P.Octavianus Situngkir, OFMCap: Guru Agama Katolik, “Pewarta dan Pendidik”

P.Octavianus Situngkir, OFMCap

Pengantar
Pertanyaan siapa dan apakah ‘Guru Agama Katolik’ itu, rasanya tidak sulit menjawabnya. Tetapi jika yang mengemban gelar ‘guru agama’ itu hening sejenak dan menyimak pertanyaan itu, mungkin akan merasa bahwa dalam pertanyaan itu terkandung suatu gagasan yang menantang dan merangsang. Dia pasti pertama-tama merefleksikan secara serius atas pertanyaan sebelum berusaha menjawab secara jujur dan tulus dari hatinya yang terdalam. Merefleksikan pertanyaan sungguh penting dan menentukan karena ada banyak pendidik kristen yang tidak terhitung jumlahnya seturut bidang keahliannya, tetapi tidak semua pendidik itu ber-atribut guru agama sebagai pengajar resmi iman. Dalam hidup dan misi gereja, guru agama itu punya peranan dan fungsi khusus untuk disikapi.

Guru Agama Pendidik dan Pewarta

Paus Fransiskus Kecam Penggunaan Berita Palsu untuk Politik

Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus mengecam "kejahatan" berita palsu, menyebut wartawan dan pengguna media sosial mesti menghindari dan mengungkap "taktik ular" yang mendorong perpecahan demi kepentingan politik dan ekonomi.

"Berita palsu adalah pertanda sikap intoleran dan hipersensitif, dan hanya berujung pada penyebaran arogansi dan dan kebencian. Itu adalah hasil akhir dari kebohongan," kata Paus, Rabu (24/1).

Pernyataan itu ada pada dokumen yang diterbitkan setelah perdebatan selama beberapa bulan soal seberapa jauh berita palsu memengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat dan pemilihan Presiden Donald Trump.

Dokumen itu berjudul "Kebenaran akan membebaskan Anda - Berita palsu dan jurnalisme untuk kedamaian." Diterbitkan jelang hari komunikasi sosial gereja katolik dunia, ini adalah kali pertamanya Paus menerbitkan dokumen dalam subjek tersebut.

"Menyebarkan berita palsu bisa dilakukan untuk tujuan tertentu, memengaruhi keputusan politik, dan dilakukan untuk kepentingan ekonomi," kata Paus, mengecam "penggunaan media sosial secara manipulatif" dan bentuk komunikasi lainnya.

Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan Ciptaan

Pengantar

"Melindungi dan Mengelola Sumber Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal" menjadi arah dasar gerak Kerasulan PSE KWI yang visioner, profetis dan profitis. Arah dasar ini mendasarkan diri pada spiritualitas inkarnatoris-transformatif yang berpangkal dari misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yoh. 1, 14). Dalam proses inkarnasi itu, Firman Allah menunjukkan solidaritas dengan manusia, dengan "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Fil. 2,7), menunjukkan semangat belarasa kepada mereka yang menderita (Mat. 9, 36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk. 4, 18).

Pesan Prapaskah 2018, Paus Fransiskus Singgung Nabi-Nabi Palsu

Paus Fransiskus meminta umat Katolik agar selama Masa Prapaskah untuk berhati-hati terhadap “penjinak ular,” “tukang obat,” “penipu” yang menawarkan “solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan.”

Pesan Prapaskah tersebut dirilis di Vatikan pada Selasa (6/2). Meskipun demikian, pesan ini bertanggal 1 November 2017 atau Hari Raya Semua Orang Kudus.
Bagi umat Katolik ritus Latin, Masa Prapaskah akan dimulai Rabu (14/2).

Dengan judul “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12), pesan Prapaskah Paus Fransiskus menyinggung kotbah Yesus kepada para rasul di Bukit Zaitun dan mengingatkan tentang nabi-nabi palsu serta tipuan, keegoisan, keserakahan dan tidak adanya kasih.
Nabi palsu “bisa muncul sebagai ‘penjinak ular’ yang memanipulasi emosi orang untuk memperbudak orang lain dan membawa mereka ke mana pun mereka pergi,” kata Paus.

“Nabi palsu juga bisa menjadi ‘tukang obat’ yang menawarkan solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan yang tidak lama kemudian hilang manfaatnya,” lanjutnya.

Info Buku Komisi Kateketik KWI Tahun 2018: Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Buku Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti ini disusun berdasarkan Kurikulum 2013. Sebagaimana kita ketahui bahwa kurikulum 2013 merupakan pengembangan Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang telah dilaksanakan pada tahun 2014, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu. Kurikulum 2013 diberlakukan berdasarkan analisis kebutuhan dunia pendidikan di masa kini maupun masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan global agar memiliki kompetensi SDM yaitu bertakwa kepada Tuhan, berpikir jernih, kritis, mempertimbangkan segi etis dan moral atas suatu tindakan atau permasalahan, menjadi warga negara yang bertanggungjawab, mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, memiliki kemampuan hidup dalam dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, dan sebagainya.

Tujuan pemberlakuan Kurikulum 2013 ditegaskan dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003, yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS