Damai Sejahtera di Bumi

Renungan Malam Natal

Bacaan:
Yesaya 9:1-6
Titus 2:11-14
Lukas 2:1-14

Diceritakan bahwa waktu sang juru selamata dilahirkan di betlehem, malaikat turun dari surga untuk memberitakan kepada manusia supaya pergi melihat dan menyaksikan peristiwa kelahiran Sang Juru Selamat itu. Berita itu tidak disampaikan kepada manusia yang berkuasa dan kaya raya, tetapi kepada para gembala yang miskin papa di padang efrata.

Selain kepada manusia, malaikat juga memberitahukan kedatangan Juru selamat itu kepada binatang-binatang dan marga satwa. Mereka harus menunjukkan wakil-wakilnya untuk mendampingi Sang juru Selamat pada saat kelahiran-Nya. Malaikat mengumpulkan wakil-wakil binatang itu untuk berunding. Yang pertama-tama mengajukkan diri ialah singa yang digelar raja segala binatang. Dengan pongahnya ia berkata:
“sayalah yang paling pantas untuk mendampingi Sang Juru Selamat. Saya akan menjamin keamanan dan stabilitas pada saat kedatangan-Nya. Siapa yang berani membuat kerusuhan akan saya gebuk! Pendeknya saya jamin, situasi akan terkendali!”

Tetapi malaikat menajwab: “Juru Selamat adalah raha damai. Kekerasan dan main kuasa tidak sesuai dengan pemunculan-Nya. Pendekatan keamanan tidaklah sesuai!”
Kemudian kancil mengajukan dirinya. Dengan sangat cerdiknya dia berkata: “kekerasan memang cara yang tidak sesuai, tetapi saya akan membuat lobbing dan rekayasa kepada pelbagai pihak, sehingga kedatangan Sang Juru Selamat diterima dengan suara bulat ileh semua pihak. Pendeknya akan ada aklamasi yang meriah!”

Malaikat berkeberatan, beliau berkata: “juru selamat itu Raja kejujuran dan ketulusan. Kecerdikan dan rekayasa licik tidak terlalu sesuai dengan penampilan-Nya!”
Lalu tampillah burung merak. Ia berujar:
“kiranya sayalah yang paling tepat mendampingi Sang Juru Selamat. Saya akan menyiapkan suatu penyambutan yang resmi/protokoler, meriah, dan gegap gempita!”
Tetapi malaikat berkata: Juru Selamat itu raja yang rendah hati. Makanya Ia akan datang dalam rupa bayi yang tidak berdaya dan miskin”.

Lalu malaikat melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari tahu apakah masih ada wakil-wakil binatang yang mau mengajukan dirinya untuk menjadi pendamping Sang Juru Selamat pada saat kedatangan-Nya. Memang hampir semua wakil binatang mau berbicara dan melamar menjadi pendamping Juru Selamat. Hanya wakil keledai dan lembu berdiam diri dan menundukkan kepala.
Dan malaikat bertanya kepada wakil keledai dan wakil lembu itu: ”Mengapa kalian berdua tidak mau angkat bicara dan mengajukan diri untuk menjadi pendamping bagi Juru Selamat?”
Wakil keledai berkata: apalah artinya kami keledai, yang selalu dianggap bodoh oleh manusia. Apa gunanya saya bagi Sang Juru Selamat?, paling-paling untuk ditunggangi.....”
Wakil lembu berkata: “apa arti kami para lebu, yang hanya tahu menarik bajak. Yang bisa saya buat untuk Sang Juru Selamat mungkin........... mengusir lalat dengan ekor saya.”

Akhirnya malaikat mengumumkan bahwa yang akan mendampingi Sang Juru Selamat pada waktu kelahiran-Nya adalah para gembala, wakil keledai dan lembu, sebab sifat dan perilaku mereka sesuai dengan sikap Juru Selamat yang rendah hati, setia kawan dan cinta damai.

Itulah sebabnya hingga kini bila masa Natal tiba, dalam setiap “kandang Natal” dapat kita temukan “tokoh-tokoh” yang rendag hati dan cinta damai itu.
Hampir 2000 tahun lalu, pada malam kelahiran Yesus Kristus Juru Selamat, di padang efrata para malaikat bernyanyi “terpujilah Allah di langit yang tinggi dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya!!”

Sudah 2000 tahunberlalu sejak lagu damai itu dinyanyikan tetapi rasanya perdamaian itu tidak kunjung tercipta di bumi kita ini. Malah dari tahun ke tahun kita melihat dan merasakan adanya percekcokan dan peperangan di pelbagai belahan bumi kita ini. Kekerasan dan terror merebak dimana-mana.

Kekerasan cenderung menjadi budaya, bermacam-macam bentuk dan wajah kekerasan kian canggih dan dahsyat, mencabik-cabik citra Allah di dalam diri manusia, masyarakat dan alam. Aksi-aksi terror menginjak-nginjak nilai-nilai kemanusiaan dan menyebarkan kemelaratan serta penderitaan. Kekerasan dibalas denga kekerasan, sehingga wilayah kemelaratan dalam pengertian kuantitas dan kualitas semakin melebar dan dalam, menembus batas-batas wilayah, agama, etnis atau gender. Pembantaian terhadap sesama manusia merebak, bahkan tempat-tempat ibadah pun menjadi sasaran. Atas nama agama dan Tuhan sesama manusia dibantai dan nilai-nilai agama yang luhur dihancurkan.

Di saat-saat seperti ini kita meryakan Natal. Ketika segala sesuatu sudah rusak dan tidak menjanjikan, Allah di dalam diri Yesus Kristus mencari dan menemukan kita. Di dalam peristiwa Natal, kita bertemu dengan kelembutan dan kasih sayang. Kita bertemu dengan kepedulian dan pengorbanan tanpa pamrih. Inilah upaya yang paling tulus untuk menampilkan citra Allah dan manusia yang sejati. Kristus Allah dan manusia yang sejati itu membahasakan kembali secara jernih kebenaran Kitab Suci bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan citra Allah (Kej 1:26-27). Ketika dunia dan alam semesta terancam tergeletak mati dan tidak ada lagi kehidupan, Allah melawat manusia dalam peristiwa Natal. Bumi pun merasakan sentuhan Tuhan sehingga kita diingatkan kembali bahwa alam ciptaan Tuhan adalah baik menurut pandangan Allah (Kej1:10). Semua ciptaan Tuhan memperlihatkan gambaran dan citra Allah. Langit menceritakan kemuliaan Allan dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:2).
Di dalam peristiwa Natal, Allah memproklamirkan damai di bumi. Sungguh benarlah bahwa peristiwa kelahiran Yesus sendiri ditandai dengan pernyataan kemuliaan Allah di surga dan damai di bumi bagi yang berkehendak baik, sebagaimana dikidungkan oleh para malaikat (bdk Luk 2:14).

Namun ketika Yesus Kristus lahir ke dunia, ternyata ia disambut dengan pedang oleh Herodes. Ketika kita merayakan Natal berarti kita harus membuka diri untuk menyambut Yesus. Untuk itu harus dijauhi sikap herodes. Berarti kita harus menyarungkan pedang dan mengatakan tidak untuk kekerasan. Gereja tidak pernah dipanggil untuk mempergunakan pedang, tetapi untuk menjadi martir. Tugas kita sebagai orang-orang Kristen adalah menjadi agen-agen perdamaian, menyebarjab benih-benih cinta, kepedulian dan pengorbanan tanpa pamrih seperti yang didemonstrasikan Yesus dalam peristiwa Natal. Kita mau berusaha supaya luka-luka yang bernanah disembuhkan, mata rantai dendam dan benci diputuskan dan ditanamkan nilai niali pengampunan. Gereja hendaknya senantiasa mewartakan perdamaian walaupun ia dikasari dan ditampar. Tuhan kita pernah bersabda: siapapun yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga kepadanya pipi kirimu! (Luk 6:29).

Mari kita kalahkan budaya kekerasan dan kebencian dengan budaya ramah dan budaya damai. Kita yakin kasih dalam damai akan mengalahkan segala-galanya. Sekali kelak kita akan mengalami: “serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing, anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil menggiringnya” (Yesaya 11:6).
Kita percaya dan yakin bahwa setiap upaya perdamaian mempunyai dasar yang kuat dan akan menang karena dikehendaki oleh Tuhan sendiri.

Disadur dari Yosef Lalu, Homili Tahun A, Komisi Kateketik KWI, Jakarta 2002, Hal. 16-20.

Tags: