Pesan Prapaskah 2018, Paus Fransiskus Singgung Nabi-Nabi Palsu

Paus Fransiskus meminta umat Katolik agar selama Masa Prapaskah untuk berhati-hati terhadap “penjinak ular,” “tukang obat,” “penipu” yang menawarkan “solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan.”

Pesan Prapaskah tersebut dirilis di Vatikan pada Selasa (6/2). Meskipun demikian, pesan ini bertanggal 1 November 2017 atau Hari Raya Semua Orang Kudus.
Bagi umat Katolik ritus Latin, Masa Prapaskah akan dimulai Rabu (14/2).

Dengan judul “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12), pesan Prapaskah Paus Fransiskus menyinggung kotbah Yesus kepada para rasul di Bukit Zaitun dan mengingatkan tentang nabi-nabi palsu serta tipuan, keegoisan, keserakahan dan tidak adanya kasih.
Nabi palsu “bisa muncul sebagai ‘penjinak ular’ yang memanipulasi emosi orang untuk memperbudak orang lain dan membawa mereka ke mana pun mereka pergi,” kata Paus.

“Nabi palsu juga bisa menjadi ‘tukang obat’ yang menawarkan solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan yang tidak lama kemudian hilang manfaatnya,” lanjutnya.

“Para penipu ini – dalam menjajakan segala sesuatu yang sesungguhnya tidak bermilai – merampok semua harta manusia: martabat, kebebasan dan kemampuan untuk mengasihi,” katanya.

Paus Fransiskus juga meminta umat Katolik untuk melihat “apakah kita menjadi mangsa dari kebohongan para nabi palsu ini.”
Ia mengimbau agar umat Katolik melakukan refleksi batin “secara mendalam” dan “bertanya pada diri kita sendiri bagaimana kasih berubah menjadi dingin di dalam diri kita. Apa tanda-tanda yang mengindikasikan kasih kita mulai menjadi dingin?”

Menurut Paus Fransiskus, tanda yang paling nampak dari tidak adanya kasih adalah “keegoisan dan kemalasan spiritual, pesimisme, godaan atas kenikmatan diri sendiri, permusuhan konstan di antara kita, dan mentalitas duniawi yang membuat kita hanya peduli pada apa yang nampak dan akhirnya mengurangi semangat misionaris kita.”
Dari segala sesuatu, katanya, hal yang menghancurkan kasih adalah keserakahan atas uang, “akar dari semua kejahatan” dan sebuah penolakan akan Allah dan akhirnya akan kedamaian.

Hal ini, lanjutnya, “menuntun pada kekerasan terhadap orang lain yang kita anggap sebagai ancaman terhadap ‘pengakuan’ kita atas janin, orang lanjut usia dan orang lemah, pekerja migran, orang asing di antara kita, atau tetangga kita yang tidak memenuhi ekspektasi kita.”
Dalam pesan Prapaskah, Paus Fransiskus juga mengajak “orang-orang di luar Gereja Katolik” dan semua orang yang memiliki itikad baik yang terbuka untuk mendengar suara Allah.

“Mungkin, seperti kita sendiri, kalian terganggu dengan meluasnya kedurhakaan di dunia, kalian prihatin atas hawa dingin yang melumpuhkan hati dan aksi, dan kalian melihat suatu pelemahan dalam diri kita untuk menjadi anggota satu keluarga manusia. Untuk itu, marilah kita bersatu dalam permohonan kita kepada Allah, dalam puasa, dan dalam persembahan apa saja yang kalian bisa persembahkan untuk Saudara-Saudari kita yang membutuhkan!” kata Paus Fransiskus.
*********

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2018/02/08/pesan-prapaskah-paus-fransiskus-... quaresima2018.htmlhttp://w2.vatican.va/content/francesco/en/messages/lent/documents/papa-f...