Paus Fransiskus

Katekese Paus Fransiskus: Setiap Umat Kristen Hendaknya Menjadi Penyebar Harapan dan Saling Menguatkan...

Paus Fransiskus mengajak umat Kristen untuk menyebarkan harapan dengan saling mendukung dan saling mendorong satu sama lain. Ia berbicara kepada para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk audensi umum. Demikian Radio Vatikan melaporkan pada hari Rabu (22/3/17)

Paus mengatakan “ dalam katekese kami melanjutkan harapan Kristen, hari ini kita merenungkan dua kata yang digunakan oleh Santo Paulus dalam bacaan pembukaan: ketabahan dan dorongan. Paulus mengatakan bahwa keduanya terkandung dalam pesan Kitab Suci, tetapi lebih dari itu bagi kita Allah adalah sumber keteguhan dan dorongan (lih Rom 15: 4-5)".

Dalam kehidupan Kristen, demikian Paus, kita dipanggil untuk menyebarkan harapan dengan mendukung dan mendorong satu sama lain, terutama yang terancam goyah. Tapi kami melakukannya dengan kekuatan yang diberikan oleh Tuhan, yang merupakan sumber harapan yang tak pernah gagal . Setia kepada perintah Rasul, semoga kita selalu hidup dalam harmoni dengan satu sama lain, sesuai dengan teladan Kristus Yesus. (Radio Vatikan, terj. Daniel B. Kotan)

Katekese Paus Fransiskus : Siapa Aku ini Sehingga Tidak Bisa Mengampuni?

(Radio Vatikan) Paus Fransiskus mengingatkan kita agar tidak memperlakukan pengakuan seperti pembersih kering (dry cleaners), tempat untuk melakukan transaksi cepat, menghapus dosa-dosa kita dan mencuri pengampunan palsu. Dia juga menekankan perlunya orang Kristen untuk benar-benar malu terhadap dosa-dosa mereka. Demikian homili Paus pada Misa hari Selasa pagi (21/3/17) di kediamannya Santa Marta.

Paus merefleksikan bacaan-bacan Kitab Suci pada misa pagi itu, dimulai dengan Kitab Daniel, yang menekankan manusia datang di hadapan Allah dengan rendah hati dan penuh penyesalan. "Di sini adalah rasa malu dari dosa-dosa, sebuah anugerah yang kita tidak dapat mencapainya untuk diri kita sendiri."

Sementara dalam Injil, Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengampuni saudaranya "tidak tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Paus mengingatkan umat yang diampuni dan memahami pengampunan itu, pada gilirannya memiliki kemampuan untuk mengampuni orang lain. Hal ini ditunjukkan dalam tindakan seorang pengutang yang diampuni oleh tuannya, tetapi si pengutang itu sendiri tidak bisa memaafkan orang lain yang berutang kepadanya.

Katekese Paus Fransiskus: Belajar Melakukan Kebaikan dengan Perbuatan bukan dengan Kata-kata

Menghindari yang jahat, belajar melakukan yang baik, dan membiarkan dirimu sendiri dibawa ke hadapan Tuhan: inilah jalan dari pertobatan pra paskah yang disampaikan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa pagi di Casa Santa Marta. Itu adalah pertobatan, kata Paus, yang terwujud bukan dalam kata-kata, tetapi dengan “hal konkrit.”

Paus Fransiskus mencoba menarik garis pertobatan prapaskah dengan titik awal dari kata-kata Nabi Yesaya dalam bacaan pertama. Menolak yang jahat dan melakukan yang baik – inti dari seruan Yesaya – adalah tahap menuju jalan ini.“ Setiap kita, setiap hari, melakukan sesuatu yang jahat.” Alkitab, dalam kenyataannya, mengatakan bahkan “orang yang paling suci berdosa tujuh kali sehari.”

Menolak yang jahat dan belajar melakukan yang baik adalah sebuah perjalanan

Masalahnya, kata Paus Fransiskus, terletak bukan pada masuk ke dalam kebiasaan “hidup dalam hal yang jahat” dan menolak semua hal yang “meracuni jiwa" itu, yang membuatnya kecil. Dan kemudian kita harus belajar melakukan yang baik:

Paus Fransiskus: Jangan takut menapaki jalan persaudaraan, membangun jembatan antara manusia

Budaya belas kasih diperlukan sehingga tak seorang pun nampak tidak dipedulikan atau tak seorang pun menghindar saat menyaksikan penderitaan sesamanya. “Jangan takut,” kata Paus Fransiskus, “untuk menapaki jalan persaudaraan dan membangun jembatan antara manusia.”

Paus berbicara dengan “Delegasi Katolik untuk Kerjasama”, lembaga internasional untuk pelayanan sukarela yang dijalankan oleh Gereja di Perancis. Lembaga yang memiliki relawan misi di lebih dari 50 negara itu bekerja dalam solidaritas dengan Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas lokal untuk menangani proyek-proyek pengembangan.

Kepada lembaga yang merayakan ulang tahun berdirinya yang ke-50 itu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa melalui prakarsa, rencana dan tindakan mereka “kalian membuat Gereja miskin terlihat, yang bersimpati dengan orang-orang yang menderita, terpinggirkan dan dikecualikan.”

Selain meminta mereka meningkatkan budaya belas kasih, Bapa Suci menegaskan bahwa selama ini kata “solidaritas” banyak digunakan sehingga kehilangan maknanya, dan kenyataannya lebih dari sekedar tindakan murah hati.

Katekese Paus Fransiskus pada hari Orang Sakit sedunia; “Tatapan Maria, Hiburan Orang yang Menderita,”

Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS), yang ditetapkan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II di tahun 1993, dirayakan setiap tahun pada Hari Raya Santa Perawan Maria dari Lourdes, 11 Februari. Tahun ini diperingati sebagai perayaan HOSS ke-25.

Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS), yang ditetapkan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II di tahun 1993, dirayakan setiap tahun pada Hari Raya Santa Perawan Maria dari Lourdes, 11 Februari. Tahun ini diperingati sebagai perayaan HOSS ke-25.

Katekese Paus Fransiskus: Jemaat Kristiani Harus Menjadi Simbol Harapan yang Hidup

Paus Fransiskus pada hari Rabu (08/02/2017) mendorong umat beriman untuk berusaha menjadi simbol harapan yang hidup bagi semua orang.

Berbicara selama audiensi general mingguan di aula Paul VI, Paus Fransiskus melanjutkan katekesenya tentang harapan Kristiani, khususnya dalam masa kegelapan dan kesulitan, harapan bukanlah kebajikan yang mudah.

Mengutip dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Paulus mendorong anggota Gereja perdana untuk saling membantu dalam harap, melalui doa bersama dan hal-hal praktis bagi mereka yang membutuhkan.

“Kita harus saling membantu, dalam kebutuhan hidup setiap hari, tetapi juga ketika membutuhkan harapan.” Paus Fransiskus melihat secara khusus pada mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pendampingan pastoral, yang di satu sisi memiliki kekuatan dan kemampuan akan pelayanan ilahi, tetapi di lain pihak membutuhkan penghargaan, pengertian, dan dukungan dari semua pihak.

Menggarisbawahi bahwa harapan Kristiani bersifat personal juga bersifat komunitarian, Paus Fransiskus mengatakan bahwa bantuan dan dukungan harus diberikan khususnya kepada orang miskin, yang lemah dalam iman, yang menderita dan mereka yang hampir putus asa.

Pesan Prapaskah 2017 Paus Fransiskus: “Sabda adalah Anugerah, Orang Lain adalah Anugerah”

Saudara-saudari,

Prapaskah adalah suatu permulaan baru, suatu jalan yang menghantar ke suatu tujuan pasti Paskah: Kemenangan Kristus akan maut. Dan masa ini senantiasa menyerukan suatu undangan yang kuat kepada pertobatan: Seorang kristiani dipanggil untuk kembali kepada Allah “dengan segenap hatimu” (Yoel 2:12), agar tidak berpuas diri dengan suatu kehidupan yang biasa-biasa saja, tetapi bertumbuh dalam persahabatan dengan Tuhan. Yesus adalah sahabat setia yang tidak pernah meninggalkan kita. Pun ketika kita berdosa, Ia menunggu dengan sabar kembalinya kita kepada Dia dan, dengan penantian ini, Ia menyatakan kesiapsedian-Nya untuk mengampuni (Homili, Misa 8 Januari 2016)

Katekese Paus Fransiskus: Harapan Kristiani adalah Belajar untuk Hidup dalam Pengharapan

Paus Fransiskus pada hari Rabu (01/02/2017) mengundang semua orang Kristiani untuk “menggunakan harapan keselamatan sebagai helm (1Tesalonika 5:8), dalam pengertian bahwa kebangkitan Kristus, objek dari harapan kita adalah pasti.”

Paus Fransiskus mengutip Surat Pertama Paulus kepada jemaat Tesalonika selama audiensi mingguan di Aula Paul VI, di mana dia melanjutkan katekesenya tentang harapan Kristiani.

Paus Fransiskus mengingat kembali kesegaran dan keindahan pewartaan jemaat perdana komunitas Tesalonika pada waktu itu yang digambarkan sebagai selalu “berakar dalam iman yang dirayakan dengan antusiasme dan sukacita kebangkitan Tuhan Yesus”, meskipun ada banyak kesulitan dan cobaan.

Paus Fransiskus mencatat bagaimana surat Rasul Paulus ini lebih tepat waktu dibandingkan sebelumnya karena, “sebelum misteri kematian, dan kehilangan orang yang paling kita sayangi, kita orang Kristiani ditantang untuk berharap dengan kuat pada janji Tuhan akan hidup abadi.”

Harapan Kristiani, Paus melanjutkan, “adalah harapan yang sudah penuh dan pastinya akan diberikan kepada kita semua.” Paus Fransiskus menggambarkan hal ini seperti seorang wanita yang sadar bahwa dia hamil, menunggu setiap hari sampai momen lahirnya bayi.

Pages

Subscribe to RSS - Paus Fransiskus