Dari Sinode Luar Biasa tentang Keluarga di Vatikan

Salah seorang dari 38 auditor pada Sinode Keluarga 2014, Alice Heinzen, berkisah tentang seorang anak yang ditemuinya sebelum berangkat ke Vatikan. Orangtuanya bercerai, dan masing-masing punya pacar. Ia harus tinggal satu minggu dengan ibunya, lalu satu minggu berikut dengan ayahnya. Kisah sedih yang pantas kita renungkan, tentunya.

Bercerai lalu menikah lagi merupakan salah satu perhatian dalam Sinode para uskup di Roma, Oktober lalu. Secara hukum, sudah jelas bahwa perkawinan Katolik tidak terceraikan. Tetapi, bagaimanapun mereka adalah anak-anak Allah yang mestinya mendapatkan pelayanan pastoral yang sama.

“Pastoral? Artinya: jiwa-jiwa diselamatkan. Tetapi, bukan berarti segi doktrinal atau ajaran dilupakan. Doktrin memiliki pesan keselamatan: di sana ada kasih Allah, belas kasih-Nya. Doktrin bukan merupakan tongkat pemukul, melainkan tatapan belas kasih Allah yang ditujukan pada umat,” jelas Mgr Bruno Forte dalam konferensi pers, mengambil inspirasi dari Yohanes XXIII.

Pembicaraan para Bapa Sinode berlangsung tegang. Sebagian menekankan segi hukum, dan sebagian lagi menekankan belas kasih. Menekankan segi hukum, berarti menutup kemungkinan bagi keluarga bermasalah untuk berpartisipasi penuh dalam Gereja. Menekankan belas kasih, berarti mereka mendapat pendampingan dan kemurahan pastoral. Satu sisi, nilai luhur perkawinan harus dijunjung tinggi. Sisi lain, jiwa-jiwa harus diselamatkan.

Lewat Sinode ini, para Bapa Sinode saling berbagi dan menerima, dan merenungkan semuanya dalam terang Roh Kudus. Sinode “belum usai”, karena akan dilanjutkan tahun depan. Gereja terus bergerak dan membarui diri. Marilah kita berdoa bagi para gembala agar semakin berani sekaligus bijaksana dalam berpastoral, sehingga semakin banyak orang mengalami belas kasih Allah.

Sumber: Hidupkatolik.com
Ilustrasi: Mirifica