para uskup di Asia seperti di Jepang.
Selama 20 tahun terakhir, Vatikan telah secara langsung menantang sebuah petunjuk khusus dari Konsili Vatikan II yang meminta proses revisi dan persetujuan teks-teks ini untuk mengikutsertakan gereja-gereja lokal dan dengan para ahli dalam bahasa setempat daripada pejabat Vatikan.

Pembinaan Dosen Pendidikan Agama Katolik Di Perguruan Tinggi Umum (PTU)

Bidang Pendidikan Tinggi, Ditjen Bimas Katolik, Kemenag RI, bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI menyelenggarakan pertemuan dalam rangka pembinaan dosen Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum (PTU) di hotel Aston Banua, Banjarmasin. Pertemuan dilaksanakanpada tgl 19 s.d. 22 Juli 2017 ini, dihadiri 50 peserta (dosen) dari wilayah Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. Kepala Bidang Pendidikan Tinggi, Ditjen Bimas Katolik, Dr. Aloma Sarumaha dalam sambutan pembukaan acara mengharapkan para peserta dalam pertemuan ini dapat mempertajam rumusan standar isi kurikulum Pendidikan Agama Ktolik yang telah disusun bersama di Jakarta dalam koordinasi Komkat KWI bersama Ditjen Bimas Katolik. P.FX.Adisusanto, SJ yang mewakili Komkat KWI dalam sambutan menjelaskan sejarah penyususunan kurikulum kuliah Pendidikan Agama Katolik di dari masa ke masa. Kita mesti mengikuti perkembangan zaman, baik dari segi isi maupun metode. Mgr Petrus Timang, Pr, Uskup Banjarmasin di awal presentasinya mengutip perumpamaan Yesus tentang gandum dan ilalang. Gereja yang sedang kita bangun, demikian Mgr Petrus Timang merupakan pohon yang besar dan rindang, maka kita perlu menjaganya dengan baik meski menghadapi banyak tantangan.

Pater DR. Darmin Mbula, OFM; Upaya Sekolah Katolik Menangkal Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia

Pakar pendidikan Katolik di Indonesia saat ini tengah merancang sebuah pedoman yang baru bagi sekolah-sekolah untuk menangkal intoleransi dan radikalisme yang meningkat di sekolah. Panduan ini diharapkan siap dalam beberapa bulan ke depan dan diterapkan di sekolah-sekolah Katolik ketika tahun ajaran berikutnya dimulai. “Apa yang kami lakukan adalah tanggapan terhadap situasi saat ini, di mana radikalisme begitu kuat, termasuk di kalangan remaja,” kata Pastor Vinsensius Darmin Mbula, OFM, Ketua Majelis Pendidikan Katolik kepada ucanews.com, pada 10 Juli.

“Untuk membendung ini, kami yakin salah satu solusinya adalah melalui pendidikan,” katanya. Pastor Darmin merujuk pada sebuah survei Setara Institute tahun 2015 di 171 sekolah di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat yang mengungkapkan bahwa 9,5 persen siswa mendukung kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal, termasuk kelompok negara Islam yang disebut.

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, KWI Mengajak Umat Hindari SARA

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 20 Mei, Konferensi Waligereja Indonesia menyampaikan keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini dan meminta warga negara Indonesia, khususnya umat Katolik, untuk merenungkan makna kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Para uskup juga meminta umat Katolik untuk melawan segala bentuk provokasi suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam pernyataan yang disampaikan bersama Sekjen KWI Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC, menegaskan kembali bahwa kemerdekaan yang diraih 72 tahun lalu adalah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan golongan yang secara monumental telah bersatu dan mengokohkan niatnya dalam Sumpah Pemuda (1928).

Akan tetapi, para uskup prihatin menyaksikan dan mengikuti apa yang terjadi akhir-akhir ini di mana cita-cita Indonesia Raya dicederai oleh mereka yang entah secara nyata maupun tersembunyi melakukan petualangan politik yang merongrong Pancasila sebagai Dasar Negara.

Para Pemuda Lintas Agama Bersatu Melawan radikalisme dan Intoleransi

Lebih dari 3.000 orang muda dari komunitas agama yang berbeda berkumpul di Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, untuk menghadiri pertemuan antaragama. Mereka (kaum muda) berkomitmen untuk "mengembangkan sikap inklusif dan untuk memerangi segala bentuk radikalisme dan intoleransi dalam masyarakat Indonesia".

Pertemuan itu diselenggarakan pada tanggal 5 Maret oleh Komisi hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dengan lima universitas (tiga Islam, satu umum, satu Katolik). Pertemuan ini dihadiri oleh pemuda Indonesia dari 71 komunitas yang berbeda. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Rm. Lukas Awi Tristanto, sekretaris Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dihadiri oleh Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang mengatakan: "! Mereka yang tidak bersedia menerima keragaman, meninggalkan Indonesia"

Berbicara kepada Fides, Rm. Lukas Awi Trisanto mengatakan bahwa acara antaragama memiliki tujuan utama yaitu "membangun persaudaraan sejati dan menolak intoleransi": "Menjadi bagian dari komunitas agama di Indonesia berarti mengakui iman seseorang bersama orang lain yang mengaku agama yang berbeda", katanya.

Pages

Subscribe to RSS - Praedicamus