Bersandar Sepenuhnya kepada Allah

Renungan Hari Selasa Pekan III Adven

Bacaan:
Zefanya 3:1-2, 9-13
Matius 21:23-27

Kuasa atau wewenang memegang peranan penting dalam hidup manusia. Seseorang tidak dapat dengan mudah melakukan sesuatu atau membicarakan sesuatu di luar kewenangannya. Jika itu terjadi, maka akan ada banyak tuduhan yang akan dialamatkan kepadanya. Dalam injil hari ini, para iman dan tua-tua Israel mempertanyakan kuasa yang digunakan Yesus untuk melakukan berbagai mukjizat dan tanda serta beberapa tindakan lainnya seperti membersihkan Bait Allah dari sifat perdagangannya.

Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan sebuah pertanyaan lain. Yesus mau agar mereka (para imam dan ahli taurat) menyimpulkan sendiri dari jawaban mereka tentang baptisan Yohanes. Jika mereka mengatakan bahwa Baptisan Yohanes dari Allah, sederhananya mengapa kamu tidak percaya? Kalau mereka mengatakan bahwa baptisan Yohanes dari manusia, maka mereka juga harus pandai-pandai melihat perbedaan mendasar antara Yesus dan Yohanes, salah satunya ialah mukjizat. Yesus membuat sekian banyak mukjizat dan tanda, sedangkan Yohanes tidak. Dari sisi ini, bisa dilihat bahwa Yesus adalaha Tuhan. Kuasa itu berasal dari dirinya sendiri. Hal ini tidak diragukan lagi.

Dalam kehidupan kita setiap hari, kita kadang meragukan kuasa yang dimiliki oleh Yesus. Kita kadang masih mencari kuasa lain untuk membenarkan tindakan dan perkataan kita, atau mencari kuasa lain yang kepadanya kita bersandar. Kita memang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan kita tetapi dalam praksisnya kita punya Tuhan lain. Kita kadang secara tidak sadar menjadi atheis Praksis, tidak melibatkan Yesus dalam kehidupan setuap hari dan tampaknya tidak beragama. Kita lebih percaya pada “Tuhan-tuan lain” yang mengisi hidup kita. Bisa disebutkan di sini, kita asyik dengan internet dan lain-lain, lupa Tuhan. Asyik dengan pekerjaan, lupa Tuhan. Asyik dengan hobi, lupa Tuhan. Hidup kita percayakan kepada kuasa dunia yang hanya bersifat sementara dan bisa hilang serta musnah kapan saja.

Pada titik ini, Yesus mengajak kita untuk kembali sadar akan kehidupan beriman kita selama ini? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mempercayakan diri kita seratus persen kepada Allah? Setelah sadar akan segala kekeliruan kita dalam menyandarkan diri, kita diajak untuk kembali kepada-Nya. Kembali menempatkan Yesus di atas segala-galanya dan kembali percaya bahwa seluruh hidup kita sudah berada dalam rencana Allah. Allah sedang membangun dan memberi kita sebuah hidup yang selalu terarah kepada-Nya. Amin

“Betapa besar dan sungguh agunglah Engkau ya Allah...
Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu,
Dan tidak tenanglah hati kami sampai kami beristirahat dalam Engkau”
(Santo Agustinus)

_Ignasius Lede_

Tags: