Paus Fransiskus: Gereja yang Kecil dan Teraniaya adalah Kekuatan Gereja

Kekuatan terbesar Gereja pada zaman ini ada dalam Gereja kecil dan teraniaya. Inilah pesan Paus Fransiskus pada misa pagi di Kapela Casa Santa Marta. Dalam inti kotbahnya, Paus Mengatakan bahwa “pada zaman ini, lebih dari pada abad pertama” – tetapi media tidak mengatakan apa-apa tentang mereka, karena hal itu bukanlah berita. Pada misa kali ini, Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengenang mereka yang menderita sebagai martir.

“Tanpa kenangan tidak ada harapan”, kata Paus Fransiskus, mendasarkan homilinya pada surat kepada orang Ibrani. Bacaan pertama adalah sebuah seruan untuk mengingat keseluruhan sejarah umat Allah. Liturgi pada hari ini fokus pada surat Ibrani bab 11, yang berbicara tentang kenangan - dan pertama-tama, sebuah “kenangan akan ketaatan”, kenangan ketaatan banyak orang, sejak Abraham, yang sangat taat, yang pergi dari tanah kelahirannya tanpa tahu kemana tujuannya. Secara khusus, pada surat kepada orang Ibrani bab 11 berbicara tentang kenangan: kenangan dari karya agung Allah, yang dilakukan oleh banyak orang yang telah melakukan hal besar dalam sejarah Israel.

Hari ini ada lebih banyak martir daripada abad pertama: media tidak mengatakan apa-apa karena mereka bukanlah berita.

Paus Fransiskus: Kemanusiaan dan Kepercayaan Pada Allah adalah Kebajikan Kristiani yang Mendasar

Paus Fransiskus pada hari Minggu (29/01/2017), memfokuskan katekesenya pada bacaan Injil hari yang bersangkutan dengan merefleksikan sabda bahagia yang dalam kotbah di bukit.
Katekese Paus Fransiskus ini diarahkan kepada umat beriman yang berkumpul di alun-alun St. Peter untuk doa Angelus.
Injil Matius, Kata Paus Fransiskus, adalah dasar utama dari Perjanjian Baru. Injil Matius menyampaikan bagaimana Yesus mewujudkan kehendak Allah untuk menunjukkan kepada manusia jalan menuju kebahagiaan.

Paus mengatakan bahwa pesan itu sudah ada dalam dunia para Nabi yang menggarisbawahi kebebasan Allah untuk dekat dengan orang miskin dan tertindas.

Tetapi Yesus, kata Paus Fransiskus, memberikan jalan yang berbeda, dengan menyerukan kepada kita semua untuk percaya pada Allah karena kebahagiaan Kristiani ditemukan dalam janji keselamatan.

Fokus pada sabda bahagia yang pertama, “diberkatilah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”, Paus Fransiskus mengatakan bahwa mereka yang miskin di hadapan Allah tidak memberontak, tetapi rendah hati, taat, dan memperoleh rahmat Allah.

Katekese Paus Fransiskus: Jangan Hilang Kepercayaan pada Penyelengaraan Ilahi

Paus Fransiskus menyalami kerumunan saat tiba untuk memimpin audiensi General hara rabu di Aula Paulus VI

Paus Fransiskus mengajak umat beriman untuk percaya pada Penyelenggaraan Ilahi dalam melakukan apa saja dengan kekuatan mereka untuk menanggapi tantangan yang datang.

Katekese dialamatkan kepada para peziarah yang berkumpul di aula Paulus VI untuk audiensi general mingguan.

Merangkum katekesenya yang sedang berjalan tentang Harapan Kristiani, Paus Fransiskus mengulang keberanian sosok Yudit, dan bagaimana selama pengepungan kota oleh tentara Asyur, Yudit mendorong masyarakat yang putus asa untuk memperkuat harapannya dalam Tuhan dan mengusulkan sebuah rencana yang memimpin mereka menuju kemenangan atas musuh.

Sosok Yudit menampilkan kebijaksanaan dan keberanian yang besar, mengajarkan kepada kita untuk percaya pada Penyelenggaran Tuhan, tetapi juga, dalam doa dan ketaatan, untuk melihat kehendak-Nya dan untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita untuk menanggapi tantanggan yang datang di jalan kita.

“Berapa sering kita merasa ragu-ragu percaya kepada Allah? Berapa kali setiap dari kita, mungkin dalam keputusasaan, diuji untuk kehilangan iman dan mengharapkan yang terburuk?”

Paus Fransiskus: Allah Mau Kita Menjadi Benar Bersama-Nya

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa melakukan kehendak Allah tidak berarti tidak boleh marah pada Allah.

Paus Fransiskus mengatakan kepada umat beriman bahwa relasi mereka dengan Allah harus sejati sehingga saat kita mengatakan kepada-Nya: “saya di sini!” Ini memang nyata.

Mengomentari bacaan hari ini – surat kepada orang Ibarni – Paus Fransiskus mengatakan ketika Kristus datang ke dunia: “kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, kurban bakaran dan kurban dosa Engkau tidak berkenan, Lihatlah: aku di sini, aku datang untuk melaksanakan kehendak-Mu, ya Allah.”

Kata—kata Yesus ini menurut Paus Fransiskus, merangkum sejarah keselamatan.

Setelah Adam, yang bersembunyi karena takut akan Allah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Allah memanggil dan mendengar jawaban manusia yang berseru kepadanya: “Aku di sini. aku bersedia.”

Paus mengingat rangkaian jawaban positif dimulai dari Abraham, Musa, Elia, Yesaya, Yeremia... sampai ke Maria “ini aku” dan yang terakhir dari Yesus.

Dialog itu bagi Paus Fransiskus adalah dialog yang sungguh-sungguh, bukan hanya karena serangkaian jawaban seketika itu saja, melainkan karena “Allah berbicara kepada mereka yang dipanggil.

Paus Fransiskus: Mafia adalah Ekspresi dari Budaya Kematian yang Bertentangan dengan Injil

Pada hari Senin (23/01/2017), Paus Frnaiskus bertemu dengan dewan nasional antimafia dan anti terorisme Italia, menyampaikan apresiasinya akan kesulitan dan bahaya kerja yang mereka lakukan dalam melawan organisasi kejahatan dan terorisme.

Paus mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa msayarakat harus disembuhkan dari korupsi, pemerasan, perdagangan senjata dan minuman ilegal, dan perdagangan manusia, termasuk anak-anak.

Paus juga memuji kedua kelompok tersebut atas kegiatan penyelengaraan hukumnya dalam kolaborasi dengan negara lain, dengan mengatakan bahwa pekerjaan ini penting bagi keamanan masyarakat.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus mendorong mereka secara khusus “untuk mencurahkan semua usaha, khususnya dalam melawan perdagangan orang dan penyelundupan migran:” Hal ini, Paus menekankan, “adalah kejahatan serius yang menggunakan orang yang paling lemah.”

Kemudian, Paus mengatakan, “mereka yang meninggalkan negara mereka karena perang, kekerasan, dan penganiayaan berhak memperoleh penyambutan yang hangat dan perlindungan yang pantas di negara yang menyebut diri mereka sebagai kaum sipil.”

Paus Fransiskus: Panggilan Jemaat Kristen Perdana Menginspirasi Kita untuk Mewartakan Injil

Saat doa Angelus hari Minggu (22/01/2017), Paus Fransiskus memusatkan perhatiannya pada pelayanan awal Yesus di Galilea. Daerah ini, kata Paus, adalah semacam persimpangan antara Meditarian dan daerah Mesopotania. Karena kehadiran jumlah besar kaum Pagan, orang Yahudi Galilea tampak seperti di luar daerah geografis. Sedikit saja yang bisa diharapkan dari Galilea dalam istilah sejarah keselamatan – tetapi di sinilah tepatnya cahaya Injil mulai menyebar ke seluruh dunia, tidak hanya kepada Yahudi, tetapi juga kepada orang bukan Yahudi.

Di sini, mengikuti Santo Yohanes Pembaptis, Yesus mewartakan kedatangan Kerajaan Surga. Tetapi tidak seperti Yohanes, yang menunggu orang datang kepadanya untuk dibaptis, Yesus memilih hidup para Nabi yang berkeliling, pergi menjumpai orang.

Paus Fransiskus meningatkan bahwa Yesus tidak begitu saja mewartakan Injil, Dia juga mencari teman untuk bergabung dengan-Nya dalam misi keselamatan. Dia memilih Nelayan yang sederhana, Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, memanggil mereka bukan dengan cara yang luar biasa, tetapi dalam kegiatan rutinitas hidup mereka. Nelayan yang dipanggil untuk menjadi “penjala manusia”, langsung menjawab panggilan Yesus.

Paus Fransiskus: Hidup Kristiani adalah Sebuah Perjuangan Melawan Pencobaan Setiap Hari

Paus Fransiskus pada hari kamis (19/01/2017) mengundang semua orang beriman untuk membiarkan diri dituntun oleh Yesus karena hidup Kristiani adalah sebuah perjuangan setiap hari melawan pencobaan.
Paus Fransiskus mengingatkan untuk melawan pencobaan yang bisa membuat kita jatuh ke jalan yang salah.
Merujuk pada bacaan Injil hari ini, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan pengaruh jahat dalam hati kita.

Mengulang bacaan yang diambil dari Injil Markus yang menceritakan tentang betapa besar jumlah orang yang mengikuti Yesus dengan antusias, Paus Fransiskus mengajukan pertanyaan: “kenapa kerumunan itu terpikat?”

Paus mengatakan bahwa Injil hari ini berkisah tentang beberapa orang sakit dan ingin disembuhkan tetapi ada juga orang yang senang mendengar perkataan Yesus karena hatinya tersentuh. Hal ini dikarenakan, Bapa telah membawa orang-orang itu kepada Yesus.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk menyiapkan sebuah perahu karena kerumunan itu, sehingga mereka tidak menghimpit Dia. Yesus juga merasa tergerak hatinya karena melihat orang-orang ini seperti domba tanpa gembala, dan bersyukur karena tindakan roh kudus dan Bapa di Surga yang membawa mereka kepada-Nya.

Paus Fransiskus; Umat jalankan dan cari cara baru menyebarkan pesan belas kasih Allah

Paus Fransiskus meminta kepada umat Katolik untuk menjalankan dan mencari “cara-cara baru” dalam menyebarkan pesan belas kasih Allah. Pesan Paus ini disampaikan 17 Januari 2017 kepada peserta Kongres Apostolik Dunia tentang Belas Kasih ke-4 (WACOM4) oleh Uskup Agung Lyon Kardinal Philippe Barbarin. Kardinal asal Perancis itu ditunjuk oleh Paus sebagai delegasi pribadinya untuk pertemuan internasional itu. WACOM4 berlangsung di Filipina dari tanggal 16 hingga 20 Januari 2017 dengan tema “Persekutuan dalam Belas Kasih, Misi untuk Belas Kasih” (Dipanggil oleh Belas Kasih, Dikirim untuk Belas Kasih). Paus mendesak umat beriman untuk mempraktekkan karya belas kasih dengan cara-cara baru. “Dia ingin agar kalian tahu bahwa dia sepenuhnya senang dengan Kongres Dunia tentang Belas Kasih keempat kita ini,” kata Kardinal Barbarin dalam Misa di Quadricentennial Pavilion Universitas Santo Thomas di Manila. “Dia juga ingin agar kalian mencari jawaban yang tepat terhadap masalah-masalah sosial saat ini,” kata kardinal. Kardinal itu akan juga menyampaikan pesan resmi Paus kepada para delegasi WACOM di Balanga, Bataan, 20 Januari 2017, hari terakhir pertemuan Gereja internasional itu.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS