Peran Katekese Umat dan Peran Pelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah (bag.1 dari 2 tulisan))

PENDAHULUAN

Sebuah kendaraan truck yang diberi muatan terlalu banyak, akan sangat lamban perjalanannya, bahkan bisa mengalami bencana. Mobil itu bisa tergelincir keluar dari jalur perjalanannya kalau jalannya sangat licin, atau bahkan bergerak mundur kalau jalannya menanjak tajam.

Dalam kehidupan bergereja dan karya pastoral, kita memiliki rupa-rupa corak perwataan yang dapat membuat Gereja kita bergerak maju dengan cepat. Kita memiliki rupa-rupa corak pewartaaan seperti: katekese, kotbah, homili, pendalaman dan sharing Kitab Suci, sampai kepada berteologi dan sebagainya.

Dalam berkatekese saja, kita memiliki rupa-rupa pola, antara lain pola katekese pelajaran iman atau pelajaran agama, yang umumnya dijalankan di sekolah-sekolah atau diparoki-paroki, misalnya dalam rangka persiapan penerimaan sakramen-sakramen. Sementara itu kita memiliki pula pola katekese sebagai komunikasi iman, yang di kembangkan sejak PKKI pertama (1977) di Sandanglaya.

Kedua pola Katekese itu memiliki kekhasan dan peran serta kekuatannya masing-masing. Jangan diminta dan dituntut sesuatu yang bukan merupakan perannya, sebab hal itu dapat melemahkan kekhasan dan kekuatannya. Ia diberi beban berlebihan yang bukan khas muatannya, sehingga ia tak dapat bergerak maju, bahkan bergerak mundur.

Katekese-Umat sebagai komunikasi-iman mempunyai kekhasan peran dan kekuatannya sendiri. Demikian juga dengan Pelajaran Agama, jangan diminta dan dituntut terlalu banyak dari padanya.

Dalam “Pesan Pastoral Sidang KWI 2011 tentang Katekese “pada butir 4.2. berbunyi:

“Isi Katekese seringkali dirasakan kurang memadai. Di satu pihak, katekese yang memberi tekanan pada tanggapan iman atas hidup sehari-hari seringkali kurang memberi tempat pada aspek doktrinal, sehingga umat sering kali canggung dan takut ketika berhadapan dengan orang-orang yang mempertanyakan iman mereka. Di lain pihak, ketika katekese lebih memberi perhatian pada unsur-unsur doktriner, katekese dirasakan menjadi terlalu sulit bagi umat dan kurang bersentuhan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Katekese yang kurang menyentuh hati dan memenuhi harapan ini rupanya merupakan salah satu alasan yang mendorong sejumlah orang katolik, khususnya anak-anak dan orang muda yang pindah dan lebih tertarik kepada cara doa dan pembinaan Gereja-Gereja lain yang dirasakan lebih menarik. Kenyataan ini menantang kita untuk lebih bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang bermutu dan menanggapi harapan”.

Pesan pastoral itu menunjukkan keprihatinan para Wali Gereja tentang kurangnya pengetahuan tentang doktrin ajaran iman dan tanggapan iman atas hidup sehari-hari dari umat kita. Keluhan itu sangat berdasar dan sangat benar. Namun untuk mengatasi persoalan itu, janganlah kita membebani persoalan itu hanya kepada satu pola katekese saja atau membebani kedua-duanya, yang bukan menjadi perannya. Hal itu bisa membuat kedua-duanya tidak dapat mencapai tujuannya.

Kita tahu bahwa dengan berkatekese, kita mau supaya umat (anggota Gereja) semakin beriman. Iman itu paling kurang memiliki tiga dimensi, yaitu: pengetahuan tentang ajaran imannya (dimensi teologis), perwujudan imannya dalam hidup sehari-hari (dimensi moral) dan ungkapan imannya dalam ibadah (dimensi liturgis). Jadi kita berharap bahwa dengan katekese kita dapat membantu umat untuk lebih mengenal ajaran imannya, lalu dapat mewujudkan imannya dalam konteks hidup sehari-hari dan dipuncaki dengan ungkapan imannya dalam doa dan ibadah.

Tiap-tiap dimensi iman itu dapat dibantu perwujudan dan perkembangannya oleh pola-pola katekese tertentu sesuai perannya, walaupun tidak dapat terlalu dipilah-pilah dan di kotak-kotakan, sebab semuanya saling terkait dan menyatu satu sama lain.

Kita tahu dengan katekese berpola pengajaran, yang terutama mau dicapai ialah pengetahuan iman. Memang pengetahuan iman tidak serta merta membuat seseorang untuk beriman, tetapi kalau ia beriman ia dapat mempertanggungjawabkan imannya itu.

Dengan katekese berpola komunikasi iman, yang terutama mau dicapai ialah supaya umat terbantu untuk memberikan tanggapan iman atas hidupnya sehari-hari. Tanggapan iman atas hidup sehari-hari dapat diperkaya dan diperteguh dalam suatu komunitas kalau mereka saling mengisahkan pengalaman imannya.

Jadi yang mau dicapai dengan katekese berpola pengajaran ialah supaya umat memahami ajaran imannya dan mempertanggung jawabkannya, sedangkan dengan katekese berpola komunikasi iman, yang terutama mau dicapai ialah supaya umat semakin mampu memberikan tanggapan

imannya atas peristiwa hidupnya sehari-hari. Dalam proses komunikasi iman itu dapat saja orang akan memperoleh pemahaman dan pengetahuan tentang ajaran imannya, tetapi bukan itu tujuan utamanya.

Untuk pembahasan berikut ini kita akan mengfokuskannya pada katekese dengan pola komunikasi iman atau Katekese-Umat itu (KU), sebab pola ini dianggap baru dan khas Gereja lokal Indonesia. Pelajaran-Agama adalah pola yang sudah lama dikenal dan dipraktekkan dalam Gereja. Menyangkut katekese dengan pola pengajaran ini kiranya sudah dibicarakan dalam banyak dokumen resmi Gereja.

Jadi kita fokuskan pada Katekese Umat saja. Pembahasan ini mungkin berguna supaya kita tidak memberi beban muatan yang terlalu besar kepada Katekese-Umat, yang mungkin bukan perannya. Keluhan kita tentang kurangnya pengetahuan ajaran iman pada umat, jangan kita bebankan pada Katekese Umat, sebab itu merupakan peran dari katekese-pengajaran atau Pelajaran Agama.

Kesan saya, kalau ada kegagalan KU disejumlah tempat, hal itu disebabkan a.l karena yang terjadi dalam proses yang dianggap KU itu, sebenarnya terjadi proses pengalihan pengetahuan doktrin/ ajaran iman satu arah dan bukan proses komunikasi iman. Dan karena yang dikomunikasikan adalah doktrin, maka orang yang diharapkan menjadi fasilitator berubah peran menjadi pengajar dan umat yang diharapkan menjadi partisipan KU menjadi yang diajarkan atau pendengar.

A.Sekilas Riwayat Awal Katekese Umat, Arti dan Maknanya

1.Riwayat awal
Tahun 1977 terjadi riwayat awal Katekese Umat itu. Waktu itu terjadi Pertemuan Panitia Kateketik (Pankat) antar Keuskupan se Indonesia (PKKI yang pertama) di Sindanglaya, Jawa Barat. “Berdua-dua” utusan dari hampir semua Keuskupan (30 dari 33 Keuskupan) se Indonesia berdatangan ke Wisma Samadhi Syalom, Sindanglaya.
Hari-hari pertama pertemuan itu diisi dengan acara tukar menukar pengalaman di bidang katekese, dibawakan oleh utusan dari tiap-tiap keuskupan. Mendengar ceritera-ceritera itu ada beberapaa kesan yang kuat sekali segera terasa, antara lain:

a.Betapa beraneka ragamnya corak kegiatan katekese di Tanah Air kita yang luas ini. Memang utusan-utusan itu datang dari latar belakang budaya sampai kepada lingkungan alam yang berbeda. Tetapi ada dua aksen yang selalu terasa sama dari ceritera dan laporan-laporan itu yaitu:

-Peranan yang menonjol dari hierarki dan petugas-petugas pastoral lainnya dalam menangani masalah katekese. Hampir tidak terdengar peranan umat, selain bahwa mereka dijadikan obyek katekese. Memang terdengar juga adanya peranan umat, tetapi itu terjadi pada umat yang sangat berkekurangan imam dan tenaga-tenaga pastoral lainnya, seperti di pendalaman Kalimantan dan Irian Jaya.
-“Katekese sekolah” mendapat porsi yang lumayan besar sehingga bentuk-bentuk katekese lain disebut saja “ katekese luar sekolah”. Memang katekese sekolah menjadi titik sorotan yang utama.

b. Dari laporan-laporan di atas sangat jelas tergambar wajah Gereja-Gereja lokal yang masih sangat institutional dan hierarkis. Tetapi sejak PKKI pertama itu Gereja lokal Kalimantan dan Irian Jaya sudah mulai memberi wajah yang agak lain, yaitu Gereja yang sejak awal bertumbuh sebagai Gereja Umat Allah. Dan itu bisa dirasakan dari laporan, pergaulan, sampai kepada corak perayaan liturgi yang mereka bawakan selama PKKI. Sejak itu selalu menggelitik pertanyaan dalam hati sementara peserta PKKI, apakah ini disebabkan karena Kalimantan dan Irian Jaya kekurangan imam-imam?”

Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya, para peserta PKKI mulai menyadari bahwa katekese yang selalu berpola hierarkis hendaknya mulai direlativir.

Sesudah dirangsang oleh sekretaris Komkat KWI saat itu, yaitu Rm. Setyakarjana, dengan ceramahnya berjudul “Mencari arah katekese dalam Gereja yang berkembang di Indonesia”, para peserta PKKI mulai yakin bahwa suatu arah dan pola baru dalam katekese harus dicari. Masukan dari Rm. Hardawiryana dengan ceramahnya yang berjudul “Katekese dan Teologi”, yang disusul dengan diskusi-diskusi yang hangat, akhirnya mulai muncul suatu gagasan tentang suatu bentuk katekese yang melibatkan seluruh umat, “katekese oleh umat, dari umat, dan untuk umat”. Katekese yang mengumat. Bagaimana itu bisa terjadi ?? Dengan berkomunikasi iman! Dan bukankah itu sebenarnya hakekat dari suatu Gereja.

Sejak saat itulah mulai didengungkan suatu “katekese dari umat, oleh umat dan untuk umat” dalam bentuk komunikasi iman, yang melibatkan seluruh umat. Bagaimanapun juga katekese umat harus menjadi arah dan pola dari katekese kita di Indonesia ini. Bentuk-bentuk katekese lainnya, termasuk katekese sekolah, katekese katekumenat, harus dilihat dalam kesatuan dengan Katekese Umat ini.

Akhirnya perlu dikatakan bahwa pertemuan selama seminggu antara Panitia-Panitia Kateketik Keuskupan se Indonesia ini merupakan juga suatu komunikasi pengalaman iman peserta yang menggairahkan, di mana pertemuan demi pertemuan dirasakan sangat akrab dan komunikatif, sehingga semua peserta merasa diperkaya oleh pengalaman iman dari sesama saudara yang datang dari seluruh pelosok Tanah Air. Sangat dirasakan bahwa “Pertemuan Panitia Kateketik antar Keuskupan se Indonesia yang pertama” ini merupakan peristiwa nasional Gerejani, merupakan tanda zaman di mana Tuhan sendirilah yang berbicara di balik persitiwa yang berlangusng dengan santai dan kaya ini.

2.Merumuskan arti dan makna Katekese Umat

Katekese Umat memang sudah dicanangkan dalam PKKI pertama itu. Belum terlalu jelas, tetapi mulai “dicoba sana-sini”. Banyak ide dan praktek dialamatkan saja pada Katekese Umat. Tidak heran kalau terjadi kesimpangsiuran mengenai Katekese Umat itu. Oleh sebab itu sekretaris Komisi Kateketik yang baru, rama Thom Huber SJ atas restu MAWI dan Komisi Kateketik saat itu mengundang lagi utusan-utusan dari Pankat Keuskupan se Indonesia untuk mengadakan PKKI II. Kali ini terjadi di Klender pada tahun 1980. Tiga tahun sesudah PKKI I !! Muncul lagi wajah-wajah lama, tetapi juga wajah-wajah baru. Bukan berdua-dua tetapi bertiga-tiga.

a.Pengalaman Berkatekese Umat di Lapangan
Sama seperti pada PKKI I pertemuan ini diawali dengan tukar menukar pengalaman antar Pankat Keuskupan se Indonesia. Seperti telah diduga, dari ceritera dan laporan-laporan Pankat keuskupan se Indonesia itu, muncul beberapa kesan yang kuat, antara lain:

•Katekese Umat mulai dijalankan, tetapi mengalami banyak kesulitan, antara lain karena kekaburan Katekese Umat itu sendiri, selain kesulitan-kesulitan lainnya yang tidak lagi baru, seperti: kekurangan tenaga, dana, sarana, organisasi, dsbnya.
•Wajah Gereja lokal tentu saja belum berubah dengan gerakan KU yang belum mantap dan merata dalam tenggang waktu yang singkat itu, tetapi geliat mulai terjadi dalam tubuh Gereja. Terasa Katekese Umat mulai “sedikit merubah wajah” Gereja institusional.

b.Merumuskan Arti dan Makna Katekese Umat (KU)
Hari-hari berikutnya para peserta didampingi oleh Rm. Hardawiryana mulai bergulat untuk memantapkan Katekese Umat itu. Pada akhir PKKI ini akhirnya suatu rumusan mengenai Katekese Umat itu dapat disepakati, di sini disajikan selengkapnya:

•KATEKESE UMAT diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara makin sempurna. Dalam Katekese Umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan ada perencanaan.

•Dalam Katekese Umat itu kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya.

•Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman, yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula pola kehidupan kelompok. Jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada Katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri.

•Dalam katekese yang menjemaat ini pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang siap menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese Umat menerima banyak jalur komunikasi dalam berkatekese. Tugas mengajar yang dipercayakan kepada hierarki menjamin agar seluruh kekayaan iman berkembang dengan lurus.

•Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses terencana ini berjalan terus menerus.

•Tujuan komunikasi iman itu ialah:
supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari;
dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari;
dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita;
pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta;
sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.

Nah, melihat sepintas riwayat awal, arti dan makna dari KU diatas, kiranya menjadi jelas bahwa lahirnya KU adalah merupakan tuntutan zaman post Konsilier, sesuai dengan Gereja yang mulai bergerak dari Gereja Institusional kearah Gereja Umat Allah, dimana semua umat Allah diharapkan berperan aktif dalam kehidupan bergereja. Selanjutnya musti dikatakan bahwa KU yang sangat menekankan partisipasi aktif semua peserta dalam berkomunikasi iman sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang biasa berkisah dan bermusyawarah untuk menemukan mufakat, apalagi dalam konteks hidup bangsa yang semakin demokratis saat ini.

Katekese Umat adalah suatu cara hidup Gereja yang baru, bukan sekedar suatu metode baru dalam berkatekese. Namun harus dikatakan bahwa Katekese-Umat tidak menggantikan pola-pola katekese yang lain seperti pola katekese pengajaran (pelajaran-agama) di sekolah-sekolah atau pola katekese katekument, katekese persiapan penerimaan sakramen-sakramen dan sebagainya, dimana peserta harus dibekali pengetahuan yang memadai tentang ajaran imannya dan mampu mempertanggung-jawabkannya.

(bersambung ke bagian 2)

************
Catatan Redaksi:
Tulisan ini disampaikan oleh Rm. Yosef Lalu, Pr (alm), mantan Sekretaris Komkat KWI, pada tahun 2012 kepada redaksi Praedicamus dimana saat itu sedang persiapan penyusunan Kurikulum 2013.