Katekese Paus Fransiskus; Kehidupan Kristen Adalah Kisah Cinta dengan Tuhan

Seperti orang-orang kudus (suci) yang baru dalam Gereja Katolik, orang-orang Kristen dipanggil untuk menjalankan iman mereka sebagai kisah cinta dengan Tuhan yang menginginkan sebuah hubungan yang "lebih dari sekadar subyek setia dengan rajanya," kata Paus Fransiskus

Tanpa hubungan yang penuh kasih dengan Tuhan, kehidupan Kristen bisa menjadi hampa dan "sebuah etika yang tidak mungkin, kumpulan peraturan dan hukum untuk dipatuhi tanpa alasan yang bagus," kata paus pada misa 15 Oktober di Lapangan Santo Petrus. "Ini adalah bahaya: kehidupan Kristen yang menjadi rutinitas, berhubungan dengan 'normalitas', tanpa dorongan atau antusiasme, dan dengan ingatan singkat," katanya dalam Misa.

Pada awal Misa, Paus Fransiskus mengumumkan 35 orang kudus baru, termasuk: "Martir Natal," Brasil, sekelompok 30 imam, awam, wanita dan anak-anak yang terbunuh pada tahun 1645 saat gelombang penganiayaan anti-Katolik; dan "Anak Martir dari Tlaxcala," tiga anak yang termasuk orang pertama yang mengkonversi penduduk asli Meksiko dan dibunuh karena menolak untuk meninggalkan imannya.

Permadani terpasang di Basilika Santo Petrus yang terpampang gambar para martir serta gambar-gambar St.Angelo da Acri, seorang imam kapusin Italia yang dikenal karena pembelaannya terhadap orang miskin, dan Faustino Miguez, seorang imam Spanyol yang memulai sekolah lanjutan untuk anak perempuan pada saat pendidikan semacam itu terbatas hampir secara eksklusif untuk anak laki-laki.

Diperkirakan 35.000 peziarah - banyak dari mereka berasal dari negara-negara asal orang-orang kudus baru - menghadiri Misa tersebut, demikian radio Vatikan mengatakan pada 15 Oktober. Dalam homilinya, Paus Fransiskus merenungkan pembacaan Injil hari ini dari St. Matius di mana Yesus menceritakan perumpamaan tentang pesta pernikahan. Memperhatikan penekanan Yesus pada para tamu pernikahan, paus mengatakan bahwa Tuhan "menginginkan kita, Dia pergi mencari kita dan Dia mengundang kita" untuk merayakannya bersama Dia. "Baginya, tidak cukup kita harus melakukan tugas kita dan mematuhi hukum-hukumnya," kata Paus Fransiskus. "Dia menginginkan sebuah persekutuan kehidupan yang sejati dengan kita, sebuah hubungan yang didasarkan pada dialog, kepercayaan dan pengampunan." Namun, lanjutnya, Yesus juga memperingatkan bahwa "undangan tersebut dapat ditolak" karena oleh orang-orang yang "membuat terang" dari undangan atau terlalu terperangkap dalam urusan mereka sendiri untuk mempertimbangkan menghadiri perjamuan tersebut. "Begitulah cinta tumbuh dingin, bukan karena kedengkian tapi tidak menyukai apa yang kita miliki: keamanan kita, penegasan diri kita, kenyamanan kita," kata paus. Meskipun penolakan dan ketidakpedulian terus-menerus, Tuhan tidak membatalkan pesta pernikahan namun terus mengundang orang-orang Kristen untuk mengatasi "keinginan orang-orang kita yang kesal dan malas" dan untuk meniru orang-orang kudus baru Gereja yang, katanya, tidak hanya mengatakan ya atas undangan Tuhan, tapi memakai "baju pernikahan" dari kasih Tuhan. "Orang-orang kudus yang dikanonisasi hari ini (minggu 15 Okt-red) , dan terutama banyak martir, menunjukkan jalannya," kata Paus Fransiskus. "Jubah yang mereka kenakan setiap hari adalah cinta Yesus, cinta 'gila' yang mencintai kita sampai akhir dan menawarkan pengampunan dan jubahnya kepada orang-orang yang menyalibnya." (CNS-terj Daniel B.Kotan)

By Junno Arocho Esteves Catholic News Service/translated by Daniel B.Kotan/ Komkat KWI/Sumber: http://www.catholicnews.com/services/englishnews/2017/christian-life-is-...