Katekese Paus Fransiskus; God Is Young

Thomas Leoncini mewawancarai Paus Fransiskus, kemudian dituliskan dalam sebuah buku berjudul "Dio e Giovane" atau "God Is Young" yang dirilis hari ini (Selasa 20/3/19) di tingkat internasional. Peluncurannya direncanakan pada perayaan Hari Minggu Palem, teristimewa bagi Kaum Muda Sedunia.

God is Young berisi sebuah wawancara dengan Paus Fransiskus, yang berbicara dengan orang muda di seluruh dunia. Buku ini dirilis dalam bahasa Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, Portugis, Brasil, Polandia, Kroasia, Slovakia, Slovenia, Ceko, dan edisi bahasa Inggris yang akan tersedia tepat waktu untuk Sinode tentang Pemuda pada bulan Oktober. Berikut adalah beberapa kutipan dari buku ini.

Orang Muda Adalah Nabi Dengan Sayap

Seorang muda adalah sesuatu seperti seorang nabi, dan perlu disadari. Ia harus sadar memiliki sayap seorang nabi, sikap seorang nabi, kemampuan bernubuat, berbicara, tetapi juga bertindak. Seorang nabi saat ini memiliki kapasitas, ya, mencela, tapi juga memiliki perspektif. Kaum muda memiliki kedua kualitas ini. Mereka tahu bagaimana mencela, tapi berkali-kali mereka tidak mengungkapkan pembatalan itu dengan baik. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mensurvei masa depan dan melihat ke depan.

Pelatihan Kurikulum 2013 Bagi Pengurus Komkat Keuskupan Regio Nusa Tenggara

Komisi Kateketik Regio Nusa Tenggara (NTT-NTB-Bali) bekerja sama dengan Komisi Kateketik KWI Jakarta mengadakan pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 di gedung pastoral Gereja paroki St. Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali.

Kegiatan pelatihan beralngsung dari tanggal 5 s.d. 8 Maret 2018 ini dihadiri sekitar 30 orang utusan, masing-masing dari Komkat K.A. Kupang, K. Atambua, K. Weetebula, K. Larantuka, K. Maumere, KA. Ende, K. Ruteng dan Keuskupan Denpasar serta perwakilan KKG (Kelompok Kerja Guru) SD dan perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kota Denpasar.

Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI 2018; Konsolidasi untuk Karya Katekese Gereja Katolik Indonesia

Komisi Kateketik KWI mengadakan rapat pleno tahun 2018 di Wisma Samadi Klender, Jakarta, pada tanggal 26 – 28 Februari 2018. Rapat dihadiri Ketua Komkat KWI, Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM, Sekretaris Eksekutif Komkat KWI, P. Leo Sugiyono, MSC, para staf ahli kateketik, staf ahli kemasyarakatan, enam wakil regio keomkat keuskupan se-Indonesia, wakil lembaga pendidikan calon imam (Seminari Tinggi/STFT), dua wakil dari Lembaga Pendidikan Kateketik – Pastoral di bawah naungan Kemristek dan Pendidikan Tinggi, dan Kemenag RI (Bimas Katolik Pusat).

Rapat Pleno tahunan ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr Paskalis, kemudian dilanjutkan sambutan pembuka untuk memulai rapat. Agenda rapat selama tiga hari adalah mendengar laporan atau share pengalaman kegiatan karya katekese di keuskupan masing-masing pasca PKKI Makasar (bdk Rencana Kerja 2017 – 2020). Agenda berikutnya adalah mereview silabus Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, mencermati tema-tema untuk sakramen krisma, dan membuat rekomendasi untuk tindak lanjut.

P.Octavianus Situngkir, OFMCap: Guru Agama Katolik, “Pewarta dan Pendidik”

P.Octavianus Situngkir, OFMCap

Pengantar
Pertanyaan siapa dan apakah ‘Guru Agama Katolik’ itu, rasanya tidak sulit menjawabnya. Tetapi jika yang mengemban gelar ‘guru agama’ itu hening sejenak dan menyimak pertanyaan itu, mungkin akan merasa bahwa dalam pertanyaan itu terkandung suatu gagasan yang menantang dan merangsang. Dia pasti pertama-tama merefleksikan secara serius atas pertanyaan sebelum berusaha menjawab secara jujur dan tulus dari hatinya yang terdalam. Merefleksikan pertanyaan sungguh penting dan menentukan karena ada banyak pendidik kristen yang tidak terhitung jumlahnya seturut bidang keahliannya, tetapi tidak semua pendidik itu ber-atribut guru agama sebagai pengajar resmi iman. Dalam hidup dan misi gereja, guru agama itu punya peranan dan fungsi khusus untuk disikapi.

Guru Agama Pendidik dan Pewarta

Paus Fransiskus Kecam Penggunaan Berita Palsu untuk Politik

Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus mengecam "kejahatan" berita palsu, menyebut wartawan dan pengguna media sosial mesti menghindari dan mengungkap "taktik ular" yang mendorong perpecahan demi kepentingan politik dan ekonomi.

"Berita palsu adalah pertanda sikap intoleran dan hipersensitif, dan hanya berujung pada penyebaran arogansi dan dan kebencian. Itu adalah hasil akhir dari kebohongan," kata Paus, Rabu (24/1).

Pernyataan itu ada pada dokumen yang diterbitkan setelah perdebatan selama beberapa bulan soal seberapa jauh berita palsu memengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat dan pemilihan Presiden Donald Trump.

Dokumen itu berjudul "Kebenaran akan membebaskan Anda - Berita palsu dan jurnalisme untuk kedamaian." Diterbitkan jelang hari komunikasi sosial gereja katolik dunia, ini adalah kali pertamanya Paus menerbitkan dokumen dalam subjek tersebut.

"Menyebarkan berita palsu bisa dilakukan untuk tujuan tertentu, memengaruhi keputusan politik, dan dilakukan untuk kepentingan ekonomi," kata Paus, mengecam "penggunaan media sosial secara manipulatif" dan bentuk komunikasi lainnya.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS