Paus Fransiskus: Allah Mau Kita Menjadi Benar Bersama-Nya

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa melakukan kehendak Allah tidak berarti tidak boleh marah pada Allah.

Paus Fransiskus mengatakan kepada umat beriman bahwa relasi mereka dengan Allah harus sejati sehingga saat kita mengatakan kepada-Nya: “saya di sini!” Ini memang nyata.

Mengomentari bacaan hari ini – surat kepada orang Ibarni – Paus Fransiskus mengatakan ketika Kristus datang ke dunia: “kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, kurban bakaran dan kurban dosa Engkau tidak berkenan, Lihatlah: aku di sini, aku datang untuk melaksanakan kehendak-Mu, ya Allah.”

Kata—kata Yesus ini menurut Paus Fransiskus, merangkum sejarah keselamatan.

Setelah Adam, yang bersembunyi karena takut akan Allah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Allah memanggil dan mendengar jawaban manusia yang berseru kepadanya: “Aku di sini. aku bersedia.”

Paus mengingat rangkaian jawaban positif dimulai dari Abraham, Musa, Elia, Yesaya, Yeremia... sampai ke Maria “ini aku” dan yang terakhir dari Yesus.

Dialog itu bagi Paus Fransiskus adalah dialog yang sungguh-sungguh, bukan hanya karena serangkaian jawaban seketika itu saja, melainkan karena “Allah berbicara kepada mereka yang dipanggil.

Paus Fransiskus: Mafia adalah Ekspresi dari Budaya Kematian yang Bertentangan dengan Injil

Pada hari Senin (23/01/2017), Paus Frnaiskus bertemu dengan dewan nasional antimafia dan anti terorisme Italia, menyampaikan apresiasinya akan kesulitan dan bahaya kerja yang mereka lakukan dalam melawan organisasi kejahatan dan terorisme.

Paus mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa msayarakat harus disembuhkan dari korupsi, pemerasan, perdagangan senjata dan minuman ilegal, dan perdagangan manusia, termasuk anak-anak.

Paus juga memuji kedua kelompok tersebut atas kegiatan penyelengaraan hukumnya dalam kolaborasi dengan negara lain, dengan mengatakan bahwa pekerjaan ini penting bagi keamanan masyarakat.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus mendorong mereka secara khusus “untuk mencurahkan semua usaha, khususnya dalam melawan perdagangan orang dan penyelundupan migran:” Hal ini, Paus menekankan, “adalah kejahatan serius yang menggunakan orang yang paling lemah.”

Kemudian, Paus mengatakan, “mereka yang meninggalkan negara mereka karena perang, kekerasan, dan penganiayaan berhak memperoleh penyambutan yang hangat dan perlindungan yang pantas di negara yang menyebut diri mereka sebagai kaum sipil.”

Paus Fransiskus: Panggilan Jemaat Kristen Perdana Menginspirasi Kita untuk Mewartakan Injil

Saat doa Angelus hari Minggu (22/01/2017), Paus Fransiskus memusatkan perhatiannya pada pelayanan awal Yesus di Galilea. Daerah ini, kata Paus, adalah semacam persimpangan antara Meditarian dan daerah Mesopotania. Karena kehadiran jumlah besar kaum Pagan, orang Yahudi Galilea tampak seperti di luar daerah geografis. Sedikit saja yang bisa diharapkan dari Galilea dalam istilah sejarah keselamatan – tetapi di sinilah tepatnya cahaya Injil mulai menyebar ke seluruh dunia, tidak hanya kepada Yahudi, tetapi juga kepada orang bukan Yahudi.

Di sini, mengikuti Santo Yohanes Pembaptis, Yesus mewartakan kedatangan Kerajaan Surga. Tetapi tidak seperti Yohanes, yang menunggu orang datang kepadanya untuk dibaptis, Yesus memilih hidup para Nabi yang berkeliling, pergi menjumpai orang.

Paus Fransiskus meningatkan bahwa Yesus tidak begitu saja mewartakan Injil, Dia juga mencari teman untuk bergabung dengan-Nya dalam misi keselamatan. Dia memilih Nelayan yang sederhana, Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, memanggil mereka bukan dengan cara yang luar biasa, tetapi dalam kegiatan rutinitas hidup mereka. Nelayan yang dipanggil untuk menjadi “penjala manusia”, langsung menjawab panggilan Yesus.

Paus Fransiskus: Hidup Kristiani adalah Sebuah Perjuangan Melawan Pencobaan Setiap Hari

Paus Fransiskus pada hari kamis (19/01/2017) mengundang semua orang beriman untuk membiarkan diri dituntun oleh Yesus karena hidup Kristiani adalah sebuah perjuangan setiap hari melawan pencobaan.
Paus Fransiskus mengingatkan untuk melawan pencobaan yang bisa membuat kita jatuh ke jalan yang salah.
Merujuk pada bacaan Injil hari ini, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan pengaruh jahat dalam hati kita.

Mengulang bacaan yang diambil dari Injil Markus yang menceritakan tentang betapa besar jumlah orang yang mengikuti Yesus dengan antusias, Paus Fransiskus mengajukan pertanyaan: “kenapa kerumunan itu terpikat?”

Paus mengatakan bahwa Injil hari ini berkisah tentang beberapa orang sakit dan ingin disembuhkan tetapi ada juga orang yang senang mendengar perkataan Yesus karena hatinya tersentuh. Hal ini dikarenakan, Bapa telah membawa orang-orang itu kepada Yesus.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk menyiapkan sebuah perahu karena kerumunan itu, sehingga mereka tidak menghimpit Dia. Yesus juga merasa tergerak hatinya karena melihat orang-orang ini seperti domba tanpa gembala, dan bersyukur karena tindakan roh kudus dan Bapa di Surga yang membawa mereka kepada-Nya.

Paus Fransiskus; Umat jalankan dan cari cara baru menyebarkan pesan belas kasih Allah

Paus Fransiskus meminta kepada umat Katolik untuk menjalankan dan mencari “cara-cara baru” dalam menyebarkan pesan belas kasih Allah. Pesan Paus ini disampaikan 17 Januari 2017 kepada peserta Kongres Apostolik Dunia tentang Belas Kasih ke-4 (WACOM4) oleh Uskup Agung Lyon Kardinal Philippe Barbarin. Kardinal asal Perancis itu ditunjuk oleh Paus sebagai delegasi pribadinya untuk pertemuan internasional itu. WACOM4 berlangsung di Filipina dari tanggal 16 hingga 20 Januari 2017 dengan tema “Persekutuan dalam Belas Kasih, Misi untuk Belas Kasih” (Dipanggil oleh Belas Kasih, Dikirim untuk Belas Kasih). Paus mendesak umat beriman untuk mempraktekkan karya belas kasih dengan cara-cara baru. “Dia ingin agar kalian tahu bahwa dia sepenuhnya senang dengan Kongres Dunia tentang Belas Kasih keempat kita ini,” kata Kardinal Barbarin dalam Misa di Quadricentennial Pavilion Universitas Santo Thomas di Manila. “Dia juga ingin agar kalian mencari jawaban yang tepat terhadap masalah-masalah sosial saat ini,” kata kardinal. Kardinal itu akan juga menyampaikan pesan resmi Paus kepada para delegasi WACOM di Balanga, Bataan, 20 Januari 2017, hari terakhir pertemuan Gereja internasional itu.

Katekese Paus Fransiskus: Kita Mengharapkan Persatuan, bukan Pengelompokan

Paus Fransiskus, pada hari Rabu (18/01/2017) mengatakan bahwa persatuan dan perdamaian kristiani adalah mungkin. Paus Fransiskus membicarakan hal ini selama audiensi general mingguannya di aula Paul VI, di mana dia juga melanjutkan katekesenya tentang harapan Kristiani.

Kita mencari lebih pada “sesuatu” yang menyatukan kita daripada yang memisahkan kita. Pada kesempatan ini, Paus Fransiskus mengajak untuk berdoa bagi kesatuan umat Kristiani.

Paus Fransiskus mengundang umat Kristiani untuk berdoa bagi persatuan dan juga mengingatkan lagi perihal kunjungannya ke Lund di Swedia untuk memperingati Reformasi, “kita melanjutkan perjalanan bersama sama untuk memperdalam persatuan kita dan memberikannya “bentuk yang lebih kelihatan”.

Di Eropa, Paus Fransiskus menekankan, iman dalam Kristus seperti sebuah harapan yang masih muda. Persatuan, kesatuan dan rekonsiliasi menjadi mungkin.

Sebagai seorang Kristen, “kita bertanggung jawab atas pesan ini dan kita harus membawa kesaksian itu dalam hidup kita.”

Komentar Paus ini disampaikan saat menerima delegasi ekumenis dari Jerman.

Sifat, objek dan Tugas Katekese (1)

Katekese: Kegiatan yang Bersifat Eklesial

Pada dasarnya, katekese merupakan suatu tindakan eklesial. Subjek katekese yang benar adalah Gereja, yang dalam melanjutkan misi Yesus Sang Guru, dan yang dijiwai oleh Roh Kudus, diutus untuk menjadi guru iman. Gereja mengikuti Bunda Allah dalam menyimpan harta Injil dalam hatinya. Dia mewartakannya, menghayatinya, dan meneruskannya dalam katekese bagi mereka semua yang telah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus Kristus. Penerusan Kabar Gembira ini merupakan suatu tindakan hidup dari tradisi Gereja:

Tags: 

Katekese Paus Fransiskus: Rajin Beribadah Tanpa Berbuat Baik, Percuma

Paus Fransiskus mengatakan, tak ada gunanya jika seseorang rajin beribadah tetapi tak berbuat baik dalam hidup sehari-hari.

Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu menyebut mereka yang rajin beribadah di gereja tetapi tak berbuat baik sebagai "burung beo".

"Jika saya katakan bahwa saya seorang Katolik dan rajin ke gereja, tetapi kemudian tak mau bicara dengan orangtua, tak mau membantu orang miskin, menengok orang sakit, itu tak menunjukkan iman saya, jadi percuma," kata Paus kepada para pemuda di desa Guidonia, tak jauh dari Roma.

"Mereka yang tak berbuat baik bukan apa-apa selain burung beo, hanya kata-kata," tambah Paus seperti dikutip harian La Stampa.

Iman Kristiani, ujar Paus, harus diwujudkan dalam tiga hal yaitu kata-kata, hati, dan perbuatan.

Dalam temu wicara dengan warga desa itu, Paus mengaku seringkali hal paling sulit dilakukan adalah memaafkan orang yang menyakiti kita.

"Sangat sulit, saya kenal seorang perempuan tua yang sangat tegar, cerdas, tetapi sering dipukul suaminya. Anda tetap harus memaafkan tetapi memang sulit untuk melupakan," tambah Paus.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS