Homili Paus Fransiskus pada Pesta Epifani

Paus Fransiskus memimpin misa pada pesta Epifani yang dirayakan di Basilika St. Petrus pada hari Jumat.

Berikut adalah homili Paus Fransiskus dalam terjemahan bahasa Indonesia.

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:2)

Dengan kata-kata ini, para Majus, datang dari jauh, memberitahukan kepada kita alasan perjalanan panjang mereka: mereka datang untuk menyembah Raja yang baru lahir. Melihat dan menyembah. Dua tindakan ini menonjol dalam bacan Injil hari ini. Kita melihat sebuah bintang dan kita mau menyembah.

Para Majus melihat sebuah bintang yang membawa mereka keluar. Pencarian akan sesuatu yang tidak biasa tentang Kerajaan Surga ini memicu serangkaian peristiwa. Bintang itu tidak hanya bersinar bagi mereka, tidak juga mereka yang memiliki DNA istimewa yang bisa melihatnya. Seperti sudah dikatakan oleh salah satu Bapa Gereja, Para Majus tidak berangkat karena mereka telah melihat bintang itu, melainkan mereka melihat bintang itu karena mereka sudah berangkat (bdk. Santo Yohanes Krisostomus). Hati mereka sudah terbuka dan mereka dapat melihat apa yang ditunjukan surga kepada mereka.

Paus Fransiskus: Pilihlah Dimbimbing oleh Bintang Yesus

“Kita belajar dari para Majus untuk tidak memberikan waktu luang kita dan hanya berpendapat saat ini dan setelahnya. Seperti para majus, mari kita diajak untuk menata dan mendadani diri kita sendiri dalam cahaya mengikuti bintang Yesus, dan mencintai Tuhan dengan seluruh diri.”

Hal ini disampaikan oleh Paus Fransiskus kepada ribuan orang yang berkumpul di halaman basilika St. Petrus untuk angelus pada hari Penampakan/Epifani, dimana Paus menyumbangkan sebuah buku tentang Krahiman yang dibagikan oleh orang miskin yang hadir.

Seperti para Majus yang memilih untuk dibimbing oleh bintang Yesus, “dalam hidup kita ada banyak bintang. Tergantung pada kita untuk memilih yang mana yang harus diikuti. Ada cahaya berkilauan yang datang dan pergi, seperti kesenangan kecil dalam hidup: meskipun baik, tetapi tidak cukup...”

Para Majus mengundang kita untuk mengikuti terang yang benar yaitu Tuhan, “terang yang tidak menyilaukan, tetapi menemani dan memberikan sebuah suka cita yang khas. Di antara banyaknya terang pada zaman ini, ikutilah cahaya Yesus yang bersinar! Ikutilah maka kita akan mengalami suka cita seperti para Majus.

Paus Fransiskus: Pengembangan Panggilan Membutuhkan Passion dan Rasa Syukur

Pada hari kamis (05/01/2017), Paus Fransiskus bertemu dengan peserta dalam konferensi yang diselenggarakan oleh komisi karya kerasulan untuk Panggilan, Konferensi Waligereja Italia.

Tema pertemuan itu adalah “bangkit, terus maju, dan jangan takut. Panggilan dan kekudusan: saya berada dalam sebuah misi.”

Selama pertemuan itu, Paus Fransiskus menyimpan sambutan yang sudah dia siapkan dan berbicara spontan ke 800 seminaris dan biarawan/i.

Untuk memperbaiki keadaan ini, Paus Fransiskus menawarkan beberapa pikiran tentang cara meningkatkan panggilan untuk hidup membiara dan panggilan menjadi imam.

“Pintu panggilan terbuka melalui doa. Yesus mengatakan kepada kita bahwa jalan pertama untuk memiliki panggilan adalah doa. Berdoalah dengan hati, dengan hidupmu, dengan segalanya.”

Berbicara tentang peran para uskup dalam panggilan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa tugas pertama para uskup adalah berdoa; kedua adalah mewartakan Injil.

Hal ketiga yang diusulkan oleh Paus Fransiskus adalah membuka pintu sehingga orang muda bisa masuk ke dalam gereja.

Katekese Paus Fransiskus: Air Mata dari Rasa Sakit Seorang Ibu Menjadi Benih Kehidupan dan Harapan

Pada Rabu (04/01/2017) Paus Fransiskus melanjutkan refleksinya tentang harapan Kristiani, membicarakan tentang luka yang tidak dapat dihibur dari orangtua yang kehilangan anak. Paus Fransiskus fokus pada figur Rahel, Istri Yakub, dalam Perjanjian Lama yang dijelaskan oleh Nabi Yeremia sebagai tangisan pahit pedih untuk anaknya di pengasingan.

Dalam Kitab Kejadian, kita belajar bahwa Rahel meninggal saat melahirkan, memberikan hidup kepada anak keduanya, Benyamin. Tetapi Nabi Yeremia berbicara tentang kesedihannya yang tidak terhiburkan saat kehilangan anaknya yang dikirim ke pembuangan.

Tidak ada kata-kata atau tindakan, yang dapat menghibur seorang Ibu yang berhadapan dengan tragedi kehilangan anak.

Ada banyak ibu hari ini, yang menangis dan tidak bisa dihibur, tidak mampu menerima kematian sia-sia seorang anak. Luka Rahel, merangkum penderitaan semua ibu dan air mata semua orang yang menangis karena sebuah kehilangan yang tidak dapat tergantikan.

Paus Fransikus: Doa Angelus di Hari Kemartiran St. Stefanus

Paus Fransiskus pada hari senin (26/12/2016) memanggil orang Kristiani untuk “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan kebencian dengan cinta.” Dalam sebuah tweet pada pesta Santo Stefanus, Martir pertama Gereja, Paus mengatakan, “mari kita mengingat para martis hari ini dan di masa lalu.” Ini adalah tema yang diambil oleh Paus Fransiskus dalam doa angelus-nya kepada ribuan peziarah yang berkumpul di alun-alun St. Peter, sehari setelah natal.

Saudara- saudari yang terkasih, selamat pagi!

Sukacita Natal memenuhi hati kita hari ini, sebagaimana liturgi merayakan kemartiran Santo Stefanus, martir pertama, yang mengundang kita untuk menerima kesaksian yang telah dia berikan melalaui pengorbanannya. Kesaksian Santo Stefanus dengan pengorbanannya menjadi kemuliaan, tepatnya kemuliaan dari kemartiran kristiani, yang menderita karena cinta pada Kristus; kemartiran yang berlanjut sampai saat ini dalam sejarah Gereja, sejak Stefanus sampai saat ini.

Paus Fransiskus: Seperti Abraham, Orang Kristiani harus “Berharap Melawan Harapan”

Paus Fransiskus kembali berbicara tentang “Harapan Kristiani” dalam katekese audiensi general mingguan. Pada hari rabu (28/12/2016), Paus Fransiskus menfokuskan perhatiannya pada sosok Abram, yang menjadi Abraham, “bapak dalam iman dan dalam harapan” kita.

Santo Paulus sendiri meneladani Abram “untuk menunjukan jalan iman dan harap.” Kepercayaan Abram pada janji Allah untuk memberinya anak adalah sungguh sebuah harapan “melawan semua harapan” lain, usianya, dan kemandulan Sara, istrinya. Tetapi Abraham percaya, dan imannya memberi jalan pada sebuah harapan, sebuah harapan yang bagi banyak hal adalah tidak berasalan. Harapan Abram “membuka sebuah horizon baru, membuat dia mampu bermimpi tentang apa yang tidak dapat dibayangkan.” Paus Fransiskus mengatakan bahwa harapan mengizinkan kita “untuk masuk ke dalam kegelapan akan ketidakpastian masa depan menuju terang.”

Katekese Paus Fransiskus: “Buka Hatimu pada Kabar Sukacita Natal”

Paus Fransiskus pada hari rabu (21/12/2016) mengajak umat beriman untuk membuka hati terhadap kabar sukacita dari kelahiran Sang Juru Selamat.

Paus Fransiskus mengalamatkan hal ini kepada para peziarah yang berkumpul di Aula Paul VI, Vatikan, dalam audiensi umum minggu ini.

Katekese Paus Fransiskus tentang Harapan Kristiani mengambil fokus tentang hari-hari terakhir adven dan tentang bagaimana persiapan kita untuk menerima pesan yang terwujud dalam kelahiran Kristus.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa sebuah katekese yang merefleksikan tentang kenyataan harapan kristiani lebih tepat dibicarakan selama masa adven ini. Paus Fransiskus mengulangi sabda dari Nabi Yesaya, “Allah sendiri yang akan memberikanmu sebuah tanda: seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan, dan haruslah engkau menamainya Emmanuel” dan juga “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa pemahaman Natal dapat ditemukan dalam kedua ayat tersebut: “Allah memenuhi janji-Nya dengan menjadi manusia, (...) dan Dia memberikan kepada umat-Nya sebuah harapan baru akan hidup: kehidupan abadi”.

Natal: Kesetiakawanan Allah

Renungan Hari Raya Natal

Bacaan:
Yesaya 52:7-10
Ibrani 1:1-18
Yohanes 1:1-18

Pada suatu pesta Natal, umat di suatu paroki gempar, soalnya di palungan Natal mereka melihat seorang bayi sungguhan yang rupanya baru dilahirkan. Bayi itu tidak terawat, keadaannya sangat menyedihkan. Rupanya ada seorang Ibu yang tidak bertanggung jawab, telah meletakkan bayinya di palungan Natal itu.

Umat Paroki itu merasa bahwa ini merupakan suatu skandal. Mereka mengambil bayi itu dan mengirimkannya ke suatu oanti asuhan. Sebagai gantinya, mereka meletakkan sebuah boneka putih berambut pirang di palungan itu! Maka pesta Natal berlangsung secara meriah seperti biasanya....

Sayang, umat paroki itu merasa lebih tepat merayakan pesta Natal dengan sebuah boneka putih berambut pirang daripada seorang anak manusia yang terlahir papa seperti juru Selamat sendiri, ketika Ia dilahirkan sebagai manusia 2000 tahun yang lalu.

Tags: 

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS