Pendidikan Agama Katolik

Strategi, Pendekatan, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran, Apa Bedanya?? (Daniel B. Kotan)

Tahun ajar 2017/2018 segera berakhir. Siswa kelas akhir seperti SMA dan SMK dan sejenisnya telah memperoleh hasil ujian akhir nasional, sementara SMP dan SD segera menyusul sesuai rencana yang sudah ditetapkan kemendikbud. Sekarang siswa-siswi kelas di bawahnya mulai bersiap untuk ujian kenaikan kelas. Pasca pengumumam kenaikan kelas, guru kembali disibukan dengan persiapan untuk rencana kerja pada tahun ajaran baru 2018/2019. Hal ini merupakan sebuah kewajiban dari seorang guru, termasuk guru mapel Pendidikan Agama Katolik atau Katekis.

Berkaitan dengan tugas administratif penting ini, para guru mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti Silabus, Prota (program tahunan), Promes (Program semester), Menganalisis KI dan KD, membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), Kaldik (Kalender Pendidikan), menghitung minggu dan hari efektif, Rancangan penilaian, Program remidial dan Program Pengayaan, dan lain sebagainya. Dalam membuat perangkat pembelajaran seperti yang tersebut di atas, pemahaman akan istilah-istilah menjadi cukup penting sebagai landasan berpijak dalam mengaplikasikannya.

P.Octavianus Situngkir, OFMCap: Guru Agama Katolik, “Pewarta dan Pendidik”

P.Octavianus Situngkir, OFMCap

Pengantar
Pertanyaan siapa dan apakah ‘Guru Agama Katolik’ itu, rasanya tidak sulit menjawabnya. Tetapi jika yang mengemban gelar ‘guru agama’ itu hening sejenak dan menyimak pertanyaan itu, mungkin akan merasa bahwa dalam pertanyaan itu terkandung suatu gagasan yang menantang dan merangsang. Dia pasti pertama-tama merefleksikan secara serius atas pertanyaan sebelum berusaha menjawab secara jujur dan tulus dari hatinya yang terdalam. Merefleksikan pertanyaan sungguh penting dan menentukan karena ada banyak pendidik kristen yang tidak terhitung jumlahnya seturut bidang keahliannya, tetapi tidak semua pendidik itu ber-atribut guru agama sebagai pengajar resmi iman. Dalam hidup dan misi gereja, guru agama itu punya peranan dan fungsi khusus untuk disikapi.

Guru Agama Pendidik dan Pewarta

Info Buku Komisi Kateketik KWI Tahun 2018: Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Buku Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti ini disusun berdasarkan Kurikulum 2013. Sebagaimana kita ketahui bahwa kurikulum 2013 merupakan pengembangan Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang telah dilaksanakan pada tahun 2014, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu. Kurikulum 2013 diberlakukan berdasarkan analisis kebutuhan dunia pendidikan di masa kini maupun masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan global agar memiliki kompetensi SDM yaitu bertakwa kepada Tuhan, berpikir jernih, kritis, mempertimbangkan segi etis dan moral atas suatu tindakan atau permasalahan, menjadi warga negara yang bertanggungjawab, mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, memiliki kemampuan hidup dalam dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, dan sebagainya.

Tujuan pemberlakuan Kurikulum 2013 ditegaskan dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003, yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Peraturan Presiden RI No. 87 Tahun 2017 Tentang Pendidikan Karakter. Bagaimana Implementasinya di Sekolah Katolik?

Presiden RI Joko Widodo, pada hari Rabu, 6 September 2017 secara resmi mengumumkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter, menggantikan peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Perpres No.87 itu dikeluarkan setelah Permendikbud No 23/2017 tentang Hari Sekolah yang populer dengan sebutan 'full day school' ternyata mendapat banyak kritikan masyarakat, bahkan ada unjuk rasa beberapa kelompok masyarakat dibeberapa kota di Indonesia.

Dalam Perpres ini dijelaskan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan; "Gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental"

Prof. Dr. Paulus Suparno, SJ, M.S.T; Sumbangan Ilmu Psikologi dan Pendidikan Pada Ilmu Kateketik

A.Pendahuluan
Anak zaman ini sering disebut anak generasi Z. Mereka mempunyai gaya, sifat, dan cara hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka dicirikan sebagai dapat berpikir dan menanggapi banyak persoalan di saat yang sama (multitasking), selalu berpikir cepat, berpikir tidak linear, tidak mendalam, dan tergantung pada gadget. Relasi antar mereka lebih banyak melalui dunia maya bukan dengan dunia nyata. Perubahan ini jelas menyebabkan ilmu psikologis dan juga pendidikan mengalami perubahan. Ilmu Kateketik, yang mempelajari persoalan katekese-pendidikan iman, pada anak zaman ini jelas harus memperhatikan perubahan ini. Maka ilmu kateketik perlu mengerti perkembangan psikologi dan pendagogi yang sesuai dengan anak zaman ini, agar Warta Yesus dapat disampaikan tepat pada siswa/peserta yang hidup di zaman baru ini.

Pages

Subscribe to RSS - Pendidikan Agama Katolik