Katekese Paus Fransiskus: “Kedatangan Yesus Membawa Penghiburan kepada Dunia yang Haus”

Paus Fransiskus melanjutkan katekesenya pada tema “harapan Kristiani” saat audiensi umum hari rabu, mengatakan bahwa Kerajaan yang dibawa oleh Yesus pada kelahiran-Nya memanggil kita untuk bersukacita di dunia yang “merindu keadilan, kebenaran dan kedamaian”.

Paus Fransiskus memfokuskan refleksinya pada kata-kata dari Nabi Yesaya: “betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit, kaki orang yang mewartakan kabar baik” (Yesaya 52:7,9-10).
Paus Fransiskus menyampaikan kata-kata ini untuk membantu kita menyiapkan kedatangan perayaan natal dengan membuka diri kita pada harapan keselamatan.

Nabi Yesaya mengajak umat Allah untuk bersukacita, karena Allah sudah dekat, membawa pembebasan dari pembuangan dan janji pembaruan dan penebusan bagi orang beriman yang masih “tersisa” yang terus berharap pada sabda-Nya.

Paus Fransiskus menegaskan bagaimana Nabi berbicara “bukan pembawa pesan tetapi kaki dari pembawa pesan.”

Membandingkan hal ini dengan paralelya dalam Kidung Agung (Kidung Agung 2:8), “jadi pembawa pesan perdamaian juga berlomba untuk mewartakan pembebasan, akan keselamatan, dan menyatakan pemerintahan Allah.”

Prof. Dr. Paulus Suparno, SJ, M.S.T; Sumbangan Ilmu Psikologi dan Pendidikan Pada Ilmu Kateketik

A.Pendahuluan
Anak zaman ini sering disebut anak generasi Z. Mereka mempunyai gaya, sifat, dan cara hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka dicirikan sebagai dapat berpikir dan menanggapi banyak persoalan di saat yang sama (multitasking), selalu berpikir cepat, berpikir tidak linear, tidak mendalam, dan tergantung pada gadget. Relasi antar mereka lebih banyak melalui dunia maya bukan dengan dunia nyata. Perubahan ini jelas menyebabkan ilmu psikologis dan juga pendidikan mengalami perubahan. Ilmu Kateketik, yang mempelajari persoalan katekese-pendidikan iman, pada anak zaman ini jelas harus memperhatikan perubahan ini. Maka ilmu kateketik perlu mengerti perkembangan psikologi dan pendagogi yang sesuai dengan anak zaman ini, agar Warta Yesus dapat disampaikan tepat pada siswa/peserta yang hidup di zaman baru ini.

Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2016: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud.” (Lukas 2:11)

Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).

Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Katekese Paus Fransiskus: Mendengarkan dan Saling Menyambut Kehadiran Satu Sama yang Lain

Paus Fransiskus sebelum membacakan doa Maria (saat doa angelus) pada hari Minggu (17/7/16) di Basilika St. Petrus, kota Vatikan mengajak para peziarah dan pengunjung yang hadir untuk menghayati pentingnya sikap saling mendengar dan saling menyambut satu sama lain. Bapa Suci, demikian siaran radio Vatikan, berbicara tentang pentingnya keramahtamahan. Paus menyebut keramahtamahan sebagai kebajikan Kristen sejati namun kadang-kadang dunia mengabaikannya.

Katekese Paus Fransiskus: "Siapakah Yesus Bagi Diri Kita Sendiri?"

Paus Fransiskus mengawali audiensi umumnya dengan pertanyaan refleksif, "Siapakah Yesus bagi diri kita sendiri?" Berbicara kepada ribuan peziarah dan pengunjung yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus saat Angelus (minggu 19/6/16), Paus merefleksikan bacaan dari Injil Lukas, dimana Yesus bertanya kepada para murid, "menurut kata orang banyak, siapakah aku ini?" Para murid menjawab "Yohanes Pembaptis", atau "Elia" atau "salah satu nabi kuno".

Paus mengatakan bahwa orang-orang menghormati Yesus sebagai nabi besar tapi mereka belum menyadari jati diri Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang diutus oleh Bapa untuk keselamatan semua.

Yesus kemudian bertanya kepada murid-murid-Nya , "Tapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Dan Petrus segera menjawab, "Mesias dari Allah". Dengan cara ini, Paus Fransiskus mengatakan, Yesus menyadari bahwa kedua belas rasul, dan Petrus khususnya, telah menerima karunia iman dari Allah, yang memungkinkan dia untuk mulai berbicara secara terbuka tentang penderitaan-Nya, kematian dan kebangkitan yang akan berlangsung di Yerusalem.

Katekese Paus Fransiskus: Bercerminlah Diri Sebelum Menghakimi Orang Lain

Sebelum menghakimi orang lain, sebaiknya kita bercermin diri terlebih dahulu, bagiamana diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paus Franiskus pada Misa Senin pagi (20/6/16) di Wisma Santa Marta di Vatikan. Paus Fransiskus mengatakan bahwa penghakiman itu milik Allah sendiri, jadi jika kita tidak ingin dihakimi, maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Merefeleksi bacaan Injil pada misa hari ini (senin-red). Paus mengatakan kita semua ingin atau berharap bahwa pada akhir jaman, Tuhan akan melihat kebaikan kita dan melupakan keburukan-keburukan yang telah kita lakukan dalam hidup.

Katekese Paus Fransiskus: Doa 'Bapa Kami' Adalah Landasan Dari Kehidupan Doa Kita (Umat Kristiani)

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa doa 'Bapa Kami' adalah landasan dari kehidupan doa kita (umat kristiani-red). Jika kita tidak mampu untuk memulai doa kita dengan kata ini (Bapa), maka "doa kita akan ke mana-mana." Demikian inti sari dari katekese Paus Fransiskus pada misa hari Kamis pagi (16/06/16) di kapel kediamannya Santa Marta, Vatican City yang disiarkan oleh Radio Vatican.

Katekese Paus Fransiskus untuk Orang Sakit dan Cacat pada perayaan tahun Jubelium

Pada perayaan jubelium untuk para orang sakit dan cacat di Lapangan Santo Petrus , Paus Fransisikus menyerukan solidaritas dan saling menerima dalam sebuah dunia di mana penampilan yang sempurna telah menjadi obsesi dan menjadi sumur "bisnis besar". Demikian laporan Radio Vatikan hari minggu (12/6/16).

"....Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2: 19-20). Dengan mengutip kata-kata rasul Paulus itu, Paus Fransiskus, menjelaskan bahwa Rasul Paulus mengungkapkan misteri kehidupan Kristen, yang dapat diringkas dalam dinamika Paskah kematian dan kebangkitan yang diterima pada saat baptisan. Melalui perendaman dalam air, masing-masing dari kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya (lih Rom 6: 3-4), dan bangun ulang, menunjukkan hidup baru dalam Roh Kudus. Kelahiran kembali ini mencakup setiap aspek kehidupan kita: bahkan sakit, penderitaan dan kematian yang diambil di dalam Kristus dan di dalam Dia kita menemukan makna utama dari itu semua.

Untuk mengetahui lebih lengkap pengajaran Paus Fransiskus, silahkan membaca artikel dari pemberitaan radio Vatikan berikut ini. (Daniel B. Kotan)

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS