Artikel

Rapat Tahunan Pengurus Komkat KWI

Telah terselenggara Rapat Tahunan Pengurus Komisi Kateketik KWI pada tanggal 25-27 Mei 2015 di Wisma Unio Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Hadir dalam pertemuan ini: Ketua Komkat KWI Mgr. John Liku Ada', Sekretaris Komkat KWI Rm. Leo Sugiyono, MSC, Staf Ahli Katekese Rm. Adisusanto, SJ, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Bpk. Didiek Dwinarmiyadi. Penghubung Regio Sumatera Rm. Oktavianus Situngkir, OFM-Cap, Penghubung Regio Jawa Rm. V. Dwi Sumarno, Pr, Penghubung Regio Kalimantan Rm. Frans Hanu Jamu, Pr, Penghubung Regio MAM Rm. Viktor Patabang, Pr, Penghubung Regio Nusra Rm. Frans. Emanuel da Santo, Pr dan Penghubung Regio Papua Rm. Paul Tan, Pr. Juga perwakilan dari Lembaga Pendidikan Tinggi (KIPTI) Rm. Heryatno Wono Wulung, SJ. Agenda utama rapat tahun ini adalah menemukan Tema PKKI XI.

Puji Tuhan, setelah menerima masukan dari Mgr. Al. Sutrisnaatmaka, MSF dan masukan-masukan dari setiap Regio, maupun dari Lembaga Perguruan Tinggi dan para staf ahli, tercetuslah Tema PKKI XI: Iman Keluarga: Fondasi Masyarakat yang terus berubah; Melalui sarana digital, Gereja mengembangkan pembinaan iman keluarga dalam masyarakat majemuk.
PKKI XI akan di selenggarakan pada bulan September 2016 di Malino, Keuskupan Agung Makassar.

Keberhasilan Guru Ditentukan oleh Teladan Hidupnya

NILAI-NILAI pendidikan karakter yang diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum semuanya bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya dan Tujuan Pendidikan Nasional.

“Semua itu dapat dikategorikan dalam 4 ruang lingkup yakni Olah Pikir (Pendidikan Pikir), Olah Hati (Pendidikan Hati), Olah Raga (Pendidikan Raga) dan Olah Rasa/Karsa (Pendidikan Rasa/Karsa),”ujar Ketua Komisi Pendidikan (Komdik) Keuskupan Atambua, Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA dalam seminar pendidikan katolik yang dihadiri 79 orang guru se-Paroki Nualain, Atambua, NTT pada Sabtu (14/3/2015).

Imam yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdikan dirinya di sekolah ini menegaskan, berhasilnya pelaksanaan pendidikan karakter bergantung pada berbagai hal, antara lain lewat berbagai kegiatan baik seperti kegiatan rutin kurikuler maupun ekstra kurikuler.

Yang tidak kalah penting, kata Benyamin, adalah menciptakan budaya sekolah yang kondusif bagi penyelenggaraan pendidikan karakter. Selain lewat kegiatan-kegiatan rutin, juga bisa dengan mengondisikan suasana dan kebiasaan sekolah yang kondusif.

Tags: 

Pluralisme dan Pendidikan di Indonesia; "Menggugat Ketidakberdayaan Sistem Pendidikan Agama"

Ketika pluralisme tidak dihargai banyak orang di Indonesia, apa yang salah dengan --- dan dalam --- sistem pendidikan agama? Apakah pendidikan agama selama ini sia-sia tanpa pengaruh terhadap anak didik? Pendidikan agama macam apakah yang mampu menumbuhkan sikap menghargai pluralisme? Melalui pendidikan agama, nilai-nilai apa yang perlu ditumbuhkan pada anak didik agar ia menghargai pluralisme?

Untuk memperkaya wawasan kependidikan kita, khususnya para guru agama tentang bagaimana mendesain sebuah pembelajaran berwawasan pluralisme untuk menciptakan kerukunan hidup antar-umat beragama, maka berikut ini kami cuplik tulisan budayawan Kautsar Azhari Noer tentang Pluralisme dan Pendidikan di Indonesia; "Menggugat Ketidakberdayaan Sistem Pendidikan Agama" dalam buku " Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia”, oleh Th.Sumartana, dkk, yang diterbitkkan oleh Interfidei, Yogyakarta tahun 2001 (DBK).

Tags: 

Guru Agama/ Katekis Sebagai Manager dan Pedagog Profesional

"A teacher is person charged with the responbility of helping others to learn and to behave in new different ways" (James M. Cooper)

A. Pendahuluan
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang di dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis. Proses pembejaran lebih diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi. Otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi tersebut dan tidak berupaya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika peserta didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi miskin dalam aplikasi.

Tags: 

5 Masalah Utama Kurikulum 2013

WARTA KOTA, PALMERAH - Federasi Serikat Guru Indonesia menemukan lima persoalan utama dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Persoalan-persoalan itu ialah pendistribusian buku, penggunaan dana bantuan operasional sekolah, isi buku, percetakan, dan pelatihan guru. Temuan itu merupakan hasil kajian sejak 14 Juli hingga 8 September 2014 di 142 sekolah di 21 provinsi dan 46 kabupaten/kota. Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan, keluhan utama para guru ialah terlambatnya distribusi buku. ”Di jenjang SD, rata-rata sekolah baru menerima buku tematik 1. Sementara di level SMA mayoritas buku wajib Sejarah untuk kelas X belum tiba di sekolah. Untuk level SMK, sebagian besar buku wajib jurusan belum diterima,” ungkap Retno dalam temu media terkait implementasi Kurikulum 2013 yang diadakan FSGI, Rabu (10/9). Sekolah terpaksa mengorbankan kegiatan siswa karena hampir 80 persen dana dialokasikan untuk pembayaran buku. Di sekolah swasta, bahkan dana bantuan operasional sekolah kurang sehingga sekolah meminta siswa membeli buku di toko buku.

Tags: 

Pages

Subscribe to RSS - Artikel