Katekese dan Pelajaran Agama di Sekolah-sekolah

Sifat Pelajaran Agama yang Umum di Sekolah-sekolah

Dalam pelayanan sabda, sifat pelajaran agama itu sendiri di sekolah-sekolah dan hubungannya dengan katekese bagi anak-anak dan kaum muda perlu mendapat perhatian istimewa. Hubungan antara pelajaran agama di sekolah-sekolah dan katekese merupakan hubungan yang berbeda dan saling melengkapi: “secara mutlak harus dibedakan pelajaran agama dengan katekese”.

Apa yang menunjukkan sifat khas pada pelajaran agama di sekolah ialah kenyataan bahwa ia dipanggil untuk meresapi satu bidang budaya yang khas dan untuk berhubungan dengan bidang ilmu pengetahuan yang lain. Sebagai bentuk asli dari pelayanan sabda, dia menghadirkan Injil dalam sebuah proses personal dari asimilasi kultural, sistematis, dan kritis.

Tags: 

Anak Domba Allah

Renungan Hari Minggu Biasa II

Bacaan I: Yesaya 49:3.5-6
Bacaan II: 1Kor1:1-3
Bacaan Injil: Yohanes1:29-34

Dahulu kala ada seorang puter Raja yang masih kecil bernama Taruna. Ayahnya adalah seorang raja di suatu pulau kecil. Rakyat di pulau kecil itu sangat senang terhadap raja dan putera raja itu. Putera raja itu sangat lucu dan baik hati. Seluruh rakyat di pulau itu hidup senang dan aman.

Tetapi pada suatu haru terjadilah bencana. Terjadi angin ribut dan pasang naik yang tinggi sekali. Air laut itu tidak pernag surut lagi, tetapi naik, makin lama, makin tinggi. Tidak lama lagi pulau kecil itu pasti akan tenggelam ke dalam laut. Raja dan semua rakyatnya merasa takut. Mereka tahu Dewi laut sedang marah. Kalau dewi laut marah biasanya harus cepat dibawa korban ke laut. Dan korban itu harus seorang anak. Anak itu harus dilempar ke laut, baru air laut itu akan turun.

Raja dan semua rakyatnya berunding. Anak siapakah yang harus dikorbankan ke laut? Semua anak ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah untuk bermain. Rakyat dan rajanya tidak bisa memutuskan anak mana yang mau dikorbankan ke laut. Mereka sayang kepada semua anak. Tetapi air laut naik semakin tinggi.

Tags: 

Katekese Paus Fransiskus: “Harapan Kristiani Lahir dari Rasa Percaya pada Sabda Allah, bukan Berhala”

Paus Fransiskus melanjutkan seri katekesenya tentang harapan Kristiani dalam audiensi umum hari rabu, mengkontraskan antara harapan yang sejati, yang lahir dari kepercayaan akan Sabda Allah, dengan cobaan dari harapan yang salah pada berhala.

Berhadapan dengan berhala yang ditawarkan oleh dunia modern ini, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “harapan adalah kebutuhan primer manusia” tetapi kita dapat hilang dalam pencarian kita akan keamanan dengan mempercayai harapan palsu yang ditawarkan oleh berhala-berhala.

Paus mengatakan bahwa Injil mengajarkan kepada kita bahwa harapan palsu berdampingan dengan Harapan Kristiani yang sejati yang lahir dari Sabda Allah. Kita dapat dicobai oleh harapan yang keliru dan berhala-berhala dunia, seperti uang, kekuasaan, dan kecantikan/keindahan fisik.

Berhala membingungkan pikiran dan hati, dan bukan mendukung kehidupan, melainkan menuntun kepada kematian.

Paus Fransiskus kemudian menyampaikan sebuah cerita yang dia dengar di Buenos Aires tentang “seorang perempuan cantik yang membual tentang kecantikannya.” Perempuan itu mengatakan “hal yang alami: iya, saya harus melakukan aborsi karena bentuk badan saya sangat penting.”

Katekese yang Melayani Pembinaan Iman Lanjut

Pendidikan Lanjut dalam Iman di Komunitas Kristiani

Katekese awal meletakkan dasar bagi hidup para pengikut Kristus. Untuk menyemangati proses ini, perlulah memiliki sebuah komunitas Kristiani yang menyambut orang-orang yang sudah diterima dalam inisiasi, menopang dan membentuk mereka dalam iman: “ada resiko bahwa katekese menjadi mandul bila tidak ada komunitas beriman dan hidup Kristen tidak menerima katekumen dalam tingkat tertentu dari katekesenya.“ Pendampingan yang diberikan oleh komunitas kepada orang yang sudah diinisiasi mengintegrasikan mereka sepenuhnya ke dalam komunitas itu.

Tags: 

Katekese yang Melayani Inisiasi Kristen

Katekese, Suatu “Momen” Esensial dalam Proses Evangelisasi

Anjuran Apostolik Catechesi Trandendae dengan tegas menempatkan katekese dalam misi Gereja dan mencatat bahwa evangelisasi merupakan suatu realitas yang kaya, kompleks, dan dinamis, yang mencakup “momen-momen” esensial namun berbeda. Ditambahkannya, “katekese adalah satu dari momen-momen ini, suatu momen yang penting, dalam seluruh proses evangelisasi. Maksudnya, ada kegiatan-kegiatan yang “menyiapkan” katekese dan kegiatan-kegiatan yang berasal darinya. “Momen” dari katekese adalah bahwa yang cocok dengan periode dalam mana pertobatan kepada Yesus Kristus terbentuk, dan memberikan suatu basis bagi kesetiaan pertama kepada-Nya. Orang-orang yang bertobat, melalui “suatu periode pembinaan, suatu praksis seluruh hidup Kristiani,” dimasukkan ke dalam misteri keselamatan dan gaya hidup injili. Artinya, memperkenalkan para pendengar pada kepenuhan hidup Kristen.

Dalam melaksanakan fungsi awal pelayanan sabda dengan pelbagai cara, katekese meletakkan dasar bagi pembangunan iman. Fungsi-fungsi lain dari pelayanan yang sama akan terus membangun, pada dasar yang sama, pada tingkat-tingkat yang berbeda.

Tags: 

Homili Paus Fransiskus pada Pesta Epifani

Paus Fransiskus memimpin misa pada pesta Epifani yang dirayakan di Basilika St. Petrus pada hari Jumat.

Berikut adalah homili Paus Fransiskus dalam terjemahan bahasa Indonesia.

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:2)

Dengan kata-kata ini, para Majus, datang dari jauh, memberitahukan kepada kita alasan perjalanan panjang mereka: mereka datang untuk menyembah Raja yang baru lahir. Melihat dan menyembah. Dua tindakan ini menonjol dalam bacan Injil hari ini. Kita melihat sebuah bintang dan kita mau menyembah.

Para Majus melihat sebuah bintang yang membawa mereka keluar. Pencarian akan sesuatu yang tidak biasa tentang Kerajaan Surga ini memicu serangkaian peristiwa. Bintang itu tidak hanya bersinar bagi mereka, tidak juga mereka yang memiliki DNA istimewa yang bisa melihatnya. Seperti sudah dikatakan oleh salah satu Bapa Gereja, Para Majus tidak berangkat karena mereka telah melihat bintang itu, melainkan mereka melihat bintang itu karena mereka sudah berangkat (bdk. Santo Yohanes Krisostomus). Hati mereka sudah terbuka dan mereka dapat melihat apa yang ditunjukan surga kepada mereka.

Paus Fransiskus: Pilihlah Dimbimbing oleh Bintang Yesus

“Kita belajar dari para Majus untuk tidak memberikan waktu luang kita dan hanya berpendapat saat ini dan setelahnya. Seperti para majus, mari kita diajak untuk menata dan mendadani diri kita sendiri dalam cahaya mengikuti bintang Yesus, dan mencintai Tuhan dengan seluruh diri.”

Hal ini disampaikan oleh Paus Fransiskus kepada ribuan orang yang berkumpul di halaman basilika St. Petrus untuk angelus pada hari Penampakan/Epifani, dimana Paus menyumbangkan sebuah buku tentang Krahiman yang dibagikan oleh orang miskin yang hadir.

Seperti para Majus yang memilih untuk dibimbing oleh bintang Yesus, “dalam hidup kita ada banyak bintang. Tergantung pada kita untuk memilih yang mana yang harus diikuti. Ada cahaya berkilauan yang datang dan pergi, seperti kesenangan kecil dalam hidup: meskipun baik, tetapi tidak cukup...”

Para Majus mengundang kita untuk mengikuti terang yang benar yaitu Tuhan, “terang yang tidak menyilaukan, tetapi menemani dan memberikan sebuah suka cita yang khas. Di antara banyaknya terang pada zaman ini, ikutilah cahaya Yesus yang bersinar! Ikutilah maka kita akan mengalami suka cita seperti para Majus.

Paus Fransiskus: Pengembangan Panggilan Membutuhkan Passion dan Rasa Syukur

Pada hari kamis (05/01/2017), Paus Fransiskus bertemu dengan peserta dalam konferensi yang diselenggarakan oleh komisi karya kerasulan untuk Panggilan, Konferensi Waligereja Italia.

Tema pertemuan itu adalah “bangkit, terus maju, dan jangan takut. Panggilan dan kekudusan: saya berada dalam sebuah misi.”

Selama pertemuan itu, Paus Fransiskus menyimpan sambutan yang sudah dia siapkan dan berbicara spontan ke 800 seminaris dan biarawan/i.

Untuk memperbaiki keadaan ini, Paus Fransiskus menawarkan beberapa pikiran tentang cara meningkatkan panggilan untuk hidup membiara dan panggilan menjadi imam.

“Pintu panggilan terbuka melalui doa. Yesus mengatakan kepada kita bahwa jalan pertama untuk memiliki panggilan adalah doa. Berdoalah dengan hati, dengan hidupmu, dengan segalanya.”

Berbicara tentang peran para uskup dalam panggilan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa tugas pertama para uskup adalah berdoa; kedua adalah mewartakan Injil.

Hal ketiga yang diusulkan oleh Paus Fransiskus adalah membuka pintu sehingga orang muda bisa masuk ke dalam gereja.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS