Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI 2018; Konsolidasi untuk Karya Katekese Gereja Katolik Indonesia

Komisi Kateketik KWI mengadakan rapat pleno tahun 2018 di Wisma Samadi Klender, Jakarta, pada tanggal 26 – 28 Februari 2018. Rapat dihadiri Ketua Komkat KWI, Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM, Sekretaris Eksekutif Komkat KWI, P. Leo Sugiyono, MSC, para staf ahli kateketik, staf ahli kemasyarakatan, enam wakil regio keomkat keuskupan se-Indonesia, wakil lembaga pendidikan calon imam (Seminari Tinggi/STFT), dua wakil dari Lembaga Pendidikan Kateketik – Pastoral di bawah naungan Kemristek dan Pendidikan Tinggi, dan Kemenag RI (Bimas Katolik Pusat).

Rapat Pleno tahunan ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr Paskalis, kemudian dilanjutkan sambutan pembuka untuk memulai rapat. Agenda rapat selama tiga hari adalah mendengar laporan atau share pengalaman kegiatan karya katekese di keuskupan masing-masing pasca PKKI Makasar (bdk Rencana Kerja 2017 – 2020). Agenda berikutnya adalah mereview silabus Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, mencermati tema-tema untuk sakramen krisma, dan membuat rekomendasi untuk tindak lanjut.

Dalam homilinya, berdasarkan bacaan Kitab Suci (Dan 9:4b-10 & Luk 6:36-38), Ketua Komkat KWI mengajak semua pewarta/katekis menjadi orang yang murah hati, bijaksana dalam hidup dan karya. Seorang pewarta itu tidak boleh menghakimi atau menyalahkan orang lain. Hal ini menyangkut sikap dan perilaku kita. Hal berikutnya adalah soal konten dari pewartaan yaitu bahwa Allah yang kita wartakan itu adalah Allah yang maha baik, murah hati, maha bijaksana.

Pada pembukaan rapat, Ketua Komkat KWI menyampaikan terima kasih untuk para peserta rapat yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dikatakan bahwa banyak hal yang sudah kita usahakan sesuai rencana kerja di Pertemuan Kateketik antar-Komisi Kateketik Keuskupan se-Indonesia (PKKI) Makassar tahun 2016, dan mengharapkan regio-regio dapat melaksanakan apa yang sudah direncanakan regio dalam program kerjanya di PKKI XI Makassar itu.

Ketua Komkat KWI Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM yang juga uskup Keuskupan Bogor ini menggarisbawahi perlunya kerja sama lintas lembaga pendidikan Kateketik – Pastoral untuk memperkuat karya katekese Gereja katolik Indonesia. Misalnya tentang pendirian S2 untuk program kateketik. Kita masih kekurangan tenaga ahli kateketik secara akademik. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama dan perlu direfeleksikan bersama dalam hari-hari studi kita ini.

Sharing Karya Katekese Pasca PKKI XI Makassar

Wakil Regio, lembaga pendidikan kateketik – pastoral dan lembaga seminari tinggi/STFT menyampaikan laporan atau sharing tentang kegiatan karya katekese di Komkat/lembaga pasca PKKI XI Makassar, berdasarkan Rencana Kerja 2017 – 2020 yang telah disusun bersama pada rapat pengurus tahun 2017

Dalam laporan regio dapat disimpulkan bahwa hampir semua Komkat keuskupan berupaya mengimplementasikan seruan bersama PKKI XI yang bertemakan Iman Keluarga: Fondasi Masyarakat yang terus berubah” dan Sub Tema: “Melalui Sarana Digital, Gereja Mengembangkan Pembinaan Iman Keluarga dalam Masyarakat Mejemuk”. Setiap komkat keuskupan memiliki situasi dan kondisi yang berbeda maka selain menindaklanjuti seruan PKKI XI, mereka juga mengembangkan progran kerja unggulan masing-masing keuskupan. Regio Jawa misalnya mengembangkan katekese kebangsaan, (selain katekese unggulan setiap keuskupan). Regio Sumatera mengembangkan katekese dan pastoral keluarga sesuai konteks kebutuhan keuskupan masing-masing, demikian pula regio Nusa Tenggara yang menekankan pembinaan keluarga sesuai permasalahan di masing-masing keluarga. Regio Makassar-Amboina-Manado juga memberikan perhatian pada katekese keluarga. Selain katekese keluarga, juga katekese untuk kaum muda, terutama menyongsong Indonesian Youth Day dan Asian Youth Day. Regio Kalimantan belum ada laporan secara khusus tentang karya katekese pasca PKKI XI, namun secara umum katekese keluarga menjadi perhatian Komkat Keuskupan. Di Keuskupan Sintang misalnya, pengajaran iman katolik sangatlah mendesak maka uskup mendorong para imam untuk berkatekese atau mengajarkan dasar – dasar iman katolik kepada umatnya. Regio Papua pun memiliki tantangan pastoral tersendiri terutama di daerah-daerah terpencil sementara SDM (Katekis-imam) sangat terbatas. Katekese keluarga di Papua dilaksanakan antara lain untuk persiapan perkawinan dimana masalah adat sangat kuat mempengaruhinya.

Silabus Kurikulum PAK di PTU

Pada tahun 2017, Komkat KWI bekerja sama dengan Ditjen Bimas Katolik telah menyusun silabus untuk kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia-Standar Nasional Pendidikan Tinggi (KKNI-SNPT). Pada dasarnya peserta rapat menerima silabus ini dengan beberapa catatan seperti rumusan pada Kompetensi Dasar yang lebih banyak menekankan pada pengetahuan/kognitif. Ada kesan bahwa silabus ini berisi ajaran moral katolik dan pengajaran Pendidikan Agama Katolik. Diusulkan untuk para dosen agar menggunakan pendekatan saintifik dan pendekatan lainnya dalam perkulaiahan yang memungkinkan mahasiswa belajar aktif.

Tema-Tema Untuk Sakramen Krisma

Pada sesi ini ditampilkan presentasi dari tim domus cordis, Komunitas Kategorial Gugus Orang Muda dalam PEMIKAT Keuskupan Agung Jakarta. Misi dari komunitas ini adalah menginsiprasi orang muda untuk mengubah Dunia dalam Kristus. Motto karya mereka adalah bersama bersinergi dengan Gereja bergerak dalam karya pewartaan remaja dan orang muda, karya amal kasih, karya pendampingan remaja dan penggerak remaja. Mengapa Materi Sakramen Penguatan? Karena adanya “gap” antara kesiapan materi katekese yang disiapkan team katekis, dengan apa yang dibutuhkan calon penerima Krisma serta dibutuhkan model katekese yang lebih kontekstual dan relevan bagi remaja masa kini;

Setelah mendengar presentasi komunitas Domus Cordi, peserta rapat pleno Komkat KWI memberikan beberapa respon bahwa kita perlu mendukung karya kreatif anak muda dari tim domus cordis untuk membantu karya pewartaan Gereja. Berdasarkan film animasi pendek yang ditampilkan, diberikan catatan tentang konten yang disampaikan harus cermat dan tepat,terutama ketika menggunakan analogi seperti air. Konten pewartaan dalam buku atau modul/film harus diteliti/diperiksa/dikoreksi oleh otoritas Gereja untuk mendapatkan imprimatur dan nihil obstat.

Rekomendasi

Para peserta Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI memberikan beberapa rekomendasi untuk ditindak kanjuti baik oleh Komkat KWI maupun Komkat Keuskupan se- Indonesia. Bahwa setiap Komkat keuskupan mengupayakan adanya hari katekis. Komkat KWI diminta untuk menjalin kerja sama dengan Komkat kawasan regional, mulai dengan tingkat Asia Tenggara untuk saling berbagi pengalaman tentang karya katekese di kawasan ini.

Penutup

Pada akhir pertemuan dikemukakan beberapa usulan untuk tindak lanjut ke depan bahwa pada pertemuan pengurus lengkap di waktu-waktu mendatang perlu adanya penyegaran bagi para pengurus Komkat KWI dari seorang ahli tertentu. Karena itu rapat pengurus lengkap ditambah satu hari lagi untuk hari studi bersama.
Pernas Katekis dilaksanakan lima tahun sekali, dan PKKI empat tahun sekali. Kedua pertemuan besar tersebut jatuhnya pada tahun 2020. Karena itu rapat memutuskan bahwa Pernas Katekis keempat akan dilaksanakan pada tahun 2019 dengan tema “Perutusan Katekis di Tengah Arus Zaman”.

Sebagai kata penutup, Ketua Komkat KWI Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menegaskan bahwa refleksi kita (para pengurus Komkat KWI) selama tiga hari ini kiranya menjadi animasi bagi kita di keuskupan masing-masing. Semoga pada pertemuan mendatang kita bisa mendapatkan laporan tentang kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai dalam karya katekese dan pastoral kita. Ketua Komkat juga mengharapkan adanya kerja sama yang baik antara APTAKSI (Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia) dan PERDIKATI (Perkumpulan Pendidikan Keagamaan Katolik Indonesia). Kita perlu menciptakan sejarah untuk kedua lembaga ini dalam karya mengembangkan karya katekese bagi Gereja Katolik Indonesia. (Daniel B.Kotan)