Katekese Paus Fransiskus: Air Mata dari Rasa Sakit Seorang Ibu Menjadi Benih Kehidupan dan Harapan

Pada Rabu (04/01/2017) Paus Fransiskus melanjutkan refleksinya tentang harapan Kristiani, membicarakan tentang luka yang tidak dapat dihibur dari orangtua yang kehilangan anak. Paus Fransiskus fokus pada figur Rahel, Istri Yakub, dalam Perjanjian Lama yang dijelaskan oleh Nabi Yeremia sebagai tangisan pahit pedih untuk anaknya di pengasingan.

Dalam Kitab Kejadian, kita belajar bahwa Rahel meninggal saat melahirkan, memberikan hidup kepada anak keduanya, Benyamin. Tetapi Nabi Yeremia berbicara tentang kesedihannya yang tidak terhiburkan saat kehilangan anaknya yang dikirim ke pembuangan.

Tidak ada kata-kata atau tindakan, yang dapat menghibur seorang Ibu yang berhadapan dengan tragedi kehilangan anak.

Ada banyak ibu hari ini, yang menangis dan tidak bisa dihibur, tidak mampu menerima kematian sia-sia seorang anak. Luka Rahel, merangkum penderitaan semua ibu dan air mata semua orang yang menangis karena sebuah kehilangan yang tidak dapat tergantikan.

Paus Fransikus: Doa Angelus di Hari Kemartiran St. Stefanus

Paus Fransiskus pada hari senin (26/12/2016) memanggil orang Kristiani untuk “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan kebencian dengan cinta.” Dalam sebuah tweet pada pesta Santo Stefanus, Martir pertama Gereja, Paus mengatakan, “mari kita mengingat para martis hari ini dan di masa lalu.” Ini adalah tema yang diambil oleh Paus Fransiskus dalam doa angelus-nya kepada ribuan peziarah yang berkumpul di alun-alun St. Peter, sehari setelah natal.

Saudara- saudari yang terkasih, selamat pagi!

Sukacita Natal memenuhi hati kita hari ini, sebagaimana liturgi merayakan kemartiran Santo Stefanus, martir pertama, yang mengundang kita untuk menerima kesaksian yang telah dia berikan melalaui pengorbanannya. Kesaksian Santo Stefanus dengan pengorbanannya menjadi kemuliaan, tepatnya kemuliaan dari kemartiran kristiani, yang menderita karena cinta pada Kristus; kemartiran yang berlanjut sampai saat ini dalam sejarah Gereja, sejak Stefanus sampai saat ini.

Paus Fransiskus: Seperti Abraham, Orang Kristiani harus “Berharap Melawan Harapan”

Paus Fransiskus kembali berbicara tentang “Harapan Kristiani” dalam katekese audiensi general mingguan. Pada hari rabu (28/12/2016), Paus Fransiskus menfokuskan perhatiannya pada sosok Abram, yang menjadi Abraham, “bapak dalam iman dan dalam harapan” kita.

Santo Paulus sendiri meneladani Abram “untuk menunjukan jalan iman dan harap.” Kepercayaan Abram pada janji Allah untuk memberinya anak adalah sungguh sebuah harapan “melawan semua harapan” lain, usianya, dan kemandulan Sara, istrinya. Tetapi Abraham percaya, dan imannya memberi jalan pada sebuah harapan, sebuah harapan yang bagi banyak hal adalah tidak berasalan. Harapan Abram “membuka sebuah horizon baru, membuat dia mampu bermimpi tentang apa yang tidak dapat dibayangkan.” Paus Fransiskus mengatakan bahwa harapan mengizinkan kita “untuk masuk ke dalam kegelapan akan ketidakpastian masa depan menuju terang.”

Katekese Paus Fransiskus: “Buka Hatimu pada Kabar Sukacita Natal”

Paus Fransiskus pada hari rabu (21/12/2016) mengajak umat beriman untuk membuka hati terhadap kabar sukacita dari kelahiran Sang Juru Selamat.

Paus Fransiskus mengalamatkan hal ini kepada para peziarah yang berkumpul di Aula Paul VI, Vatikan, dalam audiensi umum minggu ini.

Katekese Paus Fransiskus tentang Harapan Kristiani mengambil fokus tentang hari-hari terakhir adven dan tentang bagaimana persiapan kita untuk menerima pesan yang terwujud dalam kelahiran Kristus.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa sebuah katekese yang merefleksikan tentang kenyataan harapan kristiani lebih tepat dibicarakan selama masa adven ini. Paus Fransiskus mengulangi sabda dari Nabi Yesaya, “Allah sendiri yang akan memberikanmu sebuah tanda: seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan, dan haruslah engkau menamainya Emmanuel” dan juga “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa pemahaman Natal dapat ditemukan dalam kedua ayat tersebut: “Allah memenuhi janji-Nya dengan menjadi manusia, (...) dan Dia memberikan kepada umat-Nya sebuah harapan baru akan hidup: kehidupan abadi”.

Natal: Kesetiakawanan Allah

Renungan Hari Raya Natal

Bacaan:
Yesaya 52:7-10
Ibrani 1:1-18
Yohanes 1:1-18

Pada suatu pesta Natal, umat di suatu paroki gempar, soalnya di palungan Natal mereka melihat seorang bayi sungguhan yang rupanya baru dilahirkan. Bayi itu tidak terawat, keadaannya sangat menyedihkan. Rupanya ada seorang Ibu yang tidak bertanggung jawab, telah meletakkan bayinya di palungan Natal itu.

Umat Paroki itu merasa bahwa ini merupakan suatu skandal. Mereka mengambil bayi itu dan mengirimkannya ke suatu oanti asuhan. Sebagai gantinya, mereka meletakkan sebuah boneka putih berambut pirang di palungan itu! Maka pesta Natal berlangsung secara meriah seperti biasanya....

Sayang, umat paroki itu merasa lebih tepat merayakan pesta Natal dengan sebuah boneka putih berambut pirang daripada seorang anak manusia yang terlahir papa seperti juru Selamat sendiri, ketika Ia dilahirkan sebagai manusia 2000 tahun yang lalu.

Tags: 

Damai Sejahtera di Bumi

Renungan Malam Natal

Bacaan:
Yesaya 9:1-6
Titus 2:11-14
Lukas 2:1-14

Diceritakan bahwa waktu sang juru selamata dilahirkan di betlehem, malaikat turun dari surga untuk memberitakan kepada manusia supaya pergi melihat dan menyaksikan peristiwa kelahiran Sang Juru Selamat itu. Berita itu tidak disampaikan kepada manusia yang berkuasa dan kaya raya, tetapi kepada para gembala yang miskin papa di padang efrata.

Selain kepada manusia, malaikat juga memberitahukan kedatangan Juru selamat itu kepada binatang-binatang dan marga satwa. Mereka harus menunjukkan wakil-wakilnya untuk mendampingi Sang juru Selamat pada saat kelahiran-Nya. Malaikat mengumpulkan wakil-wakil binatang itu untuk berunding. Yang pertama-tama mengajukkan diri ialah singa yang digelar raja segala binatang. Dengan pongahnya ia berkata:
“sayalah yang paling pantas untuk mendampingi Sang Juru Selamat. Saya akan menjamin keamanan dan stabilitas pada saat kedatangan-Nya. Siapa yang berani membuat kerusuhan akan saya gebuk! Pendeknya saya jamin, situasi akan terkendali!”

Tags: 

Pesan Paus Fransiskus bagi Orang Muda: “Dengar Kakek-Nenekmu”

Paus Fransiskus pada hari senin kemarin mendorong Orang Muda Katolik untuk memperkuat hubungan mereka dengan kakek dan nenek mereka.

Ditujukan kepada sekelompok muda yang masuk dalam asosiasi awam katolik Italia yang disebut “Azione Cattolica Italiana”, Paus Fransiskus berbicara tentang sukacita yang berasal dari kedatangan Yesus, dan mengatakan bahwa sukacita meningkat dan berlimpat ganda ketika dibagikan.

Paus Fransiskus mengundang orang muda untuk menerima sukacita adven seperti mereka akan menerima sebuah hadiah dan mengemban kesaksian itu di keluarga mereka, di sekolah, di paroki-paroki, dan di semua tempat.

Paus Fransiskus secara khusus mengundang mereka untuk membagikannya dengan kakek-nenek mereka dan orang tua pada umumnya – dan mendorong mereka untuk mendengar orang-orang tua dengan mengatakan bahwa mereka “memiliki kebijaksanaan hidup”.

“Saya akan memberikanmu sebuah tugas: bicaralah pada kakek-nenekmu, (...) tanyailah mereka, karena merela memiliki kenangan akan sejarah, pengalaman akan hidup, dan ini adalah sebuah karunia besar bagimu yang akan membantu kamu dalam perjalanan hidupmu.”

Katekese Paus Fransiskus: “Kedatangan Yesus Membawa Penghiburan kepada Dunia yang Haus”

Paus Fransiskus melanjutkan katekesenya pada tema “harapan Kristiani” saat audiensi umum hari rabu, mengatakan bahwa Kerajaan yang dibawa oleh Yesus pada kelahiran-Nya memanggil kita untuk bersukacita di dunia yang “merindu keadilan, kebenaran dan kedamaian”.

Paus Fransiskus memfokuskan refleksinya pada kata-kata dari Nabi Yesaya: “betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit, kaki orang yang mewartakan kabar baik” (Yesaya 52:7,9-10).
Paus Fransiskus menyampaikan kata-kata ini untuk membantu kita menyiapkan kedatangan perayaan natal dengan membuka diri kita pada harapan keselamatan.

Nabi Yesaya mengajak umat Allah untuk bersukacita, karena Allah sudah dekat, membawa pembebasan dari pembuangan dan janji pembaruan dan penebusan bagi orang beriman yang masih “tersisa” yang terus berharap pada sabda-Nya.

Paus Fransiskus menegaskan bagaimana Nabi berbicara “bukan pembawa pesan tetapi kaki dari pembawa pesan.”

Membandingkan hal ini dengan paralelya dalam Kidung Agung (Kidung Agung 2:8), “jadi pembawa pesan perdamaian juga berlomba untuk mewartakan pembebasan, akan keselamatan, dan menyatakan pemerintahan Allah.”

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS